7 Anggota tubuh yang menyebabkan masuk neraka

Pintu neraka itu ada 7 macam, dan banyak orang yang terjerumus ke dalamnya sebab tidak bisa menjaga ke-7 anggota badanya dari macam kemaksiyatan.
Ke-7 macam pintu neraka itu badalah : Jahannam, ladzoo, Hutomah, Sa’iir, Saqor, Jahim, dan Haawiyah dan semuanya disediakan bagi mereka yang tidak mau menjaga ke-7 anggota badanya yakni : Mata, Telinga, Lisan, Perut, Farji (Kemaluanya), tangan, dan kaki.
Ingatlah, bahwa semua anggota badan kita adalah nikmat sekaligus amanah yang harus dijaga dan disyukuri dengan cara menggunakanya untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT, bukan sebaliknya kita gunakan untuk memusuhi Sang Pemberi Nikmat tersebut.

1. Mata
Allah menciptakanya agar bisa membantu kita melihat di saat gelap, untuk menolong tiap hajat, melihat keajaiban Allah di bumi dan langit, mengingat dan mempelajari apapun yang bisa menghantarkan kita untuk menemukan dalil atas ke-Esa-an Allah SWT
Maka jagalah kedua mata ini dari 4 hal : “Melihat hal-hal haram, hal-hal yang membangkitkan nafsu syahwat, melihat sesama muslim dengan pandangan yang menyepelekan mereka dan atau melihat dan memunculkan aib sesama muslim”

2. Telinga,
Adapun telinga dicipta agar bisa kita gunakan untuk menjauhi dari mendengarkan perkara-perkara bid’ah, mendengarkan gosip/ghibah, mendengarkan orang yang menyebarluaskan aib sesama, ataupun mengumpuli orang-orang yang suka mengada-ada dalam cerita, serta mereka yang suka menjelek-jelekan orang lain.
Telinga dicipta agar membantu kita untuk mendengarkan Kalam Allah (Al-quran), Sunnah Rasulillah (Al-Hadis), untaian hikmah dari para wali (kekasih) Allah, mencari ilmu yang menghantarkan pada kedekatan kita dengan Allah ataupun ilmu yang mengingatkan akan akherat.
Maka jika telinga ini kita gunakan untuk khusyu’ mendengarkan hal-hal yang dilarang, ia akan bisa melaknati dan mencelakakan kita. Betapa ruginya orang seperti itu. Jangan kau kira dosa hanya bagi yang menggosip saja, mereka yang ikut mendengarkan gosip pun ikut berdosa.
Jika sulit bagimu untuk menghindari orang yang ingin mengajakmua bergosip/ghibah atau sulit bagimu untuk mengingkari mereka atau sudah kau ingkari namun mereka tidak menerima alasanmu, sedang sulit bagimu meninggalkan mereka, maka haram bagimu mendengarkan ocehan mereka. Salah satu cara menghindarinya adalah dengan berdzikir lewat lisan dan hatimu atau pikirkanlah hal lain yang mengalihkan perhatianmu dari mereka. Namun jika memungkinkan bagimu meninggalkan mereka maka tinggalkanlah.
3. Lisan

Adapun lisan diciptakan Allah agar bisa membantumu untuk banyak-banyak menyebut/mengingat Allah SWT dan untuk membaca kitab Allah (Al-quran), serta menunjukan orang lain agar menempuh jalan agama Islam, jalan yang telah pernah dilalui oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, untuk mengungkapkan isi dari hati/batinmu baik berupa hajat agama maupun duniawimu.
Maka saat mulut ini kita pakai untuk tujuan selain itu berarti telah ingkar atas nikmat Allah SWT.
Ketahuilah, bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak pengaruhnya pada makhluk (jin/manusia). Banyak orang mulia sebab mampu menjaga lisan namun juga tidak sedikit orang celaka sebab mengumbar lisanya.
Termasuk Do’a Nabiyulloh Daud AS adalah : Yaa Alloh, aku memohon kepada-MU atas 4 hal dan aku berlindung kepada-Mu dari 4 hal pula.
Aku meminta kepada-MU :
• Lisan yang ahli berdzikir,
• Hati yang pandai bersyukur
• Badan yang senantiasa bersabar (atas ujian-MU)
• Isteri yang bisa membantu dalam urusan dunia dan akheratku
Adapun aku berlindung kepada-MU juga dari :
• Keturunan yang durhaka
• Isteri yangmembuatku tua sebelum waktunya (Sebab sifat buruknya)
• Harta yang menjadi adzab bagiku
• Tetangga (orang yang mengaku-ngaku teman) yang jika melihat kebaikan dalam diriku ia menyimpanya, namun saat melihat keburukanku ia menyebarkanya.
“Wong urip iku bakal ngunduh wohing pakarti. Tumindak olo lan becik sejatine mung kanggo awake dewe (Orang hidup itu akan menuai buah dari tindak laku mereka sendiri. Tindakan buruk dan baik itu sejatinya adalah untuk diri sendiri)”.
Imam syafi’i (dalam sebuah syiirnya) pernah berkata :
“Jagalah lisanmu wahai manusia # Jangan sampai ular-ular neraka menggigitnya”
“Di alam qubur kelak banyak orang yang celaka sebab lisanya # Yang ketakutan bertemu (dengan ular tersebut) sedang dulu (saat hidupnya) terkenal keberanianya”
Maka jagalah lisanmu dengan sepenuh kekuatanmu agar kau tidak terjerumus dalam jurangnya jahannam.
Diceritakan dalam sebuah hadis bahwa : Sesunggahnya ada seorang manusia yang mengatakan satu kalimat hanya ingin di tertawakan temanya (ia rela menyakiti hati sesama muslim) sehingga ia pun terjatuh dalam jurang neraka jahannam sedalam 70 hirrif (70 tahun perjalanan, yakni sebab dosa yang mungkin ia sendiri telah melupakan dosa tersebut dan belum bertaubat)
photogrid_14737724655561

