Kisah Wafatnya Sang Pemimpin Umat

Pagi itu meski langit mulai menguning, burung-burung enggan mengepakan sayapnya. Dengan suara terbata Rasulullah memberikan petuah : Wahai Umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Kuwariskan kepada kalian 2 hal yakni Al-Qur’an dan As-sunah. Barang siapa mencintai sunnah ku berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku akan bersama-sama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu per satu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Usman menghela napas panjangnya dan ali menundukan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Tanda-tanda itu semakin kuat ketika ali dan fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang lemah lunglai saat turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi, namun pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah terbaring lemah. Dengan keningnya yang berkeringat dan basah, pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba terdengar ucapan salam dari balik pintu. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. Ia berbalik kembali dan menutup pintu.
Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”
“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.
“Ketahuilah putriku, dia adalah yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah SAW. Fatimah menahan genangan air matanya. Malaikat maut datang kepada-Nya

Tetapi Rasulullah SAW pun bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya. Kemudian Rasulullah SAW menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya itu.
Kemudian, Jibril dipanggil. Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.
“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah SAW bertanya dengan suara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril.
Namun kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega.
Matanya masih penuh kekhawatiran.
“Apakah Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.
“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan” kata Rasulullah saw.
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril.

Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat.
Perlahan-lahan, ruh Rasulullah saw. dicabut.
Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sallalahu mengerang dengan perlahan.
Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.
“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.
“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril.
“Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.
“Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.”
Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi.
Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu.
Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., “Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”
Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih: “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…“

Sementara di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mata air meleleh begitu deras. Tubuh lunglai, lemas tidak berdaya. Wajah–wajah merunduk khusyuk. Tak ada suara kecuali desahan nafas panjang dan isak tangisan. Di tengah suasana mencekam tersebut, seorang lelaki datang dan dengan suara lantang menggambarkan keteguhan, berkhutbah, “Barang siapa menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. dan barang siapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan pernah meninggal”. Lelaki yang tidak lain adalah Abu Bakar As Shiddiq ra itu kemudian membacakan firman Allah:

“Muhammad itu tidak lain adalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?…” QS Ali Imran: 144.

Mendengar ini semua orang-orang mulai tersadar dari keterlenaan duka dan rasa seolah tidak percaya bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, manusia yang paling mereka cintai melebihi diri sendiri telah meninggal dunia. Umar ra yang tadi bahkan mengacungkan pedang mengancam akan membunuh setiap orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam telah wafat kini mulai sadar dan mengatakan, “Sepertinya aku tidak pernah membaca ayat ini saja”

=======

Renungilah, betapa sayang Rasulullah kepada kita hingga menjelang wafat-Nya pun Beliau masih mengingat dan menghawatirkan kita. Beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu mantap dalam menyembah Allah.

Allah Dzat yang abadi, sementara siapapun selainNya pasti akan sirna. Barang siapa yang memeluk Islam karena Allah maka ia akan terus memeluk Islam. Dan barang siapa memeluk Islam karena selain Allah, termasuk karena Rasulullah Muhammad SAW maka ia akan melepas Islam sejalan dengan hilangnya sesuatu tersebut. Inilah kondisi yang terjadi pada orang–orang yang murtad setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mangkat. Ada yang perlu kita ambil pelajaran dari pidato Abu Bakar ra. di atas, “ …Allah Dzat Maha Hidup dan tak akan pernah meninggal “ artinya Allah Dzat yang abadi maka segala sesuatu yang disandarkan atau bersama dengan Allah juga akan tersaput oleh sinar keabadian Allah. Suatu aktivitas yang tercipta karena Allah, dipastikan sesuatu itu akan langgeng serta tidak terputus di tengah jalan. Suatu usaha yang dilakukan karena Allah maka usaha itu terus akan berjalan hingga sampai pada tujuan dan memberikan buah yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Gerak langkah yang termotivasi karena Allah akan terus terayun sampai penghujung jalan meski banyak kerikil dan bebatuan menghalang. Langkah tetap akan ringan meski duri–duri telah banyak menancap. Suatu amal perbuatan yang dilandasi ketulusan karena Allah adalah laksana pepohonan yang berakar kuat menghujam ke dalam tanah sehingga tidak mudah goyah atau roboh meski terpaan angin topan. Sebuah kalam hikmah mengatakan:

“Sesuatu karena Allah akan bersambung dan sesuatu karena selain Allah pasti akan terpisah”
Yaa Nabi Salam ‘Alaika….!!!!

===

Sumber :

http://shahid.mbc.net/media/video/30098/%D8%B9%D9%85%D8%B1_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%84%D9%82%D8%A9_17

http://alwasath.blogspot.com/2012/06/abadi-bersama-allah.html

Advertisements

Ki Ageng Selo

Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja – raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).

Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al – thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki – laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikimpoikan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkimpoian antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kimpoi dengan Ki Ageng Ngerang.

Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .

Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi – bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja – raja besar yang menguasai seluruh Jawa .

Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 – 36 ) .

Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja – raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar – benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak – enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek – kakek. Kakek itu cepat – cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun – alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek – nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.

Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.

Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .

… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun – turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).

Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki – laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kimpoi dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama – sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .

Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja – raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja – raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja – raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .

Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak – arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing – masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data – data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja – raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .

Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa – sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .

Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber – sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .

Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam – makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam – makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata – rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.

http://www.grobogan.go.id

Sultan Auliya’ – Syaikh Abdul Qadir al Jailani

Yang istimewa dari manaqib ini adalah diambil dari karya Imam Ibn Hajar Asqalani, seorang ulama hadits yang terkenal kehati-hatiannya. Beliau jarang membahas tentang tasawuf (sufi), sehingga karya yang diambil dari kitab kecil ini perlu mendapat perhatian. Karya tidak diambil semuanya, hanya dicuplik sebagian kecil saja. Jika ingin menelaah seluruhnya, silakan baca kitabnya. Banyak beredar di toko buku.

.

Syaikh Abdul Qadir al Jailani (470 – 562H)

Beliau adalah syekh Abdul Qadir Ibn Abu shalih Musa “Janki Dost” ibn Abu Abd Allah Ibn Yahya al-Zahidi Ibn Muhammad Ibn Dawud, Muhyi al-Din (Penegak Agama), Abu Muhammad al-Jili, al-Jilani (orang Jilan), al-Baghdadi (orang Baghdad), seorang Arif bi Allah (mencapai makrifat Allah), al-shufi (seorang sufi), al-Hanbali (pengikut mazhab Hanbali). Beliau lahir pada tahun 470 Hijriah.

Datang ke Baghdad untuk belajar hadis, beliau belajar fikih kepada Abu Sa’id al-Makhzumi al-Hanbali. Syekh Abu Sa’id membangun sebuah madrasah, lalu memberikannya kepada Syekh Abdul Qadir. Di madrasah itulah syekh Abdul Qadir berdakwah kepada manusia, memberi wejangan kepada mereka semua, dan manusia memperoleh banyak manfaat karena kehadiran beliau. Beliau memiliki wajah yang sejuk, juga sangat pendiam, kecuali jika sudah menyangkut amar makruf nahi munkar-maka beliau sangat tegas dan keras. Di dalam diri beliau bersemayam sikap zuhud yang tak berbanding, dan beliau memiliki ahwal (kondisi ruhaniah) yang baik, serta peIbuagai ketersingkapan spiritual. Bagi para pengikut dan sahabat-sahabat, beliau mewariskan peIbuagai ajaran. Beliau wafat pada malam Sabtu tanggal 8 Rabi, al-Awwal tahun 562 Hijriah, dan usia 90 tahun, dimakamkan di [areal] madrasahnya.

Syekh Abdul Qadir memiliki beberapa karya, antara lain:
(1) Tuhfah al-Muttaqin wa  Sa bil al-’Arifin;
(2) Hizb al-Ra ja’wa  al-lntiha ‘;
(3) Risa la h al-Gha utsiyya h;
(4)) Al-Ghunya h fi alTasha wwuf;
(5) Futuh al-Ghaib;
(6) al-Fuyudlat at-Rabbaniyyah fi al-Aurad al-Qadiriyyah;
(7) Al-Kibrit al-Ahmar fi Shala t ‘ala at-Nabiyy Saw;
(8) Mara tib al-Wujud;
(9) Mftaj Lathif al-Ma’a ni;
(10) Yawaqit al-Hikam, dll.

Berkaitan dengan tarjamah (biografi, sejarah hidup) beliau, Anda bisa melihat dalam kitab-kitab berikut ini:
(1) Kasyf al-Zhunun, 5/596;
(2) Al-A’lam karya al-Zarkali, 4/47;
(3) Al-Nujum al-Zahirah, 5/371.;
(4) Syadzarat al-Dza hab, 4/198;
(5) Al-Thabaqat aLKubra karya al-Sya’rani, 1/108;
(6) At-Ka wakib al-Durriyyah, 1/676;
(7) Fawat al-Wafayat, 2/2;
(8) Mu’jam al-Mu’a llifin, 5/307;
(9) Hadiyyah al-Arifin, 1/596;
(10) Al-Bidayah wa al-Nihayah, 12/276, dll.

Telah ada sebuah riwayat yang sering disebut tentang hari kelahiran Syekh, kata Ibnu al-Najjar: Syekh dilahirkan pada tahun 471. Yang lain dari kalangan ahli sejarah mengkabari kami, bahwa Syekh lahir sekitar tahun 470, atau sesudahnya. Ketika Syekh Abdul Qadir ditanya tentang kelahirannya, beliau berkata: ‘Aku tidak tahu persis, akan tetapi yang jelas aku memasuki Baghdad ketika berumur delapan belas tahun bertepatan dengan tahun wafatnya Syekh al-Namimi. ” Syekh al-Namimi adalah seorang Syekh mazhab Hanbali yang bernama Rizq Allah bin Abd al-Wahhab-dan wafatnya pada bulan Jumadil Awwal, tahun 488 Hijriah.

Ibu Syekh bernama Fathimah, dengan nama alias Ummul Jabbar, dan sering dijuluki Ummul Khair. Al-Yunaiti berkata: “Beliau dinamakan demikian karena memiliki anugerah yang banyak dan agung, yakni berupa kebajikan dan kesalehan.” Abu Sa’id al-Hasyimi berkata: “Dalam hal ini, beliau memang pantas [dijuluki demikian], karena beliau merupakan putri dari seorang syekh ahli zuhud Abu Abdullah al-Shum’i, dan apalagi beliau [Fathimah] memiliki sifat-sifat kebajikan dan kesalehan.”

Al-Syanthufi meriwayatkan darijalur Nashr bin Abd al-Razzaq: Aku mendengar dari para syekh terkemuka negeri-negeri Ajam, serta ulamaulama mereka, yang meriwayatkan dari nenek-moyang mereka, bahwa [ketika masih bayi] Syekh Abdul Qadir tidak menyusu puting bundanya pada bulan Ramadhan. Ada tambahan riwayat darijaluryang lain: Bahwa suatu waktu Imenjelang Ramadhan] tanggaltertutup awan, maka orang-orang bertanya kepada Ibnda Abdul Qadir, dan dijawabnya bahwa Abdul Qadir hari itu tidak menyusu, dan kemudian orang-orang diyakinkan bahwa pada hari itu adalah [memang] awal Ramadhan. Al-Syanthufi menambahkan, katanya: “Kemudian tersebarlah berita ke seluruh negeri, bahwa Abdul Qadir adalah bocah mulia, karena ia tidak menyusu di siang hari Ramadhan, dan dia mempunyai seorang bibi bernama Aisyah, seorang yang salehah.”

ClRI-CIRI SYEKH

Syekh al-Muwaffiq berkata: “Beliau berbadan langsing, posturnya tinggi sedang, dan dadanya lebar. Beliau memiliki jenggot yang lebat, kedua alis mata beliau bewarna coklat dan bertemu satu sama lain. Beliau memiliki suara yang keras terdengar.” Syekh Iburahim bin Sa’id al-Dari berkata: “Beliau memakai pakaian ulama, memakai thailosan (sorban khas ulama, semacam toga di zaman sekarang,-pent.), dan mengendarai bagal [jika bepergian].”

MASA DEWASA, MENCARI ILMU, DAN MASUK DUNIA TAREKAT

Ibnu al-Najjar berkata, melaluijalur periwayatan yang sudah sangat dikenal: Abu Muhammad Abduilah bin Abu ar-Husain al-Hayani menulis untukku, dan aku menyarinnya dari tulisannya itu, katanya, syekh al-Jilani berkata, bahwa suatu kali Ibndanya berkata kepadanya: “Pergilah ke Baghdad dan carilah imu di sana.” KataSyekh: “Maka aku pun melewati negeri demi negeri, dan aku waktu itu masih berumur enam belas tahun. Ibnu Tsaman rnengatakan: sepuluh tahun, dan aku suntuk dalam laku mencari ilmu tersebut.”

Thalhah bin Muzhaffar al-Alani berkata: Syekh berkisah: “Suatu kali aku tinggal di Baghdad selama 20 hari, tetapi aku tidak mendapatkan apa pun yang bisa aku makan, juga aku tidak mendapatkan pekerjaan. Maka aku pergi ke Serambi Agung lwan Kisra, mencari pekerjaan. Di sana aku berjumpa dengan tujuh puluh orang saleh, yang kesemuanya punya maksud yang sama denganku. Aku berkata sendiri: “Rasanya seperti tidak memiliki watak muru’oh [wibawa] jika aku harus bersaing dengan rnereka.” Maka aku kernudian kembali ke Baghdad, dan kemudian aku bertemu dengan seorang yang mengenaliku kenal, karena dia [ternyata] adalah penduduk satu kampung denganku. Dia memberiku beberapa uang logam, sembari berkata: “Ini ibumu yang mengirimkan untukmu melalui aku.” Aku istirahat sejenak setelah menerima uang tadi, lalu aku mengambil sebagian untukku, sedangkan sisanya aku bawa ke kawasan miskin di sekitar Serambi Agung, dan di sana aku membagi-bagikannya kepada tujuhpuluh orang saleh itu. ?pa ini?” tanya mereka. Aku menjawab: “Ini pemberian dari bundaku di Jilan untukku. Aku merasa tidak sreg untuk menghabiskannya sendiri tanpa berbagi dengan kalian”. Kemudian aku kembali lagi ke Baghdad, dan menggunakan uang yang tersisa untuk beli makanan yang cukup banyak. Aku mengajak orang-orang miskin bergabung denganku, dan kemudian kami pesta bersama. Tidak ada sisa lagi sedikit pun dari uang-uang logam tadi. Habis.”

Thalhah berkata, kata syekh lagi: “Dalam hatiku tebersit keinginan untuk keluar [saja] dari Baghdad, karena waktu itu kurasa banyak sekali fitnah (bencana) terjadi di sana. Maka aku mengambil mushaf al-Qur’an dan menggantungnya di pundakku. Aku laiu berjalan menuju gerbang al-Khaliqah, agar aku bisa keluar menuju gurun pasir [saja]. Akan tetapi, tiba-tiba aku mendengarsebuah suara berkata kepadaku: “Kamu hendak ke mana?” Suara itu [seperti] mendorong fisikku dengan sangat kuat, sehingga aku terhempas ke tanah. serasa suara itu berdiri di belakangku ketika dia berkata: “Kembalilah, karena manusia akan memperoleh rnanfaat dari keberadaanmu di sini.” Aku menjawab: “Apa urusanku dengan orang lain! Kepentinganku adalah bagaimana menyelamatkan agamaku.” Dia menjawab: “Pokoknya kembali saja, maka keselamatan agamamu akan dijamin!” Hingga sekarang aku tak pernah melihat wujud fisikal suara tersebut.” “Tidak lama setelah itu, pada suatu malam aku mengalami penghampiran aneka keadaan ruhani (ahwol). Aku merasa sangat sulit memahami makna-makna di balik ke semua ihwal tersebut. Aku pun berdoa kepada Allah, kiranya Dia sudi rnempertemukan aku dengan seseorang yang akan menyingkapkan makna-makna itu untukku. Esoknya, aku berjalan melewati sebuah tempat bernama Al-Muzhaffariyyah. Di sana aku berpapasan dengan seorang yang membuka pintu rumahnya. Dia berkata kepadaku: “Hai Abdul Qadir, kesinilah!” Aku mendatangi rumahnya dan berdiri di hadapannya, dan dia bertanya: ‘Apa yang kamu minta tadi malam atau kemarin?” Aku terdiam, seperti kehilangan kata-kata.

Sikapku itu rupanya membuat dia jengkel. Dia membanting daun pintu keras-keras di depanku, sampai debu-debu ujung pintu itu mengepul menerpa wajahku.” “Kemudian, ketika aku berlalu sebentar, aku baru teringat tentang apa yang aku mohonkan kepada Allah, dan aku langsung berpikiran bahwa orang itu tadi adalah seorang dari kalangan saleh (wali). Maka aku coba melangkah balik, mencari rumah itu lagi. Sayangnya, aku tidak bisa menemukannya, sampai akhirnya dadaku terasa sesak. Di kemudian hari aku tahu bahwa orang tersebut adalah Syekh Hammad al-Dabbas. Aku menjadi muridnya, dan dia berkenan menyingkapkan makna dari ihwal yang sulit aku pahami itu.” “[Biasanya, selama menjadi muridnya,ljika aku tidak hadir di hadapan Syekh Dabbas karena sedang belajar ilmu fikih, disaat aku kembali menghadapnya dia [akan] berkata: “Apa urusanmu datang kemari? Kamu kan seorang ahli fikih. Enyah saja dari sini, dan bergabunglah dengan para fukaha!” Aku hanya diam saja. Ketika tiba hari Jumat, di keluar dari Baghdad bersama beberapa sahabatnya untuk menunaikan salat Jumat. Aku juga ikut bergabung. Salatnya di masjid jamik Rushafah. Dia tampak sangat kedinginan, karena waktu itu memang sedang musimnya. Ketika melintasi sebuah sungai, dan sampai di jembatannya, dia mendorongku sehingga aku tercebur dan hanyut. Telanjur basah, aku niatkan saja sekalian mandiJumat. “Bismillah, aku mandiJumat,” kataku. padahal waktu itu aku memakai jubah wul, dan di [saku] lenganku ada upah [hasil kerjaku], maka aku angkat kedua tanganku [untuk minta tolong]. Tetapi mereka membiarkanku begitu saja, dan mereka pergi. Akhirnya dengan susah payah aku berhasil mentas dari sungai. Aku peras jubahku yang kuyup dan mengikuti mereka ke masjid, dan aku waktu merasa sangat sakit karena kedinginan.”Di kali yang lain, jika aku tidak datang ke hadiratnya, [lagi-tagi] karena sedang belajar fikih, dan kemudian datang ragi kepadanya, dia biasanya berkata: “Hari ini kita menerima kiriman roti berlapis madu yang sangat banyak. Kami makan semuanya, dan tidak menyisakan sedikit pun buat kamu.” sahabat-sahabat syekh Dabbas juga tidak jarang-jarang berlaku kasar kepadaku, mungkin karena mereka juga kerap kali melihat syekh Dabbas menyakitiku, terutama melalui kata-katanya yang pedas. Jika aku datang, mereka biasanya akan berkata-kata mencibir seperti ini: “Kamu kan ahli fikih, jadi untuk apa kamu ke sini?” atau, “Apa yang membawamu ke sini?” Tetapi, jika Syekh Hammad tahu mereka menyakitiku, serta merta dia membelaku dengan berkata kepada mereka: “Wahai anjing-anjing, kenapa kalian sakiti dia! Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang [derajat spiritualnya] setara dengan dia. Aku menyakiti dia semata-mata demi menguji dia, supaya dia kelak menjadi gunung yang tak bisa tergoncangkan.

KELUASAN PENGETAHUAN SYEKH

Ibnu al-Jauzi berkata dalam kitabnya, Mir’oh al-Zoman, bahwa: “suatu kali beberapa fatwa dari negeri seperti lrak dan sekitarnya disampaikan kepada Syekh Abdul Qadir. Tetapi, tidak pernah sekali pun suatu fatwa singgah pada syekh, kecuari beriau rangsung menuriskan tanggapan setelah membacanya tanpa berpikir sama sekali. syekh berfatwa menurut mazhab syaf i dan mazhab Ahmad bin Hanbal (Hanbali), dan beliau memberikan jawabannya kepada para ulama, sehingga mereka merasa takjub karena begitu cepat beliau memberikan tanggapan. siapa pun yang menguasai suatu bidang keilmuan, pasti syekh juga menguasai ilmu tersebut, sehingga beliau bisa mengatasi lawan-debatnya, dan membuat mereka jadi butuh terhadap syekh. Dan sebagairnana dinukil dari beberapa ulama terkemuka, bahwa syekh menguasai tiga belas macam iimu pengetahuan” Di madrasahnya, beliau mulai dengan mengajar ilmu tafsir, kemudian ilmu hadis, lalu fikih, lalu tentang khiiafiah, dan [khusus] bakda dhuhur, para santri membaca al-eur,an dengan aneka macam qira’ah, lengkap dengan jalur riwayatnya.”

Diceritakan dari syekh Ali:’Aku berziarah ke makam lmam Ahmad Ibn al- Hanbali Ra, [maka] aku lihat [secara ruhaniah] lmam Ahmad keluar dari kuburnya dan mendekap Syekh sampai menempel ke dadanya dan memakaikan kepadanya sebuah pakaian [jubah, khil’ah], sembari berkata: “Mereka telah berhajat kepadamu dalam ilmu syariat dan ilmu hakikat.”

Syekh ‘Umar berkata: “Pada suatu malam, ketika aku memanggil bangsa jin karena suatu.urusan [dengan mereka], mereka datang terlambat. Ketika akhirnya datang, mereka berkata: “Jangan lagi kamu panggil kami pada hari ketika kami sedang berada di majelis Syekh Abdul Qadir.” Aku bertanya: “Hei, apakah kalian juga menghadiri majelis Syekh Abdul Qadir Ra?” Mereka menjawab: “Ya, dan demi Allah, sebagian dari kami ada yang masuk Islam melalui tangannya, sementara sebagian yang lain sekarat dan mati [karena mendengar ceramahnya].”

