Hadiah dari Allah Ta’ala Bagi orang yang menundukan pandangan

Muhammad Hassaan -Hafidzahullah- seorang dai dan ulama terkenal dari Mesir bercerita pada salah satu ceramahnya. Beliau bercerita tentang kisah seorang pemuda dari Maroko yang tinggal di Amerika.

Hidup di Amerika seorang pemuda miskin dari Maroko, umurnya sekitar 23 atau 24 tahun. Pada salah satu kunjungan Syaikh ke Amerika, Syaikh mengenal si pemuda. Setelah perjalanan waktu berlalu Syaikh melakukan kunjungan dan kunjungan lagi ke Amerika.

Pada saat beliau di Amerika, beliau teringat pemuda miskin dari Maroko. Syaikh menanyakan tentang dirinya. Dikabarkan kepadanya bahwa pemuda itu telah menjadi kaya raya, memiliki harta miliaran.

Syaikh bertanya : Apakah ia menang undian, atau masuk ke tempat perjudian atau… atau… atau… ?

Di ceritakan kepada syaikh kisahnya :

Pada suatu hari Pemuda Maroko berada pada sebuah gedung tinggi di New York. Ia menaiki lift, satu2 persatu orang-orang keluar dari lift. Akhirnya di dalam lift hanya ada Pemuda Maroko dan seorang gadis Amerika cantik sekali dengan pakaian ala gadis amerika.

Apa yang terjadi ?

Gadis Amerika itu ketakutan, karena takut diganggu si Pemuda Maroko, dan di dalam lift hanya ada mereka berdua. Gadis itu memperhatikan si Pemuda dan gerak-geriknya. Si Pemuda hanya menunduk ke lantai.

Akhirnya mereka sama2 keluar pada lantai yang sama. Si Gadis itu merasa heran, ada apa dengan si Pemuda itu, kenapa ia tidak melihat kepada saya ?

Si Gadis pun akhirnya bertanya kepada si Pemuda : Apakah saya tidak cantik ?

Si Pemuda menjawab : Bagaimana saya mengetahui engkau cantik, padahal saya tidak melihat kepada engkau.

Kemudian si Gadis itu bertanya : Kenapa engkau tidak melihat kepada saya, apakah saya tidak cantik ?

Pemuda menjawab : agama saya melarangnya.

Si Gadis berkata : Bahkan saya mengira engkau akan mengganggu saya.

Si Pemuda menjawab : Saya takut kepada Allah.

si Gadis berkata : Agama kamu yang melarang kamu dari melihat kepada saya, pasti tidak mungkin mengizinkanmu untuk menyakiti/mengganggu dalam bentuk apapun.

Si Gadis berkata : Maukah engkau menikahi saya ?

Si pemuda menjawab : Saya muslim, apakah agama engkau ?

Si gadis berkata : Saya bukan muslimah

Si Pemuda berkata : Saya tidak boleh menikah denganmu

Si Gadis bertanya : Saya akan masuk ke dalam agamumu, apakah engkau mau menikahi saya ?

Si pemuda menjawab : Iya.

Si Pemuda Maroko itu menjelaskan kepada gadis itu tentang tata cara masuk Islam, gadis itupun masuk Islam dan menikah dengan si Pemuda. Ternyata gadis itu adalah orang kaya, ia mendapatkan warisan yang sangat banyak dari orang tuanya. Ia-pun menyerahkan seluruh hartanya bagi suaminya tercinta.

Tundukkan pandangan pemuda Maroko menjadi sebab masuk Islamnya gadis Amerika, ini menunjukkan kepada kita bahwa pengamalan kita terhadap agama adalah sebab orang2 non muslim masuk ke dalam agama Islam.

Bonus : Dengan menundukkan pandangan si Pemuda itu mendapatkan istri yang cantik jelita + kaya raya.

Hadiah dari Allah Taala bagi yang menundukkan pandangan!

Sumber: © Catatan fb STDI Imam Syafi’i – Jember via Moslemsunnah.Wordpress.com

Artikel: www.kisahislam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Silahkan di Share, Copas, Dan Lain-Lain, Dengan Tetap Mencantumkan Sumbernya.

Advertisements

4 (Empat) Watak Manusia

Berbicara watak manusia ternyata sudah ditemukan 400 th sebelum masehi. Adalah seorang bernama Hipocrates yang menemukan dan ternyata hingga sekarang ke 4 watak manusia itu masih dipercaya dan digunakan..

1. Sanguinis

orang nya suka bicara,menghidupkan pesta, mempunyai rasa humor yang hebat, secara fisik mampu memukau pendengar,emosional, demonstratif antusias dan ekspresif. dalam pekerjaan tipe sanguin ini orangnya kreatif dan inovatif, mempunyai energi dan antusias yang tinggi dan membuat orang lain terpesona dan terpengaruh untuk bekerja. untuk urusan pergaulan tipe ini merupakan orang yang mudah berteman karena sifatnya yang suka bicara , tipe ini juga merupakan seorang pemaaf yang baik serta menyukai kegiatan yang spontan.

2. Melankolis

orang bertipe melankolis ini cenderung serius tekun dan analitis bahkan cenderung jenius dan berbakat. untuk urusan pekerjaan orang bertipe melankolis ini adalah orang yang perfeksionis dan mempunyai standar yang tinggi, sadar perincian,gigih dan cermat serta teratur dan rapi. untuk urusan pergaulan orang bertipe melankolis biasanya menghindari perhatian, mau mendengarkan orang lain dan bisa membantu memecahkan masalah orang lain dan biasanya orang bertipe melankolis sangat mengharapkan pasangan yang ideal

3. Koleris

berbakat menjadi seorang pemimpin, sangat dinamis dan aktif dan juga berkemauan tegas dan kuat. orang bertipe ini tidak mudah patah semangat dan tidak emosional dalam bertindak serta dalam diri seorang koleris memancarkan sebuah keyakinan. untuk urusan pekerjaan tipe ini selalu mencari pemecahan masalah yang praktis, bergerak cepat dan bertindak juga menekankan pada hasil akhir. tipe koleris ini juga dapat berkembang karena adanya persaingan.

dalam pergaulannya tipe koleris tidak terlalu membutuhkan teman karena sifatnya yang mau memimpin dan mengorganisasi.

4. Plegmatis

kepribadian dari plegmatis adalah rendah hati, mudah bergaul dan santai , diam dan tenang serta sabar dan baik hati. orang bertipe ini biasanya hidup nya konsisten, tenang tetapi cerdas.

untuk urusan pekerjaan orang bertipe ini mudah dalam mencapai kata sepakat, punya kemampuan administratif dan juga bekerja baik dibawah tekanan.

karena kepribadiannya yang rendah hati maka tak heran rasanya jika dalam pergaulan orang bertipe plegamatis ini banyak disenangi.

orang bertipe ini adalah seorang yang tidak suka menyinggung perasaan orang lain, merupakan pendengar yang baik dan juga mempunyai selera humor yang baik.

nah dari ke 4 watak diatas yang mana kah yang merupakan watak anda ?? silakan renungkan dan jika anda sudah menemukan watak anda silakan anda merubah beberapa hal yang mungkin kurang baik bagi anda..

Astaghfirullah Rabbal Baraya (Gus dur)

Assalamualaikum wr.wb.
Beberapa bait lagu yang konon pernah dinyanyikan beliau KH. Abdur Rahman Wahid ini akan menambah kekhyusu’an hati jika mau kita resapi apa yang beliau lantunkan. Dapatkan lagunya di link ini :

Lagu Gus Dur : \”Syi\’ir tanpa waton

Aku memohon ampun Ya Allah, Maha Penerima Taubat,
Aku memohon ampun Ya Allah daripada segala dosa,
Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna,
Berikanlah aku? amalan yang dimakbulkan,
Kurniakan kepadaku rezeki yg meluas,
Terimalah taubat kami dgn taubat nasuha…

Ngawiti ingsun nglarasa syi’iran
Kelawan muji maring pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo petungan 2X

aku mulai, merapalkan syair
…dengan memuji, kepada tuhan
yang telah memberikan rahmat dan kenikmatan
…siang dan malam, tanpa hitungan (2x)

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syare’at bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro 2X

wahai teman-teman; pria, wanita
jangan hanya mengkaji syariat saja
hanya bisa mendongeng, menulis, dan membaca
pada akhirnya, akan sengsara (2x)

Akeh kang apal Qur’an haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale 2X

banyak yang hafal qur’an-hadits nya
suka mengkafirkan kepada lainnya
kafirnya diri sendiri tidak diperhatikan
kalau masih kotor hati dan akalnya (2x)

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nistho 2X

mudah terbujuk nafsu angkara
dalam perhiasan gebyarnya dunia
iri dan dengki atas kekayaan tetangga
karena itulah hatinya gelap dan nista (2x

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhite
Baguse sangu mulyo matine 2X

mari saudara, jangan lupakan
kewajiban mengkaji di semua runtutannya
untuk menebalkan iman tauhidnya
bagusnya pesangon, mulya matinya (2x)

Kang aran soleh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo hakekot manjing rasane 2 X

yang disebut shaleh, bagus hatinya
karena telah mapan, ilmu sirri-nya (ilmu rahasia ketuhanan)
lelaku tarekat dan ma’rifatnya
juga hakekat telah merasuk rasanya (2x)

Alquran qodim wahyu minulyo
Tanpo ditulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo 2X

al-qur’an qadim, wahyu yang mulia
tanpa ditulis bisa dibaca
itu wejangan guru yang waskita (ma’rifat)
ditancapkan di dalam dada (2x)

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjing iman 2 X

menempel, hati dan pikiran
merasuk di badan, semua jeroan (badan bagian dalam)
mukjizat rasul menjadi pedoman
menjadi jalan masuknya iman (2x)

Kelawan Alloh kang moho suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X

terhadap Allah yang maha suci
harus berangkulan siang dan malam
ditirakati, diriyadhahi (bersusah-payah)
dzikir dan suluk (jalan menuju tuhan) jangan sampai terlupa (2x)

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran 2X

hidupnya tenang, merasa aman
adanya rasa (aman), tanda kalau beriman
sabar, menerima, walaupun pas-pasan
semua itu ditakdirkan oleh tuhan (2x)

Kang anglakoni sakabehane
Allah kang ngangkat drajate
Senajan ashor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate 2X

mari laksanakan, semuanya
Allah yang akan mengangkat derajatnya
meskipun terlihat rendah tata lahirnya
tapi (sebenarnya) mulia kedudukan derajatnya (2x)

Lamun prasto ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Allah swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese 2X

apabila meninggal, nanti diakhirnya
tidak kesasar roh dan sukmanya
di gadhang (sukai-angkat) oleh Allah, surgalah tempatnya
tetap utuh mayitnya, juga kafannya (2x)

Akhirnya, semoga kita termasuk orang-orang yang bisa meneladani setiap kebaikan sebagai bekal kita kelak menghadap tuhan YME. Amin….!!!!