Sebagian Ulama mengatakan :

Macam-macam orang berbicara itu ada 4 :

  • Pembicaraan yang membawa bahaya/dosa
  • Pembicaraan yang yang membawa manfaat
  • Pembicaraan yang di satu sisi membawa bahaya namun disisi lain ada manfaatnya
  • Pembicaraan yang tidak ada manfaatnya namun juga tidak ada bahayanya

Adapun bicara sesuatu yang membahayakan maka tinggalkanlah, Demikian pula ucapan yang bermanfaat namun juga berbahaya. Sedangkan suatu pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak pula berbahaya merupakan sikap berlebih-lebihan serta menyia-nyiakan waktu maka tinggalkanlah juga. Tinggalah satu bentuk Pembicaraan yakni yang bisa bermanfaat dan inipun akan menjadi bahaya manakala di dalamnya terdapat bagian dari dosa seperti riya’ (pamer), bicara yang dibuat-buat, dan sebagainya.

Luqman al-hakim pernah mengatakan : Andaikan bicara adalah bak perak, maka diam adalah emas. Maksudnya andaikan bicara dalam ketaatan kepada Allah adalah seperti perak, maka diam agar lidah tidak bermaksiyat adalah seperti emas.

Maka jagalah lisan dari 8 hal yang amat berbahaya yakni :

  • Berbohong

Lisan harus kita jaga dengan sungguh-sungguh dari berkata bohong baik sekedar bergurau maupun bersunggung-sungguh dalam kebohongan. Janganlah kita terbiasa berkata bohong walau hanya bergurau, sebab hal itu akan membawa kita berbohong dalam hal yang sesungguhnya. Bohong termasuk pokok dari segala dosa sebagaimana sabda Rasul :
عليكم بالصدق فإن الصدق يهديي إلبر والبر يهدي إلى الجنة ومايزال الرجل يصدق ويتحري الصدق حتى يكتب عند الله صديقا وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور والفجور يهدى إلى النار الجنة ومايزال الرجل يكذب ويتحري الكذب حتى يكتب عند الله كذابا
“Biasakanlah jujur, sebab jujur akan membawamu kepada kebaikan dan kebaikan akan membawamu menuju syurga. Sesungguhnya seseorang akan tetap berlaku jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang senantiasa jujur. Dan takutlah berbohong, sebab bohong mengajak kepada menyepelekan dosa dan menyepelekan dosa akan membawamu menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan tetap berlaku bohong sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang senantiasa berbohong.”
Jika dirimu telah dikenal sebagai pembohong, maka akan hilanglah keadilanmu (tidak akan diterima kesaksianmu), dan kepercayaan orang lain atas ucapanmu akan gugur sehingga mereka akan menyepelekan dirimu. Jika kau ingin tahu betapa buruknya sifat bohong, maka lihatlah bagaimana perasaanmu kala kau dibohongi. Lihatlah bagaimana perasaan dan kekecewaanmu, dan bagaimana sikapmu selanjutnya terhadap orang tersebut. Maka demikian pula yang seharusnya kamu lakukan atas segala kekuranganmu lainya. “Sering-seringlah membayangkan bagaimana rasanya dirugikan orang lain agar kau tidak terbiasa merugikan orang lain”. Apapun sikap orang lain yang kau rasakan tidak mengenakan hatimu, maka jangan pula kau melakukan itu kepada orang lain.
Ketahuilah bahwa bicara adalah salah satu perantara untuk mencapai tujuan. Maka setiap tujuan yang baik jika sekiranya bisa berhasil baik dengan cara yang baik-baik maupun dengan cara berbohong, maka jangan kau memilih kebohongan yang menjadi haram hukumnya. Contoh menyuruh anak tidur dengan menakut-nakuti mereka dengan “Hantu” misalkan. Jika tujuanya mubah dan tidak ada cara selain berbohong, maka berbohong disini boleh dilakukan. Sedang jika tujuanya haram, contoh orang yang ingin berkelahi bertanya kepadamu dimana musuhnya maka berbohong untuk mendamaikan mereka hukumnya menjadi wajib.