Al-Syanthufi dari jalur Abu Abdillah bin Abu al-Fatah mengisahkan: ‘Aku berkhidmat pada Syekh Abdul Qadir selama empat puluh tahun. Selama itu pula aku melihat bahwa Syekh selalu salat subuh dengan wudhu salat isya; beliau memasuki ruang khalwatnya sehabis salat isya dan tidak keluar kecuali saat terbit fajar.” Kata Syanthufi lagi: ‘Aku pernah bermalam di rumah Syekh, aku melihat beliau salat di awal malam dengan cara yang ringan (berdurasi pendek), kemudian beliau berzikir hinggal sepertiga malam yang pertama dan beliau melayang ke udara sehingga lepas dari pandanganku. Kemudian beliau salat [sunat] sembari berdiri dan memanjangkan sujudnya, lalu duduk dengan mantap dan sedemikian suntuk (tenang), dan kulihat seberkas cahaya meliputi beliau sehingga pandanganku hampir lenyap.” Syekh pernah berkata: ‘Aku telah menelisik segala bentuk amal [kesunatan]. Kesimpulanku, tak ada amal yang lebih utama dari memberi makan sesama. Jika ada sedikit saja harta duniawi di tanganku, maka tak aku sisakan sedikit pun, karena semuanya aku berikan kepada orang-orang yang kelaparan.” Syekh, jika malam hari tiba, selalu menyuruh pelayannya bernama Muzhaffar untuk mengambil senampan roti, sehingga beliau bisa memberi makan kepada siapa pun yang ingin bermalam di rumah beliau. Beliau pernah berkata: ‘Aku membayangkan diriku berada di gurun dan padang pasir, seperti yang pernah aku alami dahulu, di mana aku tidak melihat manusia, dan tak ada manusia pun yang tahu tentang aku, namun dengan cara seperti itu kemudian Allah menjadikanku bermanfaat bagi manusia. Sungguh, lebih dari lima ratus orang yahudi dan Nasrani telah bertaubat melalui tanganku, dan lebih dariseratus ribu kaum gelandangan dan penjahat bertaubat lewat aku. Ini semua merupakan kebaikan yang mahabesar.” Adalah Syekh, jika beliau memiliki anak yang baru saja terlahir, beliau membawanya kepada orang-orang dengan kedua tangannya dan berkata: “Ini adalah mayat,” maka ingatan kepada sang anak sejak itu lenyap dari hati beliau. Maka jika sekali waktu salah seorang anaknya meninggal, [peristiwa] kematian itu tidak memperngaruhi beliau sedikit pun. Karenanya, ketika sekali waktu seorang anaknya meninggal, sementara beliau sedang berada di majelis pengajian, beliau hanya menywuh orang-orang untuk mengurus jenazah anaknya tetapi beliau sendiri tidak menghentikan ceramahnya di majelis pengajian tersebut. Biasa saja terjadi, ketika sang pemandi jenazah sedang memandikan jenazah anaknya, di sisi lain beliau sedang berceramah kepada orang-orang. Jika pengajian telah selesai, orang-orang pun langsung menghadapkan jenazah kepada beliau, dan beliau pun turun dari kursinya, kemudian beliau salat jenazah, mengantarkannya ke kuburan, dan setelah itu beliau kembali ke aktivitas semula.”

Umar al-Kuhmani berkata: “Majelis Syekh tidak pernah sepi dari orang-orang yang masuk Islam, baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani’ Tidak juga sepi dari orang-orangyang bertaubat, baik dari kalangan penyamun, pembunuh, dan selain itu.” Katanya lagi: “Suatu kali seorang rahib datang dan masuk Islam melaluitangan Syekh, dan sang rahib kemudian berkata kepada orang-orang (jemaah): “Namaku Sinan, aku orang Yaman, dan Islam telah lama tumbuh di dalam diriku. Ada keinginan kuat
dalam diriku, bahwa aku tidak akan masuk Islam kecuali melalui tangan manusia terbaik di Yaman menurut pandanganku. Aku suatu kali duduk sembari berpikir, tiba-tiba aku tertidur, dan aku bermimpi Sayyid Isa Ibn Maryam AS menemuiku dan berkata kepadaku: “Wahai Sinan, pergilah ke Baghdad dan masuk Islamlah melalui tangan Syekh Abdul Qadir Jailani, karena sesungguhnya dia adalah manusia terbaik di muka bumi untuk saat ini.”

Masih kata al-Kuhmaniy: “Datang pula tiga belas orang Nasrani ke majelis pengajian Syekh, dan mereka masuk Islam melalui tangan beliau. Mereka berkata: “Kami adalah Nasrani Arab, kami ingin masuk Islam, namun kami bingung tentang siapa yang melalui tangannya kami akan mengucapkan syahadat. Tiba-tiba, ketika kami sedang berkumpul, ada suara yang mengarah kepada kami, tetapi kami tidak melihat wujuud fisiknya, dan kami dengar kata-katanya: “Wahai para pencari yang tengah beruntung, datanglah ke Baghdad dan masuk Islamlah melalui tangan syekh Abdul Qadir. Dia akan meletakkan formula keimanan di dalam hati kalian dengan keberkahan yang dia miliki; keimanan yang formulanya tidak dimiliki oleh seorang pun selain dirinya dari sekalian manusia untuk saat ini.”

Manshur Ibn al-Mubarak al-Wasithi, yang lebih terkenal dengan sebutan ‘Al-Juradah” [Buah Pohon Palm], berkata: “Suatu kali, ketika aku masih muda, aku menemui syekh AbdulQadir, dan aku membawa sebuah kitab tentang fiIsafat abstrak (faIsafoh) dan pengetahuan ruhaniah spekulatif (at-ruhaniyyah). Beliau serta merta berkata kepadaku, padahal beliau belum pernah melihat isi buku tersebut: “Hai Manshul kitab yang ada padamu itu adalah teman yang buruk. Pergilah dan mandikan ia sebersih mungkin.” Menanggapi perintah Syekh,aku putuskan meninggalkan kitab itu di rumah saja, dan tak akan pernah membawanya lagi setelah itu. Hatiku tidak merasa sreg jika mencucinya, karena hatiku telah terikat dengan sebagian isi kitab tersebut. Aku hampir beranjak dan pergi, untuk mewujudkan rencanaku, tetapi syekh mengawasiku. Entah kenapa, aku seperti tidak bisa beranjak. Rasanya seperti terjebak. Syekh kemudian berkata kepadaku: “serahkan kitab itu kepadaku.” Aku membukanya [terlebih dahulu], dan alangkah teikejut daku, karena aku lihat kitab tersebut hanya berisi halaman-halaman kosong. Tak ada satu cuil pun tulisan tertulis di dalamnya. Aku pun memberikannya kepada Syekh, dan beliau kemudian membuka-buka lembaran-lemba ra n kita tersebut, lalu berkata: “Ini adalah kitab Fadilah al-Qur’an, (Fadlail al-Qur’an), karya Ibn al-Daris Muhammad.” Ketika aku menerimanya, kulihat bahwa kitab itu benar-benar [kitab] Fadla’il al-Qur’an, yang ditulis dengan khat yang sangat indah. Syekh kemudian berkata kepadaku: “Bertaubatlah dari berkata-kata melalui mulutmu hal-hal yang tidak berasal dari hatimu.” Sejenak kemudian aku tiba-tiba mampu bangun. Tetapi aku sudah lupa semua hal yang aku dapatkan dari buku [fiIsafat dan pengetahuan ruhaniah spekulatifj tadi.”

Dinukil dari sang Qutub, yakni al-Yutaini, dalam kitab Mukhtashar al- Mir’ah, dari Syekh Abu Sa’id al-Qilawi, katanya: ‘Aku melihat para nabi di majelis syekh tidak hanya sekali, karena arwah nabi-nabi berlalu lalang antara langit dan bumi bersama angin di setiap ufuk.” Katanya lagi: “Aku lihat juga kaum rijal al-ghaib (kalangan gaib) saling berlomba untuk hadir di majelisnya, aku lihat juga Khidlir sering sekali datang ke majelis. Aku bertanya kepada Khidlir, kenapa dia sering hadir, maka Khidlir menjawab:
“Siapa yang menginginkan keberuntungan, maka hendaklah ia tidak pernah berpisah dengannya (Syekh).”

Ibn Abu al-Fath al-Harawi berkata: “Suatu hari aku menghadiri majelis Syekh, beliau berceramah hingga sepuas-puasnya. Kemudian beliau berkata: “Jika Allah berkehendak mendatangkan seekor burung hijau, yang bagus rupanya dan ikut mendengar kata-kataku, pasti Dia akan melakukannya…” Belum selesai beliau berkata, tidak lama kemudian muncul burung hijau dan hinggap kopiahnya. Di hariyang lain beliau sedang berceramah, kefika suatu kali sebagian jemaah pengajian [baru] masuk ke majelis, dan beliau kemudian berkata: “seandainya Allah menghendaki untuk mengirimkan burung-burung hijau, pastilah setiap orang yang hadir akan melihatnya.”

GURU-GURU BELIAU

Syekh mendengar hadis dan meriwayatkan dari Abu Ghalib Muhammad Ibn al-Hasan al-Baqillani, Abu Bakar Ahmad Ibn al-Muzhaffar, Abu ar-easim Ali Ibn Ahmad Ibn Bayan, Abu Muhammad Ja’far Ibn Ahmad al-Sarraj, Abu Sad Muhammad Ibn Abd al-Malik Ibn Hasyisy, al-Hafizh Abu al-Ghana,im Muhammad Ibn Ali al-Tursi, yang bergelar’Abu Thalib”, Abd al-eadir Ibn Muhammad Ibn Abu Yusul Abu utsman lsma’il Ibn Millahlan Abu al-Barakat Hibat Allah ibn Muhammad, Abu al-Huasin Abd al-Haqq Ibn Abd al-Khaliq ibn yusuf, Abu al-‘Izz Muhammad Ibn Abu Bakar.

Syekh belajar fikih dari Al Qadli Abu sa’id al-Mubarak Ibn Ali al-Makhzumi, ‘Ali Abu al Khaththab al Kalwazani, Abu al-Wafa Ali Ibn ‘Uqail, serta Abu al-Hasan Ibn al Fara’. Ilmu adab (etika spiritual) diperoleh Syekh dari syekh Abu Zakariyya al Tabrizi, Syekh Ahmad al-Dabbas al-Zahid dan dibimbing suluk olehnya, juga [belajar adab] dari Syekh Yusuf Ibn Ayyub al-Zahid ketika masuk Baghdad di masa-masa akhir hayatnya, juga dari Taj al- ‘Arifin Abu al-Wafa. Dari beliau, anak-anaknya meriwayatkan hadir. Mereka di antaranya Abd al-Wahhab, Abd al Razzaq, dan Musa, juga para hafizh seperti Abu Sa’id al-Sam’ani, Umar Ibn Ali al-Qarasyi, Abd al-Ghani Ibn Abd al-wahid Ibn Ali Ibn Surur, syekh Muwaffiq Abd Allah ibn Ahmad Ibn Qudamah, syekh Ali Ibn ldris al-Ya’qubi, Abu Hurairah Ibn al-Wasthani, Akmal Ibn Mas’ud, Yahya Ibn sa’d Allah al-Takrimi, Ahmad Ibn Muthi’ al-Bahirani, dan masih banyak lagi. Yang terakhir mendengar dari Syekh adalah Abd al-Lathif Ibn Muhammad Ibn Ali al-Qubaithi, dan yang menerima ijazah beliau adalah al-Farj Ibn Maslamah al-Dimsyaqi.

SANJUNGAN MANUSIA KEPADA SYEKH

Al-Hafizh Abu Sa’id al-Sam’ani berkata di dalam lampiran kitab Tarikh Baghdad: “Syekh adalah seorang yang saleh, banyak berzikir, tekun dalam laku tafakur, serta gampang melelehkan air matanya.”

Syekh Abu al-Muwaffiq Ibn Qudamah berkata: ‘Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang keramat-keramatnya diceritakan melebihi keramat yang diceritakan tentang Syekh Abdul eadir, dan aku tidak melihat seorang pun yang dihormati oleh manusia, atas nama kepentingan agama, melebihi Syekh.”

Al-Syanthufi mengutip dari Syekh al-’lmad Muhammad ibn Ibrahim al- Muaddi, bahwa dia mendengar syekh al-Muwaffiq mengatakan: “Syekh Abdul Qadir adalah satu di antara manusia yang telah mencapai tingkat tinggi kepemimpinannya baik dalam hal ilmu, amal, hal, serta kewibawaan. Bagi seorang pencari ilmu apa pun, beliau adalah seorang guru yang mencukupi segalanya. Dalam diri beliau berkumpul segala
macam pengetahuan, dan beliau adalah seorang yang sabar dalam memberikan bimbingan [kepada muridnya]. Beliau tetap berkelanjutan (kontinu, istiqamah) dalam beramal. Allah telah mengumpulkan di
dalam diri beliau sifat-sifat yang indah, serta keadaan ruhaniah (ahwat) yang agung. Sepeninggal beliau, aku tidak pernah melihat seorang pun yang sebanding dengan beliau.”

Abu Hurairah mengabari kami, bahwa al-Hafizh syarns al-Din al-Dzahabi berkata: “Kami tidak hanya sekali diberi ijazah periwayatan dari ayahnya, katanya, aku mendengar al-Hafizh Syaraf al-Din al-yunif, katanya, aku mendengar Syekh ‘lzz al-Din Ibn Abd al-Salam berkata: “Tidak pernah dinukil kepada kami riwayat tentang keramat-keramat secara mutawatir, kecuali kerarnat-keramat tentang Syekh Abdul eadir.” Ada yang berkomentar: “Orang yang mengatakan tentang kebenaran Syekh Abdul Qadir ini memiliki adab yang buruk, tidak lebih dari itu, dan tidak meragukan lagi bahwa dia ‘Jahannami’ (penduduk Jahannam).” Syekh ‘Izz al-Din tidak memberikan sedikit jawaban pun atas komentar ini, karena keyakinan yang dia miliki. Dia hanya berkata: “pandangan (mazhab)yang melazimkan dirinya sendiri (menyalahkan yang lain), tidak layak disebut sebagai pandangan.”

Al-Hafizh Muhibb al-Din Ibn al-Najjar, dalam lampiran Tarikh Baghdad mengatakan: “Abdul Qadir Ibn Shalih Ibn ‘Jangi Dost’ (persia: sang petarung, -pent.l al-Zahid adalah salah satu imam Islam yang selalu menga malka n pengetahuan nya, serta e m pu kera mat-keramat yang nyata…”, dan seterusnya, sampai pada perakatan: “… kemudian beliau juga selalu istiqamah, tekun dalam laku khalwat, riyadhah, mengembara, mujahadah yang berat, melawan kecenderungan diri, selalu dalam keadaan terjaga (tidak tidur) sampai akhirnya Allah memunculkan beliau kepada seluruh makhluk, serta menganugerahkan penerimaan yang besar baik dari umat awam maupun khusus. Allah juga memperlihatkan kearifan-kearifan hatinya melalui lisan beliau. Kewalian beliau pun tampak, juga tanda-tanda kedekatan beliau kepada Allah Swt. Cukup sedemikian saja tentang beliau.”

Abu al-Muzhaffar Yunif Sabath Ibn al-Jauzi, dalam kitab tarikhnya, Mir’at mengarahkan mereka pada kasyaf (ketersingkapan ruhani). Jika Syekh berdiri, maka mereka {jemaah} pun berdiridemi menghormat pada beliau. Jika Syekh berkata kepada mereka, “Diamlah kalian semua!” maka tidak terdengar desis atau suara apa pun kecuali nafas mereka sendiri. Ada sebuah riwayat mengisahkan, bahwa ada seorang jemaah majelis yang meletakkan/menempelkan tangannya [secara acak ke sembarang arah/tempat], dan ia seperti menyentuh tubuh seseorang yang tidak kasat mata, dan kadang-kadang para jemaah mendengar suara gemuruh yang hebat dari udara yang mendarat ke areal majelis.”

Al-Hafizh Muhammad al-Dzahabi berkata dalam kitabnya, Tarikh al-Islam, tentang sosok Abdul Qadir lengkap dengan detailgaris nasabnya, hingga dikatakan olehnya, “… beliau seorang Jili (penduduk Jailan), bermazhab Hanbali, empu peIbuagai keramat dan maqarn spiritual, serta pembesar kaum Hanabilah {penganut mazhab Hanbali)… dan seterusnya…,” hingga pada perkataan, “…tidak ada yang sebanding dengan beliau, tidak pernah berkata-kata dengan suara keras, serta bersungguh-sungguh baik dalam ilmu maupun amal.”

Al-Hafizh Zain al-Din Ibn Rajab, dalam lampiran kitab Thabaqat, berkata: “Syekh Abdul Qadir adalah penghulu kaum Hanbali, syekh di zarnan nya, serta pemimpin (sultan) para masyayikh, penghulu ahli tarekat di zamannya. Beliau adalah empu peIbuagai maqam spiritual… dan seterusnya,” hingga sampai pada perkataan, ’1.. beliau memperoleh penerimaan yang sempurna dari umat, dan umat meyakini kesalehannya serta keberagamaannya. Mereka beroleh banyak manfaat dari ceramah dan dakwah beliau. Kaum Ahlus Sunnah mendapat pertolongan dengan kehadirannya. Ahwal dan keramat-keramat beliau termasyhur di mana mana, dan di zamannya beliau sangat dihormati oleh para syekh, ulama, dan ahli zuhud pada waktu itu. Di majelisnya, banyak rnanusia dari pelbagai latar belakang yang bertaubat melalui tangannya.”

Ahmad Ibn Muthi’ al-Bajrami bercerita: “Aku mendatangi Syekh AbdulQadir suatu kali, beliau menolakku dan berkata: “Duduk saja di situ.” Merasa tidak disambut, aku pun berniat pergi, namun tiba-tiba seperti ada seseorang yang menyusulku dari sisi beliau. Maka aku pun kembali. Beliau berkata: “Maaf, tadi ketika kamu datang, tiba-tiba aku merasa bosan. Maka aku tertidur, dan aku bermimpi Nabi  Saw. menemuiku dan berkata kepadaku: “Engkau adalah pengajar [amal] kebaikan, maka janganlah pernah bosan. Beliau (Nabi Saw.) mengulang kata-kata itu tiga kali.” Kemudian beliau membacakan pelajaran-pelajaran yang aku inginkan.”

Al Dzahabi, dalam Tarikh al-Islam, berkata: Abu Bakar Ibn Thurkhan rnemberi kabar kepada kami, bahwa Syekh al-Muwaffiq mengabari mereka: “Kami mengaiami kehidupan bersama beliau yakni Syekh Abdul Qadir-ketika masa-masa akhir hayat beriau. Kami tinggal di madrasah demi menjaga beriau. Tidak jarang beriau mengutus puteranya, Yahya, [hanya] demi memberi penerangan kepada kami dengan lampu-lampu’ Terkadang beriau mengirimkan makanan kepada kami langsung dari rumah beriau. Beriau seraru sarat fardhu bersama kami, berjamaah, dan beliau menjadi imamnya. pada pagi hari, beliau menyimak aku membacakan pelajaran-pelajaran yang kuhapalkan dari beliau. Beliau juga menyimak bacaan ar-Hafizh Abd ar-Ghani atas kitab al Hidayah. Tak ada seorang pun yang membaca perajaran atau hafalan di hadapan beliau waktu itu kecuari kami [berdua]. Kami tinggar bersama beliau selama satu buran sembiran hari, kemudian beriau wafat, dan kami mensalati beliau dr madrasahnya. Aku tak pernah mendengar se,rang pun yang keramat-keramatnya begitu banyak diceritakan kecuali beliau. Aku juga tak pernah rnenjumpai seorang pun yang sedemikian dimuliakan oleh manusia, atas nama agama, melebihi beliau. Sanad kisah ini sampai kepada Syekh al-Mufawwiq secara mautsuq (kuat).”

Al-Syanthufi berkisah bahwa dia pernah mendengar Syekh aN-’lmad dan Abu Bakar Muhammad Ibn Iburahinr, yakni anak saudaraku al-Hafizh Abd al-Ghani, katanya: “Syekh mulai membuka majelis pengajian pada tahun 521″ Hijriah, dan memulai berfatwa, mengajar [rnurid-murid] serta pengajian umum di madrasah ketika mengin.iak tahun 528 Hijriah. Beliau setelah itu menyampaikan wasiat-wasiat spiritual, menerirna kunjungan-kunjungan [dari para syekh, raja-raja, dan sejenisnya], serta menyampaikan hadis dengan peIbuagai riwayat, menulis kitab-kitab tentang dasar-dasar agama (ushul al-din). Beliau juga sering menyampa!kan pengetahuan-pengetahuan yang lazim di kalangan ahli hakikat.”

Syekh Juradah berkata: “Suatu hari aku sedang berada di rumah Syekh Abdul Qadir. Beliau sedang duduk-duduk sambil melafalkan tasbih, ketika tiba-tiba ada debu yang jatuh berguguran dari atap rumah sampai tiga kali. Ketika debu itu menjatuhi beliau untuk yang keempat kalinya, beliau mengangkat kepala, dan melihat di atap rumah ada seekor tikus. Beliau berkata: “Melayanglah kepalamu!” Maka tubuh sang tiku” ;’rlrrlr menjadi bangkai di salah satu sudut rumah’ sedangkan kepalanya terpisah, juga jatuh di salah satu sudut rumah’ Syekh menghentikan bacaan tasbih sambir menangis. Maka aku bertanya: “wahai tuanku, apa yang membuat engkau menangis?” Beliau menjawab: ‘Aku khawatir’ ketika hatiku merasa tersakiti oleh seorang Muslim’ maka jangan-jangan azab akan menimpanya sebagaimana dialami oleh tikus ini.”

Syekh Umar Ibn Mas’ud berkata: “Syekh suatu kali sedang berwudlu di madrasahnya, ketika tiba-tiba seekor burung kencing di bajunya’ syekh kemudian mengangkat kepalanya’ yang membuat sang burung pergi terbang. Tetapi kemudian burung itu tiba-tiba jatuh mati’ Setelah Syekh menyempurnakan wudlunya’ beliau membersihkan baju yang dikencingi burung tadi. Baju itu dilepaskan dan kemudian diserahkan kepadaku’ Beliau meminta agar baju itu dijual’ dan uangnya nanti disedekahkan saja’ Beliau berkata: “Nanti harganya begini begini’”

Muhammad ibn Abu ar-Fath berkata: “suatu hari aku menghadiri majelis pengajian syekh AbdulQadir. Beriau berceramah hingga akhirnya benar-benar larut dalam ucapan-ucapan beriau. sampai kemudian beriau berkata: “Jika Allah menghendaki untuk mengutus burung hijau ke sini untuk ikut mendengar ceramahku, pastirah Dia akan merakukannya sekarang.” Belum rampung beriau berkata-kata, tiba-tiba datang seekor burung hijau yang bagus rupanya; burung itu masuk ke rengan bajunya dan tidak keluar lagi.” Kata syekh Muhammad ragi: “Di hari yang lain beliau sedang berceramah, ketika sejenak kemudian orang-orang berdesakan masuk ke dalam majelis. Beriau raru berkata: “seandainya Allah menghendaki untuk mengirim burung-burung hijau ke sini untuk ikut mendengarkan ceramahku [pasti Dia akan melakukannya sekarang].” Belum sempat kata-katanya selesai, tiba-tiba majelis sudah dipenuhi oreh burung-burung hijau.”

Abdal-Rahman Ibn al-Najm al-Hanbali berkata: “Pamanku, Abu al-Hasan Ibn Naja al-wa’izh pernah bercerita bahwa suatu hariia berkumpul bersama syekh Abdul Qadir. waktu itu bertepatan dengan hari raya, kata paman,maka aku mendahului ke tempat salat (lapangan). Tidak lama kemudian, Syekh datang bersama jemaah yang banyak sekali. Satu demi satu orang-orang menciumi tangan syekh. Beliau kemudian salat sunnah dua rekaat. Aku berkata sendiri: “Apa-apaan ini? Sunnah Nabi tidak pernah mengajarkan salat sunnah sebelum salat id.” setelah salam, syekh berpaling kepadaku dan berkata: “[Nabi tidak melakukannya] karena suatu sebab.”