Do’a Nurun Nubuwwat

Assalamu’alaikum wr.wb.
Berawal dari pertanyaan teman kepada saya kemarin tentang do’a nurun nubuwwat ini,maka berikut kami sampaikan do’a tersebut dengan harapan semoga do’a-do’a kita dikabulkan oleh Allah SWT.Amin Allohumma Amin.
Do’a Nur Nubuwwah adalah sebagai berikut :

BISMILLAHIRAHMAANIR RAHIIM

“ALLAAHUMMA DZIS SULTHAANIL ‘AZHIM, WA DZIL MANNIL QADIIM, WA DZIL WAJHIL KARIIM, WA WALIY YIL KALIMAATI TAAMMAATI WAD DA’AWAATIL MUSTA JAABAH, ‘AAQILIL HASANI WAL HUSAINI MIN ANFUSIL HAQQI ‘AINIL QUDRATI WAN NAAZHIRIINA WA’AINIL INSI WAL JINN, WA IN YAKAADUL LADZIINA KAFARUU LI YUZLIQUUNAKA BI ABSHAARIHIM LAMMAA SAMI’UDZ DZHIKRA, WAYAQUULUUNA INNAHUU LAMAJNUUN, WA MAA HUWA ILLAA DZIKRUL LIL ‘AALAMIIN. WA MUSTAJAABU LUQMAANIL HAKIIM. WA WARITSU SULAIMAANABNI DAAWUDA ‘ALAIHIMAS SALAAM.

AL-WADUUD (tujuh kali AL WADUUD) …………………….(Sebutkan hajat di hati kepada Allah s.w.t.)

DZUL’ARSYIL MAJIID. THAWWIL ‘UMRII WA SHAHHIH AJSAADII WAQDHI HAAJATII WAKTSIR AMWAALII WA AULAADII WAJ ALNI HABBIBAN LIN NAASI AJMA’J IN. WA TABBA’ADIL’ADAAWATA KULLA MIMBANII AADAMA ‘ALAIHIS SALAAM. MAN KAANA HAYYAUW WA YAHIQQAL QAULU ‘ALAL KAAFIRIIN. WA QUL JAA AL HAQQU WA ZAHAQAL BAATHIL, INNA BAATHILA KAANA ZAHUUQAA. WA NUNAZZI LU MINAL QUR’AANI MAA HUWA SYIFAAUW WARAHMATUL LIL MUKMINIIN. WA LAA YAZIIDUZH ZHAALIMIINA ILLAA KHASAARAA. SUBHAANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YASHIFUUN, WA SALAAMUN ‘ALAL MURSALIIN, WAL HAMDU LIL LAAHI RABIIL ‘AALAMIIN”.

Ertinya:

“Ya Allah, Zat Yang memiliki kekuasaan yang agung, yang memiliki anugerah yang terdahulu, memiliki wajah yang mulia, menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab, penanggung Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin. Dan sesungguhnya orang-orang kafir benar-benar akan menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya (Muhammad) benar-benar orang yang gila, dan al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. Dan yang mengijabahi Luqmanul hakim, dan Sulaiman telah mewarisi Daud a.s. Alwadud (Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih) (tujuh kali Alwadud)………………(sebutkan hajat di hati kepada Allah) yang memiliki singgasana yang Maha Mulia, panjangkanlah umurku, sehatkanlah jasad tubuhku , kabulkan hajatku, perbanyakkanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Nabi Adam a.s., orang-orang yang masih hidup (dihatinya) dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir. Dan katakanlah : “Yang haq telah datang dan yang batil telah musnah, sesungguhnya perkara yang batil itu pasti musnah”. Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Quran tidak akan menambah kepada orang-orang yang berbuat aniaya melainkan hanya kerugian. Maha Suci Allah Tuhanmu Tuhan Yang Maha Mulia dari sifat-sifat yang di berikan oleh orang-orang kafir. Dan semoga keselamatan bagi para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.”

Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum wr.wb.

SEJARAH TENTANG SUNAN BONANG


Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.

Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta'(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/Bonang.htm

SASTRA PESISIR JAWA TIMUR DAN SULUK-SULUK SUNAN BONANG

Oleh Abdul Hadi W. M.

Jawa Timur adalah propinsi tempat kediaman asal dua suku bangsa besar, yaitu Jawa dan Madura, dengan tiga sub-etnik yang memisahkan diri dari rumpun besarnya seperti Tengger di Probolinggo, Osing di Banyuwangi dan Samin di Ngawi. Dalam sejarahnya kedua suku bangsa tersebut telah labih sepuluh abad mengembangkan tradisi tulis dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pengalaman estetik mereka.

Kendati kemudian, yaitu pada akhir abad ke-18 M, masing-masing menggunakan bahasa yang jauh berbeda dalam penulisan kitab dan karya sastra – Jawa dan Madura – akan tetapi kesusastraan mereka memiliki akar dan sumber yang sama, serta berkembang mengikuti babakan sejarah yang sejajar. Pada zaman Hindu kesusastraan mereka satu, yaitu sastra Jawa Kuno yang ditulis dalam bahasa Kawi dan aksara Jawa Kuno. Setelah agama Islam tersebar pada abad ke-16 M bahasa Jawa Madya menggeser bahasa Jawa Kuno. Pada periode ini dua aksara dipakai secara bersamaan, yaitu aksara Jawa yang didasarkan tulisan Kawi dan aksara Arab Pegon yang didasarkan huruf Arab Melayu (Jawi).
Pigeaud (1967:4-7) membagi perkembangan sastra Jawa secara keseluruhan ke dalam empat babakan: (1) Zaman Hindu verlangsung pada abad ke-9 – 15 M. Puncak perkembangan sastra pada periode ini berlangsung pada zaman kerajaan Kediri (abad ke-11 dan 12 M, dilanjutkan dengan zaman kerajaan Singosari (1222-1292 M) dan Majapahit (1292-1478 M); (2) Zaman Jawa-Bali pad abad ke-16 – ke-19 M. Setelah Majapahit diruntuhkan kerajaan Demak pada akhir abad ke-15 M, ribuan pengikut dan kerabat raja Majapahit pindah ke Bali. Kegiatan sastra Jawa Kuno dilanjutkan di tempat tinggal mereka yang baru ini; (3) Zaman Pesisir berlangsung pada abad ke-15 -19 M. Pada zaman ini kegiatan sastra berpindah ke kota-kota pesisir yang merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam; (4) Zaman Surakarta dan Yogyakarta berlangsung pada abad ke-18 – 20 M. Pada akhir abad ke-18 M di Surakarta, terjadi renaisan sastra Jawa Kuno dipelopori oleh Yasadipura I. Pada masa itu karya-karya Jawa Kuno digubah kembali dalam bahasa Jawa Baru. Lebih kurang tiga dasawarsa kemudian, karya Pesisir juga mulai banyak yang disadur atau dicipta ulang dalam bahasa Jawa Baru di kraton Surakarta.

Khazanah Sastra Jawa Timur.

Khazanah sastra zaman Hindudan Islam Pesisir – dua zaman yang relevan bagi pembicaraan kita — sama melimpahnya. Keduanya telah memainkan peran penting masing-masing dalam kehidupan dalam masyarakat Jawa dan Madura. Pengaruhnya juga tersebar luas tidak terbatas di Jawa, Bali dan Madura. Karya-karya Pesisir ini juga mempengaruhi perkembangan sastra di Banten, Palembang, Banjarmasin, Pasundan dan Lombok (Pigeaud 1967:4-8). Di antara karya Jawa Timur yang paling luas wilayah penyebarannya ialah siklus Cerita Panji. Versi-versinya yang paling awal diperkirakan ditulis menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 M (Purbatjaraka, 1958). Cerita mengambil latar belakang di lingkungan kerajaan Daha dan Kediri. Versi roman ini, dalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, Melayu, Siam, Khmer dan lain-lain, sangat banyak. Dalam sastra Melayu terdapat versi yang ditulis dalam bentuk syair, yang terkenal di antaranya ialah Syair Ken Tambuhan dan Hikayat Andaken Penurat.

Tetapi bagaimana pun juga yang dipandang sebagai puncak perkembangan sastra Jawa Kuno ialah kakawin seperti Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa (Mpu Sedah), Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya (Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna), Arjunawijaya (Mpu Tantular), Lubdhaka (Mpu Tanakung); atau karya-karya yang ditulis lebih kemudian seperti Negarakertagama (Mpu Prapanca), Kunjarakarna, Pararaton, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Sastra Parwa (serial kisah-kisah dari Mahabharata) dan lain-lain (Zoetmulder 1983: 80-478). Apabila sumber sastra Jawa Kuno terutama sekali ialah sastra Sanskerta, seperti diperlihatkan oleh puitika dan bahasanya yang dipenuhi kosa kata Sanskerta; sumber sastra Pesisir ialah sastra Arab, Parsi dan Melayu. Bahasa pun mulai banyak meminjam kosa kata Arab dan Parsi, terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep keagamaan.
Kegiatan sastra Pesisir bermula di kota-kota pelabuhan Gresik, Tuban, Sedayu, Surabaya, Demak dan Jepara. Di kota-kota inilah komunitas-komunitas Muslim Jawa yang awal mulai terbentuk. Mereka pada umumnya terdiri dari kelas menengah yang terdidik, khususnya kaum saudagar kaya. Dari kota-kota ini kegiatan sastra Pesisir menyebar ke Cirebon dan Banten di Jawa Barat, dan ke Sumenep dan Bangkalan di pulau Madura. Pengaruh sastra Pesisir ternyata tidak hanya terbatas di pulau Jawa saja. Disebabkan mobilitas para pedagang dan penyebar agama Islam yang tinggi, kegiatan tersebut juga menyebar ke luar Jawa seperti Palembang, Lampung, Banjarmasin dan Lombok. Pada abad ke-18 dan 19 M, dengan pindahnya pusat kebudayaan Jawa ke kraton Surakarta dan Yogyakarta, kegiatan penulisan sastra Pesisir juga berkembang di daerah-daerah Surakarta dan Yogyakara, serta tempat lain di sekitarnya seperti Banyumas, Kedu, Madiun dan Kediri (Pigeaud 1967:6-7)