  • Menciderai janji

Takutlah untuk mengingkari janji dan Jangan senang mengumbar janji-janji palsu. Jika kau punya i’tikad baik dan sekiranya bisa kau hindari maka lebih baik kau tidak berjanji, langsung saja kau buktikan lewat perbuatan baikmu itu. Jikapun kau terpaksa harus berjanji maka jangan sekali kali kau ingkari kecuali adanya udzur yang amat mendesak. Sebab jika kau terbiasa mengingkari janji maka akan menyebabkan dirimu terjatuh dalam perbuatan-perbuatan nifaq (munafiq) yang termasuk perbuatan yang amat keji. Rasulullah SAW bersabda :
Ada tiga hal yang jika seseorang melakukan ketiganya maka ia menyerupai tindakan orang munafiq walaupun ia puasa ramadan, walaupun ia sholat fardhu 5 waktu, (dalam riwayat lain dari Abi ya’la ditambahkan walaupun ia berhaji dan umroh dan ia mengucap sesungguhnya saya seorang muslim). Yakni orang yang jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari apa yang ia janjikan dan jika ia dipercaya maka ia khiyanati kepercayaan itu.
Iman bukhori dan Imam Muslim mengatakan dari Abdullah ibn Amr ibnil ‘ash RA berkata : sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : empat hal yang jika dilakukan maka ia menjadi munafiq secara murni dan jika ia melakukan salah satunya maka tindakanya seperti tindakan orang munafiq sehingga ia mau meninggalkan ke-empat empatnya. “jika ia dipercaya maka ia berkhiyanat, jika berbicara ia bohong, dan jika berjanji ia mengingkarinya dan jika bertengkar ia tinggalkan cara-cara yang haq dan menceburkan dirinya dalam kebatilan”.

  • Ghibah/gosip

BAHAYANYA GHIBAH/NGE-GOSIP

Jagalah mulut dari melakukan ghibah/gosip, dari diam dan khusyu’ mendengarkan orang berghibah. Dalam Islam, sebagaimana keterangan dalam sebuah hadis bahwa dosa dari orang berghibah lebih berat dari melakukan 30x perzinahan. Lantas apa itu ghibah??Ghibah adalah menyebut-nyebutkan sesuatu atas seseorang yang sekiranya orang tadi mendengarnya maka ia akan membencinya baik disebutkan secara ucapan, dalam tulisan, memberikan tanda/isyarat dengan mata, tangan ataupun kepala.

Batasan dari berghibah adalah setiap hal yang memahamkan orang lain atas kekurangan seseorang dalam badan, nasab, akhlak, perilaku, ucapan, agama maupun dunianya. Bahkan termasuk pakaian, tempat tinggal dan kendaraan orang tersebut. Maka dirimu termasuk peng-ghibah yang mendzalimi jika apa yang kau ucapkan adalah suatu kebenaran. Sebagaimana disabdakan Rasulillah SAW :

إن كان فيه ما تقول فقد ابتغته وإن لم يكن فيه ماتقول فقد بهته

“Jika pada dia sesuatu yang engkau ucapkan makan sungguh telah kau ghibah dia, dan jika tidak ada padanya atas apa yang kau katakan maka sungguh telah kau sebar kebohongan atas ia”.

Maka takutlah kau dengan sepenuhnya jika bertemu dengan ghibahnya orang yang pandai menyembunyikan sifat pamer mereka. Yakni yang pandai seolah-olah menempuh jalur orang sholih dengan melakukan ghibah tersembunyi. Secara samar-samar mereka menyebut orang tertentu (baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal), yang memberikan kepahaman secara tidak langsung. Misal ketika kau tanyakan ke dia : “Bagaimanakah keadaan si fulan??”, maka ia menjawab : “Semoga Allah mengampuni si fulan atas dosanya yang telah membuatku bersedih atas apa yang ia perbuat padaku, Semoga Allah memaafkankita dan dirinya”. Ucapan seperti ini menyimpan dua keburukan, yakni :

  • Ghibah, jika menghasilkan kepahaman bagi penanya. “Rasulullah SAW ketika membenci seseorang beliau berkata : Apakah yang diinginkan oleh kaum yang melakukan ini dan itu, beliau tidak menunjukan pada seseorang tertentu”.
  • Merasa diri bersih, memuji diri sendiri dengan menghukumi orang lain telah berdosa dan menganggap diri lebih baik dari orang yang dibicarakan yakni dengan menyela orang lain padahal bermaksud menyanjung dirinya sendiri.

Tidak hanya 2 keburukan diatas saja, bahkan diikuti 4 keburukan lainya sekaligus yakni :

  • Riya’ / Pamer, menyangka dirinya lebih bagus.
  • Merasa bahwa dirinya termasuk dalam golongan orng sholih yang terjaga dari ghibah. Penyebab utamanya adalah kebodohan diri.
  • Menyebut-nyebut keburukan orang lain dengan menjadikan nama Allah sebagai tameng untuk memperkuat persangkaan bersihnya diri dari dosa.
  • Berbohong atas kesedihan dirinya serta seolah-olah mendoakan kebaikan padahal bermaksud lain.