KEDALAMAN UCAPAN SYEKH

Ibn al-Najjar berkata: Abd Allah Ibn Abu al-Hasan al-Juba’i pernah menulis suatu kisah kepadaku, dan aku menukilnya dari tulisan tersebut, katanya: “Syekh Abdul Qadir suatu kali pernah berkata: “Makhluk adalah hijabmu dari dirimu, dan dirimu adalah hijabmu dari Tuhanmu. sepanjang yang jadi fokus penglihatanmu adalah makhluk, maka engkau tak akan pernah melihat siapa dirimu. Sepanjang yang jadi fokus penglihatanrn’u adalah dirimu sendiri, maka engkau tak akan pernah melihat Tuhanmu (makrifat).” Kata al-Juba’i lagi, beliau berkata: “Dunia itu kacau balau, sedangkan neraka sedemikian menakutkan’ seorang hamba tepat berada di antara keduanya. Tempatnya yang tetap kelak hanya di antara dua saja: surga atau neraka.” Kata al-Juba’i lagi: “Aku pernah mendengar Syekh pernah berkata dalam beberapa kali majelis pengajiannya: “Di hadapan kalian hanya ada makhluk dan Khalik. Jika engkau memilih Khalik, maka katakanlah sebagaimana yang dikatakan Ibrahim: “… sesungguhnya mereka semua adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.” Syekh kemudian menghentakkan kakinya dan berkata: “Siapa yang dapat mengecapnya (pengetahuan tentang Tuhan; mengenal Tuhan, -pent.), maka ia telah mencapai makrifat.” Seseorang tampil dan bertanya: “Tuan, bagaimana seseorang terhimpit oleh lapar? Bagaimana ia dapat merasakan manisnya kecapan (dzauq)? Syekh menjawab: “Caranya, ia harus memuntahkan seluruh nafsu-syahwatnya.”

Dalam beberapa majelis pengajiannya beliau juga sering berkata: “Yang pertama muncul dalam diri Mukmin adalah bintang kearifan (najm al hikmah), kemudian bulan pengetahuan (qamar al ilm), dan akhirnya matahari makrifat (syams al ma’rifah). Dengan bintang kearifan ia akan melihat dunia, dengan bulan pengetahuan dia akan melihat akhirat, dan dengan matahari makrifat dia akan melihat Sang Maula.”

WAFAT SYEKH

Ibn al-Jauzi berkata: “Syekh wafat pada malam Sabtu, tanggal 8 Rabi’ al- Awwal tahun 561 Hijriah, dan dimakamkan pada waktu itu juga di madrasahnya. Usia beliau 90 tahun. Aku pernah mendengar bahwa menjelang wafat (ketika sakaratul maut) beliau berkata (mungkin ditujukan kepada para malaikat, -pent.l’. “Bersikaplah ramah kepadaku…!” sembari berdiri dan kemudian berkata: “Wa’alaikumussalam, [ya] aku datang kepada kalian, aku datang kepada kalian’”-(ata al-Jauzi lagi: Aku mendengar Yahya pernah bercerita bahwa Syekh ketika menjelang ajal berkata (mungkin ditujukan kepada para malaikat, -pent.l: ‘Aku syekh agung, [memangnya] apa yang telah diancamkan [Allah] kepadaku atas hal ini?”

Ibn al-Najjar, melalui sanadnya sendiri, menyatakan tentang kisah wafat syekh, hingga ke kata-kata: “… beliau wafat pada tanggar 10 Rabi al-Akhir tahun 561 Hijriah, dalam usia 90 tahun.” Kata ibn al-Najjar lagi: “Puteranya, Abd al-Wahhab bersalawat untuk beliau, demikian seluruh anak-anak beliau. semoga Allah memberikan ridha-Nya kepada mereka semua. semoga salawat selalu terlimpah atas sayyid kita, Muhammad, beserta keluarga dan sahabat beliau, juga salam taslim demi mereka semua; salawat dan saram yang banyak, seramanya hingga hari kiamat kelak. Amien.”

.

Selesai sudah kitab Ghibthah al-Nazhir fi Tarjamah al-Syaikh Abdul Qadir (Suka Cita sang Pemandang tentang Biografi Syekh Abdul Qadir) ini, karangan sayyid kita, junjungan kita, Syekh al-Islam Qadli al-Qudlah Syihab al-Din ibn Hajar al-’Asqalani al-Syafi’i (pengikut mazhab syafi’i). semoga Allah meliputinya dengan rakhmat-Nya, menempatkannya dalam surga-Nya yang ruas, bersama-sama dengan Muhammad saw, keluarga, sahabat, beserta seluruh anak-turunnya. Amien.

.

Sumber: Ghibthah al-Nazhir  fi Tarjamah al-Syaikh Abdul Qadir, karya Ibn Hajar al-’Asqalani al-syafi’i (w 852H), versi terjemah Hikayat Keajaiban Sultan Para Wali oleh Sabrur Rohim Soenardi, Cable Book, Klaten 2010.

Dari : Orang Awam

Sayyid Abdullah dan Sekilas Tentang Ratib Al Haddad

Sayyid Abdullah Al Haddad (1044 – 1132 H)

Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad, Al-Husaini, Asy-Syafi’i Al-Hadhrami. Dilahirkan pada 5hb Safar 1044H. Ia mendapat pendidikan agama dari ulama’ Ba’ Alawi, kemudian berpindah belajar di Yaman menyempurnakan ke Mekkah dan Madinah. Tatkala ditanya orang tentang guru-gurunya, terutama ia mempelajari ilmu tasauf dan tarikat, ia menjawab ia tidak dapat menyebutkan seorang demi seorang kerana jumlahnya lebih dari seratus orang.

Bagaimanapun juga di antara guru-gurunya yang terpenting ialah :

1. Sayyid bin Abdur Rahman bin Muhammad bin Akil Al-Saqqaf kerana daripadanya ia mendapat Khirqah Sufi. As-Saqqaf ialah seorang tokoh sufi yang terkenal dalam Mahzab Mulamatiyyah.

2. Sayyid Abu Bakar bin Abdur Rahman bin Syeikh Aidid.

3. Sayyid Umar bin Abdur Rahman Al-Attas, inilah gurunya yang terpenting menurut keterangan sejarah. Sayyid Umar Al-Attas seorang daripada tokoh tarikat yang dianggap luar biasa dalam ilmu hakikat. Al-Haddad sendiri menyebut nama tokoh tarikat ini dengan penuh hormat sebagai gurunya dan beliau menerangkan bahawa daripadanya ia beroleh ajaran tarikat zikir yang sempurna serta beroleh khirqah yang terakhir.

Abdullah bin Umar Ba-Ubaid menerangkan bahawa Sayyid Umar Al-Attas adalah seorang wali yang tidak dapat disaingi pengetahuannya. Ia seorang Qutub dalam zamannya, sesudah gurunya Abu Bakar bin Salim. Dia (Sayyid Umar Al-Attas) seorang yang kashaf. Tarikat dan Ratibnya termasyhur dan tidak dapat mempengaruhi tarikat dan ratib muridnya Al-Haddad.

Sayyid Umar Al-Attas tidak meninggalkan karangan-karangan, tetapi murid­muridnya yang banyak itu menyampaikan ajarannya itu dari mulut kemulut dan menyebut dalam kitab-kitab karangan mereka.

Di antara murid-muridnya ialah lsa bin Muhammad Al-Habayi di Khanfar, Hadramaut; Syeikh Ali bin Abdullah Al-Baras, di Quraibah, Do’an, Hadramaut dan lain­lain. Semuanya terkenal dalam bidang tasauf.

Di antara murid-muridnya yang ramai dan terkenal Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang sangat dicintainya. Beliau kemudian menjadi tokoh besar dalam tarikat dan seorang pengarang yang ternama. Ia terkenal sebagai orang yang Abid. Tiap-tiap hari ia kelilingi kota Tarim untuk sembahyang sunnat dalam tiap-tiap masjid.

Dalam kitab Masyru’ul Rawi disebutkan bahawa ia seorang yang melimpah­limpah ilmunya, ahli yang mempertemukan hakikat dan syariat. Sejak kecil ia telah menghafal Al Qu’ran. Seorang yang bersungguh-sungguh dalam membersihkan dirinya dan mengumpulkan ilmu pengetahuannya dari ulama’ terkenal yang semasa dengan dia seorang mujaddid yang terkenal ijtihad-ijtihadnya dalam persoalan ibadah. Seorang yang bersungguh-sungguh menghidupkan ilmu dalam amal dan oleh kerana itu dikenal orang di Timur dan di Barat. Beliau banyak melahirkan murid-murid yang salleh, yang tersiar keseluruh pelusuk bumi dari zaman ke zaman.

Ia pernah mengunjungi Mekkah dan Madinah dalam tahun 1080H dan salah seorang gurunya di Mekkah ialah Sayyid Muhammad bin Alawi As-Saqqaf Ba’ Alawi, yang keturunannya sambung menyambung sampai kepada Ja’far As-Sadiq anak Imam Baqir anak Imam Ali Zainal Abidin anak Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah binti Rasulullah s.a.w.). Oleh itu pada akhir ratibnya dibacakan fatihah untuk dihadiahkan pada gurunya Sayyid Muhammad bin Alawi Ba’ Alawi.

Al-Haddad selain dari seorang tarikat, beliau juga seorang penyair. Apabila mengucapkan syairnya nescaya mempersonakan. Beliau juga seorang pengarang yang utama. Tulisannya sungguh mengharukan dan memikat hati. Di antara kitab-kitab karangan beliau ialah: An-Nasa’ih An-Diniyyah, Sabilul Azkar, Ad-Da’watul Ittihaful Sa’ il, Risalah Al-Mu’aw-wanah, Al-Fusulul Ilmiyyah, Risalatul Murid, Risalatul Muzakarah dan yang terpenting kitabul Majmu’ yang terdiri empat juzu’ berisi wasiat dan masalah­masalah hukum terpenting, dan pada akhirnya ditutup dengan kumpulan sajak-sajak yang indah bernama Durrul Manzum. Banyak orang berpendapat bahawa ilmu Sayyid Abdullah Al-Haddad tidak tersimpan dalam karangannya tetapi tersimpan dalam keperibadian dan ihwalnya, tersimpan dalam syair dan sajaknya.

Diriwayatkan bahwa beliau telah mendapat ilham menyusunnya pada suatu malam dalam bulan Ramadan yang dikatakan bertepatan dengan Malam Lailatul Qadr. Zikir-zikir mempunyai fadhilat yang sangat besar sekali, sesiapa yang mengamalkannya akan mendapat banyak berkat antaranya mendapat Husnul khatimah. Waktu membacanya adalah selepas sembahyang Isyak dan sunnah ba’diyahnya. Tetapi pada bulan Ramadhan hendaklah dibaca sebelum sembahyang Isyak selepas sunnah kabliyahnya.

Sayyid Abdullah Al-Haddad pengarang ratib Al-Haddad kembali ke Rahmatullah pada malam Selasa tanggal 7hb Zulkaedah 1132H, dalam usia lebih kurang lapan puluh sembilan tahun (89 tahun). Empat puluh hari sebelum ia meninggal dikala sakitnya pada akhir bulan Ramadhan, dia sudah menjelaskan kejadian-kejadian yang akan datang pada dirinya.

Semoga Allah merahmati Al-Imam dan menempatkan beliau di Syurga, dan dihimpunkan kita bersamanya dengan berkat Saiyidina Muhammad S.A.W., keluarganya dan sahabatnya serta selawat keatas Nabi Muhammad yang mulia serta keluarga dan sahabatnya. Amien.

Sumber:

http://www.alhawi.net

http://web.singnet.com.sg/~mansal/kitab.htm

.

Sumber: http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/sayyid-abdullah-al-haddad-1044-1132-h.html

.

.

Sekilas Tentang Ratib Al Haddad

Ratib Al-Haddad ini mengambil nama dari nama penyusunnya, yaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).

Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah untuk membentengi dengan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, yaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Mesjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.

Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.

Beberapa perbedaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan barangsiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Amin.

Sumber: http://gubah-alhaddad.blogspot.com/2011/01/sejarah-ratib-al-haddad.html

Dari : Orang Awam

Ibnu Shalâh (577 – 643 H)

Inilah salah satu guru dari Imam Nawawi.

Ibnu Shalâh (577 – 643 H)

Nama aslinya Taqiyyuddîn Abu ‘Amr Utsman bin Abdurrahman bin Utsman bin Musa al-Kurdi al-Syahrazuri. Ibnu al-Shalâh sendiri awalnya adalah julukan ayahnya, lalu whatdinisbatkan kepada Abu ‘Amr sehingga sampai sekarang ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Shalâh. Tanah Syarkhân, yaitu sebuah desa yang terletak dekat Syahrazur, kawasan Irbil di selatan Irak adalah saksi bisu di mana Ibnu Shalâh dilahirkan, pada tahun 577 H/1181 M. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang berada nan agamis.

Ayahnya, Abdurrahman, adalah seorang ulama terkemuka yang dikenal sebagai pakar fikih madzhab Syafi’i. Oleh sebab itu, sejak kecil ia mulai dikenalkan dengan fikih oleh ayahnya sendiri. Meskipun masih tergolong belia, namun Utsman kecil telah mampu menyerap berbagai pelajaran dari ayahnya. Tak tanggung-tanggung ia telah berulang kali menghatamkan kita “Muhadzdzab” dan mempelajari berbagai macam dalil yang ada di dalamnya. Fase berikutnya, Ibnu Shalâh diutus oleh ayahnya untuk berhijrah ke Maushul untuk menuntut disiplin ilmu lainnya. Di sana ia benar-benar rajin belajar sehingga mampu menguasai berbagai ilmu seperti: fikih, ushul fikih, tafsir, hadits, bahasa dan lain sebagainya.

Petualangan Ibnu Shalâh dalam Mencari Ilmu

Ibnu Shalâh tergolong sebagai sosok petualang sejati. Ia berpetualang ke berbagai negeri Islam dalam rangka mencari ilmu, sebagaimana yang pernah dilakukan dan menjadi sunnah hasanah para ulama terdahulu. Terutama sebagaimana yang lazim ditempuh oleh para ulama hadits, mereka rela bepergian dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negeri ke negeri lainnya hanya demi mendapatkan (mendengarkan) sebuah hadits. Fakta sejarah ini terekam dalam sebuah karangan imam Abu Bakar al-Khathîb al-Baghdâdi bertajuk “al-Rihlatu fî Thalabi al-Hadîts”.

Dalam kitab Ulûm al-Hadîts atau yang lebih dikenal dengan nama Muqaddimah Ibnu al-Shalâh juga dicantumkan berbagai riwayat terkait petualangan para sahabat dan tabi’in dalam mendapatkan hadits. Yaitu sebagaimana termaktub dalam pembahasan bagian ke-28, tentang ma’rifatu âdâbi thâlibi al-hadîts dan pembahasan ke-29 tentang ma’rifatu al-isnâd al-‘âli wa al-nâzil. Maka, bagi yang ingin membaca lebih detail seputar riwayat-riwayat tersebut, silahkan langsung merujuk ke kitab tersebut.
Dalam rangkaian petualangannya, Ibnu Shalâh tercatat telah mengunjungi berbagai ibukota penting negara-negara Islam. Setelah bermukim di Maushul selama beberapa tahun, beliau lalu hijrah ke Baghdad, ke Khurasan dan kemudian melanjutkan ke Syam. Dalam persinggahannya di beberapa kota tersebut, beliau belajar kepada para ulama setempat dan secara khusus mendalami ilmu hadits, sampai beliau menguasainya.

Ketika di Maushul beliau sempat berguru pada beberapa ulama terkemuka di sana, antara lain; ‘Ubaidillah bin al-Samîn, Nashrullah bin al-Salâmah, Mahmoud bin Ali al-Maushili dan lain sebagianya. Di Baghdad beliau berguru kepada Abi Ahmad bin Sukainah dan Abi Hafsh bin Thabarzad. Sedangkan ketika di Hamadan, beliau belajar dari Abi al-Fadhl bin al-Mu’azzam. Di Naisabur beliau menimba ilmu pada sejumlah besar ulama’ di sana, antara lain; Abi al-Fath Manshur bin Abdil Mun’im bin al-Furâwiy, Mu`ayyid bin Muhammad bin Ali al-Thûsi, Zainab binti Abi al-Qâsim al-Sya’riyyah dan lain-lainya. Dan masih banyak lagi guru-guru Ibnu Shalâh yang tersebar di berbagai tempat yang pernah ia singgahi.

Kondisi Sosio-Politik Di Masa Hidup Ibnu Shalâh

Semasa hidup, Ibnu Shalâh termasuk salah satu ulama yang beruntung karena mendapati sebuah miliu yang kondusif, stabil dan mendukung aktivitas keilmuan. Beliau hidup di masa kesultanan Ayyubiyyah, yang dikenal dengan keberanian dan kepahlawanan mereka. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai pemimpin-pemimpin yang adil, bijaksana dan selalu melakukan perbaikan di berbagai wilayah yang telah mereka kuasai. Tak hanya itu, mereka sangat sadar bahwa kemenangan mereka dalam pertempuran tidak akan sempurna jika tak diiringi dengan kemajuan di bidang peradaban, yang mana pilar-pilarnya adalah ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, pemerintah berjihad untuk menggalakkan ilmu pengetahuan, dengan jalan mendirikan berbagai madrasah dan pesantren. Kondisi seperti ini tentu saja memberikan peluang yang sangat besar kepada umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain Ibnu Shalâh, berbagai ulama lainnya pun muncul dalam spesifikasi ilmu yang beraneka ragam. Di antaranya seperti Abdul Ghani al-Muqaddasi (w. 600 H), Ibnu al-Atsîr al-Jazariy (w. 606 H), Ibnu ‘Asâkir al-Qâsim Bahâ`uddîn Abu Muhammad al-Dimasyqi (w. 600 H) dan lain sebagainya.

Kota Syam kala itu termasuk salah satu kota yang terkenal memiliki banyak pesantren dan perguruan tinggi. Di negeri ini pulalah tertancap kokoh sebuah madrasah yang secara khusus mengajarkan disiplin ilmu hadits. Adapun tokoh pertama yang mempelopori madrasah ini adalah Imâm al-Hâfidz Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Khathîb al-Baghdâdi (w. 463 H). Beliau berhijrah dari Baghdad dengan membawa berbagai karangannya menuju Damaskus untuk diajarkan di sana.

Setelah kepergian al-Khathîb al-Baghdâdi, Ibnu Shalâh kemudian menggantikan beliau sebagai pengajar ilmu hadits. Ibnu Shalâh seperti menerima tampuk kepemimpinan untuk mengabdikan dirinya di Syam. Pada waktu itu, Ibnu Shalâh meminta kepada ayahnya untuk pindah ke Halab guna mengajar di Madrasah Asadiyyah yang berada di sana. Semenjak itulah ayah beliau mengajar di Halab dan meninggal di kota itu pada tahun 618 H.

Salah satu fase terpenting dalam hidup Ibnu Shalâh adalah ketika beliau berada di Damaskus. Di sanalah beliau benar-benar mencapai titik kematangan sebagai seorang ulama besar. Bintangnya semakin bersinar dan dikenal oleh masyarakat secara luas. Di sana pulalah beliau semakin gigih menyebarkan ilmu dan menulis berbagai karya. Beliau kemudian dikenal sebagai seorang faqîh, ahli ushul fikih, dan tak main-main beliau menjadi seorang mufti dan dijuluki syaikhu al-Islâm. Selain bidang fikih beliau juga menguasai bidang lainnya seperti tafsir, hadits dan sebagian besar keilmuan Islam.

Sebagai satu-satunya ulama yang paling menguasai bidang hadits (pada masa itu), sejumlah penuntut ilmu dari berbagai penjuru berbondong-bondong untuk datang menuntut ilmu kepada beliau. Sehingga, ketika dalam sebuah karya ilmu hadits disebutkan kata [Syaikh], maka yang dimaksud adalah Ibnu Shalâh. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh al-Iraqi dalam “Alfiyyah”nya: “ketika aku menggunakan kata [Syaikh] (dalam berbagai tulisanku), maka tiada lain yang aku maksud adalah Ibnu Shalâh”. Dengan demikian, setelah melihat sepak terjangnya, kapabilitas Ibnu Shalâh dalam bidang keilmuan Islam sudah tak diragukan lagi.

Jika dahulu Ibnu Shalâh adalah murid dari berbagai ulama kenamaan, maka pada gilirannya ia juga menjadi guru dari murid-muridnya, yang pada masa selanjutnya mereka juga menjadi para ulama besar. Beberapa ulama yang berguru kepada Ibnu Shalâh dalam bidang fikih adalah; imam Syamsuddîn Abdurrahman bin Nûh al-Muqaddasi, imam Kamâluddîn Sallâr, Kamâluddîn Ishâq, Taqiyyuddîn bin Zirrîn dan sebagainya.

Adapun yang belajar hadits pada Ibnu Shalâh antara lain; Fakhruddîn Umar al-Karji, Majduddîn bin al-Muhtâr, Syaikh Tâjuddîn Abdurrahman, Zainuddîn al-Fâraqiy, al-Qâdli Syihabuddîn al-Jauriy dan lain sebagainya.

Ibnu Shalâh dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa Ibnu Shalâh kecil tumbuh berkembang dalam naungan sebuah keluarga agamis dan berkecukupan. Hal itu pulalah yang akhirnya membentuk karakter dan kepribadiannya. Ibnu Shalâh tumbuh sebagai sosok yang taat beragama, giat nan rajin dalam menuntut ilmu serta selalu memprioritaskan hal-hal yang bermanfaat untuk dilakukan. Untuk sebuah pelajaran ia tak cukup mempelajarinya sekali, namun berkali-kali dan selalu ia teliti.

Ibnu Shalâh adalah seorang yang zuhud dan wira’i terhadap hal-hal duniawi. Namun, dalam hal berpakaian, misalnya, beliau senantiasa menggunakan pakaian yang bersih dan serapi mungkin dalam rangka menghormati majlis-majlis ilmu yang beliau hadiri. Di samping itu, Ibnu Shalâh adalah pribadi yang mengikuti jejak para sufi dalam hal keilmuan sekaligus amalan. Ia sosok seorang hamba yang senantiasa berjihad mengalahkan hawa nafsu agar bisa meraih derajat ikhlas dalam setiap prilakunya. Dan yang perlu di catat, Ibnu Shalâh adalah seseorang yang sangat mencintai hadits beserta ilmunya, sehingga ia pernah berkata dalam kitab “Ulûm al-Hadîts”nya:

“Ilmu hadits adalah ilmu yang mulia, yang sesuai dan seiring dengan tuntunan etika luhur,… dan ia termasuk ilmu akhirat, bukan ilmu keduniaan. Maka barangsiapa yang ingin mendengarkan (belajar) hadits, haruslah terlebih dahulu menata niat dan segenap keikhlasan!”