Khazanah sastra Pesisir tidak kalah melimpahnya dibanding khazanah sastra Jawa Kuno. Khazanah tersebut meliputi karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa Madya, Madura dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis dan coraknya sebagaimana pengelompokan dalam sastra Melayu Islam, seperti berikut. (1) Kisah-kisah berkenaan dengan Nabi Muhammad s.a.w; (2) Kisah para Nabi, di Jawa disebut Serat Anbiya’. Dari sumber ini muncul kisah-kisah lepas seperti kisah Nabi Musa, Kisah Yusuf dan Zuleikha, Kisah Nabi Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Yunus, Isa dan lain-lain; (3) Kisah Sahabat-sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib; (4) Kisah Para Wali seperti Bayazid al-Bhiztami, Ibrahim Adam dan lain-lain; (5) Hikayat Raja-raja dan Pahlawan Islam, seperti Amir Hamzah, Muhammad Hanafiah, Johar Manik, Umar Umayya dan lain-lain. Dalam sastra Jawa, Madura dan Sunda disebut Serat Menak, serial kisah para bangsawan Islam; (6) Sastra Kitab, uraian mengenai ilmu-ilmu Islam seperti tafsir al-Qur’an, hadis, ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, tarikh (sejarah), nahu (tatabahasa Arab), adab (sastra Islam) dan lain-lain, dengan menggunakan gaya bahasa sastra; (7) Karangan-karangan bercorak tasawuf. Dalam bentuk puisi karangan seperti itu di Jawa disebut suluk. Tetapi juga tidak jarang dituangkan dalam bentuk kisah perumpamaan atau alegori. Dalam bentuk kisah perumpamaan dapat dimasukkan kisah-kisah didaktis, di antaranya yang mengandung ajaran tasawuf; (7) Karya Ketatanegaraan, yang menguraikan masalah politik dan pemerintahan, diselingi berbagai cerit; (8) Karya bercorak sejarah; (9) Cerita Berbingkai, di dalamnya termasuk fabel atau cerita binatang; (10) Roman, kisah petualangan bercampur percintaan; (11) Cerita Jenaka dan Pelipur Lara. Misalnya cerita Abu Nuwas (Ali Ahmad dan Siti Hajar Che’ Man:1996; Pigeaud I 1967:83-7 ).
Yang relevan untuk pembicaraan ini ialah no. 6, karangan-karangan bercorak tasawuf dan roman yang sering digubah menjadi alegori sufi. Karangan-karangan bercorak tasawuf disebut suluk dan lazim ditulis dalam bentuk puisi atau tembang. Jumlah karya jenis ini cukup melimpah. Contohnya ialah Kitab Musawaratan Wali Sanga, Suluk Wali Sanga, Mustika Rancang, Suluk Malang Sumirang, Suluk Aceh, Suluk Walih, Suluk Daka, Suluk Syamsi Tabris, Suluk Jatirasa, Suluk Johar Mungkin, Suluk Pancadriya, Ontal Enom (Madura), Suluk Jebeng dan lain-lain. Termasuk kisah perumpunaan dan didaktis ialah Sama’un dan Mariya, Masirullah, Wujud Tuinggal, Suksma Winasa, Dewi Malika, Syeh Majenun (Pigeaud I: 84-88). Agak mengejutkan juga karena dalam kelompok ini ditemukan kisah didaktis berjudul Bustan, yang merupakan saduran karya penyair Parsi terkenal abad ke-13 M, Syekh Sa’di al-Syirazi, yang petikan sajak-sajaknya dalam bahasa Persia terdapat pada makam seorang muslimah Pasai, Naina Husamuddin yang wafat pada abad ke-14 M.
Dalam khazanah sastra Pesisir juga didapati karya ketatanegaraan dan pemerintahan seperti Paniti Sastra dan saduran Tajus Salatin karya Bukhari al-Jauhari (1603) dari Aceh. Saduran Taj al-Salatin dalam bahasa Jawa ini ditulis dalam bentuk tembang. Karya-karya kesejarahan tergolong banyak. Di antaranya ialah Babad Giri, Babad Gresik, Babad Demak, Babad Madura, Babad Surabaya, Babad Sumenep, Babad Besuki, Babad Sedayu, Babad Tuban, Kidung Arok, Juragan Gulisman (Madura) dan Kek Lesap (Madura). Ada pun roman yang populer di antaranya ialah Certta Mursada, Jaka Nestapa, Jatikusuma, Smarakandi, Sukmadi, sedangkan dari Madura ialah Tanda Anggrek, Bangsacara Ragapadmi dan Lanceng Prabhan (Ibid). Karya-karya Pesisir lain dari Madura yang terkenal ialah Caretana Barakay, Jaka Tole, Tanda Serep, Baginda Ali, Paksi Bayan, Rato Sasoce, Malyawan, Serat Rama, Judasan Arab, Menak Satip, Prabu Rara, Rancang Kancana, Hokomollah, Pandita Rahib, Keyae Sentar, Lemmos, Raja Kombhang, Sesigar Sebak, Sokma Jati, Rato Marbin, Murbing Rama, Barkan, Malang Gandring, Pangeran Laleyan, Brangta Jaya dan lain-lain.
Penulis-penulis Pesisir yang awal pada umumnya ialah para wali dan ahli tasawuf terkemuka seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Panggung dan Syekh Siti Jenar. Yang amat disayangkan ialah karena dalam daftar yang terdapat dalam katalog-katalog naskah Jawa Timur, nama pengarang dan penyalin teks jarang sekali disebutkan. Namun sejauh mengenai teks-teks dari Madura, terdapat beberapa nama pengarang terkenal pada abad ke-17 – 19 M yang dapat dicatat. Misalny Abdul Halim (pengarang Tembang Bato Gunung), Mohamad Saifuddin (pegarang Serat Hokomolla dan Nabbi Mosa), Ahmad Syarif, R. H. Bangsataruna, Sasra Danukusuma, Umar Sastradiwirya dan lain-lain (Abdul Hadi W. M. 1981).

Penelitian ini tidak akan membahas semua karya yang telah disebutkan, karena apabila dilakukan maka pembicaraan akan menjadi sangat luas. Supaya terfokus, pembicaraan akan ditumpukan pada suluk-suluk karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, yang sedikit banyak mencerminkan kecenderungan umum sastra Pesisir awal. Beberapa alasan lain dapat dikemukakan di sini, sebagai berikut:
Pertama, Kajian terhadap karya Jawa Kuna telah banyak dilakukan baik oleh sarjana Indonesia maupun asing, sedangkan karya Pesisir masih sangat sedikit yang memberi perhatian. Padahal pengaruh karya Pesisir itu tidak kecil terdahap kebudayaan masyarakat Jawa Timur. Pengaruh tersebut meliputi bidang-bidang seperti metafisika, kosmologi, etika, psikologi dan estetika, karena yang diungkapkan karya-karya Pesisir itu mencakup persoalan-persoalan yang dibicarakan dalam bidang-bidang tersebut.
Kedua, Selama beberapa dasawarsa Sunan Bonang hanya dikenal sebagai seorang wali dan belum banyak yang membahas karya-karya serta pemikirannya di bidang keruhanian, kebudayaan dan agama. Kajian yang cukup mendalam sebagian besar dilakukan oleh sarjana asing seperti Schrieke (1911), Kraemer (1921) dan Drewes (1967). Sarjana Indonesia yang meneliti, namun tidak mendalam ialah Purbatjaraka (1938). Selebihnya pembicaraan mengenai Sunan Bonang hanya menyangkut kegiatannya sebagai wali penyebar agama Islam.
Ketiga, Suluk sebagai karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk tembang, mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan spiritual masyarakat Jawa Timur. Mengingkari peranan suluk dan sastra suluk adalah mengingkari realitas budaya masyarakat Jawa Timur.
Keempat, Suluk-suluk Sunan Bonang mencerminkan babakan sejarah yang penting dalam kebudayaan Jawa, yaitu zaman peralihan dari Hindu ke Islam yang berlangsung secara damai.
Kelima, Suluk-suluk tersebut merupakan karya bercorak tasawuf paling awal dalam sejarah sastra Jawa secara umum dan pengaruhnya tidak kecil bagi perkembangan sastra Pesisir.

Sunan Bonang Sebagai Pengarang
Sunan Bonang diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 M dan wafat pada awal abad ke-16 M. Ada yang memperkirakan wafat pada tahun 1626 atau 1630, ada yang memperkirakan pada tahun 1622 (de Graff & Pigeaud 1985:55). Dia adalah ulama sufi, ahli dalam berbagai bidang ilmu agama dan sastra. Juga dikenal ahli falak, musik dan seni pertunjukan. Sebagai sastrawan dia menguasai bahasa dan kesusastraan Arab, Persia, Melayu dan Jawa Kuno. Nama aslinya ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dan dari sumber-sumber sejarah lokal ia disebut dengan berbagai nama gelaran seperti Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah dan lain-lain (Hussein Djajadiningrat 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1968). Nama Sunan Bonang diambil dari nama tempat sang wali mendirikan pesujudan (tempat melakukan `uzlah) dan pesantren di desa Bonang, tidak jauh dari Lasem di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur sekarang ini. Tempat ini masih ada sampai sekarang dan ramai diziarahi pengunjung untuk menyepi, seraya memperbanyak ibadah seperti berzikir, mengaji al-Qur’an dan tiraqat (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).
Kakeknya bernama Ibrahim al-Ghazi bin Jamaluddin Husain, seorang ulama terkemuka keturunan Turki-Persia dari Samarkand. Syekh Ibrahim al-Ghazi sering dipanggil Ibrahim Asmarakandi (Ibrahim al-Samarqandi), nama takhallus atau gelar yang kelak juga disandang oleh cucunya. Sebelum pindah ke Campa pada akhir abad ke-14 M, Syekh Ibrahim al-Ghazi tinggal di Yunan, Cina Selatan. Pada masa itu Yunan merupakan tempat singgah utama ulama Asia Tengah yang akan berdakwah ke Asia Tenggara. Di Campa dia kawin dengan seorang putri Campa keturunan Cina dari Yunan. Pada tahun 1401 M lahirlah putranya Makhdum Rahmat, yang kelak akan menjadi masyhur sebagai wali terkemuka di pulau Jawa dengan nama Sunan Ampel. Setelah dewasa Rahmat pergi ke Surabaya,mengikuti jejak bibinya Putri Dwarawati dari Campa yang diperistri oleh raja Majapahit Prabu Kertabhumi atau Brawijaya V. Di Surabaya, ayah Sunan Bonang ini, mendapat tanah di daerah Ampel, Surabaya, tempat dia mendirikan masjid dan pesantren. Dari perkawinannya dengan seorang putri Majapahit, yaitu anak adipati Tuban, Tumenggung Arya Teja, dia memperoleh beberapa putra dan putri. Seorang di antaranya yang masyhur ialah Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. (Hussein Djajadiningrat 1983:23; Agus Sunyoto 1995::48).
Sejak muda Makhdum Ibrahim adalah seorang pelajar yang tekun dan muballigh yang handal. Setelah mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai cabang ilmu agama yang penting seperti fiqih, usuluddin, tafsir Qur’, hadis dan tasawuf; bersama saudaranya Sunan Giri dia pergi ke Mekkah dengan singgah terlebih dahulu di Malaka, kemudian ke Pasai. Di Malaka dan Pasai mereka mempelajari bahasa dan sastra Arab lebih mendalam. Sejarah Melayu merekam kunjungan Sunan Bonang dan Sunan Giri ke Malaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasai. Sepulang dar Mekkah, melalui jalan laut dengan singgah di Gujarat, India, Sunan Bonang ditugaskan oleh ayahnya ntuk memimpin masjid Singkal, Daha di Kediri (Kalamwadi 1990:26-30). Di sini dia memulai kariernya pertama kali sebagai pendakwah.