Jika maksudmu untuk mendo’akan kebaikan kepada orang yang kau anggap telah bersalah, maka do’akan saja setelah sholatmu secara sirri (rahasia). Jika kau bersedih sebab ulah mereka (menyebut keburukan lewat doa rahasiamu) maka itu bukan berarti membuka aib saudaramu walaupun hal ini juga makruh untuk dilakukan. Sebab dalam memperlihatkan kesedihanmu itu terkandung makna telah kau perlihatkan aib mereka.

Cukuplah bagimu larangan meng-ghibah dengan ayat Alqur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢﴾

  1. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurot : 12)

Dalam keterangan ayat diatas Allah SWT mengumpamakan orang yang suka berghibah dengan orang yang memakan daging mayat saudaranya. Sungguh hal yang menjijikan untuk memakanya, untuk merasakan atau sekedar menyentuh potongan daging dari mayat. Mengapa gosip diserupakan seperti itu?? Sebab orang yang bergosip hendak menjatuhkan harga diri saudaranya. Harga diri manusia adalah darah dan dagingnya. Sebab mereka yang dijatuhkan harga dirinya akan merasakan sakit di hati bahkan lebih sakit daripada luka pada jasad yang terpotong. Maka pikirkanlah betapa harus kau berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari perbuatan ghibah seperti ini.

Berkacalah pada diri sendiri, adakah aib dzohir/batinmu, lihatlah kemaksiyatan yang kau lakukan secara sirri (rahasia) ataupun secara terang-terangan. Sebagaimana kau lemah untuk meninggalkan aib dan maksiyatmu, maka ketahuilah bahwa kelemahan mereka yang kau ghibahkan untuk menghindari apa yang kau anggap cela adalah sama halnya lemahnya dirimu untuk menghindari aib dan dosamu.

“Jika kau ingin menyebut-nyebut aib saudaramu maka ingatlah akan aibmu sendiri” (Ibnu Abbas RA)

Banyak diantara kalian mampu melihat cela dari saudaranya namun buta akan cela diri sendiri (Abu Hurairah RA)

Sebagaimana kau tak ingin aibmu diketahui oleh banyak orang dan disebut-sebut kepada orang lain, Maka mereka pun juga tidak suka dijatuhkan nama baik atau disebarkan aib mereka. Jika kamu pandai menutupi cela mereka maka Allah SWT juga akan menutupi celamu, dan jika kau buka aib mereka maka Allah SWT akan menciptakan lidah yang tajam yang akan merobek-robek harga dirimu di dunia kemudian berlanjut hingga di akherat kelak di hadapan semua makhluk pada saat hari qiyamat.

Jika kau telah berusaha melihat dzohir dan batinmu namun tidak kau temui satupun cela ataupun kekurangan baik dalam hal agama maupun duniawimu maka ketahuilah bahwa kebodohanmu atas aib dirimu adalah salah satu bentuk kumuhnya/kotornya hati yang amat menjijikan, inilah cacat akal/mental yang nyata. Dan tidak ada yang lebih besar daripada kotornya hati, sebab andai Allah menghendaki kebaikan atas dirimu maka DIA akan membukakan mata hati hatimu sehingga bisa kau lihat aib diri. Ridlomu atas nafsu diri menunjukan betapa sedikitnya kecerdasanmu dan betapa bodohnya dirimu.

Barang siapa yang ingin bisa melihat aib diri sendiri maka hendaklah ia menempuh empat jalan yakni :

  1. Duduklah dalam majelis diantara para sesepuh (syaikh) yang tajam mata hatinya, yang mengetahui penyakit dalam dirimu, mengajarimu tentang bahaya yang tersamarkan dari penyakit hatimu. Maka ikutilah arahanya agar kau bisa memerangi penyakit hati itu.
  2. Carilah teman yang jujur dan bisa dipercaya, yang bisa melihat kekuranganmu dan mengingatkanmu dengan penuh adab, yang mau meluruskan kesalahanmu, menemani dan memperdulikan tindakan dan perilakumu, yang jika melihat aib dirimu baik yang batin maupunyang dzahir maka tidak segan segan mengingatkanmu.
  3. Carilah pelajaran dari ucapan orang orang yang memusuhimu, sebab terkadang apa yang dilakukan oleh mereka terkadang bisa memperjelas kesalahan-kesalahanmu. Secara naluri, kita mungkin membenci terhadap musuh-musuh kita dan sering ucapan mereka menggiring kita untuk berlaku hasad, tetapi hati yang hidup tidak mengenal darimana ia bisa mengambil manfaat.
  4. Berkumpul lah dengan banyak orang., maka apapun yang kau lihat dicela oleh manusia maka tinggalkanlah. Sesungguhnya seorang mukmin akan menjadi mir’ah (cermin) bagi mukmin lainya.