Ibnu Shalâh juga mengutip perkataan para gurunya, bahwa: “Tanda orang yang panjang umurnya adalah kesibukannya dengan hadits-hadits Rasulullah SAW. Dan hal ini terbukti melalui berbagai fakta lapangan, bahwa ketika kita meneliti umur para ahli hadits, maka kita akan mendapati bahwa umur mereka di-panjang-kan (oleh Allah)”.

Demikianlah kita telah melihat bahwa segenap masa hidup Ibnu Shalâh betul-betul dihibahkan demi ilmu pengetahuan dan Islam. Tahun 643 H, bertepatan dengan tahun 1245 M adalah hari di mana Ibnu Shalâh berpulang ke rahmatullah. Tepatnya pada hari Rabu waktu Subuh dan beliau disholati setelah Dzuhur, tanggal 25 Robi`ul Akhir, di kota Damaskus.

Peninggalan Ibnu Shalâh

Ibnu Shalâh pergi meninggalkan berbagai buah karyanya yang terangkup dalam beberapa disiplin keilmuan. Karya-karya beliau yaitu:

1. Thabaqâtu al-Fuqahâ` al-Syâfi’iyyah;
2. Al-`Amâliy;
3. Fawâ`idu al-Rihlah, sebuah kitab menarik yang mengandung berbagai pembahasan dalam beragam ilmu, beliau tulis di sela-sela perjalanan menuju Khurasan;
4. Adâbu al-Mufti wa al-Mustafti;
5. Shilatu al-Nâsiki fî Shifati al-Manâsiki, sebuah buku yang menjelaskan tata cara dalam melaksanakan ibadah haji;
6. Syarhu al-Wasîth fi Fiqhi al-Syâfi’iyyah;
7. Al-Fatâwâ, sebuah buku hasil kodifikasi para muridnya, berdasarkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan Ibnu Shalâh, baik dalam bidang fikih, tafsir maupun hadits;
8. Syarhu Shahîhi al-Muslim, sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam Tadrîb al-Râwi;
9. Al-Mu`talaf wa al-Mukhtalaf fî Asmâ`i al-Rijâl. Sebuah manuskrip yang disimpan di Dâr al-Kutub al-Dzâhiriyyah;
10. Ulûm al-Hadîts atau yang lebih dikenal dengan Muqaddimah Ibnu al-Shalâh.

Demikian apa yang dapat penulis sampaikan terkait biografi Ibnu Shalâh. Semoga, melalui kajian tokoh ini kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran, sehingga dapat kita jadikan cermin untuk bermuhasabah. Wallahu a’lam![]

Referensi:

* Ibnu al-Shalâh, Abu ‘Amr Utsmân, Muqaddimah Ibnu al-Shalâh, Beirut, Dâr al-Tsurayya li al-Narys.
* Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Kairo, Maktabah Usrah, 2006.
* Maushû’ah A’lâmu al-Fikr al-Islâmi, Kairo, Majlis A’la li al-Syu`ûn al-Islâmiyyah, 2004.
* Abu ‘Amr, Utsmân, Ulûm al-Hadîts li Ibni al-Shalâh, Beirut, Dâr al-Fikr al-Mu’âshir.

(Sumber: http://www.mediamuslim.net, penulis M. Luthfi al-Anshori)

.

Sumber: http://www.mujahidin.net/index.php?option=com_content&view=article&id=114:ibnu-shalah-sang-guru-ilmu-hadits&catid=48:hadits&Itemid=73

Blog Orang Awam

Sayyid Al Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani (w. 1425 H)

Biografi Al ‘allamah Al Muhaddits As Sayyid Al Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani  (w. 1425 H)

As Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid ‘Alawi bin Sayyid ‘Abbas bin Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di kota suci Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam

Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”.

Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan.Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

Sebagaimana adat para Sadah dan Asyraf ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.

Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.

Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.

Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah.thariqahnya.

Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya

Karya Tulis Beliau

Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Beliau telah menulis dalam pelbagai topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam pelbagai bidang:

Aqidah:

1. Mafahim Yajib an Tusahhah

2. Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus

3. At-Tahzir min at-Takfir

4. Huwa Allah

5. Qul Hazihi Sabeeli

6. Sharh ‘Aqidat al-‘Awam

Tafsir:

1. Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an

2. Wa Huwa bi al-Ufuq al-‘A’la

3. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran

4. Hawl Khasa’is al-Quran

Hadith:

1. Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif

2. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadith

3. Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi

4. Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik

Sirah:

1. Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil

2. Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah

3. ‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif

4. Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah

5. Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah

6. Zikriyat wa Munasabat

7. Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra

Usul:

1. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh

2. Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh

3. Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah

Fiqh:

1. Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha

2. Shawariq al-Anwar min Ad‘iyat al-Sadah al-Akhyar

3. Abwab al-Faraj

4. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar

5. Al-Husun al-Mani‘ah

6. Mukhtasar Shawariq al-Anwar

Lain-lain:

1. Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah)

2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis)

3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam)

4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da‘wah ila Allah (Teknik Dawah)

5. Ma La ‘Aynun Ra’at (Butiran Syurga)

6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam)

7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi‘ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman)

8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin)

9. Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan)

10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan)

11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)

12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi)

13. Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk beliau, As-Sayyid Abbas)

14. Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa beliau, As-Sayyid Alawi)

15. Al-Tali‘ al-Sa‘id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)

16. Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)

Catatan diatas adalah kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak menyebutkan berapa banyak karya tulis yang telah dikaji, dan diterbitkan untuk pertama kali, dengan ta’liq (catatan kaki) dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka.

Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf.

Pada akhir hayatnya yang berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas.

Pada tanggal 11/11/1424, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.

Beliau wafat hari jumat tanggal 15 ramadhan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping kuburan istri Rasulullah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan beliau seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri.

Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah beliau setelah disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat.

Semoga kita bisa meneladani beliau. Amien.

.

Sumber: http://www.al-bakriah.com.my/index.php?option=com_content&view=article&id=164:sayyid-al-muhammad-bin-alawi-al-maliki-al-hasani&catid=20:tokoh-ulama&Itemid=43

Blog Orang Awam

Imam Abu Hanifah (80H-150H)

Riwayat hidup dan pengajian :

Beliau ialah seorang imam yang agung iaitu Abu Hanifah An-Nu’man Bin Tsabit Bin Zuutha At-Taimiy Al-Kufiy,beliau dilahirkan di Kota Kufah,beliau berketurunan Parsi,bapanya dahulu merupakan milikkan kepada seorang lelaki dari Bani Taimullah Ibnu Tsa’labah,kemudianya dia telah dimerdekakan,kerana itulah nama beliau dinisbahkan kepada At-Taimiy iaitu nama kepada Bani Taim,mengikut riwayat yang masyhur,beliau telah dilahirkan pada 80 hijrah,dan beliau telah meninggal dunia pada 150 hijrah.

Kembara pengajian beliau bermula di Kota Kufah,disana beliau telah memulai belajar Ilmu Kalam sehingga beliau mahir didalam ilmu tersebut,lalu beliau pun mengarang sebuah kitab yang berkaitan dengan Ilmu Kalam yang bertajuk Fiqh Al-Akbar,kemudianya beliau pun beralih kepada pengajian Ilmu Feqh,dan beliau telah berguru dengan As-Syeikh Himaad Bin Abi Sulaiman,yang mana dia pula mempelajari Ilmu Feqh dari As-Syeikh Ibrahim An-Nakhaie’.

Pengetahuan Imam Abu Hanifah didalam bidang feqh telah sampai ke peringkat yang tidak termampu dicapai oleh para fuqaha’ lain yang sezaman dengan beliau pada ketika itu,yang mana Imam Syafiey telah berkata tentang beliau : (Para fuqaha’ dalam bidang feqh bergantung kepada Imam Abu Hanifah) dan beliau merupakan insan yang wara’ orangnya serta orang yang berada,kerana beliau dahulunya merupakan seorang peniaga kain di Kota Kufah,sebelum beliau menceburkan diri beliau didalam lapangan ilmu ini.

Dan dari hasil kegiatan perniagaan beliau serta pengetahuan beliau tentang ilmu perniagaan dan juga dengan pengajian beliau didalam Ilmu Tauhid telah memberikan banyak faedah kepada beliau,cukuplah dengan harta perniagaan yang beliau ada daripada menjawat sebarang jawatan penting didalam kerajaan,sesungguhnya beliau enggan menerima sebarang jawatan kerana beliau menginginkan agar beliau bebas dalam memberikan pendapat beliau tanpa dikongkong dari pihak pemerintah,dan juga tidaklah beliau akan ditakutkan dengan dilucutkan dari jawatanya nanti,menampakkan bahawa beliau tidak takut kepada celaan dari orang-orang yang mencela dalam melontarkan pandangan beliau.

Sepanjang penceburan beliau didalam aktiviti perniagaan,beliau telah mendapat banyak pengetahuan tentang muamalat didalam perniagaan secara praktikal,ini kerana terjadinya saling jualbeli antara beliau dengan manusia lainya dipasar,tanpa syak lagi,disebabkan interaksi secara realistik dan praktikal tersebut,telah memberikan beliau kebolehan yang luas dalam berhukum secara ra’yi dan manthiq,dan juga berkebolehan mempraktikkan secara amali didalam hukum-hakam syariah islamiah pada berbagai jenis kejadian yang dihadapi oleh manusia didalam kehidupan mereka,kerana itulah beliau dianggap antara ahli feqh yang membuka luas pintu penggunaan ra’yi dan juga beliau merupakan Imam di Madrasah Ar-Ra’yi (2) dizamanya.

Beliau merupakan taabi’ taabieen mengikut riwayat yang masyhur,kerana pada zaman beliau terdapatnya empat orang sahabat yang masih hidup lagi ketika itu seperti : Anas Bin Malik radiallahu anhu di Basrah,Abdullah Bin Ubai di Kufah,Sahl Bin Saad As-Saaiediy yang berada di Madinah dan Abu Tufail Aamir Bin Waatsilah yang berada di Mekah,tetapi,tidaklah Imam Abu Hanifah sempat bertemu dengan mereka.

Dan dikatakan bahawasanya beliau merupakan seorang At-Tabieen,kerana beliau pernah berjumpa dengan beberapa orang sahabat dan sempat berguru dengan mereka,tetapi riwayat tersebut terdapatnya syak padanya.

Syeikh-syeikh beliau :

Imam Abu Hanifah lahir dari Madrasah Ar-Ra’yi seperti mana yang telah diterangkan tadi,dan Madrasah Ar-Ra’yi itu terdapatnya murid-murid mereka yang tersendiri dan pendekatan mereka terhadap ilmu yang tersendiri,yang mana madrasah ini telah diasaskan oleh Amirul Mukminin iaitu Umar Bin Khattab radiallahu anhu dan telah dipindahkan ke Kufah oleh seorang lagi sahabat yang mulia iaitu Abdullah Bin Masu’d radiallahu anhu,dan betapa ramai yang telah berguru dengan beliau,antaranya Ibrahim Alqamah Bin Qis,Masruq Ibnu Al-Ajda’ dan Syuraih Al-Qaadhi,kemudianya beberapa orang fuqaha’ yang terkenal pula telah berguru dengan mereka antaranya Ibrahim An-Nakhaiey,Aamir Bin Syarahiil As-Sya’biy,kemudianya Himad Bin Abi Sulaiman pula telah berguru dengan mereka,dan daripada jalan Himad Bin Abi Sulaiman lah Imam Abu Hanifah mengambil ilmu-ilmu para ulama’ tersebut,dan beliau telah melazimi syeikh beliau itu selama 18 tahun lamanya,dan beliau menamatkan pengajian beliau dengan mazhab feqh yang dinisbahkan kepada beliau iaitu Mazhab Hanafi.

Sesungguhnya Imam Abu Hanifah merupakan seorang imam yang tidak dapat dipersoalkan lagi kealimanya,seorang yang faaqih dan amanah dan juga merupakan seorang perawi hadith nabi yang tsiqah (terpercaya) dan beliau mempunyai harta perniagaan yang banyak yang mana beliau menyalurkanya kepada syeikh-syeikh beliau dan juga anak murid beliau dan membantu mereka.

Keengganan Imam Abu Hanifah daripada menjawat jawatan :

Imam Abu Hanifah merupakan seorang imam yang berada dan warak,dan cukuplah dengan harta yang beliau perolehi dari hasil perniagaan beliau itu daripada menjawat sebarang jawatan,kewarakkanya serta ketaqwaanya terhadap Allah telah menghalang beliau daripada menjawat apa-apa jawatan dizaman pemerintahan Al-Umawi begitu juga di zaman pemerintahan Al-Abbasi,dan sesungguhnya Yazid Bin Umar telah meminta seorang dari pegawainya di Iraq di zaman pemerintahan Al-Umawi iaitu Marwan Bin Muhammad supaya menyatakan kepada Imam Abu Hanifah untuk menjadi pentadbir di Kufah tetapi beliau telah menolaknya,lalu beliau telah diseksa disebabkan penolakkan beliau terhadap jawatan tersebut,beliau telah disebat dengan menggunakan cambuk sebanyak 110 kali sebatan,setiap hari sebanyak sepuluh kali sebatan dan pada zaman pemerintahan Al-Abbasi pula Abu Ja’far Bin Mansur telah berkenan untuk menjadikan beliau pentadbir di Baghdad tetapi beliau telah menolaknya juga,lalu sebagai hukuman beliau telah ditahan dan diseksa lagi sekali dengan dipukul dengan cambuk sebanyak 10 kali sebatan setiap hari sehingga beliau hampir-hampir menemui ajal beliau.

Sebab sebenar beliau diseksa mengikut kata Al-Marhum As-Syeikh Al-Khadri ialah :

Sesungguhnya Yazid Bin Umar berbicara dengan beliau tentang tawaran jawatan tersebut adalah bertujuan untuk menguji kesetiaan beliau terhadap pemerintahan Al-Umawiah,jika beliau menerima jawatan tersebut ianya dapat menjadi bukti kesetiaan beliau terhadap pemerintah dan juga kesudian beliau menolong dan menyokong pemerintah ketika itu,dan penolakkan beliau terhadap jawatan yang ditawarkan pemerintah ketika itu pula akan menjadi bukti bahawa beliau tidak menyokong golongan pemerintah,dan disebabkan itulah beliau telah diseksa,kerana mereka telah menganggap yang beliau tidak menyokong kerajaan pemerintah ketika itu,dan mereka menyangka bahwa beliau merupakan penyokong kepada golongan Al-Alawiyyun iaitu golongan pembangkang pemerintahan Al-Umawiyah.

Disebabkan itulah kita dapat lihat yang Abu Ja’far Al-Mansur ketika mana mahu menawarkan jawatan kepada Imam Abu Hanifah,dan apabila mendengarkan penolakkan dari beliau,dia telah berkata :Apakah kamu tidak menyukai pemerintahan kami??,dan yang jelasnya,penahanan beliau tersebut merupakan sebab yang berkaitan dengan unsur politik,dan juga terdapatnya beberapa ulamak lain selain Imam Abu Hanifah yang enggan menjawat jawatan yang ditawarkan kepada mereka oleh golongan pemerintah tetapi tidak pula mereka diapa-apakan,antaranya ialah Al-Laits Bin Saad,yang mana ketika Abu Mansur meminta beliau menjadi qadhi tetapi beliau telah menolaknya dan beliau tidak diapa-apakan lansung.

Usul Mazhab Imam Abu Hanifah :

(1) Al-Quran Al-Karim : yang mana secara lazimnya ianya menjadi sumber hukum yang pertama dikalangan para fuqaha’.

(2) As-Sunnah Nabawiyah : iaitu sumber hukum di martabat yang kedua selepas Al-Quran,dan sesungguhnya beliau tidak begitu senang untuk mengambil sesuatu hadith itu sebagai sumber hukum,kerana di Iraq ketika itu ialah sarang memalsukan hadith,iaitu hadith yang sengaja dibohongkan atas nama rasulullah sallallahu alahi wassalam,disebabkan itulah beliau tidak akan mengambil sesuatu hadith sebagai sumber hukum melainkan jika hadith tersebut diriwayatkan oleh perawi yang ramai daripada perawi yang juga ramai yang mana keadaan para perawi tersebut tidak bersepakat sesama mereka untuk berbohong,yang dinamakan hadith mutawatir,atau pun hadith yang diriwayatkan oleh seorang perawi daripada rasulullah sallallahu alaihi wassalam kemudianya diriwayatkan pula dari perawi tersebut beberapa perawi yang ramai dari golongan tabieen,iaitu hadith yang dinamakan sebagai masyhur,manakala hadith ahad iaitu hadith yang diriwayatkan oleh seorang perawi atau dua orang atau lebih yang mana lebih sedikit daripada bilangan perawi hadith mutawatir,dan Imam Abu Hanifah tidak akan menerima hadith ahad ini melainkan jika ianya memenuhi syarat-syarat yang telah disyaratkan untuk diterima sebagai hujjah dan beramal denganya,dan diantara syarat yang paling penting bagi hadith ini ialah,perawi hadith tersebut mestilah seorang yang adil (3),terpercaya,tsabit dan mestilah berasa yakin untuk mengambil hadith yang diriwayatkanya itu dan juga hendaklah dia itu seorang yang mempunyai pengetahuan agama.

(3) Ijmak : jika beliau tidak menemui apa-apa nas bersumberkan dari Al-Quran juga As-Sunnah,beliau akan melihat pula hasil persepakatan para ulamak iaitu ijmak jika ianya ada,samada ijmak secara Soreh (4) atau Sukutiy (5),dan tanpa syak lagi ijmak para sahabat akan mendepani ijmak yang lain,kerana para sahabat berada bersama-sama rasulullah sallallahu alaihi wassalam ketika mana hukum-hakam tersebut diturunkan kepada rasulullah sallallahu alaihi wassalam,dan mereka juga mengetahui kejadian-kejadian yang telah diturunkan hukum-hakam keatasnya,dan disebabkan itu beliau beramal dengan ijmak para sahabat dan mendepankanya dari Qiyas pada perkara yang tidak boleh dihukum dengan menggunakan ra’yi,kerana urusan agama itu tidak diambil dari ra’yi (pendapat berdasarkan aqal semata-mata) dan beliau menganggap perkataan para sahabat itu ialah atsar dari rasulullah sallallahu alahi wassalam pada apa yang dinisbahkan kepada para sahabat.

Dan beliau tidak akan menerima perkataan para tabi’en melainkan jika perkataan tersebut bertepatan dengan ijtihad beliau,dan kadangkala beliau menggunakan pendapat yang tidak pernah diperkatakan langsung oleh golongan tabi’en,yang mana sebaliknya beliau tidak akan menggunakan pendapat yang bercanggahan juga menyimpang dari kata-kata para sahabat,dan beliau akan membawa pula pendapat yang baru jika tiadanya pendapat dari para sahabat.

(4) Al-Qiyas : Sesunguhnya Imam Abu Hanifah mengunakan qiyas secara meluas,disebabkan ketelitian beliau dalam menerima hadith dan terlalu memilih hadith makanya beliau beramal dengan qiyas secara meluas dan menjadikanya diantara asas yang utama daripada asas-asas syariah lain yang menjadi sumber hukum mazhab beliau.

(5) Al-Istihsan : iaitu suatu perkara yang terkeluar daripada lingkungan qiyas zahir dan masuk kepada hukum lain yang bercangah dengan qiyas zahir kerana wujudnya dalil yang membinanya dari nas,ijmak atau ‘Urf (adat) (6)

Imam Abu Hanifah mengatasi para fuqaha’ lain didalam penggunaan Al-Istihsan,dan istilah Al-Istihsan itu hanyalah digunakan oleh mazhab-mazhab lain selain Mazhab Hanafi,kerana didalam Mazhab Hanafi dipanggil sebagai Al-Istislah.

(6) Al-‘Urf : Imam Abu Hanifah menggunakan Al-‘Urf yang sahih iaitu Al-‘Urf yang terbina diatas hukum dan menjadikanya sebagai suatu qaedah untuk mengeluarkan hukum pada perkara feqh yang bersifat furu’ (cabang) dan beliau terkenal dengan kemahiran beliau didalam feqh hadith,yang mana beliau akan mencari kesahihan sesebuah hadith pertamanya,kemudianya jika beliau mendapati hadith tersebut sahih,maka beliau akan mengeluarkan hukum daripada hadith tersebut pada hukum-hakam feqh dengan kemahiran beliau yang tinggi,serta ketelitian yang menakjubkan.

Imam Abu Hanifah tidak hanya berlegar di lapangan Feqh yang berkisar pada kejadian semasa sahaja,begitu juga tidak hanya pada masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia sahaja,bahkan beliau dapat menyelesaikan masalah yang belum pun berlaku dizaman itu,yang mana beliau tidak akan menunggu sesuatu hukum itu sehingga ianya berlaku,menjadikan beliau ketua para fuqaha’ pada lapangan Feqh Al-Iftiradhi (7),yang mana ianya memberikan kelebihan yang besar kepada feqh islami untuk terus berkembang dan tersebar dan dapat meliputi segenap penjuru kehidupan.

Diriwayatkan daripada Sufyaan At-Tsauri,dia berkata : Sesungguhnya aku telah mendengar bahawa Abu Hanifah telah berkata suatu kata-kata yang adil lagi berhujjah : “Sesungguhnya aku mengambil ( mencari hukum) dari kitabullah itu jika aku mendapatinya,dan jika aku tidak mendapatinya,aku akan mengambil pula dari sunnah nabiNya,dan juga dari atsar-atsar yang sahih yang mana berlegar di kalangan para perawi yang terpercaya,dan jika aku tidak mendapatinya didalam kitabullah dan sunnah nabiNya itu,aku akan mengambilnya pula dari kata-kata para sahabat,aku akan mengambil kata-kata dari mereka yang aku mahu dan aku akan tinggalkan pula kata-kata yang aku mahu,tetapi aku tidak akan keluar dari kata-kata mereka dan mencari kata-kata selain mereka,jika aku sudah melihat kata-kata dari Ibrahim,As-Sya’biy,Al-Hasan dan Ibnu Sirin begitu juga Saed Al-Musayyab serta beberapa perawi lagi yang telah berijtihad,maka aku akan berijtihad sepertimana mereka telah berijtihad”.

Kitab-kitab hasil karangan Imam Abu Hanifah :

Tidaklah kami mengetahui apa-apa kitab feqh yang dikarang sendiri oleh Imam Abu Hanifah,sebenarnya,beliau tidak mengarang apa-apa kitab pun didalam bidang feqh,kerana jika beliau ada mengarang apa-apa kitab feqh maka kita akan dapati adanya suatu bentuk buku pengumpulan,dan pasti akan disebarkanya oleh murid-murid beliau yang berguru dengan beliau,dan setiap kata-kata beliau yang disampaikan dari orang itu ialah sebenarnya berupa kata-kata dari risalah-risalah kecil beliau didalam Ilmu Kalam,dan pendapat-pendapat beliau pada feqh pula berasal dari jalan periwayatan anak-anak murid beliau,kerana merekalah yang memelihara pendapat-pendapat beliau itu dengan menulisnya dan meriwayatkanya kepada kami pada setiap bab dari bab-bab feqh.