Ketika masjid Demak berdiri pada tahun 1498 M Sunan Bonang untuk menjadi imamnya yang pertama. Dalam menjalankan tugasnya itu dia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo dan wali yang lain. Di bawah pimpinannya masjid agung itu berkembang cepat menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan terkemuka. Tetapi sekitar tahun 1503 M, dia berselisih paham dengan Sultan Demak dan memutuskan untuk meletakkan jabatannya sebagai imam masjid agung. Dari Demak Sunan Bonang pindah ke Lasem, dan memilih desa Bonang sebagai tempat kegiatannya yang baru. Di sini dia mendidirikan pesujudan dan pesantren. Beberapa karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, mengambil latar kisah di pesujudannya ini. Di tempat inilah dia mengajarkan tasawuf kepada salah seorang muridnya, Wujil, seorang cebol namun terpelajar dan bekas abdi dalem kraton Majapahit (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).
Setelah cukup lama tinggal di Bonang dan telah mendidik banyak murid, dia pun pulang ke Tuban. Di sini dia mendirikan masjid besar dan pesantren, meneruskan kegiatannya sebagai seorang muballigh, pendidik, budayawan dan sastrawan terkemuka sehingga masa akhir hayatnya.
Dalam sejarah sastra Jawa Pesisir, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair yang prolifik dan penulis risalah tasawuf yang ulung. Dia juga dikenal sebagai pencipta beberapa tembang (metrum puisi) baru dan mengarang beberapa cerita wayang bernafaskan Islam. Sebagai musikus dia menggubah beberapa gending (komposisi musik gamelan) seperti gending Dharma yang sangat terkenal. Di bawah pengaruh wawasan estetika sufi yang diperkenalkan para wali termasuk Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, gamelan Jawa berkembang menjadi oskestra polyfonik yang sangat meditatif dan kontemplatif. Sunan Bonang pula yang memasukkan instrumen baru seperti rebab Arab dan kempul Campa (yang kemudian disebut bonang, untuk mengabadikan namanya) ke dalam susunan gamelan Jawa.
Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) Suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain (Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.

Suluk-suluk Sunan Bonang
Sebagaimana telah dikemukakan suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana, dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalana keruhanian (suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencpai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan ruhani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan ruhani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memperoleh kasyf (tersingkapnya cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan ruhani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’ (hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi) dan faqr (Abdul Hadi W. M. 2002:18-19).
. Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai seorang ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadadaan fana’ dan baqa’. Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf, ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap Tuhannya. Seorang faqir tidak memiliki keterpautan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan ‘diri jasmani’ dan hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi tidak berarti melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Sufi Persia abad ke-13 M menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta (mahabbah atau `isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang Satu, asas penciptaan segala sesuatu, metode keruhanian dalam mencapai kebenaran tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memperoleh pengetahuan mendalam tentang Yang Satu (Ibid).
Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat). Demikian dalam mengemukakan pengalaman keruhanian di jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya Sunan Bonang tidak jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal. Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara pencinta (`asyiq) dan Kekasih (mahbub, ma`syuq).
Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk yang diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang, khususnya yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong. Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.
Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam. Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama beradadi Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karya yang tidak kalah penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang.
Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempruna. Di dalamnya digambarja jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut kemana pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam lautan dan lenyap, tetapi tidak dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’ tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.
Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah fana’ ruh idafi, iaitu ‘keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuititf atau makrifat menyempurnakan penghlihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal’. Pendek kata dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88, “Segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya”. Ini digambarkan melalui peumpamaan asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)

Yang pertama syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia iaitu dari Hari Mitsaq (Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna). Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengucap “Tiada Tuhan selain allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”. Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat dimpamakan seperti kesatuan transenden antara tidakan menulis, tulisan dan lembaran kertas yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan sperti gelas, isinya dan gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.
Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamman ini dapat dirujuk kepada perumpamaan seupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.
Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-mucmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).
Suluk Jebeng. Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbimcanganmengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diir yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh sperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:

Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahsia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?

Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan

Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna

Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya ”Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten” (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978), disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.
Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut ilmu suluk, Syaful Rijal, dan gurunya Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya pedang yang tajam, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid yang tekun mempelajari tasawuf (al-Attas 1972). Mungkin ini adalah sebutan untuk Sunan Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu suluk. Syekh Bari diduga adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal dari Bar, Khurasan, Persia Timur Daya (Drewes 1968:12). Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111 M) dan Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang disebut ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan al-Nuri) dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh tersebut merupakan sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani 1985:6). Istilah yang digunakan dalam kitab ini, yaitu ”wirasaning ilmu suluk” (jiwa atau inti ajaran tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan jiwa ilmu-ilmu agama.

Suluk Wujil
Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi kajian ini ialah Suluk Wujil. Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft 54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka dalam tulisannya ”De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)” (majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.
Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar suasana kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan masyarakat pun berubah.
Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari segi bahasa suluk ini memperlihatkan “keanehan-keanehan bahasa Jawa Kuna zaman Hindu” (Purbatjaraka: 1938) karena memang ditulis pada zaman permulaan munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin zaman peralihan begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita yang agak menyimpang, selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuna yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah wafatnya Sunan Bonang tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa.
Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir sudah sejak awal kegiatan kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu, sedangkan Sunan Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan huruf Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab digunakan untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa. Dalam penulisan puisinya, Sunan Bonang juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu. Misalnya tamsil wayang, dalang dan lakon cerita pewayangan seperti Perang Bharata antara Kurawa dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika Sanskerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai suatu kesinambungan.
Kedua, pentingnya Suluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:

1
Dan warnanen sira ta Pun Wujil
Matur sira ing sang Adinira
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat Panenggrane
Samungkem ameng Lebu?
Talapakan sang Mahamuni
Sang Adhekeh in Benang,
mangke atur Bendu
Sawetnya nedo jinarwan
Saprapating kahing agama kang sinelit
Teka ing rahsya purba

2
Sadasa warsa sira pun Wujil
Angastupada sang Adinira
Tan antuk warandikane
Ri kawijilanipun
Sira wujil ing Maospait
Ameng amenganira
Nateng Majalanggu
Telas sandining aksara
Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti
Anuhun pangatpada

3
Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih
Ing talapakan sang Jati Wenang
Pejah gesang katur mangke
Sampun manuh pamuruh
Sastra Arab paduka warti
Wekasane angladrang
Anggeng among kayun
Sabran dina raraketan
Malah bosen kawula kang aludrugi
Ginawe alan-alan

4
Ya pangeran ing sang Adigusti
Jarwaning aksara tunggal
Pengiwa lan panengene
Nora na bedanipun
Dening maksih atata gendhing
Maksih ucap-ucapan
Karone puniku
Datan polih anggeng mendra-mendra
Atilar tresna saka ring Majapait
Nora antuk usada

5
Ya marma lunganging kis ing wengi
Angulati sarasyaning tunggal
Sampurnaning lampah kabeh
Sing pandhita sundhuning
Angulati sarining urip
Wekasing jati wenang
Wekasing lor kidul
Suruping radya wulan
Reming netra lalawa suruping pati
Wekasing ana ora

Artinya, lebih kurang:

1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Ssampai rahsia terdalam

2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf

3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang

4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar

5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada

Pertanyaan-pertanyaan Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir. Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblar dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi. Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu uni, sebagaimana pertanyaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi, Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.
Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya, kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

6
Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
Heh ra Wujil kapo kamangkara
Tan samanya pangucape
Lewih anuhun bendu
Atunira taha managih
Dening geng ing sakarya
Kang sampun alebu
Tan padhitane dunya
Yen adol warta tuku warta ning tulis
Angur aja wahdat

7
Kang adol warta tuhu warti
Kumisum kaya-kaya weruha
Mangke ki andhe-andhene
Awarna kadi kuntul
Ana tapa sajroning warih
Meneng tan kena obah
Tinggalipun terus
Ambek sadu anon mangsa
Lirhantelu outihe putih ing jawi
Ing jro kaworan rakta

8
Suruping arka aganti wengi
Pun Wujil anuntu maken wraksa
Badhi yang aneng dagane
Patapane sang Wiku
Ujung tepining wahudadi
Aran dhekeh ing Benang
Saha-saha sunya samun
Anggaryang tan ana pala boga
Ang ing ryaking sagara nempuki
Parang rong asiluman

9
Sang Ratu Wahdat lingira aris
Heh ra Wujil marangke den enggal
Tur den shekel kukuncire
Sarwi den elus-elus
Tiniban sih ing sabda wadi
Ra Wujil rungokna
Sasmita katenggun
Lamun sira kalebua
Ing naraka isung dhewek angleboni
Aja kang kaya sira

… 11
Pangestisun ing sira ra Wujil
Den yatna uripira neng dunya
Ywa sumambar angeng gawe
Kawruhana den estu
Sariranta pon tutujati
Kang jati dudu sira
Sing sapa puniku
Weruh rekeh ing sariri
Mangka saksat wruh sira
Maring Hyang Widi
Iku marga utama

Artinya lebih kurang:

6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat

7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning

8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan

9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”

11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”

Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan diri’ dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri ruhani’, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Kedua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’. Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan ”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).
Demikianlah sebagai karya bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa, kedudukan Suluk Wujil dan suluk-suluk Sunan Bonang yang lain sangatlah penting. Sejak awal pengajarannya tentang tasawuf, Sunan Bonang menekankan bahwa konsep fana’ atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan kesamaan manusia dengan Tuhan, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah.
Seperti penyair sufi Arab, Persia dan Melayu, Sunan Bonang – dalam mengungkapkan ajaran tasawuf dan pengalaman keruhanian yang dialaminya di jalan tasawuf – menggunakan baik simbol (tamsil) yang diambil dari budaya Islam universal maupun dari budaya lokal. Tamsil-tamsil dari budaya Islam universal yang digunakan ialah burung, cermin, laut, Mekkah (tempat Ka’bah atau rumah Tuhan) berada, sedangkan dari budaya lokal antara lain ialah tamsil wayang, lakon perang Kurawa dan Pandawa (dari kisah Mahabharata) dan bunga teratai. Tamsil-tamsil ini secara berurutan dijadikan sarana oleh Sunan Bonang untuk menjelaskan tahap-tahap perjalanan jiwa manusia dalam upaya mengenal dirinya yang hakiki, yang melaluinya pada akhirnya mencapai makrifat, yaitu mengenal Tuhannya secara mendalam melalui penyaksian kalbunya.

Sumber : http://agusza.its-sby.edu/nikki/2009/04/20/sastra-pesisir-suluk-sunan-bonang/

Sekilas tentang Wisata Bahari Lamongan

Tanjung Kodok Beach Resort, Lamongan-East Java

Tuesday, 24. August 2010

Tanjung Kodok Beach Resort is the only five-star resort on the northern coast of Java, which is equipped with various sports facilities, recreation and entertainment. Besides being the ideal place for family and relationships to spend time relaxing. Tanjung Kodok Beach Resort is also the most appropriate place to carry out various events meetings, seminars, recreation and family offices, school meetings, training, sports, entertainment, miscellaneous weddings and even graduation. Location of the Tanjung Kodok Beach Resort is very strategic, the Road Paciran a very historic, between Gresik to Tuban. This resort is a unity with Lamongan Marine Tourism and Tourism Goa Maharani. In addition Tanjung Kodok Beach Resort also close to several tourist pilgrimage in Lamongan, such as pilgrimages and the tomb of Sunan Sunan Drajad Sendang Dhuwur. Approximately 15 km, you can visit the tomb of Sheikh Asmoroqondi and about 5 km there is Brondong fish auction place, which presents the results of various types of fresh fish directly from fishermen from the sea. You can also visit the tomb of Akbar and Goa Sunan Bonang with a distance of about 30km away from the hotel location. In the neighborhood of Tanjung Kodok Beach Resort also have a very broad field, which can be used for various student activities, such as entertainment, muse or bonfire night, while enjoying the feel of sea breeze and beautiful waves. Tanjung Kodok Beach Resort also provides a place of recreation of the evening till morning, that is Marina beach. You can directly go to the beach and a walk on the pier while watching the small boats as well as people who were fishing and the capture of fish in the vicinity. You can also use the tools to play on the beach, beach volleyball and bathe in freshwater pools.

http://deluxearch.com/tanjung-kodok-beach-resort-lamongan-east-java

Wisata Bahari Lamongan (WBL)

Terletak di pesisir utara Pantai Jawa, tepatnya di kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan – Jawa Timur, Wisata Bahari Lamongan (WBL) menawarkan oase tersendiri bagi wisatawan. Berdiri sejak tahun 2004 sebagai hasil pengembangan objek wisata yang telah ada sebelumnya, yaitu Pantai Tanjung Kodok.