Jika kau telah benar-benar jujur dalam berprasangka, dan ternyata benar-benar tidak kau temukan cela dalam dirimu maka bersyukurlah kepada Allah SWT atas kesempurnaan agama dan duniamu. Dan jangan kau rusak kesempurnaan itu dengan menjelek-jelekan serta mencela atau menjatuhkan harga diri orang lain. Sesungguhnya yang demikian adalah aib terbesar bagimu. Sayyidinaa Umar RA berkata :

عليكم بذكرالله تعالى فإنه شفاء وإياكم والغيبة وذكر الناس فإنه داء

“Ingat Allah SWT selalu, sesungguhnya ingat Allah adalah obat. Dan takutlah dengan perbuatan ghibah dan mencela orang lain, sesungguhnya ini adalah racun.”

  • Adu argumen dengan merasa paling benar serta bersilat lidah
  • Memuji diri sendiri
  • Melaknati (baik terhadap hewan, makanan, apalagi manusia)
  • Mendokan buruk terhadap makhluk (walaupun terhadap yang mendzalimimu)
  • Bercanda dalam hal yang dicela agama, merendahkan dan menyepelekan orang lain.

4. Perut,
5. Farji (Kemaluanya),
6. tangan,
7. kaki.

Sumber : Kitab Maraqil Ubudiyyah fii Syarhil Bidayatil Hidayah, Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantany

PEMBELAJARAN DALAM SYARH HIKAM : KETIKA KITA DIPUJI

Orang-orang bisa jadi memuji kita sebab suatu kelebihan yg ada pada diri kita. Namun janganlah kita larut dengan berbangga diri lantas lupa pada hakekat pujian tersebut. Mereka memuji sebab Alloh SWT yang menampakan kebaikan kita di mata mereka sehingga mereka mengira kita sebagai orang yg mulia. Sedang dibalik itu diri kita mengetahui bagaimana sebenarnya diri kita ini. Bukankah amat banyak kekurangan dan perbuatan buruk yg kita sembunyikan??
Maka saat orang lain memuji kita, seharusnya kita lebih fokus pada kekurangan diri dan jangan terbuai oleh pujian orang tersebut. Bukan berarti kita harus melarang mereka memuji kita, tp kita yang harus menjaga hati ini.
Kecuali jika pujian tersebut sudah terlewat batas dan atau justeru pujian yang mendorong kita untuk lalai maka cegahlah mereka memuji kita.
Rosulullah SAW menyuruh kita melarang orang yg keterlaluan dlm memuji kita bahkan jika harus menggunakan abu utk ditebarkan di wajah para pemuja kita itu, sebab hakekatnya saat kita dipuji (dgn pujian yg terlalu berlebihan) sama artinya mereka meletakan pedang pada leher kita/siap memotong leher tersebut.
Lebih baik kita mencela diri atas kekurangan yg ada daripada berbangga atas kelebihan yg hakekatnya bukan milik kita.
Ingatlah makna kalimat :
Alhamdu utawi sekabehane puji iku lillahi kagungane Gusti Alloh.

Mukmin sejati itu ketika dipuji maka ia malu pada Alloh. ia malu sebab dipuji atas sesuatu yg tidak dimilikinya. ia tidak terpengaruh pujian tsb kecuali semakin sungguh* untuk melihat dan mensyukuri anugerah Alloh kepadanya. sikap syukur seperti inilah yg menjadikan dirinya mendapatkan tambahan nikmat serta terselamatkan dari terbuai atas pujian.
Sedang sebodoh*nya manusia adalah mereka yg meninggalkan sesuatu yg nyata/yakin ada pada dirinya yakni keburukan* sifat serta keteledoranya atas hak* Tuhanya. yakni karena lebih mengejar apa yg tdk yakin (persangkaan baik dari orang lain).
Sebagian ‘arifiin berkata : Perumpamaan orang seperti itu adalah mereka yg percaya dan gembira atas ucapan orang yg datang sambil tersenyum dan berkata kepadanya bahwa : “t4h1 yg keluar dari perutmu baunya lebih wangi lho dari minyak misik”. sedang kita tahu bahwa kemaksiatan kita lebih busuk dan kotor daripada kotoran yg keluar dr perut.
Ketika Alloh telah membuka mulut orang lain sehingga mereka memuji kita sedang pada kenyataanya kita tidak berhak sama sekali atas pujian itu, sebab Alloh SWT dengan fadhol/keutamaanNya lebih memilih untuk menampakan kelebihan drpd kekurangan kita maka pujilah DIA yang lebih berhak atas pujian tersebut sebagai wujud dari rasa syukurmu kepadaNya.

Ringkasan materi Tarjamah syarh hikam oleh Syekh Abdulloh As Syarqowi, hlm. 268-273

Beruntung atau rugikah kita pasca Ramadhan??