Anak-anak murid Imam Abu Hanifah:

Sesungguhnya Imam Abu Hanifah mempunyai anak-anak murid yang menyebarkan dan memelihara mazhab beliau agar kekal meniti zaman,dan tidaklah terhapusnya mazhab beliau sepertimana terhapusnya mazhab-mazhab para fuqaha’ lain yang bertaraf mujtahid yang sezaman dengan beliau atau yang sebelum beliau lagi,jika bukan kerana pengikut-pengikut dan sahabat-sahabat beliau yang meriwayatkan pendapat-pendapat beliau dan mengumpulkanya kedalam sebuah kitab serta mewariskanya dari generasi ke generasi seterusnya pastilah akan terhapusnya juga mazhab beliau ini.

Diantara anak-anak murid beliau yang masyhur ialah : As-Syeikh AbuYusuf,As-Syeikh Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy,As-Syeikh Zufar Bin Al-Huzail,As-Syeikh Al-Hasan Bin Ziyaad.

(1) Abu Yusuf :

Beliau ialah Abu Yusuf Ya’qub Bin Ibrahim Al-Ansori,dilahirkan di Kufah pada tahun 112 hijrah dan wafat pada tahun 182 hijrah di Kufah,beliau mempelajari Ilmu Hadith serta menghafalnya,kemudianya beliau mempelajari Ilmu Feqh pertamanya dengan Ibnu Abi Laila,kemudian menyambung pengajianya itu dengan Imam Abu Hanifah,melaziminya dan berguru denganya serta mempelajari Ilmu Feqh,beliau merupakan anak murid utama Imam Abu Hanifah serta yang paling dekat denganya,dan apabila melihatkan ibu-bapa beliau yang miskin,Imam Abu Hanifah telah menolong beliau dengan memberikanya harta untuk membantu beliau dalam menuntut ilmu (alaa,macam biasiswa juga) Abu Yusuf merupakan anak murid beliau yang paling faaqih serta yang paling banyak meriwayatkan hadith,beliau tidaklah hanya mengetahui mazhab imamnya itu sahaja,sesungguhnya beliau telah mengembara di Madinah untuk bertemu dengan Imam Malik dan berguru denganya Ilmu Feqh dan Hadith,dan beliau juga ada menarik balik beberapa pendapat beliau dan berhukum dengan pendapat Imam Malik dan pendapat para fuqaha’ di Hijaz. ( 8 )

Beliau dianggap sebagai seorang mujtahid,kerana terdapatnya beberapa pendapat beliau yang bercanggah dengan pendapat gurunya pada sesetengah masalah,dan ijtihad beliau itu pula beriringan dengan usul Imam Abu Hanifah,dan beliau dikira sebagai mujtahid pada mazhab,tetapi beliau tidak ada mazhab yang khas.

Sesungguhnya beliau ada memegang jawatan dizaman pemerintahan Abbasiyyiin dibawah tiga orang khalifah iaitu Al-Mehdi,Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid yang mana Harun Ar-Rasyid memuliakan beliau dan menaikkan beliau sehingga ke tahap yang tertinggi yang tidak dapat dicapai oleh sesiapa pun selain beliau,

Harun Ar-Rasyid telah mengurniakan beliau pangkat Ketua Qadhi,dan beliau merupakan orang pertama yang memegang jawatan ini dari golongan fuqaha’,dan pangkat ini pula telah membuka peluang kepada beliau untuk berkhidmat kepada mazhab imamnya dengan menyebarkanya kepada seluruh manusia,dan beliaulah yang bertanggungjawab melantik qadhi di seluruh wilayah milik Daulat Abbasiyyah,beliau tidak akan melantik qadhi melainkan qadhi yang bermazhab hanafi,lalu perkara ini telah menggalakkan ramai orang ingin mempelajari mazhab hanafi serta menyebarkanya kepada orang ramai sehingga ramailah yang mengikut mazhab tersebut serta telah menjamin pengekalan mazhab hanafi,beliau telah meletakkan suatu usul feqh bagi mazhab hanafi,dan juga telah diriwayatkan kata-kata dari beliau pada masalah-masalah feqh yang pelbagai,dan beliau telah menyandarkan pendapat mazhab ini dengan hadith-hadith nabi yang dihafalnya serta yang difahaminya,dan beliau telah bercanggah dengan imamnya ini disebabkan oleh pengetahuan beliau pada sesetengah hadith yang tidak dikaji oleh Imam Abu Hanifah,dan beliau telah menambah didalam mazhab ini beberapa pendapat yang beliau telah mendalaminya serta dari apa yang telah beliau dapati dari feqh golongan Hijaz.

Diantara kitab-kitab yang dikarang oleh Abu Yusuf dan masih lagi ada pada kami ialah : Kitab Al-Kharaj yang dikarang oleh beliau disebabkan oleh keinginan Khalifah Harun Ar-Rasyid yang menginginkan suatu asas untuk berhukum dengan hukum-hakam yang berkaitan dengan harta untuk Daulah Abbasiyyah,dan juga Kitab Ar-Radd ‘Ala Siyarul ‘Auzaiey,dan telah diriwayatkan beberapa pendapat beliau didalam Kitab Al-Umm oleh Imam Syafiey.

Diantara kata-kata beliau yang menunjukkan kewarakkan serta ketaqwaan beliau kepada Allah ialah kata-kata beliau ketika beliau hampir-hampir menemui ajal :
“Setiap apa yang telah aku fatwakan sesungguhnya aku telah menariknya kembali kecuali pada apa yang bertepatan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah” dan pada lafaz yang lain : …”kecuali pada apa yang selari dengan Al-Quran serta pada apa yang dipersetujui oleh sekalian muslim” dan perkara ini tidaklah asing bagi Abu Yusuf kerana beliau merupakan Ahli Ra’yi yang paling banyak meriwayatkan hadith .

(2) Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy :

Beliau ialah Muhammad Bin Al-Hasan Bin Al-Farqad As-Syibaaniy,dilahirkan pada 132 hijrah,iaitu ketika ayah beliau bermusafir bersama tentera-tentera Syam yang sedang menuju ke Iraq,beliau berasal dari sebuah kampung di Dimasyq (Damsyik) dan beliau wafat pada tahun 189 hijrah ketika beliau dalam perjalanan ke Khurasan bersama Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Beliau tinggal di Kufah dan berguru dengan Imam Abu Hanifah,tetapi beliau tidak tinggal disana lama dan beliau berguru dengan imamnya itu sekejap sahaja,apabila wafatnya Imam Abu Hanifah beliau ketika itu baru sahaja berumur 18 tahun,kemudianya beliau berguru pula dengan Abu Yusuf dan mempelajari mazhab hanafi,tetapi beliau tidaklah hanya mempelajari mazhab hanafi sahaja,tetapi beliau telah pergi ke hijaz dan telah mendalami hadith dari golongan Hijaz di sana dan beliau telah berguru dengan Imam Malik di Madinah Al-Munawwarah dan telah tinggal bersamanya selama 3 tahun lamanya,dan mempelajari Ilmu feqh,Ilmu Hadith dan beliau telah meriwayatkan Al-Muwattho’ daripada Imam Malik,dan beliau juga mempelajari Ilmu Feqh dengan At-Tsauri dan Al-‘Auzaiey,disebabkan itulah ianya telah memberikan kesan terhadap pendapat-pendapat beliau didalam bidang feqh,beliau telah menggabungkan bersama Madrasah Ar-Ra’yi dan Madrasah Ahli Hadith,dan menggunakan pendapat kedua-dua madrasah tersebut didalam pendapat-pendapat beliau,dan beliau telah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap kedua-duanya.

Sesungguhnya beliau merupakan seorang yang faaqih dan sangat cerdas,serta berpengetahuan,Imam Syafiey telah berguru dengan beliau ketikamana Imam Syafiey mengembara ke Iraq,dan Imam Syafiey telah berkata tentang beliau :”Sesungguhnya Muhammad Bin Al-Hasan dipenuhi hatinya dan matanya (dengan ilmu)” dan berkata juga : “Tidak pernah aku melihat sesiapa pun yang lebih a’lim tentang kitabullah selain Muhammad,seakan-akan diturunkan Al-Quran kepadanya” beliau berkata lagi : “Sesungguhnya aku telah menulis dari apa yang aku dapati dari Muhammad sebanyak bebanan unta,jika bukan kerana dia,tidaklah dibukakan kepadaku ilmu”

Sesungguhnya Muhammad Bin Al-Hasan seorang imam yang pintar,cerdik dan cerdas sehinggakan beliau telah menjadi tempat rujukkan ahli ra’yi ketika Abu Yusuf masih hidup,beliau pernah menjawat jawatan Ketua Pengurusan Hamba untuk pihak Khalifah Harun Ar-Rasyid,dan beliau mengurusnya dengan adil,Harun Ar-Rasyid telah memberhentikan perkhidmatan beliau pada tahun 187 hijrah,selepas beliau diberhentikan beliau telah pergi ke Baghdad,kemudian Harun Ar-Rasyid telah cuba memujuk beliau dan mengajak beliau kembali kepadanya semula,dan Harun Ar-Rasyid telah menjejaki perjalanan beliau yang sedang dalam perjalanan ke Khurasan,tetapi beliau telah meninggal dunia ketika didalam perjalanan tersebut,Khalifah Harun Ar-Rasyid lalu berkata : “Aku telah mengebumikan Ilmu Bahasa Arab dan Ilmu Feqh di Ray pada hari ini” Khalifah Harun Ar-Rasyid bermaksud ingin memuji seorang syeikh yang mahir didalam bidang Ilmu Bahasa Arab dan merupakan Syeikhul Qiraat dan Ilmu Nahu iaitu As-Syeikh Abu Hasan Ali Bin Hamzah Al-Kisaiey dan syeikh yang alim dalam bidang Feqh dan Hadith iaitu Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy yang mana kedua-dua syeikh ini meninggal dunia di hari yang sama.

Beliau merupakan imam yang melakukan usaha pengumpulan untuk mazhab hanafi,iaitu dengan mengarang banyak kitab-kitab untuk mazhab hanafi,yang paling utamanya ialah enam buah kitab yang mana para ulamak mazhab hanafi mengatakan kitab-kitab ini merupakan Zahirul Riwayat (9) kerana ianya telah diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya iaitu :

(1) Kitabul Asl yang juga dikenali dengan Al-Mabsuth,

(2) Kitab Al-Jaamik As-Saghir,

(3) Kitab Al-Jaamik Al-Kabir,

(4)Az-Ziyaadaat,

(5) As-Siyarus Saghir,

(6) As-Siyarul Kabir .

Dan kitab dua yang terakhir ini menerangkan tentang hubungan Negara Islam dengan negara-negara lain ketika didalam dua keadaan iaitu ketika aman dan ketika perang.

Kitab-kitab penting di dalam mazhab hanafi :

Selain kitab-kitab yang berjumlah enam buah ini,terdapatnya kitab-kitab lain yang telah diriwayatkan oleh murid-murid beliau daripada beliau,iaitu dengan jalan periwayatan riwayat ahad antaranya :
(1) Ar-Ruqqiyaat,iaitu kitab yang meliputi tentang masalah-masalah yang dicabangkan oleh Muhammad ketikamana beliau menjadi Ketua Pengurusan Hamba,

(2) Al-Kisaaniyaat,iaitu kitab yang meliputi tentang masalah-masalah yang telah diriwayatkan oleh murid beliau daripada beliau iaitu Syuaib Bin Sulaiman Al-Kisaniy

(3) Al-Jurjaaniyaat

(4) Al-Haruniyaat,iaitu dinisbahkan kepada nama anak murid beliau,dan dianggap riwayat Muhammad Bin Al-Hasan didalam kitab Al-Muwattho’ Imam Malik merupakan diantara riwayat yang terbaik didalam kitab agung tersebut.

Manakala kitab-kitab Mukhtasar (10) terhadap enam buah kitab tersebut antaranya :

(1) Mukhtasar At-Tohawiy

(2) Al-Kaafiy oleh Haakim As-Syahid

(3) Tuhfatul Fuqaha’ oleh As-Samarqandi

(4) Mukhtasar Al-Qaduri yang mana kitab ini dipanggil sebagai “Al-Kitab” didalam mazhab hanafi

(5) Bidayatul Mubtadiy oleh Burhanuddin Mirghinaani

(6) Al-Mukhtar oleh Abdullah Bin Mahmud Bin Maudud Al-Mosuli

(7) Kanzul Daqaieq oleh An-Nasafi

( 8 ) Wiqayatul Ar-Riwayat Li Sadri As-Syariah

Dan kitab-kitab syarah yang penting pula :

(1) Al-Mabsuth oleh Imam As-Sarakhsi yang mensyarahkan Mukhtasar At-Tohawiy

(2) Badaie’u As-Sonaie’ oleh A’laauddin Al-Kaasaaniy yang mensyarahkan Tuhfatul Fuqaha’ As-Samarqandi

(3) Al-Hidayah oleh Burhanuddin Mirghinaani yang mensyarahkan Bidayatul Mubtadiy dan syarah kepada Al-Hidayah pula Al-Inayah

(4) Al-Ikhtiyar Li Ta’liil Al-Mukhtar oleh Al-Mosuli yang mensyarahkan kitabnya Al-Mukhtar.

(3) Zufar Bin Al-Huzail :

Beliau ialah Zufar Bin Al-Huzail Bin Qis Al-Kufiy,dilahirkan pada tahun 110 hijrah dan wafat pada tahun 158 hijrah,bapa beliau dahulu merupakan penguasa di Basrah,beliau mempelajari Ilmu Hadith pertamanya dan beliau merupakan diantara perawi hadith,kemudian mempelajari Ilmu Feqh dengan Imam Abu Hanifah,dan beliau banyak menggunakan Ar-Ra’yi seperti imam beliau ini,dan beliau merupakan diantara murid yang amat mahir didalam mengunakan Al-Qiyas,dan juga diantara murid yang banyak menggunakan Ar-Ra’yi didalam pendapat beliau,dan merupakan seorang imam yang ahli ibadah,zuhud dan lebih banyak mengembangkan ilmu disepanjang hayat beliau,sehinggalah beliau meninggal dunia di Basrah,dan tiadalah apa yang beliau tinggalkan dirumah beliau melainkan hanya wang 3 dirham sahaja,kerana beliau pernah berkata :

“Tidaklah aku akan tinggalkan apa-apa selepas kematianku nanti sesuatu yang lebih aku takuti daripada Al-Hisab”

(4) Al-Hasan Bin Ziyad Al-Lu’luiey :

Beliau ialah Al-Hasan Bin Ziyad Al-Lu’lu’iey Al-Kufiy yang wafat pada tahun 204 hijrah,berguru dengan Imam Abu Hanifah pertamanya,kemudian dengan dua orang sahabat (didalam mazhab hanafi) iaitu Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy,dan pencapaian beliau didalam feqh tidaklah sampai ke peringkat pencapaian dua orang sahabat tadi,dan beliau telah mengarang beberapa buah kitab didalam mazhab hanafi,tetapi kitab-kitab beliau itu tidak sampai ke martabat kitab-kitab yang dikarang oleh Muhammad Bin Al-Hasan.

Ashabul Hanafi yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah :

Keempat-empat orang alim ini merupakan ashab didalam mazhab hanafi yang paling masyhur,iaitu mereka ini telah berguru dengan Imam Abu Hanifah,dan mereka telah menyebarkan mazhab beliau ini disegenap ceruk,dan bukanlah mereka ini dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah seperti pengikut yang mengikuti ketua,tetapi dinisbahkan seperti anak murid dengan gurunya,kerana kami melihat mereka ini telah berijtihad didalam mazhab hanafi,dan mereka tidaklah hanya menggunakan pendapat-pendapat guru mereka sahaja,tetapi mereka juga telah bercanggah dengan sebahagian pendapat-pendapat guru mereka jika mereka menemui dalil terhadap sesuatu perkara tersebut lebih kuat daripada dalil yang digunakan oleh guru mereka,maka mereka ini merupakan para mujtahid yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah,kerana mereka telah berijtihad sambil mengiringi ijtihad mereka itu dengan usul-usul serta kaedah-kaedah yang telah dibina di dalam mazhab ini,dan mereka telah mengikuti jalan serta pendekatan yang digunakan Imam Abu Hanifah didalam berijtihad dan berfatwa.

Melihatkan percanggahan yang berlaku antara ashabul hanafi ini dengan guru mereka maka telah tercetusnya beberapa istilah didalam mazhab hanafi,iaitu dengan meletakkan pendapat imam-imam mazhab ini beriringan dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan menisbahkan setiap pendapat itu kepada orang yang mengemukakan pendapat tersebut,ianya terjadi apabila berlakunya percanggahan pendapat sesama mereka dan masing-masing pula bertetapan dengan pendapat masing-masing,jika Imam Abu Hanifah sependapat dengan Abu Yusuf terhadap sesuatu perkara maka mereka akan menggunakan istilah :

هذا رأى الشيخين

Bermaksud : Ini adalah pendapat dua orang syeikh (iaitu Imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf)

Penjenamaan ini adalah kerana kedua-dua orang ini adalah guru bahkan syeikh kepada Muhammad Bin Al-Hasan,dan jika Imam Abu Hanifah sependapat dengan Muhammad Bin Al-Hasan pula terhadap sesuatu perkara,mereka akan menggunakan istilah :

هذا رأى الطرفين

Bermaksud : Ini adalah pendapat dari kedua belah pihak (iaitu Imam Abu Hanifah dengan Muhammad Bin Al-Hasan)

Penjenamaan ini adalah kerana Abu Yusuf sebaya dengan kedua-dua imam ini dari segi umur (Imam Abu Hanifah dan Muhammad Bin Al-Hasan) manakala Zufar Bin Huzail pula pendapat beliau dinisbahkan kepada beliau sendiri.

Disebabkan hubungan yang rapat antara Abu Yusuf dengan para khalifah Abbasiyyiin,bahkan para pemerintah menyukai beliau dan juga disebabkan jawatan Ketua qadhi yang dipegangnya itu telah memberikan suatu peluang yang cukup besar kepada beliau untuk menyebarkan mazhab hanafi ke seluruh pelusuk Negara Islam,dan sesungguhnya para penguasa Utsmaniyiin telah menyebarkan mazhab hanafi ini di kebanyakkan negara-negara islam sehinggalah ke hari ini,ianya tersebar di negara-negara yang mendapat pengaruh penguasaan pemerintahan Utsmaniy,seperti Negara Turki,Mesir,Syria dan Lubnan dan beberapa negara Eropah serta Benua Asia yang mana telah terkesan dengan pemerintahan islam Turki seperti Albania dan Balkan,dan mazhab ini telah diikuti secara meluas di Afghanistan,Pakistan,India dan China.
Istilah-istilah penting di dalam mazhab hanafi pula :

(1) Al-Imam : Imam Abu Hanifah

(2) As-Sohibaani : Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy

(3) Ats-Tsalatsah (الثلاثة) : Al-Imam dan As-Sohibaani

(4) Kitab Zahirul Riwayat : Kitab-kitab Muhammad Bin Al-Hasan As-Syibaaniy yang berjumlah enam buah

(5) Al-Kitab : Mukhtasar Al-Qaduri

(6) Al- Mutun Ats-Tsalatsah : Al-Wiqayah,Kanzu Ad-Daqaieq dan Mukhtasar Al-Qaduri.

*************************************************************************************************************************************************************************************

RUJUKKAN DAN PENERANGAN :

(1) Al-Madkhal Ila Al-Feqh Al-Islami oleh Dr.Mahmud Muhammad At-Tonthowi

(2) Ar-Ra’yu : Apa yang dicondongkan oleh hati selepas berfikir dan mendalami sedalam-dalamnya terhadap sesuatu masalah dan berusaha mencari kebenaran terhadap sesuatu yang bercanggah tanpa mengambil sesuatu kebenaran itu berdasarkan hawa nafsu,dan Ar-Ra’yu pula digunakan dengan :

(2.1) Ijtihad pada nas-nas yang bersifat zhonni,iaitu nas-nas yang mempunyai banyak takwil dan mempunyai berbagai makna.

(2.2) Menggunakan dalil-dalil aqal yang bersandarkan kepada Al-Quran dan As-Sunnah secara zahir atau tersembunyi seperti Qiyas,Masalihul Mursalah,Sadduz Zaraie’,Istihsan dan lain-lain.

Manakala Madrasah Ar-Ra’yi di Iraq pula ialah sebuah institusi yang banyak menggunakan Ar-Ra’yu di dalam pendekatan feqh mereka memandangkan keadaan Iraq ketika itu yang menjadi sarang memalsukan hadith yang mana ianya telah dipelopori oleh Umar Bin Al-Khattab dan telah dipindahkan ke Iraq oleh Abdullah Bin Mas’ud,dan Imam Abu Hanifah telah mengambil dari jalan Mas’ud ini dari guru-guru beliau yang berguru dengan Mas’ud dan Imam Abu Hanifah dianggap sebagai Imam Madrasah Ar-Ra’yi di Iraq ini,tetapi tidaklah mereka mengunakan ar-Ra’yu itu apabila menjumpai penyelesaian terhadap sesuatu masalah itu dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Pendekatan golongan ini amat berbeza dengan pendekatan golongan Madrasah Ahlul Hadith di Hijaz yang mana mereka lebih banyak menggunakan hadith-hadith dan atsar-atsar didalam pendekatan feqh mereka.

(3) Yang dimaksudkan dengan perawi yang adil ialah : hendaklah dia seorang yang beragama islam,baligh (cukup umur) beraqal,terlepas dari tuduhan Fasiq dan juga terlepas dari perkara yang mencemarkan maruah.

Manakala perawi yang Tsabit ataupun Dhobit pula ialah : riwayatnya tidak bercanggah dengan riwayat dari perawi yang tsiqah (terpercaya),tidak cepat terlupa hafalanya,tidak bodoh atau dungu,tidak melakukan kesalahan yang berat didalam riwayatnya juga tidak terlalu banyak melakukan kesilapan di dalam periwayatanya. (Taisiru Mustholahul Hadith oleh Dr.Mahmud At-Thohhan)

(4) Yang dimaksudkan dengan Ijmak Soreh ialah : suatu persetujuan pendapat dari kalangan para mujtahid samada melalui kata-kata mereka atau perbuatan-perbuatan mereka terhadap sesuatu hukum pada sesuatu masalah,seperti berhimpunya para ulamak didalam suatu majlis,dan setiap seorang dari mereka melontarkan pendapat masing-masing secara jelas dan terang terhadap sesuatu masalah,lalu bersepakatnya pendapat-pendapat mereka itu dengan suatu hukum yang sama,ataupun setiap ulamak tersebut mengeluarkan fatwa mereka terhadap sesuatu masalah berdasarkan ijtihad masing-masing,lalu berlakunya persepakatan fatwa-fatwa tersebut dengan hukum yang sama,yang mana ianya dapat dijadikan hujjah didalam hukum syarak tanpa khilaf dikalangan jumhur ulamak.