Memadukan konsep wisata bahari dan dunia wisata dalam areal seluas 11 hektare, WBL siap memanjakan pengunjung dengan konsep one stop service mulai jam 08.30-16.30 WIB setiap harinya. Didukung pula dengan hadirnya 3 wahana baru setiap tahunnya.

Selain itu tersedia pula fasilitas pendukung seperti Pasar Hidangan, Pasar Wisata, Pasar Buah dan Ikan serta fasilitas umum lain seperti Mushola, Klinik, ATM, Tempat Menyusui Ibu & Bayi, Toilet, Tempat Parkir dan lain sebagainya.

Terhubung dengan Tanjung Kodok Beach Resort dan Maharani Zoo & Goa, menjadikan perjalanan wisata anda semakin nyaman dan berkesan.

Sumber : http://www.wisatabaharilamongan.com/

WISATA BAHARI LAMONGAN

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Wisata Bahari Lamongan atau disingkat WBL, adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Tempat wisata ini dibuka sejak soft opening tanggal 14 November 2004. Beberapa wahana unggulan tempat wisata ini antara lain Istana Bawah Laut, Gua Insectarium, Space Shuttle, Anjungan Wali Songo, Texas City, Paus Dangdut, Tembak Ikan, Rumah Kaca, serta Istana Bajak Laut.

Obyek wisata ini berada di jalur pantura SurabayaTuban, serta berada di dekat sejumlah obyek wisata andalan di Jawa Timur, diantaranya Gua Maharani, Makam dan Museum Sunan Drajat, Makam Sunan Sendang Duwur, dan Tanjung Kodok Resort. Tidak jauh dari WBL, sekitar 5 km arah timur, sudah dioperasikan kawasan berikat yang dikenal dengan Lamongan Shorebase (LS). Sementara itu, sekitar 6 kilometer arah barat terdapat pelabuhan perikanan Nusantara di kecamatan Brondong dengan tempat pelelangan ikan yang sangat dikenal di Jawa Timur.

Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa.

Artikel ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Wisata_Bahari_Lamongan


WISATA BAHARI LAMONGAN, PRIMADONA PLESIRAN JATIM

Foto: Istimewa

Oleh: Dahlia Krisnamurti

Gaya Hidup – Senin, 28 Februari 2011 | 02:09 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Wisata Bahari Lamongan atau disingkat WBL adalah tempat wisata bahari di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Tempat wisata yang dibuka sejak 2004 ini memiliki beberapa wahana unggulan tempat wisata antara lain Istana Bawah Laut, Gua Insectarium, Space Shuttle, Anjungan Wali Songo, Texas City, Paus Dangdut, Tembak Ikan, Rumah Kaca, serta Istana Bajak Laut.

Memadukan konsep wisata bahari dan dunia wisata dalam areal seluas 11 hektar, WBL siap memanjakan pengunjung dengan konsep one stop service mulai jam 08.30-17.30 WIB setiap harinya.

Didukung pula dengan hadirnya tiga wahana baru setiap tahun. Selain itu tersedia pula fasilitas pendukung seperti pasar hidangan, pasar wisata, pasar buah dan ikan serta fasilitas umum lain seperti mushola, klinik, ATM, tempat menyusui ibu dan bayi, toilet, tempat parkir, dsb.

Obyek wisata ini berada di jalur pantura Surabaya-Tuban, serta berada di dekat sejumlah obyek wisata andalan di Jawa Timur, di antaranya Gua Maharani, Makam dan Museum Sunan Drajat, Makam Sunan Sendang Duwur, dan Tanjung Kodok Resort.

Tidak jauh dari WBL, sekitar lima kilometer arah timur, sudah beroperasi kawasan berikat yang dikenal dengan Lamongan Shorebase (LS). Sementara itu, sekitar enam kilometer arah barat terdapat pelabuhan perikanan Nusantara di kecamatan Brondong dengan tempat pelelangan ikan yang sangat dikenal di Jawa Timur. [mor]

Sumber : http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1275182/wisata-bahari-lamongan-primadona-plesiran-jatim

Wisata Bahari Lamongan

Februari 16th, 2011 by informasikotamalang

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Wisata Bahari Lamongan? Ternyata maksud dari Wisata Bahari Lamongan adalah Adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa..

Wisata Bahari Lamongan adalah salah satu informasi penting yang sangat berguna bagi anda yang membutuhkan informasi tentang Adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa.. Terkadang informasi ini sangat sulit karena Adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa. masih jarang tersedia informasinya secara lengkap di internet.

Walaupun demikian bukan berarti Wisata Bahari Lamongan sulit digali informasinya, terutama di dunia maya (internet). Informasi tentang Adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa. bisa dengan mudah anda dapatkan jika anda mau jeli dalam mencarinya di internet.

Rekomendasi kami tentang informasi Wisata Bahari Lamongan sementara ini hanya masih sebatas beberapa website saja. Informasi Adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa. yang anda inginkan silahkan akses di beberapa link website di bawah ini.

Jika masih belum bisa menemukan informasi tentang Wisata Bahari Lamongan yang berisi detail tentang Adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa. silahkan mencari referensi di Google. Masukkan kata kunci yang berhubungan dengan Wisata Bahari Lamongan maka anda akan bisa menemukan berbagai website atau blog yang memuat tentang Adalah tempat wisata bahari yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Saat ini Wisata Bahari Lamongan diperluas hingga mencakup Gua Maharani. Dimana Gua Maharani sekarang tidak hanya menjadi tempat wisata Goa saja tetapi telah dikembangkan sebagai tempat rekreasi kebun binatang (Zoo) yang telah memiliki banyak koleksi binatang. Sehingga Goa Maharani sekarang telah berubah nama menjadi Maharani Zoo & Goa. yang bisa anda ambil informasinya secara cuma-cuma.

Untuk Mengetahui tentang Sengkaling Malang klik link ini : Sengkaling Malang, Untuk Mengetahui tentang Kuliner Khas Malang klik link ini : Kuliner Khas Malang,

Sumber : http://informasikotamalang.blogdetik.com/2011/02/16/wisata-bahari-lamongan/

Sekilas tentang Syekh Samarkand

Syekh Ibrahim Asmarakandi Sep 4, ’08 3:53 AM
for everyone

Syekh Ibrahim Asmarakandi atau Syekh Ibrahim as-Samarkandy atau Syekh Ibrahim al-Hadhrami bernama lahir Sayyid Ibrahim al-Ghozi, diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap as-Samarkandy, hingga akhirnya berubah menjadi Asmarakandi.

Selain itu di kalangan masyarakat Jawa, beliau juga dikenal dengan nama Raja Pandhita, Sayyid Haji Mustakim, Makdum Brahim Asmara, Maulana Ibrahim Asmara atau Imam dari Asmara.

Menurut versi Arab, Syekh Ibrahim Asmarakandi adalah seorang ulama besar dari Samarkand, daerah sekitar Bukhara di Uzbekistan kini. Sebuah daerah yang sejak dahulu dikenal sebagai daerah berpenduduk Islam yang taat dan juga para ulamanya yang juga termasyhur.

Pada saat yang hampir bersamaan dengan dikirimnya Syamsuddin al-Wali ke Turki, seorang ulama lain dari Bukhara bernama Syekh Jamaluddin Akbar al-Husain mengirimkan anaknya Sayyid Ibrahim al-Ghozi untuk berdakwah ke wilayah timur. Dengan berpandukan kepada ilham yang diterima oleh ayahnya, Sayyid Ibrahim al-Ghozi pergi menuju ke Asia Tenggara. Beliau menjumpai ternyata penduduk timur (Asia Tenggara) masih menganut agama selain Islam. Beliau sadar bahwa bukan di zamannya lah Islam akan gemilang dan bangkit di timur seperti yang dimaksudkan dalam hadist Nabi, dan peran beliau hanyalah sebatas meng-Islamkan wilayah timur.

Mula-mula beliau tiba dan kemudian bermukim di Campa (sekarang Kamboja) selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Di sana , beliau berdakwah kepada masyarakat dan juga Raja Campa hingga kemudian bersedia masuk Islam. Beliau bahkan kemudian menikahi Dewi Candha Wulan, putri Raja Campa tersebut, hingga kemudian menghasilkan dua orang anak, yaitu Raden Ahmad Ali Murtadho (Raden Santri) dan Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel).

Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, pada tahun 1392 M, Sayyid Ibrahim al-Ghozi yang kemudian bergelar Syekh, hijrah ke Pulau Jawa bersama keluarganya. Sebelum ke Jawa, pada tahun 1440, mereka singgah dulu di Palembang untuk memperkenalkan agama Islam kepada Adipati Palembang waktu itu, Arya Damar. Setelah tiga tahun di Palembang dan berhasil meng-Islamkan Adipati Arya Damar (yang kemudian berganti nama menjadi Abdullah) dan keluarganya, barulah kemudian mereka melanjutkan perjalanannya ke Pulau Jawa.

Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai akhirnya Syekh Ibrahim al-Ghozi yang kemudian dikenal sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan wafat. Beliau kemudian dimakamkan di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban, Jawa Timur pada sekitar tahun 1444 M.

Oleh karena itu, beliau juga kemudian dikenal sebagai SUNAN NGGESIK. Sisa rombongan, yang terdiri dari Raden Rahmat, Raden Santri, Raden Burereh serta beberapa kerabat lainnya, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Trowulan, ibukota Majapahit, untuk menemui bibi mereka Dewi Andarawati yang telah menikah dengan Raja Majapahit pada waktu itu, Prabu Brawijaya.

* Dirangkum oleh Pa’e Daffa dari berbagai sumber.

NB. Bukan Agus Ibrahim ya…

Sumber : http://joewonodwi.multiply.com/journal/item/39

IBN HASAN ALHABSYI

Beberapa catatan sejarah tentang kedatangan orang-orang Arab, khususnya keturunan Nabi saw (‘Alawiyyin) termasuk Wali Songo, ke Indonesia khususnya dan negeri-negeri Timur Jauh serta peranan mereka dalam penyebaran Islam .