Bulan Ramadhan telah berlalu, bukan berarti kemudian kita boleh mengulangi kembali kesalahan yang pernah kita lakukan sebelum Ramadhan. Sebab hakekat puasa ramadhan adalah untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqoroh : 183)

tujuan puasa agar kita bertakwa

Artinya, mereka yang tiada bertambah ketaqwaan setelah menjalankan puasa dan berbagai bentuk amal ibadah di Bulan Ramadhan, maka puasa mereka tidak ada faedahnya, na’uudzubillah min dzaalik.  Ingatlah bahwa Allah SWT telah memberikan kita banyak modal dalam kehidupan ini. Allah telah memberikan kita mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, kesehatan, kesempatan waktu, keimanan serta banyak sekali modal lain yang tiada terhitung nilainya. Tiada terasa, kita sadari ataupun tidak telah banyakmodal tersebut yang telah kita sia-siakan untuk hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia dan akherat bahkan sering kita gunakan untuk mengingkari Allah SWT.

Ibarat kata seorang pedagang yang telah mempunyai banyak modal, maka bila hasil dari perdagangan masih sama dengan jumlah modal, tentu orang tersebut telah merugi. Rugi tenaga, rugi waktu dan rugi segalanya. Apalagi jika ternyata hasil perdagangan lebih sedikit dari modal yang telah dikeluarkan, tentu pedagang tersebut telah celaka. Demikian pula dengan kesempatan yang Allah berikan kepada kita semua. Rizki yang Allah karuniakan kepada kita bukan untuk dipakai berlarut-larut dalam kemewahan dan keindahan keduniaan hingga melalaikan tugas utama kehidupan kita ke dunia ini yakni untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi tiap individu untuk senantiasa memperbaiki diri mereka agar selalu bertambah kebaikan di tiap pertambahan usia mereka.

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.

“Barang siapa hari ini LEBIH BAIK dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang BERUNTUNG, Barang siapa yang hari ini SAMA DENGAN hari kemarin dialah tergolong orang yang MERUGI dan Barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari hari kemarin dialah tergolong orang yang CELAKA”

Ingatlah wahai saudaraku, baju yang aslinya baru tentu akan menjadi rusak di kemudian hari. Demikian pula seiring dengan bertambahnya usia kita mata yang dulunya bisa pakai dengan sigap, sedikit demi sedikit akan berkurang fungsinya. Tubuh yang tegap nan kuat akan semakin melemah. Kulit yang segar dan halus, lama kelamaan akan berkerut dan timbul keriput, wajah yang rupawan tidak akan selamanya kita miliki. seluruh keistimewaan yang pernah kita punyai saat ini atau di masa lampau, tentu akan semakin berkurang dan muaranya pada satu titik yang disebut dengan kematian. Sungguh tak ada yang abadi di dunia ini. Hanya mereka yang senantiasa bersama Allah SWT yang akan beruntung. Ingatlah bahwa kehidupan di akherat lebih baik dan harus lebih kita utamakan dari pada kehidupan dunia? Sebab disana kelak kita akan hidup selamanya. Kehidupan disana pun ditentukan oleh bagaimana sikap kita dalam menggunakan kehidupan di dunia saat ini. Jika yang kita tanam kebaikan maka tentu kelak kita akan panen kebaikan pula, demikian pula sebaliknya jika kita menanam keburukan tentu hasilnya akan lebih buruk dari yang kita sangka.

Oleh karenanya wahai saudaraku, marilah kita senantiasa berusaha meneruskan kebaikan yang telah kita laksanakan di bulan Ramadhan kemarin serta senantiasa meminta kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT berkenan menolong kita untuk selalu menjalankan ketaatan kepada-NYA. Semoga Allah SWT juga menolong kita dari setiap keburukan yang akan menimpa pada diri kita.

لا حول ولا قوة إلا باللہ العلي العظيم 

tidak ada daya untuk melakukan suatu ketaatan dan tiada upaya untuk menghindari kemaksiatan kecuali dengan pertolongan Allah

Beruntung atau rugikah kita berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini ?? hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya. Tergantung dari bagaimana tingkat ketakwaan kita kepada Allah SWT. Semakin banyak kita menjalankan perintah serta menjuhi larangan Allah SWT pasca Ramadhan ini maka semakin meningkat pula derajat ketakwaan kita disisi Allah SWT. Semakin kita bertaqwa maka semakin beruntunglah kita. Hadaanalloohu wa iyyaakum jamii’an. Demikian sebaliknya jika Ramadhan yang telah kita lalui tidak ada bedanya sama sekali atau bahkan ketakwaan kita makin menurun dibanding dengan sebelum Ramadhan, maka tentu kita termasuk orang yang merugi bahkan celaka. Na’uudzubillah min dzaalik.

do'a berpisah dengan ramadhan

“Allahumma yaa Allah…. janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa terakhir untuk hidupku, Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan yang hampa semata. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin 😥 “

Mari berlomba-lomba mempertahankan kebaikan

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿١٤٨﴾

148. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-baqoroh : 148)

Metode Pembelajaran di room CF LQB

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿١٧﴾

017. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar : 17)

Segala puji bagi Allah yang telah mengajari banyak hal pada kita. Allah yang memberikan ilmu-NYA hingga kita awalnya lemah menjadi kuat, awalnya tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi berilmu.