(5) Dan Ijmak Sukutiy pula ialah : seperti berkatanya beberapa mujtahid didalam zaman masa yang sama dengan memberikan pendapat terhadap sesuatu masalah,tetapi beberapa mujtahid yang lain pula hanya mendiamkan diri mereka selepas mendalami pendapat-pendapat tersebut,tanpa sebarang pengingkaran,bercanggahnya para ulamak terhadap ijmak ini dari segi kebolehanya dijadikan hujjah di dalam hukum syarak :

Malikiah dan As-Syafieyyah : tidak dikira sebagai Ijmak dan tidak boleh dijadikan hujjah,

Al-Hanafiah dan Al-Hanabilah : dikira sebagai Ijmak dan merupakan hujjah syarak yang qoth’ie. (Al-Wajiz Fi Usulil Feqh oleh Dr.Wahbah Az-Zuhailiy)

(6) Al-Istihsan : menggunakan qiyas yang bersifat tersembunyi melebihi daripada qiyas yang bersifat zahir dan jelas,ataupun menggunakan hukum yang bersifat terkecuali melebihi daripada hukum yang bersifat Kulli iaitu hukum yang bersifat menyeluruh,contoh :

(6.1) Para fuqaha’ Hanafiah menyatakan bahawa jika berselisihnya antara penjual dan pembeli terhadap kadar harga pada sesuatu barang jualan sebelum ianya di beli oleh si pembeli, yang mana si penjual mendakwa bahawa harga barang tersebut ialah RM100 manakala si pembeli pula mengatakan RM 90,maka secara jalan Istihsan (qiyas tersembunyi) hendaklah kedua-dua mereka mengangkat sumpah.

Jikalau secara jalan Qiyas yang zahir pula,penjual itu tidaklah perlu mengangkat sumpah,kerana kaedah menyatakan : « pembuktian ke atas siapa yang mendakwa dan bersumpah kepada siapa yang menafikanya » dan si penjual mendakwa pertambahan sebanyak RM 10 dari RM 90,dan si pembeli pula menafikan harga tersebut,maka si penjual tidak perlu bersumpah,

Dari jalan Istihsan,jelasnya si penjual tersebut merupakan pendakwa berdasarkan peningkatan harga yang dibuat,dan menafikan hak si pembeli dari menerima barang tersebut selepas sudah dibayar RM 90,dan si pembeli itu pula merupakan orang yang menafikan peningkatan harga yang dibuat oleh si penjual sebanyak RM 10 dan dia juga merupakan pendakwa kerana dia mendakwa haknya menerima barang tersebut selepas membayar RM 90,maka kedua-dua belah pihak merupakan penafi,maka kedua-dua mereka perlu mengangkat sumpah.

(6.2) Hukum yang bersifat Kulli iaitu hukum yang menyeluruh melarang jualbeli yang mendahulukan bayaran dan melambatkan memiliki barang jualan,tetapi jika dipandang secara Istihsan (hukum yang bersifat terkecuali) ianya dibolehkan memandangkan keperluan manusia yang berhajat jualbeli sebegitu,contoh : tempahan menjahit,yang mana didahulukan bayaran tetapi dilambatkan mendapat barang tempahan tersebut. (Ilmu Usul Feqh oleh As-Syeikh Abdul Wahab Khalaaf)

(7) Feqh Iftiradhi : Suatu bentuk ijtihad di dalam feqh yang meletakkan hukum syarak terhadap sesuatu kejadian yang belum pun berlaku ketika itu,yang mana pengamalnya akan menjangkakan kejadian-kejadian yang belum pun berlaku lagi seterusnya mencari penyelesaian terhadap jangkaan-jangkaan tersebut.

( 8 ) Fuqaha’ Hijaz : ataupun Madrasah Ahlul hadith di Madinah Al-Munawwarah,yang mana Imam Malik merupakan imam institusi ini,dan diantara syeikh-syeikh institusi ini yang awal ialah : Zaid Bin Tsabit dan Abdullah Bin Umar radiallahu anhuma,yang mana Abdullah Bin Umar ini merupakan insan yang teramat kuat berpegang dengan sunnah rasulullah sallallahu alahi wassalam,pendekatan golongan ini ialah apabila mereka disoal tentang sesuatu masalah,jika mereka mengetahui sesuatu ayat Al-Quran atau hadith nabi maka mereka akan berfatwa,jika tiada,mereka akan mendiamkan diri,dan mereka akan berfatwa terhadap kejadian-kejadian yang hanya berlaku di ketika itu sahaja tanpa membuat sebarang jangkaan kepada kejadian yang belum berlaku.

Berkatanya As-Syakbi : Apa-apa yang datang dari para sahabat nabi itu kepada kamu maka ambillah,tetapi jika ianya hanya pendapat peribadi mereka maka lemparkanlah kata-kata mereka itu di tempat buang hajat ( jamban)

(9) Zahirul riwayat : enam buah kitab pengumpulan riwayat oleh Muhammad Bin Al-Hasan yang diriwiyatkan oleh para ashab hanafi,iaitu 3 orang imam besar mazhab hanafi iaitu imam Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan dan ada juga Zufar Bin Huzail dan Hasan Bin Ziyad,yang mana kebanyakkanya merupakan riwayat pendapat 3 orang imam besar ini di dalam enam buah kitab kepunyaan Muhammad Bin Al-Hasan ini,yang mana keenam-enam kitab ini merupakan sumber utama mazhab ini.

(10) Mukhtasar :ringkasan yang menyatakan hanya perkara-perkara yang raajih (yang kuat) daripada perkara-perkara yang bercangah.

.

Sumber: http://alhammasiyy.wordpress.com/laman-sejarah-imam/imam-abu-hanifah-80h-150h/

Blog Orang Awam

Hasan al-Bashri (w. 110H)

Hasan al-Bashri bin Yasar juga dikenal dengan al-Hasan bin Abi al-Hasan dan Abu Sa’id. Lahir pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan khalifah ‘Umar bin Khatthab. Ia diboyong dari Sabiy Maisan ke Madinah oleh kedua orangtuanya.

Hasan al-Bashri berkata, “Ayah dan ibuku adalah hamba sahaya seorang pria yang berasal dari kalangan Bani Najjar. Ia menikahi seorang perempuair Bani Salamah, kemudian menjadikan ayah dan ibu sebagai maharnya. Bani Salamah kemudian memerdekakan kami.”

Menurut riwayat lain, ayahnya adalah hamba sahaya Zaid bin Tsabit al-Anshari, sedangkan ibunya adalah hamba sahaya Ummu Salamah, istri Rasulullah saw.

Yang jelas, ayah dan ibu Hasan al-Bashri adalah hamba sahaya, yang kemudian dimerdekakan oleh tuannya.

Ibunya membantu Ummu Salamah. Sering kali Ummu Salamah memintanya pergi untuk berbagai keperluan sehingga sang ibu tidak bisa mengurus Hasan al-Bashri setiap hari. Ummu Salamah kemudian yang menyusui Hasan al-Bashri.

Banyak pakar menilai bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya karena berkah penyusuan yang dilakukan oleh istri Rasulullah saw. tersebut.

Hasan al-Bashri tumbuh dan berkembang di Madinah. Dengan demikian, ia masih dapat menjumpai para sahabat dan mendengar berbagai hal dari mereka.

Hasan al-Bashri berwajah tampan. Bahkan, inilah salah satu ciri khasnya. Kepada orang yang hendak berkunjung ke Bashrah, al-Sya’bi selalu mengatakau, “Bila kamu melihat orang yang paling tampan dan paling ber-wibawa di kota Bashrah, itulah Hasan al-Bashri. Sampaikan salamku untuknya.”

Hasan al-Bashri juga seorang pemberani. Muhallib bin Abi Shafi’ah-bila berperang melawan orang musyrik-selalu menempatkan Hasan al-Bashri di baris terdepan.

Muhammad bin Sad berkata, “Hasan al-Bashri memiliki banyak kebaikan, ‘dlim (orang yang amat luas pengetahuannya), tinggi derajatnya, seorang pakar fikih, ahli hujjah, dapat dipercaya, seorang ‘ibid (orang yang banyak beribadah kepada Allah), luas wawasan ilmunya, fasih, dan tampan.”

Ia juga seorang oraror yang sangat fasih, bahkan tergolong orator yang paling fasih pada masanya.T

Ilmu dan Nasihatnya

Hasan al-Bashri adalah orang terkemuka dalam berbagai bidang keilmuan, sehingga ia dijuluki Syebh Kota Bashrah.

Ia seorang pakar dalam bidang fikih (Hukum Islam), hadis, dan tafsir. Pikiran-pikirannya banyak dikutip di berbagai kitab fikih dan tafsir. Hadis-hadis yang ia riwayarkan juga tercantum dalam berbagai kirab-hadis.

Ia seorang pemberi nasihat yang sangat andal. Nasihatnya sangat menggugah hati. Bisa jadi, aspek inilah yang mengalahkan popularitasnya.

Kalau ia memberi nasihat kepada banyak orang, ia sendiri sudah menerapkan seruan dan nasihat yang disampaikannya itu. Itulah sebabnya, nasihat dan wejangannya mendapat tempat terhormat di hati masyarakat luas.

Ketika berbicara tentang orang-orang yang nasihatnya menggugah hati, MAlik bin DinAr mengatakan, “Benar, demi Allah. Saya tahu sebagian mereka: Hasan ai-Bashri, Sa’id bin Jubair, dan lainnya. Dengan ucapan salah satu dari mereka, Allah menghidupkan kembali hati sekelompok orang.”

Al-Amasy berkata, “Hasan al-Bashri sangat hafal dan menguasai al-hikmah, sehingga ia mampu berbicara dan mengupas secara mendalam tentang al-hikmab tersebut. Ketika nama beliau disebut-sebut di hadapan Abir Jafar al-Blqia ia berkata, “Itulah orang yang ucapannya mirip dengan ucapan para nabi.”8

Al-Ghazili berkata, “Hasan al-Bashri adalah orang yang ucapannya lebih mirip dengan ucapan para nabi, dan cara hidupnya mendekati cara hidup para sahabar.”9

Kata-kata yang repar untuk menggambarkan bagaimana Hasan al-Bashri memberi nasihat adalah apa yang dikemukakan Mathar al-Warraq, “Pada saar ia memberi nasihat, seakan-akan ia adalah orang yang pernah berkunjung ke negeri akhirat, lalu menceritakan kembali apa yang telah ia saksikan di sana.”10

Perilaku dan Kehidupan Asketiknya Abu Bardah bin Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih mirip dengan sahabat-dalam perilakunya selain dia.”11

Khafid bin Shafwan berkata, “Ketika saya bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hairah, ia berkata, “Wahai Khalid, beri tahu saya tenrang Hasan al-Bashri, warga Bashrah. Aku menjawab, ‘Semoga Allah memberi kebaikan kepada Amir al-Mukminin. Hamba iampaikan kepada paduka informasi akurat karena hamba tetangganya, sering hadir di majelisnya, dan banyak tahu tentangnya. Ia adalah orang yang paling konkret ketika menggambarkan hal-hal yang samar. Ucapannya selaiu diiringi dengan perbuatan. Ia sangat rajin dan serius memerhatikan keadaan umat. Bila ia menyuruh orang berbuat baik, ia adalah orang yang paling tekun mengerjakannya. Bila ia melarang orang berbuat buruk, ia adalah orang yang paling jauh meninggalkannya. Hamba meiihatnya tidak bergantung kepada orang lain, tetapi hamba melihat orang-orang sangat bergantung kepadanya.’ Lalu ia menambahkan, ‘Cukup Khalid. Bagaimana mungkin suatu kaum dapat tersesat sementara orang seperti ia ada di antara mereka.”’12

Hasan al-Bashri selalu dilanda “kesedihan”, karena banyak mengingat kehidupan akhirat. Namun, hal itu tidak mengantarkannya kepada suluk asing yang mulai menyebar pada masanya.

Makanannya biasa-biasa saja. Abir Hilal mengatakan, ‘Ketika kami mengunjungi Hasan al-Bashri, sering kali kami mendapati periuknya mengeluarkan aroma masakan yang leza:t.” 13

Ia lebih suka buah-buahan. Mungkin ia menganggap buah-buahan sebagai nawafil (suplemen penting) dalam makanan. Qatadah berkata, “Kami mengunjungi Hasan al Bashri ketika ia sedang tidur. Di sekitar kepalanya terdapat keranjang. Kami melihat keranjang itu, dan rernyara penuh dengan roti dan buah-buahan. Kami pun menyanrtapnya. Setelah ia terbangun dan melihat kami. Ia terlihat senang dan tersenyum sambil mengutip ayat Al-Quran, “Tidak ada halangan makan di rumah kawan-kawanmu.” (al-Nur [24]: 61).14Ia juga pandai memilih busana yang serasi. Yunus melukiskiskan keadaan tersebut dengan mengatakan, “Di musim dingin, Hasan al-Bashri memakai pakaian luar berbentuk selendang, baju (yang biasa dipakai para ulama) suku Kurdi, dan serban hitam. Di musim panas ia memakai sarung yang terbuat dari kain linen, baju, dan burd (selimut bergaris) berbentuk selendang.”15 Salam bin Miskin berkara, “Pada diri Hasan al-Bashri, aku melihat jubah seperti emas yang sangat serasi dengan dirinya”.16

Yang terlihat dengan jelas adalah bahwa ia memakai yang mudah untuknya. Ia pernah ditanya tentang pakaian favoritnya, ia menjawab, “Yang paling tebal, paling kasar, dan paling murah menurut ukuran orang banyak.”17

Ini tidak berarti bahwa ia setuju dengan sikap sebagian orang yang suka beribadah (Abid) yang cenderung memakai baju kasar. Ia tidak setuju dengan sikap itu. Pernah di hadapannya diceritakan tentang orang-orang yang biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba kasar. Ia berkata, “Mengapa mereka begitu? Kalau begitu mereka akan kehilangan satu sama lain. Sebaiknya, mereka menyembunyikan kebesaran dalam hati.”18

Perabotan rumahnya sangat sederhana. Mathar al-Warraq berkata, “Kami pernah menjenguk Hasan al-Bashri waktu sakit. Di rumahnya tak ada perabotan rumah tangga yang berharga. Tak ada kasur, karpet, bantal, ataupun tikar. Yang ada hanya ranjang terbuat dari tikar tempat ia berbaring.”19

Gambaran ini mengingarkan kita kepada gambaran yang dikemukakan ‘Umar bin KhatthAb tentang keadaan rumah Rasulullah saw. Umar berkata, “Aku menemui Rasulullah saw. Aku melihat beliau sedang berbaring di atas sehelai tikar. Antara diri beliau dan tikar itu tak ada apa-apa. Bekas tikar itu tampak jelas di punggung beliau. Beliau bertelekan kepada bantal yang isinya sabut kurma. Kemudian aku layangkan pandanganku ke sekitar kamar. Tidak ada barang berharga yang menyita perhatian .. ..”20 Jadi, apa yang dilakukan oleh Hasan ai-Bashri adalah mengikuti jejak Rasululiah saw.

Para ulama sepakat memujinya, baik pada masa ketika ia masih hidup maupun sesudah ia wafat. Mereka suka mengutip berita-berita yang berkaitan dengan kehidupannya.

Abu Bakar al-Hadzali berkata, “al-Saffah berkata kepada ku, ‘Dengan cara apa Hasan al-Bashri bisa meraih apa yang ia dapatkan sekarang?’ Aku menjawab, ‘Dengan menghafal Alquran, padahal usianya baru 12 tahun. Ia tidak beralih dari satu surat ke surat lainnya sampai ia mengerti tafsirnya, dan mengapa surat itu diturunkan. Ia tidak pernah menilap satu dirham pun dalam berniaga. Ia tidak memegang jabatan. Ia tidak pernah menyuruh seseorang berbuat baik kecuali ia sendiri melakukannya, dan tidak melarang orang berbuat buruk kecuali ia sendiri menjauhinya.”’21

Wafatnya

Aban bin Mujbir berkata, “Ketika ajal hampir menjemput Hasan al-Bashri, banyak sahabat menjenguknya dan mengatakan, ‘Wahai Abu Sa’id, beri kami bekal dengan beberapa patah kata yang bermanfaat untuk kami.’ Hasan al-Bashri berkata, ‘Aku membekalimu dengan tiga patah kata, seteiah itu tinggalkan aku sendiri. Kepada semua yang dilarang, jadilah kamu orang yang paling menjauhinya. Kepada semua yang diperintahkan, jadilah kamu orang yang paling menekuninya. Ketahuilah bahwa langkahmu hanya dua: langkah yang akan menguntungkanmu dan langkah yang akan mencelakakanmu.” Perhatikan dan pikirkanlah, ke mana kamu akan pergi melangkah di pagi hari dan di sore hari.”’23

Salih al-Mari berkata, “Aku mengunjungi Hasan ar-Bashri ketika ajal hendak menjemputnya. Ia banyak mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Anaknya berkata kepadanya, ‘Orang seperri ayah masih mengucap istrijh2a karena akan meninggalkan kesenangan dunia?’ Hasan al-Bashri menjawab, “wahai anakku, aku mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun karena meny’esali diriku yang ticlak pernah mendapatkan musibah seperti ini.”’25

Hasan al-Bashri wafat pada maiam Jumat, 1 Rajab 110 H. Menurur putranya, ia wafat pada usia kurang lebih 88 tahun.

Ribuan orang melayat jenazahnya. Ia disalati setelah salat Jumat, di kota Bashrah. Ribuan orang berdesak-desakan mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Humaid al-Thawil melukiskan keadaan tersebut, “Kami membawa jenazahnya setelah salat Jumat dan menguburkannya. Semua orang turut serta mengantarkan jenazahnya, sampai-sampai tidak ada salat berjamaah Asar di masjid. Aku tidak pernah menyaksikan jemaah salat Asar ditinggalkan sejak awal masa Islam kecuali pad’a hari itu. Karena semua orang mengantarkan jenazahnya, di masjid tidak ada satu orang pun yang menunaikan saiat Asar.”26

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Hasan al-Bashri, dan menempatkannya di surga-Nya yang luas.

Amin.

.

Sumber: Mawa’izh al Imam al Hasan al Bashri, oleh Shalih Ahmad al Syami, terbitan al Maktab al Islami, Beirut, 2004. Versi terjemah:The Wisdom of Hasan Al-Bashri, oleh Anding Mujahidin, Serambi.

Blog Orang Awam

Umar bin Abdul Aziz ra (61–101 H)

Umar bin Abdul Aziz r.a. (61 – 101 H)

Saat itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan warga kota sudah tidur. Umar bin Khatab r.a. berjalan menyelusuri jalan-jalan di kota. Dia coba untuk tidak melewatkan satupun dari pengamatannya. Menjelang dini hari, pria ini lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Tanpa sengaja, terdengarlah olehnya percakapan antara ibu dan anak perempuannya dari dalam rumah dekat dia beristirahat.

“Nak, campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air,” kata sang ibu.
“Jangan ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang dicampur air,” jawab sang anak.
“Tapi banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Tho insyaallah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya.
“Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,” tegas si anak menolak.

Mendengar percakapan ini, berurailah air mata pria ini. Karena subuh menjelang, bersegeralah dia ke masjid untuk memimpin shalat Subuh. Sesampai di rumah, dipanggilah anaknya untuk menghadap dan berkata, “Wahai Ashim putra Umar bin Khattab. Sesungguhnya tadi malam saya mendengar percakapan istimewa. Pergilah kamu ke rumah si anu dan selidikilah keluarganya.”

Ashim bin Umar bin Khattab melaksanakan perintah ayahndanya yang tak lain memang Umar bin Khattab, Khalifah kedua yang bergelar Amirul Mukminin. Sekembalinya dari penyelidikan, dia menghadap ayahnya dan mendengar ayahnya berkata,
“Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi isterimu. Aku lihat insyaallah ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjadi pemimpin bangsa.”

Begitulah, menikahlah Ashim bin Umar bin Khattab dengan anak gadis tersebut. Dari pernikahan ini, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang nantinya dikenal dengan Ummi Ashim. Suatu malam setelah itu, Umar bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dia memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya saja. Saat Umar meninggal, cerita ini tetap terpendam di antara keluarganya.

Pada saat kakeknya Amirul Mukminin Umar bin Khattab terbunuh pada tahun 644 Masehi, Ummi Ashim turut menghadiri pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim menjalani 12 tahun kekhalifahan Ustman bin Affan sampai terbunuh pada tahun 656 Maserhi. Setelah itu, Ummi Ashim juga ikut menyaksikan 5 tahun kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hingga akhirnya Muawiyah berkuasa dan mendirikan Dinasti Umayyah.

Pergantian sistem kekhalifahan ke sistem dinasti ini sangat berdampak pada Negara Islam saat itu. Penguasa mulai memerintah dalam kemewahan. Setelah penguasa yang mewah, penyakit-penyakit yang lain mulai tumbuh dan bersemi. Ambisi kekuasaan dan kekuatan, penumpukan kekayaan, dan korupsi mewarnai sejarah Islam dalam Dinasti Umayyah. Negara bertambah luas, penduduk bertambah banyak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, tapi orang-orang semakin merindukan ukhuwah persaudaraan, keadilan dan kesahajaan Ali, Utsman, Umar, dan Abu Bakar. Status kaya-miskin mulai terlihat jelas, posisi pejabat-rakyat mulai terasa. Kafir dhimni pun mengeluhkan resahnya, “Sesungguhnya kami merindukan Umar, dia datang ke sini menanyakan kabar dan bisnis kami. Dia tanyakan juga apakah ada hukum-hukumnya yang merugikan kami. Kami ikhlas membayar pajak berapapun yang dia minta. Sekarang, kami membayar pajak karena takut.”

Kemudian Muawiyah membaiat anaknya Yazid bin Muawiyah menjadi penggantinya. Tindakan Muawiyah ini adalah awal malapetaka dinasti Umayyah yang dia buat sendiri. Yazid bukanlah seorang amir yang semestinya. Kezaliman dilegalkan dan tindakannya yang paling disesali adalah membunuh sahabat-sahabat Rasul serta cucunya Husein bin Ali bin Abi Thalib. Yazid mati menggenaskan tiga hari setelah dia membunuh Husein.

Akan tetapi, putra Yazid, Muawiyah bin Yazid, adalah seorang ahli ibadah. Dia menyadari kesalahan kakeknya dan ayahnya dan menolak menggantikan ayahnya. Dia memilih pergi dan singgasana dinasti Umayah kosong. Terjadilah rebutan kekuasaan dikalangan bani Umayah. Abdullah bin Zubeir, seorang sahabat utama Rasulullah dicalonkan untuk menjadi amirul mukminin. Namun, kelicikan mengantarkan Marwan bin Hakam, bani Umayah dari keluarga Hakam, untuk mengisi posisi kosong itu dan meneruskan sistem dinasti. Marwan bin Hakam memimpin selama sepuluh tahun lebih dan lebih zalim daripada Yazid.