Marilah kita ikuti ,berikut ini, sekelumit catatan sejarah tentang kedatangan orang-orang Arab , khususnya keturunan Nabi saw ke Indonesia dan peranan mereka dalam penyebaran agama Islam.Seorang penulis sejarah penduduk pulau Jawa yang bernama Haji ‘Ali bin Khairuddin, didalam bukunya ‘Keterangan-keterangan Kedatengan Bongso Arab Ing Tanah Jawi Saking Hadhramaut’ halaman 113, mengatakan antara lain: Kedatangan orang-orang Arab dikepulauan ini (Indonesia) terjadi pada akhir abad ke-7 H. Mereka datang dari India, terdiri dari sembilan orang yang oleh penduduk Jawa disebut Wali Songo yakni Sembilan Waliyullah. Mereka adalah bersaudara, yaitu: Sayid Jamaluddin Agung, Sayid Qamaruddin, Sayid Tsana’uddin, Sayid Majduddin, Sayid Muhyiddin, Sayid Zainul ‘Alam, Sayid Nurul ‘Alam, Sayid ‘Alawi dan Sayid Fadhl Sunan Lembayung. Mereka semua ini adalah putra-putra dari Ahmad bin Abdullah bin Abdulmalik bin ‘Alawi bin Muhamad Shahib Marbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alawi bin Muhamad bin ‘Alawi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa Al-Bashiri bin Muhamad An-Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhamad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husain bin Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw dan Fathimah Az-Zahra ra binti Muhammad Rasulallah saw. Mereka semua adalah dzurriyatun-Nabi (keturunan Nabi saw)

Datuk ketiga sembilan orang waliyullah tersebut adalah Sayid Abdulmalik bin ‘Alawi, lahir dikota Qasam, sebuah kota di Hadramaut/Yaman Selatan, sekitar tahun 574 H. Beliau meninggalkan Hadramaut pergi ke India bersama rombongan para Sayid dari kaum ‘Alawiyyin (julukan keturunan Nabi saw yang dari Hadramaut/yaman selatan). Di India beliau bermukim di Nashr Abad. Beliau mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, diantaranya ialah Sayid Amir Khan Abdullah bin Sayid Abdulmalik , lahir dikota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan dia lahir disebuah desa dekat Nashr Abad. Dia anak kedua dari Sayid Abdulmalik. Sayid Amir Khan ini mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’adzdzam Syah Maulana Ahmad.

Maulana Ahmad Syah Mu’adzdam ini mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari anak lelaki itu, meninggalkan India berangkat mengembara. Ada dari mereka ini yang kenegeri Cina, Kamboja, Siam (thailand) dan ada pula yang pergi kenegeri Anam dari Mongolia Dalam (negeri Mongolia yang termasuk wilayah Cina). Diantara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayid Ahmad. Di Kamboja Sayid Jamaluddin ini nikah dengan anak perempuan salah seorang Raja dinegeri itu (menurut versi lain yang nikah dengan anak Raja Kamboja ialah putera Jamaluddin Al-Akbar yaitu Ibrahim Asmoro). Dari isterinya ini dia mempunyai dua anak lelaki yang bernama Sayid Ibrahim Al-Ghazi dan Sayid Jalal Al-Mu’adzdzam Maulana Zahid Alhakim Abdulmalik. Sayid Al-Ghazi seorang pejuang besar yang berhasil mengislamkan beberapa daerah di Cina, Melayu dan Sumatra. Sedangkan saudaranya Sayid Jalal tidak diketahui riwayat hidupnya dan tidak pernah ada berita tentang nasibnya.

Maulana Sayid Al-Ghazi ini meninggalkan India pergi ke Siam, kemudian bersama ayahnya ,Sayid Jamaluddin, ia mendarat di Aceh (Sumatra Utara). Disana ia mengganti kan ayahnya dalam kegiatan menyebarkan agama Islam. Sedangkan ayahnya Sayid Jamaluddin bersama beberapa orang saudara sepupunya berangkat naik perahu menuju pulau Jawa. Mereka mendarat dikawasan pesisir Semarang, kemudian melalui jalan darat tibalah di Pajajaran. Disinilah Sayid Jamaluddin bertempat tinggal. Hal ini terjadi pada masa akhir kekuasaan raja-raja di Pajajaran, yakni beberapa tahun sebelum kekuasaan Raja Jawa di Pajajaran berpindah ketangan Majapahit. Sayid Jamaluddin lalu berangkat ke Jawa Timur, dan tibalah di Surabaya. Pada waktu itu Surabaya merupakan sebuah desa kecil, tidak banyak penduduk, dikelilingi hutan-hutan dan sungai-sungai. Pada masa itu desa tersebut dikenal dengan nama Ampel, disinilah Sayid Jamaluddin bertempat tinggal.

Satu setengah tahun kemudian Sayid Jamaluddin ini bersama lima belas pengikutnya dan beberapa pembantu –yang semuanya terdiri dari kaum muslimin yang baru saja memeluk agama Islam– berangkat kepulau Sulawesi di Makasar (Ujung Pandang) . Dia tinggal ditanah Bugis dan tidak lama kemudian dia wafat dikota Wajo. Sedangkan tentang anak lelakinya, Sayid Al-Ghazi Maulana Ibrahim Alhakim, ia masih selalu pulang pergi dari Aceh ke Kamboja. Di Kamboja ia nikah dengan wanita Cina, yang kemudian melahirkan dua orang anak lelaki, yang bernama Maulana Ishaq dan Maulana Rahmatullah. Atas didikan ayah mereka, baik dalam hal agama maupun amal penerapannya, kedua-duanya menjadi Imam dan Alim (luas pengetahuan agamanya). Maulana Ishak kemudian berangkat seorang diri ke Malaka (Tanah Melayu), lalu tinggal di Riau dan menyebarluaskan agama Islam dikalangan penduduk.

Sayid Maulana Ishaq ini cukup lama tinggal di Pulau Pinang. Sebagaimana yang dilaku kan oleh para ahli tasawuf disana ia mengajarkan thariqat Syathariyah. Suatu thariqat yang dihayati oleh para orangtuanya pada masa itu dan yang mereka ambil dari ajaran-ajaran datuknya, yang diberikan kepada para ulama Islam di India. Kemudian Maulana Ishaq pindah ke Banyuwangi dengan tujuan untuk berdakwah disini. Di Banyuwangi dia memperoleh sambutan kehormatan dari penduduk, sehingga Raja Blambangan, Menakjinggo, mengundangnya datang di istananya. Blambangan terletak dikawasan pesisir utara Banyuwangi. Maulana Ishaq ini nikah dengan putri Menakjinggo, yang konon putrinya sudah memeluk agama Islam, dan ayahnya pun telah memeluk Islam, tetapi ia menyembunyikan keislamannya karena takut menghadapi serangan orang-orang Budha (Hindu). Dari perkawinannya ini Maulana Ishaq dikarunia seorang anak lelaki, yang diberi nama Sayid Muhamad ‘Ainulyakin. Sayid Muhamad oleh orang-orang Jawa ia disebut dengan nama Pangeran Prabu, sedangkan penduduk Banyuwangi menamainya Raden Paku. Dialah Sunan Giri yang mendirikan zawiyah (pondok khusus bagi para penganut aliran tasawuf) dan dialah datuk (kakek) Sunan Perapen.

Adapun Maulana Rahmatullah bin Ibrahim Alhakim yang dijuluki dengan nama Zainal Akbar Jamaluddin Alhusain, yang disebut juga dengan nama Sunan Ampel ia lahir dikota Campa, sebuah kota dinegeri Kamboja. Atas perintah ayahnya ,Maulana Ibrahim, dia datang kekepulauan Hindia Timur (Indonesia) pada tahun 751 H. Ia tiba di Jawa dan bermukim di Surabaya dan mempunyai hubungan baik dengan raja Prabu Wijaya V yang beragama Hindu Brahmana. Prabu Wijaya berhubungan intim dengan budak perempuan berkebangsaan India yang pada akhirnya budak ini hamil. Karena Prabu takut diketahui istrinya, maka budak ini dibuang ke Palembang dan meminta kepada saudaranya,Raden Damar, di Palembang agar sudi mengakui bahwa budak itu hamil dari Raden Damar ini. Anak yang lahir dari budak ini diberi nama Raden Joyowisnu. Anak ini setelah dewasa ia pergi ke Jawa dan berhubungan baik dengan Imam Rahmatullah (Sunan Ampel) dan sekaligus menjadi muridnya. Pada akhirnya Raden Joyowisnu ini memeluk agama Islam dan oleh Sunan Ampel diganti namanya dengan Abdul Fattah (dikenal dengan Raden Patah). Dia mengetahui bahwa ayahnya itulah yang mengusir dan membuang ibunya, yang sedang hamil ke Palembang.

Raden Fattah melancarkan balas dendam untuk memerangi ayahnya sendiri yang masih beragama Hindu Brahmana. Gurunya ,Sunan Ampel, telah mencegahnya dengan keras untuk memerangi kerajaan ayahnya dan menasihatinya, bahwa agama Islam adalah agama akal yang mengutamakan kebijaksanaan, bukan agama perang atau agama kekerasan. Tetapi Abdul Fattah tetap melaksanakan peperangan dengan kerajaan ayah nya, sehingga ia dijauhi oleh gurunya karena tidak mentaati petunjuk dan nasihatnya. Dua tahun kemudian, Sunan Ampel menyaksikan sendiri ketabahan dan kemantapan Abdul Fattah dalam membela dan menegakkan agama Islam, barulah ia dibiarkan mendekatinya kembali. Raden Abdul Fattah mendirikan kesultanan Islam pertama ,terpisah dari kerajaan Majapahit, di Demak dekat Kudus, tidak jauh dari Semarang. Panji dan bendera kesultanan Demak pada masa itu berwarna dasar hitam dan bertuliskan kalimat : “Laa ilaaha illallah Muhamad Rasulallah, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhina billahi Rabban wa bil Islami diinan wa bi Muhammadin Nabiyyan”.
Melihat kenyataan tersebut ayah Raden Fattah sangat gusar. Sebagai Raja Majapahit ia mengeluarkan keputusan untuk memerangi melawan kaum Muslimin. Bertahun-tahun Raden Abdul Fattah berkecimpung dalam peperangn melawan kerajaan Majapahit, sehingga ayahnya raja Prabu Wijaya bersama pasukannya meninggalkan istananya menuju kepula Bali. Di Bali ini dia mendirikan kerajaan Hindu yang baru bertempat di sebuah kota bernama Kelungkung. Sejak dahulu sampai detik ini sebagian besar penduduknya beragama Hindu.

Sedangkan anak lelaki Sunan Ampel yang bernama Maulana Ibrahim Al-Ghazi yang oleh kaum muslimin Jawa disebut dengan nama Sunan Bonang selalu menyertai Raden Abdul Fattah dalam peperangan. Setelah Maulana Ibrahim wafat ia dimakamkan di Bonang, namun kemudian oleh orang-orang Madura kuburannya dibongkar dan kerangka jenazahnya diangkut ke Madura untuk dimakamkan dipulau itu. Akan tetapi baru saja perahu yang mengangkutnya sampai kepesisir (pantai Tuban) tiba-tiba pecah. Jenazahnya dibawa kedarat dan dimakamkan kembali di Tuban, disebuah tempat terkenal dengan nama Istanah. Ia wafat tidak meninggalkan keturunan karena selama hidupnya tetap membujang, tidak pernah nikah sama sekali. Ia seorang yang gemar ber’uzlah, menjauhkan diri ditempat-tempat terpencil.