Sholawat salam semoga senantiasa tercurah ke haribaan junjungan Nabi besar Muhammad SAW yang karena jasa beliau hingga kita keluar dari gelapnya kebodohan dan kekufuran, yang menjadi wasilah atas hilangnya kesesatan dan penyembahan terhadap berhala menjadi keimanan dan mengesakan Allah, Semoga Sho;awat salam senantiasa menyertai beliau, para keluarga serta para sahabat yang menjadi matahari ilmu pengetahuan, serta kepada orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak beliau, Aamiin yaa robb !!

Sungguh tiada ‘amal yang harus lebih didahulukan serta pekerjaan paling afdhol untuk dilakukan melainkan hidmah (mengikuti) Al-Kitab yakni Al-qur’anul kariim. Yang mana Al-qur’an inilah sebagai Nur / cahaya , lentera bagi jalan hidup manusia, sebagai penyempurna risalah samawiyyah sebagaimana firman Allah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُوراً مُّبِيناً ﴿١٧٤﴾

174. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (QS. An-Nisa’ : 147)

Sesungguhnya Allah SWT sangat memuji mereka yang telah menjaga Alqu’an (Para penghafal, pembaca serta orang-orang yang mengkaji serta mengamalkannya). Mereka bagaikan lentera agama, mereka sinar cahaya, dan merekalah penerang umat. Rasul bersabda : “Para penghafal qur’an adalah orang yang paling mulia diantara umatku”.

Dari sini kami bermaksud untuk meniru mereka, walaupun hanya serupa tapi tak sama dengan harapan siapa tahu kami bisa mendapat kemuliyaan seperti halnya mereka. Dimulai sejak 2 hari lalu Ahad, 03 Maret 2013 ketika di room CF kesayangan kita “0v0_Lentera_Qolbu_Bertasbih_0v0” kami diminta waktu untuk memandu kegiatan rutin pengajian. Walaupun kami bukan orang yang ahli dalam hal tersebut, namun kami berusaha ikut membantu dengan harapan semoga hal ini termasuk amal baik yang bisa berguna bagi masa depan kita semua.

Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut dari instruksi beliau kami sampaikan beberapa hal terkait.

–   Pembelajaran kami mulai insya’allah sesuai jadwal Pengajian dengan ketentuan jika saya tidak ada kegiatan lainya yang lebih mendesak bagi kelangsungan warga kami di dunia nyata.
–   Jika dengan terpaksa kami tidak bisa memandu acara, insyaallah akan digantikan oleh Asatidz atau Owner yang lain.

A.   Pembelajaran Iqro’

metode yang akan kami gunakan sebagai berikut :

  1. Peserta diwajibkan mempunyai kitab Iqro’
  2. Peserta melakukan registrasi lewat IM kepada kami (gratis) serta konfirmasi sejauh mana kebisaan masing-masing  setiap sebelum membaca kitab Iqro’.
  3. Proses KBM dilakukan dengan TM secara bergantian, antara pemandu dengan peserta.
  4. Acara diawali dengan membaca Do’a awal majelis yang kami pandu, dilanjutkan do’a fatihah untuk KH. As’ad Humam (Penyusun kitab Iqro’)
  5. Do’a awal majelis yang kami maksud sebagai berikut :
  6. أَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَوَسِّعْ لِي فِي رِزْقِي، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا رَزَقْتَـنِي، وَاجْعَلْنِي مَحْبُوْبًا فِي قُلُوْبِ عِبَادِكَ، وَعَزِيْزًا فِي عُيُـوْنِهِمْ، وَاجْعَلْنِى وَجِيْـهًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ، يَا كَثِيْرَ النَّوَالِ، يَا حَسَنَ الْفِعَالِ، يَاقَائِمًا بِلاَ زَوَالٍ، يَا مُبْدِأً بِلاَ مِثَالٍ، فَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الْمِنَّةُ، وَلَكَ الشَّرَفُ عَلَى كُلِّ حَالٍ. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

  7. Setelah pembacaan do’a akan disampaikan materi Iqro’, kemudian bimbingan pembacaan 
  8. acara pengajian selesai, kami akan menyampaikan (Qultum) sekedarnya.
  9. Setelah semua selesai kami tutup dengan pembacaan do’a.

B.  Pembacaan Maulid Al-Barzanji

Metode yang digunakan :

  • Pembacaan Maulid dimulai ba’da isya’ dengan terlebih dahulu tawassul dengan fatihah.
  • Pembacaan Maulid Al-Barzanjy secara bergantian TM. Bagi yang belum punya kitab-nya bisa download dengan klik ==>> Teks Kitab Al-Barzanjy
  • Penyampaian sejarah hidup Rasulullah SAW / Penjelasan singkat dari kitab Al-Barzanjy. menukil dari kitab ” Madarijus-su’uud “
  • Do’a dan Penutup.

Demikian sekiranya rencana yang kami buat, semoga bisa berjalan dengan istiqomah serta bermanfaat bagi kita secara pribadi, bagi siapapun, terlebih bagi room kita tercinta. Aamiin yaa robb !!