Kelahiran Umar bin Abdul Aziz

Saat itu, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz adalah Gubernur Mesir di era khalifah Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M) yang merupakan kakaknya. Abdul Mallik bin Marwan adalah seorang shaleh, ahli fiqh dan tafsir, serta raja yang baik terlepas dari permasalahan ummat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu.

Dari perkawinan itu, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dilahirkan di Halawan, kampung yang terletak di Mesir, pada tahun 61 Hijrah. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana dan mewah. Saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek hingga tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan menangis, kecuali Abdul Aziz seketika tersentak dan tersenyum. Seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar,

“Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insyaallah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini.“

Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu sejak beliau masih kecil. Beliau sentiasa berada di dalam majlis ilmu bersama-sama dengan orang-orang yang pakar di dalam bidang fikih dan juga ulama-ulama. Beliau telah menghafaz al-Quran sejak masih kecil. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka spt Imam Malik b. Anas, Urwah b. Zubair, Abdullah b. Jaafar, Yusuf b. Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir.

Semasa Khalifah Walid bin Abdul Malik memerintah, beliau memegang jawatan gabernur Madinah/Hijaz dan berjaya mentadbir wilayah itu dengan baik. Ketika itu usianya lebih kurang 28 tahun. Pada zaman Sulaiman bin Abdul Malik memerintah, beliau dilantik menjadi menteri kanan dan penasihat utama khalifah. Pada masa itu usianya 33 tahun.

Umar bin Abdul Aziz mempersunting Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan sebagai istrinya. Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan adalah putri dari khalifah Abdul Malik bin Marwan. Demikian juga, keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam. Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah.

Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah

Atas wasiat yang dikeluarkan oleh khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada usianya 37 tahun. Beliau dilantik menjadi Khalifah selepas kematian Sulaiman bin Abdul Malik tetapi beliau tidak suka kepada pelantikan tersebut. Lalu beliau memerintahkan supaya memanggil orang ramai untuk mendirikan sembahyang. Selepas itu orang ramai mula berpusu-pusu pergi ke masjid. Apabila mereka semua telah berkumpul, beliau bangun menyampaikan ucapan. Lantas beliau mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan berselawat kepada Nabi s.a.w kemudian beliau berkata:

“Wahai sekalian umat manusia! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa meminta pandangan daripada aku terlebih dahulu dan bukan juga permintaan daripada aku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiah yang kamu berikan kepada aku dan pilihlah seorang Khalifah yang kamu reda”.

Tiba-tiba orang ramai serentak berkata:

“Kami telah memilih kamu wahai Amirul Mukminin dan kami juga reda kepada kamu. Oleh yang demikian perintahlah kami dengan kebaikan dan keberkatan”.

Lalu beliau berpesan kepada orang ramai supaya bertakwa, zuhud kepada kekayaan dunia dan mendorong mereka supaya cintakan akhirat kemudian beliau berkata pula kepada mereka: “Wahai sekalian umat manusia! Sesiapa yang taat kepada Allah, dia wajib ditaati dan sesiapa yang tidak taat kepada Allah, dia tidak wajib ditaati oleh sesiapapun. Wahai sekalian umat manusia! Taatlah kamu kepada aku selagi aku taat kepada Allah di dalam memimpin kamu dan sekiranya aku tidak taat kepada Allah, janganlah sesiapa mentaati aku”. Setelah itu beliau turun dari mimbar.

Umar rahimahullah pernah menghimpunkan sekumpulan ahli fekah dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka: “Aku menghimpunkan kamu semua untuk bertanya pendapat tentang perkara yang berkaitan dengan barangan yang diambil secara zalim yang masih berada bersama-sama dengan keluarga aku?” Lalu mereka menjawab: “Wahai Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung oleh orang yang mencerobohnya.” Walau bagaimanapun Umar tidak puas hati dengan jawapan tersebut sebaliknya beliau menerima pendapat daripada kumpulan yang lain termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata kepada beliau: “Aku berpendapat bahawa ia hendaklah dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya, kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang yang mengambilnya secara zalim.” Umar berpuas hati mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan semula barangan yang diambil secara zalim kepada pemilik asalnya.

Sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta.

Umar berkata kepadanya, “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua.”
Fatimah bertanya kepada suaminya, “Memilih apa, kakanda?”
Umar bin Abdul Azz menerangkan, “Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai dengan Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.”
Kata Fatimah, “Demi Allah, Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.”

Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.

Setelah menjadi khalifah, beliau mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem feodal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah:
1) menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali b Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran
2) merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal
3) memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah
4) menghapuskan pegawai pribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan askar-askar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.

Selain daripada itu, beliau amat menitilberatkan tentang kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.

Beliau juga amat menitikberatkan penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin. Baginda turut mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadith-hadith Raulullah SAW. Beliau juga meriwayatkan hadis dari sejumlah tabiin lain dan banyak pula ulama hadis yang meriwayatkan hadis daripada beliau.

Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.

Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau ingin semua rakyat dilayani dengan adil tidak memandang keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman kakeknya, Khalifah Umar Al-Khatab.

Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mahu menerima zakat. Rakyat umumnya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya mau berdikari sendiri. Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekausaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.

Kematian beliau

Beliau wafat pada tahun 101 Hijrah ketika berusia 39 tahun. Beliau memerintah hanya selama 2 tahun 5 bulan saja. Setelah beliau wafat, kekhalifahan digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik.

Muhammad bin Ali bin Al-Husin rahimahullah berkata tentang beliau: “Kamu telah sedia maklum bahwa setiap kaum mempunyai seorang tokoh yang menonjol dan tokoh yang menonjol dari kalangan Bani Umaiyyah ialah Umar bin Abdul Aziz, beliau akan dibangkitkan di hari kiamat kelak seolah-olah beliau satu umat yang berasingan.”

Terdapat banyak riwayat dan athar para sahabat yang menceritakan tentang keluruhan budinya. Di antaranya ialah :
1) At-Tirmizi meriwayatkan bahwa Umar Al-Khatab telah berkata : “Dari anakku (zuriatku) akan lahir seorang lelaki yang menyerupainya dari segi keberaniannya dan akan memenuhkan dunia dengan keadilan”
2) Dari Zaid bin Aslam bahawa Anas bin Malik telah berkata : “Aku tidak pernah menjadi makmum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah SAW yang mana solat imam tersebut menyamai solat Rasulullah SAW melainkan daripada Umar bin Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah Gabenor Madinah”
3) Al-Walid bin Muslim menceritakan bahawa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata : “Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi : “Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah baiah kepadanya kerana dia adalah pemimpin yang adil”.” Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar b. Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi baiah kepadanya”.
4) Qais bin Jabir berkata : “Perbandingan Umar b Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Firaun”
5) Hassan al-Qishab telah berkata :”Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar Ibnu Aziz”
6) Umar b Asid telah berkata :”Demi Allah, Umar Ibnu Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai :”Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mahu”. Tetapi tiada yang mahu menerimanya (kerana semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya”
7) ‘Atha’ telah berkata : “Umar Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha’ setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis kerana takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenayah di antara mereka.”

Wallahu a’lam…

.

Sumber: http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/umar-bin-abdul-aziz-ra-61-101-h.html

Blog Orang Awam

Imam Malik Bin Anas (97 -179 H)

Imam Malik Bin Anas (97 -179 H)
Beliau ialah Imam Malik Bin Anas Bin Malik Bin Abi A’mir Al-Asbahiy yang dinisbahkan kepada Dzi Asbah,iaitu suatu kabilah bangsa arab di Yaman,salah seorang nenek moyangnya telah berhijrah dari Yaman ke Madinah dan menetap disitu,dan datuknya Abu Amir merupakan seorang sahabat nabi yang mulia yang telah menyertai hampir semua siri peperangan bersama baginda nabi kecuali peperangan Badar.

Imam Malik dilahirkan pada tahun 93 hijrah mengikut riwayat yang masyhur,dan ada juga yang mengatakan beliau dilahirkan pada 97 hijrah,beliau dilahirkan di Kota Madinah Al-Munawwarah,beliau telah hidup disitu,belajar disitu dan beliau tidak pernah keluar daripada Kota Madinah kecuali hanyalah ke Kota Mekah untuk menunaikan haji,kemudian beliau akan balik ke Madinah semula,menjadi pengajar,pembimbing dan penyampai hukum-hakam Allah Taala pada setiap masalah yang disoal manusia kepadanya,sehinggalah beliau telah pergi menemui Allah Taala pada tahun 179 hijrah,dan beliau tergolong daripada golongan Tabii’ Tabiien mengikut riwayat yang sahih.

Syeikh-syeikh beliau

Imam Malik telah menceburi bidang ilmu semenjak beliau masih kecil lagi,dan beliau telah berguru dengan ramai ulama’ Kota Madinah,syeikh pertama yang beliau lazimi,bergaul denganya dalam jangka masa yang lama ialah Abdul Rahman Bin Hurmuz,beliau juga telah berguru dengan Nafi’ Bin Abi Nuaim,Hisyam Bin Urwah dan ramai lagi syeikh-syeikh lain yang terdiri daripada para perawi hadith baginda nabi dan Ahli fiqh,dan syeikh beliau dalam bidang fiqh ialah Rabia’h Bin Abdur Rahman yang lebih dikenali sebagai Rabiatul Ra’yi.

Imam Malik telah mengajar Ilmu Hadith dan Ilmu fiqh dan mengeluarkan fatwa kepada penduduk Kota Madinah ketika beliau baru berumur 17 tahun,ianya selepas para syeikh beliau melihat bahawa beliau sudah mampu untuk berbuat demikian,dan telah diriwayatkan daripada beliau : ( Dan tidaklah aku boleh berfatwa dan mengajar hadith sehinggalah aku telah disaksikan oleh 70 orang syeikh daripada golongan ahli ilmu bahawa aku dibenarkan berbuat sedemikian.

Dan Imam Malik dianggap sebagai Imam Ahli Hijaz,sepertimana Imam Abu Hanifah yang menjadi imam di Iraq,dan kedua-dua imam ini menjadi imam di madrasah fiqh masing-masing di zaman mereka,iaitu Madrasah Madinah di Hijaz,dan Madrasah Kufah di Iraq.

Dan sesungguhnya Imam Malik mempunyai keutamaan yang besar dalam menyampaikan hadith nabi dan fiqh islami,kerana beliau merupakan seorang penyampai hadith yang benar,dalam ilmu pengetahuanya,wara’ dan mempunyai kedudukan yang tinggi,disebabkan itulah betapa ramainya fuqaha’ dari berbagai ceruk dunia datang daripada jauh semata-mata ingin berguru dan mengambil ilmu daripada beliau,dan sesungguhnya betapa ramainya ulama’ dari berbagai negara islam telah meriwayatkan ilmu daripada beliau,antaranya dari Yaman,Syam,Iraq,Khurasan,Mesir,Maghribi (ehem ehem) dan juga dari Andalus,dan sesungguhnya para ulama’ telah bersepakat di atas kealimanya, kebaikkan perihal agamanya dan kewarakkanya dan kefahamanya yang jitu terhadap sunnah nabi yang mulia,dan beliau juga telah dipuji oleh kebanyakkan ulama’,dia antaranya ialah Imam As-Syafie’ yang berkata : « Malik ialah hujjatullah(bukti kekuasaan Allah ) di atas ciptaaNya » dan Ibnu Mehdi yang berkata : « Tidaklah aku pernah melihat seorang pun yang lebih sempurna aqalnya dan tersangat taqwanya kepada Allah daripada Malik » dan berkata : « Dan tiadalah di atas muka bumi ini yang lebih beriman kepada hadith rasulullah sallallahu alaihi wassalam daripada Malik »

Abu Ja’far Al-Mansur pernah menginginkan untuk menjadikan kitab Al-Muwattho’ Imam Malik sebagai rang undang-undang yang perlu diaplikasikan ke setiap negara islam,tetapi Imam Malik enggan beliau melakukan sedemikian dan telah berkata kepadanya : « Jangan lakukanya ! kerana para sahabat masih berselerakkan di berbagai tempat,dan mereka telah meriwayatkan hadith-hadith selain hadith-hadith dari Hijaz iaitu hadith-hadith yang menjadi sandaranku,dan manusia telah mengambil hadith-hadith tersebut (hadith yang diriwayatkan oleh para sahabat) maka biarkanlah mereka di dalam keadaan mereka itu » maka beliau mengatakan kepada Imam Malik : « Semoga Allah mengurniakanmu kebaikkan wahai Abu Abdullah »

Sesungguhnya Khalifah Harun Ar-Rasyid ketikamana beliau pergi menunaikan haji,beliau ingin bertemu dengan Imam Malik,lalu beliau pun menghantar utusan menyatakan bahawa beliau ingin bertemu denganya,maka berkatanya Imam Malik kepada utusan tersebut : Katakanlah dikau kepada Amirul Mukminin itu : « sesungguhnya penuntut ilmu itu sepatutnya berusaha mendapatkanya,dan sesungguhnya ilmu itu tidak akan berusaha mendatangi sesiapa pun » lalu akurlah khalifah apabila mendengarkan perkataan Imam Malik itu,lalu beliau pun pergi kepada Imam Malik menziarahinya di rumahnya,lalu beliau pun mengarahkan manusia lain agar meninggalkan majlis tersebut,tetapi Imam Malik tidak bersetuju dengan perlakuan tersebut,lalu berkata : « Jika dihalangkan ilmu kepada orang awam,maka tiadalah beroleh kebaikkan kepada orang yang khusus »

Dan khalifah Harun Ar-Rasyid menginginkan agar Imam Malik datang ke rumah beliau agar mengajarkan dua orang anak beliau iaitu Al-Amin dan Al-Ma’mun kitab Al-Muwattho’,dan juga menginginkan agar kedua orang anaknya itu berguru dengan  Imam Malik,maka berkatanya Imam Malik kepada khalifah : « Semoga Allah memuliakanmu wahai Amirul Mukminin,sesungguhnya kalian akan mendapat ilmu itu,jika kalian memuliakan ilmu,maka ilmu akan dimuliakan,manakala jika kalian mencela ilmu itu,maka ilmu itu juga akan dicelakan,dan sesungguhnya ilmu itu didatangi dan tidaklah ilmu itu yang mendatangi » berkatanya khalifah : « Benarlah perkataanmu itu,pergilah kamu berdua wahai anakku ke masjid untuk mendengarkan pelajaran bersama manusia lain » lalu berkatanya Imam Malik : « dengan syarat hendaklah kedua mereka tidak diawasi dengan pengawal,dan hendaklah mereka berdua duduk disitu sehinggalah majlis habis »

Maka pergilah kedua anak khalifah itu ke majlis ilmu Imam malik dengan syarat tersebut.

Maka disini dapatlah kita lihat ketegasan Imam Malik dalam menyatakan kebenaran dan betapa kuatnya beliau dalam memuliakan ilmu itu sendiri,dan beliau tetap juga menyatakan pandanganya walaupun kemungkinan akan mendatangkan kemurkaan khalifah..

Dan disebabkan ketegasan beliau itu telah menyebabkan beliau mengharungi pancaroba sebagai seorang penyampai kebenaran,ketikamana beliau mengeluarkan fatwa yang tidak jatuhnya thalaq ke atas orang yang dipaksa,dan beliau telah berdalilkan hadith nabi yang mulia : « Tiadalah thalaq ke atas orang yang dipaksakan » dan fatwa ini tanpa syak lagi tidak disukai oleh para pemerintah Abbasiyyin kerana mereka telah memaksa rakyat jelata supaya mengiktiraf pemerintahan mereka,dan kerana fatwa tersebut bakal menggambarkan bahawa : jika sesiapa yang dipaksa supaya membai’ah mereka,maka orang yang dipaksa itu boleh sahaja tidak membai’ah mereka dan boleh membai’ah pemerintahan selain Abbasiyyiin kerana diqiyaskan kepada fatwa yang menyatakan tidak jatuhnya thalaq ke atas sesiapa yang dipaksa…atau dengan maksud lain : tidak adanya bai’ah ke atas sesiapa yang dipaksa..

Dan disebabkan peristiwa fatwa itu,Abu Ja’far Al-Mansur telah melarang Imam Malik daripada bercakap tentang hadith tersebut,kemudian beliau telah menghantar seorang utusan untuk menyoal Imam Malik tentang masalah tersebut,apabila Imam Malik disoal oleh utusan tersebut,dia telah menyatakan hadith tersebut di hadapan seluruh manusia yang hadir,lalu disebabkan itu,dia telah dipukul dengan cemeti oleh pemerintah Kota Madinah iaitu Ja’far bin Sulaiman,tanganya telah diikat dan diregangkan sehingga hampir terkehel bahunya.

Dikatakan juga Imam Malik telah mengeluarkan fatwa bahawa haramnya perkahwinan Muta’h (2) dan fatwa tersebut bertentangan dengan pendapat nenek moyang pemerintahan Abbasiyy.

Diriwayatkan juga apabila beliau disoal tentang orang yang menderhaka kepada pemerintahan khalifah adakah dia boleh dibunuh ? lalu beliau menjawab : jika mereka menderhaka terhadap pemerintahan seperti pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz maka mereka boleh diperangi,lalu ditanya pula : jika ianya tidak seperti demikian ? beliau menjawab : biarkanlah mereka,kerana Allah Taala akan membalas kezaliman mereka itu dengan kezaliman,maka Allah yang akan membalas ke atas kedua mereka (kedua-dua keadaan tadi)

Maka disebabkan kesemua pendapat-pendapat berani beliau inilah yang menyebabkan beliau diuji di dalam perjalanan beliau di dalam menyampaikan kebenaran,hubungan beliau dengan pemerintah pada mulanya keruh,tetapi lama kelamaan menjadi semakin baik..

Ushul madzab

Sesungguhnya Imam Malik menggunakan usul madzabnya yang agak berlainan daripada madzab-madzab lain yang wujud,diantara usul-usul beliau di dalam madzab ialah :

(1) Al-Quran : seperti para imam madzab yang lain,iaitu bersandar kepada kitabullah pertamanya.

(2) As-Sunnah

(3) Ijma’

(4) Al-Qiyaas : tetapi beliau tidaklah terlalu membuka luas pintu penggunaan qiyas di dalam mengeluarkan hukum hakam,sepertimana yang dilakukan oleh para fuqaha’ Hanafiah.

(5) Amalun Ahli Madinah (perlakuan penduduk Kota Madinah) : beliau menambah usul ini selepas keempat-empat usul utama yang disepakati tadi,yang mana perbuatan penduduk Madinah di dalam madzab Maliki seakan-akan hadith yang diriwayatkan daripada baginda nabi daripada sekumpulan manusia kepada sekumpulan manusia yang lain,iaitu seperti hadith mutawatir,sebab itulah Imam Malik mendahulukan usul ini daripada Al-Qiyas didalam memperdalilkan sesuatu hukum,dan begitulah juga  pada kata-kata sahabat yang tidak boleh diijtihadkan (3) juga mendepani Al-Qiyas,Masalihul Mursalah (4) ,Sadduz Zarai’e (5) ,Al-‘Urf (6) ,Istihsan dan juga Istishab. (7)

Usul-usul Imam Malik ini agak berbeza dengan usul-usul para imam madzab yang lain,di antara yang membezakan usul ini dengan usul madzab lain ialah :

(1) Beliau mensyaratkan hadith ahad ( 8 ) tidak boleh bercanggah dengan perbuatan penduduk Madinah(amalun ahli Madinah) kerana perbuatan penduduk Madinah pada pandangan beliau dan pada pandangan gurunya yang mulia iaitu Rabiah Bin Abdul Rahman ialah : “riwayat seribu orang dari seribu orang adalah lebih baik daripada riwayat seorang dari seorang” dan sandaran beliau di dalam meriwayatkan sunnah ialah periwayatan Ahli Hijaz,dan Imam Malik terlalu teliti dan terlalu memeriksa sesuatu hadith itu dengan memperdalaminya sebelum beliau menerimanya,dan beliau juga beramal dengan hadith mursal(9) ,dan beliau terlalu banyak menggunakan as-sunnah di dalam berhukum berbanding dengan Imam Abu Hanifah.

(2) Beliau menggunakan pendapat sahabat jika sanadnya sahih,dan beliau menggunakan pendapat sahabat yang paling mengetahui atau a’lim,seperti Abu Bakar,Umar,Utsman,Ali,Ibnu Umar dan Ibnu Abbas,Ibnu Masu’d dan lain-lain,yang mana beliau menggunakanya jika sesuatu masalah itu tidak dijumpai didalam Al-Quran atau nas-nas di dalam hadith nabi yang bermartabat sahih,dan pendapat para sahabat,seperti yang kami maklumkan,beliau mendepankanya daripada Al-Qiyas.

Usul beliau ini telah ditolak oleh beberapa ulama’,contohnya Imam Ghazali di dalam kitabnya Al-Mustasfa yang menolak dalil ini dengan berkata : Para sahabat sesungguhnya mereka itu tidaklah sempurna,dan harus bagi mereka untuk melakukan kesalahan,maka kata-kata mereka tidak boleh dijadikan sebagai hujjah.

(3) Beliau beramal dengan Masalihul Mursalah,iaitu Masalih yang tidaklah dibatalkan oleh hukum syarak dan juga tidaklah dibatalkan oleh nas yang tertentu,yang mana beliau melihat kepada menjaga maqsud syarak itu sendiri,yang mana dapatlah diketahui bahawa ianya adalah maqsud syarak dengan bersandarkan kepada Al-Quran,As-Sunnah atau Ijmak.

Dan beramal dengan Al-Maslahah itu tidaklah dipercanggahkan oleh para ulamak,tetapi apa yang menjadi percanggahan sesama mereka itu ialah apabila ianya bertembung dengan Maslahah yang lain,dan Imam Malik akan menganggap salah satu maslahah daripada yang bercanggah itu sebagai dalil manakala yang satu lagi tidaklah beliau menganggapnya sebagai dalil,contohnya : menyebat orang yang dituduh sebagai pencuri kerana melihatkan barang curian tersebut sebagai bukti,dan Imam Malik berpendapat sedemikian kerana beliau berpandangan terdapatnya maslahah pada hal sedemikian,kerana jika sebatan dilakukan ke atas orang yang dituduh itu akan membuatkan barang yang dicuri itu dikembalikan kepada tuanya,dan dapat mengelakkan daripada harta tersebut hilang begitu sahaja,dan pendapat beliau itu telah ditolak oleh ulama’ yang lain,kerana maslahah yang diperkatakan Imam Malik ini telah bertembung dengan maslahah yang lain pula,iaitu maslahah pada orang yang dituduh itu dengan tidak menyebatnya kerana kemungkinan orang yang dituduh itu tidak bersalah,dan tidak menyebat orang yang bersalah adalah lebih ringan daripada menyebat orang yang tidak bersalah,dan jika maslahah ini yang tidak menyebat orang yang dituduh itu akan menyebabkan kesukaran mendapatkan kembali harta yang dicuri itu,maka maslahah menyebat orang yang dituduh itu pula akan menyebabkan menyeksa orang yang tidak bersalah.