Sumber : http://www.facebook.com/topic.php?uid=153822355856&topic=13694

Study Tour Tahap II MTs. Manbaul Huda Grobogan (Bagian ii)

3. Sendang Coyo

Sendang coyo merupakan lokasi wisata yang cukup mengasyikan agi para peserta tour kali ini. Letak sendang coyo adalah di desa mlowokarangtalun kecamatan pulokulon lebih kurang 26km disebelah timur dari purwodadi. Sendang coyo ini terletak di hutan kecamatan pulokulon .


Untuk mencapai lokasi wisata ini ada dua jalur yang dapat ditempuh yaitu melalui kecamatan wirosari dan desa danyang. Karena rute kami adalah dari Bledug Kuwu, maka kami menempuh jalur yang pertama yang lebih enak untuk dilalui. Setiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB, pk darno langsung mencopot baju dan langsung menceburkan diri ke sendang.

Bagi kami yang belum pernah melihatnya sebelum ini, cukup terkagum atas kejernihan air di sendang ini. Saking jernihnya, terlihat ikan-ikan kecil yang sedang berenang di dalam air sendang tersebut. Senang dan ceria terpancar dari raut para peserta study tour kali ini. Pak darno yang memulai mandi paling awal terlihat sudah kedinginan setelah sekitar 30 menit berenang di dalam air ini.

Setelah pak darno berenang dalam air, kami pun tergiur untuk mengikuti langkah beliau. Akhirnya, jaket dan baju kami lepas dan tinggal kaos serta celana panjang yang kami kenakan.

Setelah itu, kamipun langsung ikut mencebur ke air sendang dan ikut merasakan nikmatnya main-main dalam air tersebut.

Inilah detik-detik mengharukan kami ketika ikut mandi dalam air yang konon ceritanya mempunyai nilai magis tertentu. Sendang coyo airnya sangat jernih dan dipercaya kalau mandi disendang itu maka yang mandi akan awet muda.

mencebur ke sendang

Setelah merasa puas dan kedinginan dalam air, kami pun berhenti berenang. Setelah kami keluar dari air, lalu kamera kami pegang dan akhirnya kami mengabadikan gambar lokasi sekitar sendang coyo tersebut sebagai berikut :

Sendang coyo 1

Sendang coyo 2

Sendang coyo 3

Sendang coyo 4

Sendang coyo 5

Sendang coyo 6

4. Makam Ki Ageng Sela

Rombongan sampai di makam kiageng sela sekitar jam 16.30 WIB. Sementara para rombongan melakukan shalat ashar ji masjid, kami sendiri pergi ke pondok pesantren Al-Hidayah yang terletak di samping masjid untuk sekedar mengunjungi adik yang saat ini masih belajar disana serta untuk mencari sarung dikarenakan celana yang kami pakai telah terkena najis dalam perjalanan dari sendang coyo. Setelah acara shalat ashar selesai, kami langsung berbincang sebentar dengan adik dan dilanjutkan pergi menemui rombongan untuk melakukan ziarah bersama ke Makam Ki Ageng Sela.

Acara ziarah dilaksanakan sebagaimana di Makam Ki Ageng Tarub, namun kali ini pak darno tidak mau mengimami tahlil bersama. Akhirnya, kami harus membuka acara, memimpin uluk salam dan doa ziarah qubur serta mengimami tahlil umum. Setelah acara tahlil selesai, Doa tahlil kami sampaikan kepada bapak darno untuk memimpinnya. Walau pada awalnya beliau kurang mau, namun akhirnya kami paksa. Setelah selesai memimpin do’a, acara ziarah pun selesai dan rombongan kami persilahkan untuk melakukan observasi di makam Ki Ageng Sela untuk melihat beberapa peninggalan sejarah beliau. Sementara itu, kami kembali ke Pesantren untuk menyelesaikan urusan dengan adik berkenaan dengan belajar komputer, karena memang dia lebih cenderung memahami ilmu teknologi informatika dibanding kami.

Setelah dirasa cukup, rombongan pun bertolak untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dalam perjalanan ketika sampai di Pom Bensin Mayahan, kami mampir dulu ke warung untuk makan malam yang kemudian dengan kendaraan masing-masing, kami pulang dan Alhamdulillah sampai ke rumah dengan selamat tepat pada saat iqamah shalat maghrib berkumandang.

LETAK SENDANG COYO ADALAH DI DESA MLOWOKARANGTALUN KECAMATAN PULOKULON LEBIH KURANG 26KM DISEBELAH TIMUR DARI PURWODADI. UNTUK MENCAPAI LOKASI WISATA INI ADA DUA JALUR YANG DAPAT DITEMPUH YAITU MELALUI KECAMATAN WIROSARI DAN DESA DANYANG . SENDANG COYO TERLETAK DI HUTAN KECAMATAN PULOKULON . UNTUK SAMPAI LOKASI INI SUDAH MUDAH D IJANGKAU KARENA SUDAH ADA JALAN ASPAL YANG MENGHUBUNGKANNYA . SENDANG COYO AIRNYA SANGAT JERNIH DAN DIPERCAYA KALAU MANDI DISENDANG ITU MAKA YANG MANDI AKAN AWET MUDA.

Study Tour Tahap II MTs. Manbaul Huda Grobogan

Kamis, 03 Maret 2011 merupakan hari yang cukup berkesan bagi para siswa MTs.Manbaul Huda Grobogan yang tidak bisa mengikuti Kegiatan Study Tour ke WBL kemarin. Pasalnya anak-anak tersebut yang adakalanya tidak mengikuti karena sedang sakit, ada yang dikarenakan sering mabuk kendaraan bahkan adapula yang karena terlambat datang dalam acara pemberangkatan diajak untuk study tour ke daerah Kuwu dan sekitarnya.

Acara dimulai sejak pukul 12.30 WIB, tepatnya setelah kami sebagai Panitia Study Tour yang juga Panitia Mid Semester Kelas 7 dan 8, serta tes semester genap kelas 9 menyelesaikan tugas kepanitiaan tes tersebut. para peserta study tour yang sudah menunggu sejak pukul 12.00 WIB dengan terpaksa harus mengunggu sekitar setengah jam. Dari beberapa peserta tersebut, terdapat 1 anak yang agak bandel yang ternyata malahan pulang ke rumah, yakni Ahmad Agus Saputra kelas 8.A. Anak tersebut malah pulang ke rumah dan dengan nekat tidak mau mengikuti study Tour dengan alasan malu pada teman-temannya.

Akhirnya setelah dilepas oleh Bapak Kepala Madrasah beliau Bapak Haji Abdul Mujib, S.Pd.i acara study Tour segera dimulai. Para rombongan menuju lokasi study tour yang pertama yakni Makam Ki Ageng Tarub. Makam yang terletak di desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan ini dikenal dengan banyak sekali karomah dari waliyulloh yakni beliau yang terkenal dengan sebutan Ki Joko Tarub.

Layaknya Study Tour ke WBL kemarin, para peserta pun dimasukan ke warung sederhana di daerah desa Pojok kerten, Tawangharjo untuk makan siang. Warung yang memberikan fasilitas ambil nasi dan memilih sendiri lauk dan sayur sesuka pembeli ini terletak di sebelah barat bangunan SMP N 1 Tawangharjo.

1. Makam Ki Ageng Tarub


Di lokasi tersebut, kami berdoa bersama dengan menjadikan Ki Ageng Tarub sebagai wasilah dalam berdo’a kepada Allah SWT dengan maksud dan tujuan kami masing-masing. Setelah kami membuka acara dengan memberikan beberapa pengarahan kepada para peserta yang intinya adalah untuk berdoa kepada Allah SWT bukan meminta kepada Ki Ageng Tarub serta memulai doa dengan uluk salam dan bacaan shalawat, acara Tahlil pun dimulai dengan dipimpin oleh Beliau Bapak Darno, SH. Setelah Acara Tahlil selesai, pak darno melimpahkan do’a kepada kami, sehingga kami harus memimpin do’a tahlil tersebut.

Setelah selesai berdo’a Para peserta dipersilahkan untuk sekedar mencatat hal-hal penting tentang Ki Ageng Tarub yang konon merupakan pepunden para raja di keraton Surakarta bahkan di sebagian penguasa Pulau Jawa zaman dahulu. Silsilah beliau terpampang jelas di sekitar makam. Makam ki Ageng Tarub berada di tengah pemukiman penduduk, serta di sebelah selatan makam umum warga desa tarub.

Setelah selesai melakukan observasi di lokasi makam Ki Ageng Tarub, para rombongan pun bergegas menuju ke daerah Kuwu untuk melakukan observasi di lokasi obyek wisata kedua yakni Bledug Kuwu.

2. Bledug Kuwu.

Bledug kuwu merupakan kejadian alami dimana terdapat semburan gas disertai lumpur semacam kawah. Hemh… cukup mengherankan memang, ketika kawah seperti ini muncul di dataran rendah sebagaimana di desa kuwu kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan.

Sebelum menuju lokasi, para peserta Study Tour mampir dulu ke Masjid Agung Wirosari untuk melaksanakan shalat dzuhur berjama’ah karena saat itu sudah menunjukkan jam 13.45 WIB. Setelah melakukan shalat, kami bergegas menuju ke daerah selatan yakni Bledug kuwu. Sesampai di sana, kami memasukkan sepeda motor serta membayar tiket masuk. saat ini, tiket masuk ke lokasi adalah sekitarRp. 2000 / orang.


Di dalam lokasi, kami melakukan observasi dengan mendekat ke pusat semburan lumpur. mungkin hampir mirip dengan lumpur lapindo, namun dalam skala lebih kecil. lumpur disana muncul seperti letusan yang terjadi secara berkala selama antara 15 s.d 60 detik sekali. Pusat letusan terbagi dalam dua bagian yakni di sebelah timur dan bagian barat yang nampak lebih kecil.

Ketika di lokasi tersebut, tidak begitu banyak pengunjungnya. Hanya beberapa turis lokal dan terlihat tiga orang anak sekolah yang setelah kami lihat seragam bajunya ternyata adalah anak dari MA Sunniyyah Selo, tempat sekolah kami dulunya.

Awalnya agak malu kami menyapa mereka, namun karena salah satu diantara ketiga anak tersebut terjatuh dalam lumpur hingga menyebabkan sepatu mereka kotor, kami pun segera menolong dan sedikit berbincang dengan mereka. Ternyata setelah kami korek keterangan mereka sedang pulang kampung karena memang salah satu dari ketiga anak tersebut adalah penduduk asli sini.

Tak lama kami berbincang, mereka segera pergi membersihkan diri dan kami melanjutkan observasi di lokasi tersebut. Sebelum keluar dari lokasi kami mencoba mengabadikan kenangan dengan ber foto bersama di Bledug kuwu. Setelah dirasa cukup, sekitar pukul 14.30 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju obyek wisata ke tiga yakni ke Sendang coyo.

Berlanjut ke link ini :
Study Tour Tahap II MTs. Manbaul Huda Grobogan (Bagian ii)

Study Tour MTs

Assalamualaikum wr.wb.

Postingan ini ditulis untuk mempermudah para siswa dalam menyusun karya tulis mereka, terutama pada BAB III yang menerangkan tentang laporan hasil Observasi serta BAB II yang menerangkan tentang landasan teori penyusun Karya tulis mereka.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 24 Pebruari 2011 lalu siswa MTs. Manbaul Huda Grobogan melakukan perjalanan Study Tour yang pesertanya adalah Kelas VIII Tahun Pelajaran 2010/2011. Dari ke-empat lokal kelas yang diberangkatkan dengan 3 armada BUS itu, 145 peserta diantaranya adalah dari pihak siswa dengan jumlah pendamping sebanyak : 17 orang.

PEMBERANGKATAN

Perjalanan dimulai pada malam hari Kamis, sekitar jam 02.00 WIB.

Siswa yang dijadwalkan pukul 24.00 WIB untuk berkumpul di lokasi MTs, ternyata sudah mulai berdatangan sejak pukul 21.000 WIB. Sehingga Panitia pun harus bekerja ekstra keras untuk mengatur anak-anak supaya tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan.

Setelah BUS datang, para siswa naik ke BUS masing – masing dan membaca do’a – do’a diantaranya.

DO’A KETIKA AKAN NAIK BUS

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ. بِسْمِ اللهِ مَجْرهَا وَمُرْسهَا اِنَّ رَبِّيْ لَغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. وَمَا قَدَرُوْاللهَ حَقَّ قَدْرِه وَاْلاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَالسَّموَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِيْنِهِ. سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ.

DOA WAKTU KENDARAAN MULAI BERGERAK

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ اَّلرحِيْمِ. اَللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ. سُبْحَانَ اَّلذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَاِنَّا اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ.

Setelah BUS diberangkatkan, para pengantar anak pun sudah mulai lega dan mulai pulang ke rumah maring-masing.

Selama dalam perjalanan, Bus A yang kami naiki melaju dengan cukup kencang di depan BUS yang lain. Dari MTs menuju lokasi Wisata Bahari Lamongan (WBL) rombongan harus berhenti di daerah wirosari untuk menaikkan jatah sarapan dan sejenak berhenti di blora untuk melakukan sholat subuh berjama’ah.

Keadaan anak – anak saat itu sudah mulai banyak yang teler* karena mabuk kendaraan. sebagian besar siswa di BUS B dan C sudah mabuk kendaraan. Namun di BUS A baru sekitar 3 orang. Maklum anak desa baru pertama naik BUS AC. hehehe….

dalam perjalanan, awalnya kru BUS memberikan tontonan dangdut koplo, sehingga sebagai panitia kami merasa bertanggung jawab untuk menyetop lagu yang kurang pas bila ditonton oleh kalangan anak anak tersebut. Atas permintaan kami, akhirnya lagu-lagu tersebut diganti dengan iringan lantunan sholawat dari DVD BUS yang kadang diganti dengan Pengajian Umum.

DI MAKAM WALIYULLOH SUNAN BONANG

Pagi hari sekitar jam 07.00 WIB, kami sampai di makam waliyulloh Sunan Bonang. disana kami melakukan do’a bersama. Tidak lupa kami selalu mengingatkan anak-anak supaya menjadikan waliyulloh tersebut sebagai wasilah, bukan sebagai tujuan utama. Sebab yang bisa mengabulkan permintaan bukan wali tersebut, namun hanyalah ALLAH SWT.

Sebelum acara do’a dimulai, kami membaca beberapa doa terlebih dahulu yang dipimpin oleh Bapak Drs. Parmuka sebagai berikut :

ULUK SALAM KETIKA AKAN MULAI BERZIARAH

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَ اللهُ …….. صَاحِبَ الْكَرَامَةِ وَاْلفَضِيْلَةِ. جِئْنَاكَ زَائِرِيْنَ . َوعَلَى مَقَامِكَ وَاقِفِيْنَ. اَوْدَعْنَا عِنْدَكَ شَهَادَةَ اَنْ لاَاِلهَ اِلاَّالله. وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم.

QASHIDAH KETIKA ZIARAH PADA QUBUR AULIYA’

سَلاَمُ اللهِ وَالَّرحْمَةِ عَلَيْكُمْ يَا وَلِيَ الله}

{اَتَيْنَاكُمْ وَزُرْنَاكُمْ وَقَفْنَا يَاوَلِيَ الله}

{سَعِدْنَا اِذْلَقَيْنَاكُمْ قَصَدْنَا يَاوَلِيَ الله}

{تَوَسَّلْنَا بِكُمْ لِلّه اَجِيْبُوْا يَاوَلِيَ الله}

{رَجُوْنَا مِنْ مَزَايَاكُمْ لِتَدْعُوْا يَاوَلِيَ الله}

{اِلَى الَّرحْمَنِ مَايُرَامْ لَدَينَْايَاوَلِيَ الله}

{طَلَبْنَاوُسْعَةَ اِّلرزْقِ حَلاَلاً يَا وَلِيَ الله}

{وَحَجَّ اْلبَيْتِ فِى اْلحَرَام مِرَارًا يَاوَلي الله}

{وَحُسْنًا فِي اخْتِتَامِنَا كِرَامًا يَاوَلِي الله}

{عَسى نُرْضَى عَسى نُحْظَى بِقُرْبٍ يَاوَلِي الله}

{وَصَلَّى سَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدْ يَاوَلِي الله}

{وَحَمْدًالِلْمُهَيْمِنِ وَشُكْرًا يَاوَلِي الله}

Sekitar jam setengah sembilan rombongan meninggalkan makam Sunan Bonang, yang selanjutnya menuju ke kota Lamongan. Di tengah perjalanan ternyata hujan turun, sehingga menambah dinginnya perjalanan saat itu, dan akhirnya 6 orang anak di BUS A harus menumpahkan makanan yang telah mereka masukkan ke dalam perut. Saat itu ada pedagang asongan “Dodol” yang ikut ke dalam BUS untuk sekedar menjajakan makanan. Banyak juga yang membeli barang dagangannya hingga dodol yang aslinya 1 sak pun tinggal sisa sekitar 1/4 nya.

Kalau mau tahu tentang sejarahnya Sunan Bonang, buka link ini :

Sejarah Sunan Bonang

 

WISATA BAHARI LAMONGAN (WBL)

Alhamdulillah rombongan sampai WBL sekitar jam setengah 11 untuk selanjutnya makan siang di restoran sebelah nya WBL.


Jam 11 tepat, para siswa masuk lokasi dan diberikan kelonggaran waktu bermain-main hingga sekitar jam setengah 3 sore. Tidak lupa kami mengingatkan anak-anak untuk niat sholat jama’ ta’khir bagi yang ingin sholat dzuhur digabung dengan sholat ashar sorenya nanti. Namun sebagian kecil atas instruksi para guru / panitia yang lain telah melakukan sholat jama’ taqdim.

Adapun beberapa niat sholat jama’/qoshor yang dibaca para peserta sebagaimana dalam buku panduan adalah :

TATACARA MELAKUKAN SHOLAT JAMA’ TA’KHIR QOSHOR DZUHUR / ASHAR

• Niat Jama’ Ta’khir

نَوَيْتُ صَلَاةَ الظُّهْرِ مَجْمُوْعًا إِلَى اْلعَصْرِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ لِلهِ تَعَالَى

• Niat Sholat Dzuhur Jama’ Ta’khir Qoshor

أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ رَكَعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا إِلَي اْلعَصْرِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ قَصْرًا مَأْمُوْمًالِلهِ تَعَالَى

• Niat Sholat Ashar Jama’ Ta’khir Qoshor

أُصَلِّي فَرْضَ اْلعَصْرِ رَكَعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا إِلَيْهِ الظُّهْرُ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ قَصْرًا مَأْمُوْمًالِلهِ تَعَالَى


Setelah puas bermain-main di dalam WBL, para siswa keluar sekitar jam setengah 3. Namun karena kurangnya koordinasi, ternyata masih ada beberapa anak yang terlalu asyik bermain di dalam lokasi WBL. Akhirnya kami pun meminta tolong bagian informasi untuk mengumumkan bahwa mereka telah ditunggu rombongan. Karena terlalu lama, sehingga panitia pun memutuskan untuk melakukan sholat ashar jama’ ta’khir di lokasi WBL bagi yang belum sholat tadinya.

Adapun tentang materi tentang WBL dapat dilihat di link berikut ini :

Wisata Bahari Lamongan

MAKAM SYEKH IBRAHIN ASMOROKONDI (SYEKH SAMARKANDI)

Jam setengah 4, rombongan mulai beranjak menuju lokasi terakhir yakni makam Syekh Ibrahim Asmorokondi di daerah Tuban. sampai lokasi sekitar jam 5, rombongan langsung melakukan ziarah dan berdo’a dimakam Syekh Samarkandi tersebut dengan didahului berbagai do’a sebagaimana diatas.

Setelah acara selesai, di sana kami pun membeli beberapa oleh – oleh untuk guru yang tidak ikut serta untuk keluarga masing-masing.

Namun na’as banget nasib kami, karena berjalan di paling belakang karena harus mengechek bahwa sudah tidak ada lagi yang ketinggalan, justeru malahan kami yang di tinggal oleh BUS tersebut. Hehehe…… Akhirnya karena yang masih disana adalah BUS B, terpaksa kami harus menginap sejenak untuk melanjutkan perjalanan menuju restoran untuk makan malam.

Hingga di restoran yang dimaksud, kami langsung berkumpul dengan peserta yang lain sambil bersendau gurau dan saling bercerita. Ternyata emang tidak enak kalo harus nginep di BUS orang….

Sedangkan  materi tentang Syekh Samarkand ini dapat dilihat di link berikut ini :

Makam Syekh Samarkand

PERJALAN PULANG

Setelah makan malam sekitar jam 18.00 WIB, rombongan pun pulang ke rumah dan tidak lupa BUS pun kami intruksikan untuk mencari lokasi berhenti sejenak untuk sholat Maghrib jama’ ta’ khir.

Saat itu para sudah sangat lelahnya, hingga akhirnya mereka harus tertidur pulas di BUS masing-masing. Sholat jama’ ta’khir dilakukan di sekitar kota Rembang pada jam 20.30 WIB.

Adapun niat yang dibaca untuk melakukan shalat Maghrib dan isya’ terbut adalah :

• Niat Sholat Maghrib Jama’ Ta’khir

أُصَلِّي فَرْضَ اْلمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا إِلَيْ اْلعِشَاءُ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ مَأْمُوْمًالِلهِ تَعَالَى

• Niat Sholat Isya’ Jama’ Ta’khir

أُصَلِّي فَرْضَ اْلعِشَاءُ رَكَعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا إِلَيْهِ اْلمَغْرِبِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ ٍقَصْرًا مَأْمُوْمًالِلهِ تَعَالَى

Setelah itu, rombongan pun mulai beranjak pulang ke kampung halaman. di tengah perjalanan kami selalu melakukan komunikasi dengan pihak sekolah yang ditugasi mengawal para orang tua yang akan menjemput anak-anak mereka. Hingga akhirnya BUS sampai di MTs. Manbaul Huda Grobogan pada malam jum’at sekitar pukul 23.45 WIB dan alhamdulillah dengan selamat, tanpa ada halangan apapun, walau sekitar 10 anak di BUS A dan sebagian besar anak di BUS yang lain mabuk kendaraan. beberapa hal yang menjadi catatan kami bahwa : “Jangan pernah meniggalkan sholat kita kapanpun dan dimanapun serta budayakan hidup Islamy ala ahlus sunnah wal jama’ah.”

Semoga bermanfaat.

Amin….

Wassalamualaikum wr.wb


« Older entries