Dan di antara contoh Maslahah lain yang diamalkan oleh Imam Malik ialah : isteri kepada seorang lelaki yang hilang ghaib entah ke mana dan tidaklah diketahui hidupnya atau matinya dan menyebabkan perempuan tersebut tertekan kerana kehilangan suaminya itu,maka Imam Malik mengatakan bahawa isteri lelaki tersebut mempunyai ‘iddah dan boleh di kahwini selepas masa 4 tahun bermula dari terputusnya khabar berita tentang lelaki tersebut,yang mana ianya merupakan maslahah kepada isteri lelaki tersebut melebihi daripada maslahah suaminya yang telah hilang ghaib tidak diketahui khabar beritanya.

(4) Beliau juga beramal dengan Al-Istihsan pada kebanyakkan masalah yang dihadapi,di antaranya ialah : memberikan jaminan kepada pekerja dan pengawal secara bersama,dan Al-Qiyas mengatakan bahawa mereka tidak perlu dijamin,kerana mereka ialah orang yang memegang amanah dan yang memegang amanah tidaklah perlu dijamin,tetapi demi maslahah kepada umum mereka perlu diberikan jaminan,kerana ianya dapat memelihara harta manusia yang dijaga oleh mereka,dan jika tidak diberikan jaminan kepada mereka akan menyebabkan kemungkinan harta manusia yang dijaga itu hilang begitu sahaja dan juga keperluan manusia yang sememangnya memerlukan khidmat mereka,walaupun Imam Malik beramal dengan Al-Istihsan,tetapi tidaklah beliau menggunakanya secara meluas seperti Imam Abu Hanifah yang beramal dengan Al-Istihsan secara meluas.

Kitab-kitab beliau

Di antara kitab agung beliau yang sampai kepada kami ialah Kitab Al-Muwattho’,kitab agung yang mulia ini telah dikarang oleh beliau yang mana termuat di dalamnya hadith-hadith beserta fiqh,dan termuat juga di dalamnya kata-kata para sahabat dan Tabi’en beserta pendapat-pendapat beliau di dalam bidang fiqh yang telah di ijtihadkan oleh beliau,kitab ini telah disusun mengikut tertib kitab-kitab fiqh iaitu dimulai dengan bab bersuci kemudianya bab solat,bab zakat,bab puasa dan bab haji dan begitulah seterusnya,dan lebih daripada itu lagi,beliau telah mensyarahkan hadith-hadith tersebut bersama mengeluarkan hukum-hakam fiqh berdasarkan hadith tersebut,berdasarkan perbuatan ini,kitab ini telah dianggap sebagai kitab fiqh,manakala jika dilihat kitab ini yang dipenuhi oleh banyak hadith-hadith nabi yang telah dikumpulkan dan disatukan oleh beliau ini pula telah dilihat sebagai kitab hadith.

Kitab mulia ini telah dikarang dan disaring oleh Imam Malik selama 40 tahun lamanya,dikatakan bahawa pada mulanya kitab ini mengandungi 10,000 buah hadith,kemudian selepas disaring dan dibuang hadith-hadith yang lemah menjadi sebanyak 1720 buah hadith sahaja.

Anak-anak murid beliau

Sesungguhnya Imam Malik tidak pernah keluar daripada Kota Madinah,cuma anak-anak muridnya sahaja yang mengembara dari berbagai negara ke Kota Madinah untuk berguru dengan beliau,selepas mereka berguru dengan beliau mereka pun balik ke negara masing-masing dan menyebarkan madzab beliau ini,sebahagian anak-anak murid beliau ada yang datang dari Mesir dan sebahagianya ada yang datang dari negara lain,dan anak-anak murid beliau yang datang dari Mesir merupakan tulang belakang madzab Maliki,di antaranya ialah :

(1) Abdullah Bin Wahab Bin Muslim,dilahirkan pada tahun 125 hijrah dan mengembara ke Madinah dan berguru dengan Imam Malik pada tahun 148 hijrah,dan beliau telah berguru dengan Imam Malik dan melaziminya selama 20 tahun,dan beliau tidak pernah meninggalkan gurunya itu sehinggalah Imam Malik pergi menemui Allah,dan beliau ada meriwayatkan Al-Muwattho’ daripada Imam Malik,dan juga beliau ada mengarang kitab di dalam madzab,beliau juga telah berguru ilmu fiqh dengan Al-Laits Bin Saad dan Sufyaan Bin Uyaynah,disebabkan kecerdikkan dan kepintaran beliau di dalam bidang fiqh,Imam Malik telah menggelarkan beliau sebagai Faqih Mesir,dan juga digelarkan sebagai Mufti,Berkatanya Ibnu Al-Qasim tentang beliau : “Jikalau matinya Ibnu Uyaynah,maka aku akan pukulkan hati unta kepada Ibnu Wahab”(10) beliau telah meninggal di Mesir pada tahun 197 hijrah.

(2) Abdur Rahman Bin Al-Qasim,dilahirkan di Syam pada tahun 128 hijrah dan meninggal dunia di Mesir pada tahun 191 hijrah,beliau telah berguru dan melazimi Imam Malik selepas Ibnu Wahab selama 10 tahun lamanya,apa yang istimewanya,beliau tidak mencampurkan ilmu yang beliau dapati daripada Imam Malik dengan para fuqaha’ yang lain,maka jadilah beliau di dalam madzab maliki seperti Muhammad Bin Al-Hasan di dalam madzab Hanafi yang tidak mencampurkan ilmu imamnya dengan imam yang lain,beliau telah mengarang kitab Al-Mudawwanah yang mana kitab tersebut mengumpulkan kesemua pendapat-pendapat di dalam madzab maliki,dan Al-Faaqih Maliki Sahnun telah meriwayatkan kitab tersebut daripada beliau.

(3) Asyhab Bin Abdul Aziz Al-Qaisiy,dilahirkan pada tahun 145 hijrah dan meninggal dunia di Mesir pada tahun 204 hijrah,beliau telah berguru dengan Imam Malik dan Al-Laits Bin Saad,beliau merupakan salah seorang perawi di dalam madzab dan merupakan di antara penyebar madzab maliki,dan juga di antara imam yang mempertahankan madzabnya,beliau juga merupakan ketua di dalam madzab maliki di Mesir selepas Ibnu Al-Qasim.

(4) Abdullah Bin Al-Hakam,dilahirkan di Iskandariah pada tahun 155 hijrah,dan meninggal dunia pada tahun 214 hijrah,beliau telah mendengarkan Al-Muwattho’ daripada Imam Malik dan telah meriwayatkanya,dan para ashab madzab maliki seperti Ibnu Wahab,Ibnu Al-Qasim dan Asyhab telah meriwayatkan dari apa yang mereka telah dengari dari beliau,beliau merupakan kawan rapat dengan Imam As-Syafie’ rahimahullahu taala,dan beliau merupakan ketua di dalam madzab maliki selepas Asyhab Al-Qaisiy.

Manakala anak-anak murid Imam Malik yang datang dari negara selain Mesir iaitu seperti di Utara Afrika dan dari negara Andalus ialah :

(1) Asad Bin Al-Furat,menetap di Tunisia,beliau telah mengembara ke Madinah dan berguru dengan Imam Malik dan telah mendengarkan Al-Muwattho’ dan telah meriwayatkanya,kemudianya beliau telah mengembara ke Iraq dan telah berguru dengan Abu Yusuf dan Muhammad Bin Al-Hasan,dan beliau telah mempelajari dan mendalami fiqh hanafi dari kedua orang syeikh ini,beliau telah menggabungkan pendapat fiqh dari kedua-dua madrasah ini,beliau telah menjadi ketua madzab maliki di Qairawan,beliau wafat pada tahun 213 hijrah yang mana ketika itu beliau menjadi Ketua Turus Angkatan Tentera di dalam peperangan.

(2) Sahnun iaitu Abdus Salam Bin Habib At-Tanuukhi,dilahirkan pada tahun 160 hijrah dan wafat pada tahun 240 hijrah,beliau telah belajar di Qairawan dan telah belajar Al-Mudawwanah Al-Asadiah dengan Asad Bin Al-Furat,kemudian beliau telah mengembara ke Mesir dan telah bertemu dengan Ibnu Al-Qasim dan telah mengajarkan beliau Al-Asadiah,dan Ibnu Al-Qasim telah membetulkan beliau pada beberapa masalah,kemudian beliau pulang ke Qairawan dan menjadi pemerintah di sana sehinggalah beliau wafat.

(3) Yahya Bin Yahya Bin Katsir Al-Laitsi,beliau telah berangkat dari Cordova di Andalus mengembara ke Madinah dan telah berguru dengan Imam Malik di sana,kemudian beliau mengembara ke Mesir dan telah berguru pula dengan Al-Laits Bin Saad,beliau juga telah bertemu dengan para ashab madzab maliki di sana dan telah berguru dengan mereka,kemudian beliau pulang ke Andalus dan telah menyebarkan madzab maliki di sana,dan beliau telah menjadi ketua madzab maliki di sana sehinggalah beliau wafat pada tahun 234 hijrah.

Tanpa syak lagi,sesungguhnya kesemua anak murid Imam Malik ini telah menabur jasa yang besar dalam menyebarkan madzab maliki,beliau hanyalah duduk di Madinah sahaja,tetapi madzab beliau telah tersebar sehingga ke Mesir,Utara Afrika,Sudan dan Andalus dari jalan periwayatan anak-anak murid beliau ini.

**********************************************

RUJUKAN

(1) Al-Madkhal Ila Al-fiqh Al-Islamiy oleh Fadhilatus Syeikh Dr.Mahmud Muhammad At-Thontawi

(2) Nikah Muta’h : juga dinamakan sebagai Nikah Al-Muaqqat (sementara) dan juga dinamakan sebagai Nikah Kontrak,iaitu suatu nikah yang mana si lelaki akan mengahwini seorang perempuan itu selama satu hari,seminggu atau sebulan sahaja,dan dinamakan Muta’h (menikmati) kerana si lelaki dapat menikmati kesedapan perkahwinan dengan perempuan tersebut di dalam jangka masa yang ditentukan,yang mana bukanlah ianya bertujuan untuk memenuhi tuntutan syarak di dalam perkahwinan,dan perkahwinan jenis ini telah disepakati oleh para ulama’ bahawa ianya berhukum haram,dan jika berlakunya perkahwinan ini,maka perkahwinan tersebut adalah batal hukumnya,dan para ulama’ berdalilkan di antaranya :

(2.1) Sesungguhnya perkahwinan ini tiada perkaitanya dengan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang hukum-hakam perkahwinan menurut syarak,begitu juga pada bab thalaq,’iddah dan juga bab pewarisan harta tinggalan,maka ianya terbatal.

(2.2) Terdapatnya hadith nabi yang secara terang-terangan mengharamkanya : Dari Ibnu Majah : Sesungguhnya rasulullah sallallahu alaihi wassalam mengharamkan Al-Muta’h dengan berkata : Wahai manusia sekalian,sesungguhnya aku pernah mengizinkan kalian Al-Istimta’ (Al-Muta’h) dan sesungguhnya Allah telah mengharamkanya sehinggalah ke hari qiamat,dan dari Ali radiallahu anhu sesungguhnya baginda nabi telah melarang mengahwini perempuan secara Muta’h di hari Khaibar dan juga melarang (memakan) daging keldai kota (pada hari itu) (*)

Dan golongan Syiah Imamiah telah mengharuskan perkahwinan jenis ini.

(Kitab fiqh Sunnah karangan Syeikh Sayyid Sabiq)

(*)Secara sahihnya Muta’h diharamkan pada hari pembukaan Kota Mekah dan ianya telah termaktub di dalam Sahih Muslim,ianya telah menjadi khilaf di kalangan ahli ilmu.

(3) Kata-kata sahabat yang tidak boleh diijtihadkan : iaitu hadith Mauquf (**) secara lafaz tetapi berhukum Marfu’ (***) secara hukum,iaitu kata-kata yang dilafazkan oleh seseorang sahabat tetapi dianggap ianya dinisbahkan kepada baginda nabi,contohnya berkatanya sahabat tentang perkara-perkara lampau seperti permulaan kejadian alam,kisah umat-umat terdahulu,hal-hal ghaib,alam akhirat dan hal-hal yang akan datang atau ganjaran-ganjaran terhadap amalan tertentu yang mana ianya tidak boleh diijtihadkan atau ditakwil dari segi bahasa atau disyarahkan lafaz-lafaz asing di dalamnya,begitu juga pada perlakuan sahabat yang mana ianya tidak boleh diijtihadkan kerana ianya tidak diingkari oleh nabi ketika mereka melakukanya dan dianggap ianya diangkat kepada baginda nabi,begitu juga jika berkatanya sahabat : “kami dahulu pernah berkata begini” atau “kami dahulu pernah melakukanya”,atau berkatanya sahabat :  “Kami telah disuruh melakukanya,”kami telah dilarang dari melakukanya” dan begitu juga hadith yang diriwayatkan dari Tabi’en dari sahabat dengan lafaz “dan telah mengangkatnya”

(**) Hadith Mauquf : apa-apa yang dinisbahkan kepada sahabat dari sudut perkataan,perbuatan atau pengakuan atau sifat mereka,dan dinamakan Mauquf (yang dihentikan) kerana hadith tersebut terhenti kepada sahabat dan tidak berakhir kepada baginda nabi,dan dipanggil juga sebagai Al-Atsar sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar.

(***) Hadith Marfu’ : iaitu hadith yang dinisbahkan kepada baginda nabi dari sudut perkataan,perbuatan atau pengakuan atau sifat baginda nabi sallallahu alaihi wassalam.

(Mu’jam Al-Mustholahaat Al-Haditsiah oleh Dr.Muhammad Abu Al-Laitsul Khair Abadi)

(4) Masalihul Mursalah : iaitu suatu faedah atau kebaikkan yang mana tiadanya dalil daripada syarak yang menunjukkan ia boleh diterima atau tidak boleh diterima,yang mana ianya bertujuan untuk mendatangkan kebaikkan kepada kehidupan manusia dan menolak kemudharatan atau keburukkan di dalam kehidupan manusia.

Contohnya seperti perlakuan para sahabat yang mengumpul Al-Quran ke dalam satu mushaf,menempa duit syiling dan membiarkan tanaman yang diusahakan oleh penduduk sesebuah tempat yang ditawan kepada tuanya tetapi dikenakan cukai tanaman kepada tuan tanah tersebut,yang mana kesemua contoh maslahah ini dipanggil sebagai Maslahah Mutlaq kerana tiadanya dalil dari syarak yang memperakuinya tetapi ianya mendatangkan kebaikkan dan menolak keburukkan di dalam kehidupan manusia,manakala Maslahah Al-Mu’tabarah pula ialah kebaikkan-kebaikkan yang terdapatnya dalil dari nas-nas syarak secara terang dan jelas yang mana ianya memang sudah siap sedia mendatangkan kebaikkan dan menolak keburukkan di dalam kehidupan manusia contohnya hukuman hudud dan qisas.

(5) Sadduz Zaraie’ : ialah menghalang setiap perkara yang boleh membawa kepada melakukan perkara yang dilarang disebabkan ianya boleh membawa kepada kebinasaan dan kemudharatan.Maka setiap perkara yang boleh membawa kepada melakukan perkara yang haram adalah haram dan setiap perkara yang membawa kepada perkara yang diwajibkan maka ianya adalah wajib.

Jika melakukan perkara yang keji itu adalah haram,maka melihat kepada aurat perempuan ajnabiah itu adalah haram kerana boleh membawa kepada melakukan perkara yang keji,dan jika ibadat haji itu adalah suatu kefardhuan,maka pergi ke Baitullah Al-Haram dan tempat-tempat untuk melakukan fardhu haji adalah juga fardhu,kerana hukum syarak itu jika mewajibkan seseorang itu melakukanya,maka setiap perkara yang membawa kepada menyempurnakan kewajipan itu adalah wajib,dan jika ia melarang manusia melakukan sesuatu,maka setiap perkara yang boleh membawa kepada perkara yang dilarang itu adalah haram.

(6) Al-‘Urf : iaitu setiap kebiasaan atau adat yang dilakukan oleh sekumpulan manusia yang mana perkara tersebut sememangnya dikenali di kalangan mereka sudah menjadi kebiasaan mereka,begitu juga apa-apa percakapan yang diertikan kepada makna khas di kalangan mereka yang mana tidaklah percakapan tersebut dapat diertikan dari sudut bahasa formal yang mana ianya tidak akan disalah ertikan oleh pendengar apabila mendengar percakapan tersebut.

Ianya terbahagi kepada Al-‘Urf Amali (perbuatan) dan Al-‘Urf Qauli (percakapan),jikalau kita di dalam masyarakat melayu Al-’Urf Amali adalah seperti berpantun-pantun sebelum meminang sebagai cara berlapik di dalam berkata-kata agar tidak menyatakan hasrat tersebut secara berterus terang,dan Al-‘Urf Qauli pula ialah seperti perkataan Ulama’ yang merujuk kepada orang yang berilmu agama yang mana ianya digunakan di dalam masyarakat kita samada kepada seorang atau kepada ramai yang mana perkataan ini merupakan pinjaman daripada bahasa arab,jika ianya dilihat dari sudut bahasa arab ianya digunakan hanya kepada orang yang ramai,begitu juga pada perkataan tuak yang merujuk kepada minuman kelapa wangi kepada penduduk di sebelah Pantai Timur manakala perkataan tuak bagi penduduk di sebelah Pantai Barat pula bermaksud arak.

Dan penerimaan adat-adat manusia ini jika dilihat dari segi penerimaanya di dalam hukum syarak ianya terbahagi kepada dua :

(6.1) Al-‘Urf As-Sahih : iaitu adat-adat kebiasaan manusia yang tidak menghalakan apa yang diharamkan dan tidak pula menghalalkan apa yang telah diharamkan.

(6.2) Al-‘Urf Al-Fasid : iaitu adat-adat kebiasaan manusia yang menghalalkan apa yang telah diharamkan dan mengharamkan pula apa yang telah dihalalkan,contohnya seperti adat sesuatu bangsa yang menjamu minuman yang memabukkan kepada tetamu yang hadir di dalam sesuatu majlis keraian,bercampurnya lelaki dan perempuan secara bebas di dalam sesuatu majlis,begitu juga membiarkan solat fardhu berlalu begitu sahaja di dalam sesuatu majlis,yang mana mereka menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan di atas nama adat manusia!!

Maka jelaslah disini yang Al-‘Urf As-Sahih sahaja yang boleh diterima di dalam hukum  syarak selagimana adat-adat tersebut tidak bertentangan dengan apa yang telah termaktub di dalam dalil-dalil hukum syarak,dan ianya diterima di dalam hukum syarak adalah kerana ianya bersesuaian dengan hajat keperluan manusia dan  bertujuan supaya menolak kesusahan di dalam kehidupan manusia disebabkan adat-adat kebiasaan mereka yang sudah sebati di dalam kehidupan mereka dan adat-adat tersebut tidak pula bercanggah dengan hukum syarak,tetapi jikalau sesuatu adat itu bahkan menyusahkan kehidupan manusia maka ianya tidak dianggap Al-‘Urf yang sahih,dan Al-‘Urf ini tidaklah ianya dianggap sebagai suatu dalil hukum syarak yang tetap,cuma ianya hanyalah untuk menjaga kemaslahatan manusia.

(7) Al-Istishab : iaitu suatu hukum yang ingin menetapkan sesuatu atau ingin menafikan sesuatu samada di waktu sekarang atau akan datang dengan melihatkan yang perkara yang ingin ditetapkan atau ingin dinafikan itu telah berlaku di waktu dahulu kerana tiadanya dalil yang datang untuk mengubahnya.

Jika kita menetapkan kewujudan sesuatu dan berasa ragu-ragu dengan ketidakwujudanya,maka kita perlu berhukum yang ianya wujud,kerana asalnya ia wujud,dan tiadanya dalil yang datang mengubah keadaan asalnya,jika kita ingin mengetahui hukum tentang haiwan atau tumbuhan tertentu,atau hukum tentang makanan,minuman dan pekerjaan tertentu,dan tiadanya dalil tentang hukum-hakam perkara-perkara tersebut,maka hukumlah dengan keharusanya,kerana hukum harus ialah hukum asalnya.Oleh itu,setiap perkara yang bermanfaat adalah harus selagimana tiadanya dalil yang menyatakan ianya haram dan begitu juga setiap pekara yang memudharatkan adalah haram selagimana tiadanya dalil yang menyatakan ianya harus.

(Penerangan bernombor (5),(6) dan (7) dari : Al-Wajiz Fi Usul Al-fiqh oleh Fadhilatus Syeikh Dr.Wahbah Az-Zuhaili)

(8) Hadith Ahad : iaitu hadith-hadith yang tidak mencukupi syarat-syarat hadith Al-Mutawatir,dan terbahaginya hadith ahad dari sudut jalan periwayatanya kepada 3 iaitu Hadith Masyhur,Hadith Aziz dan Hadith Gharib,(kalau mahu lebih lanjut lagi,rujuklah di dalam kitab-kitab Musthalah Hadith)

(9) Hadith Mursal : iaitu hadith yang terjatuh perawinya di akhir sanad selepas At-Tabi’e,seperti berkatnya seorang Tabi’e : “Berkatanya rasulullah begini” “Baginda nabi telah melakukan begini” atau “telah diperlakukan sebegini dihadapan baginda nabi”

Contoh : Diriwayatkan kepada kami Muhammad Bin Rafi’,dari Hujain,dari Al-Laits,dari ‘Uqail,dari Ibnu Syihab dari Said Bin Al-Musayyab : sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wassalam telah melarang dari Al-Mazabanah (contohnya menjual buah gred yang rendah dengan tukaran buah yang gred baik),dan Said Bin Musayyab ialah seorang tabi’e yang besar,dan hadith ini telah terjatuhnya perawi yang meriwayatkan di antara beliau dan nabi di akhir sanad.

Manakala hadith Mursal dikalangan para ulama’ fiqh dan ulama’ Usul lebih bersifat umum,iaitu setiap hadith yang terputus sanadnya dianggap sebagai Hadith Mursal.

(Penerangan bernombor (8) dan (9) dari : Mabahits Fi Ulumil Hadith oleh Fadhilatus Syeikh Manna’ Bin Khalil Al-Qatthon)

(10) Kata-kata Ibnu Al-Qasim terhadap Abdullah Bin Wahab itu tadi bermaksud : Jikalau matinya Ibnu Uyaynah,maka aku akan bermusafir dan mengembara ke tempat Abdullah Bin Wahab semata-mata untuk menuntut ilmu darinya.

Dan penyataan “maka aku akan pukulkan hati unta” itu ialah suatu bentuk perumpamaan masyarakat arab yang bermaksud : bersungguh-sungguh untuk mengembara dan bermusafir untuk sesuatu tujuan,yang mana jikalau seseorang yang bermusafir dengan menaiki unta pastilah dia akan menghentak-hentakkan kakinya ke rusuk unta tersebut untuk mempercepatkan perjalananya.

.

Sumber:

1.  http://alhammasiyy.wordpress.com/laman-sejarah-imam/imam-malik-bin-anas-97h-179h/

2. Blog Orang Awam

« Older entries