Al-faqir liridholloh,

rifaudiahmad

DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

Memberikan Tarbiyah untuk jiwa seorang Muslim

Ringkasan Materi Pengalaman mengikuti Ta’lim Pagi di Ma’had Nurul Haromain

Ngroto, Pujon, Malang, Jawa Timur.

Rabu, 26 Desember 2012

(Oleh Ustadz Syihab Syifa)

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk mempunyai jiwa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah lembut serta saling menyambung dengan sesama muslim lain. Kita dilarang untuk memiliki sikap negatif seperti saling membenci, iri hati, sikap berpaling, sikap memutus hubungan, sikap menjauhi, mendzalimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan dan sikap berlomba-lomba serta saling berbangga dan berburuk sangka sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

وكونوا عباد الله إخوانا

“Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Bila salah satu diantara beberapa sikap negatif itu masih melekat pada diri kita, maka artinya jiwa kita masih perlu untuk dibina. Sebab hal tersebut selain merusak amal kita juga menyia-nyiakan pahala serta melebur kebaikan yang pernah kita lakukan. Penyebab dari hal tersebut antara lain karena penyakit hati masih kita miliki, kekolotan watak kita serta pelencengan dalam karakter asli kita. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menegaskan bahwa ketika dua orang benar-benar saling mencintai karena Alah maka mereka tidak akan pernah bisa terpisahkan oleh halangan dan rintangan apapun bentuknya. Sebab tali cinta yang didasari karena Alah sangatlah kuat dan tidak akan terputus hanya karena dosa yang dilakukan oleh salah satu dari kedua orang itu. Beliau Rasulullah SAW bersabda :

ما تواد اثنان فى الله عز وجل أو فى الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب يحدث أحدهما

Tiada dua orang yang saling mencintai karena Allah ‘Azza wa jalla atau karena Islam, lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya (HR. Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod)

Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Isam. Di Akherat mereka diancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Allah SWT. Pintu-pintu syurga tertutup bagi mereka sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW :

تفتح أبواب الجنة يوم الإثنين والخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلان كان بينه وبين أخيه شحناء فيقال : أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا

“Pintu-pintu syurga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan Alah dengan apapun, kecuali seseorang yang diantaranya dengan saudaranya ada kebencian. Lalu diucapkan “Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai” (HR. Muslim)

Untitled

Abu Darda’ RA berkata : “Maukah ku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada sedekah dan puasa?? (yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berseteru. Dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala).” (HR. Imam Bukhori dalam Al-Adab Al-Mufrod).

Seorang muslim yang terbina tentu akan menahan diri dari kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan. Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih, dan jernih. Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya agar menuju Allah, kitab-Nya dan rasul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasehat dalam agama ini.

Demi memuliakan tai persaudaraan dan pertemanan, maka seorang muslim yang terbina juga memiliki watak setia kepada saudaranya. Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dzalim atau di dzalimi. Pada saat berbuat dzalim maka ia mencegah dan saat didzalimi maka ia melakukan pembelaan. Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran Islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.

Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan, maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok. Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridlaan, ampunan, dan kasih sayang Allah SWT. Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa menggunjing hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan oleh lisan ke dalam neraka.

Muslim yang terbina akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan yang tidak berguna dengan saudaranya. Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya. Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta.

Muslim yang terbina selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia, sehingga dekat dan dicintai oleh manusia.jika bertemu maka ia mengucapkan salam, memenuhi undangan mereka, berdo’a untuknya (tasymit) bila ia bersin, membesuk mereka ketika sakit, menghadiri dan mengantar jenazah mereka, serta mendoakan mereka dari jauh (yang bisa mengokohkan bukti kecintaan serta meneguhkan tali persaudaraan kepada mereka). Doa seperti ini lah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihkhlasan dan kesungguhan.

Semua hal itu adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebarluaskan cinta, persaudaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian. Dalam setiap kesempatan beliau selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci serta jiwa menjadi keruh.

Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Allah sebagaimana yang diinginkan Islam.

Wallahu yatawallal jamii’ bi ri’aayatih.

Taubat…. Penting yach???

Akhiinal-kariim rohimakumulloohu jamii’an. Mari kita mencermati ayat berikut ini :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً ﴿١٧﴾ وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً ﴿١٨﴾

017. (Sesungguhnya tobat di isi Allah) yakni yang pasti diterima di sisi-Nya berkat kemurahan-Nya (ialah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan) atau maksiat (disebabkan kejahilan) menjadi hal artinya tidak tahu bahwa dengan itu berarti mendurhakai Allah (kemudian mereka bertobat dalam) waktu (dekat) yakni sebelum mengalami sekarat (maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah) artinya diterima-Nya tobat mereka (dan Allah Maha Mengetahui) akan makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) mengenai tindakan-Nya terhadap mereka.

018. (Dan tidaklah dikatakan tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan) atau dosa (hingga ketika ajal datang kepada salah seorang mereka) dan nyawanya hendak lepas (lalu dikatakannya) ketika menyaksikan apa yang sedang dialaminya (“Sesungguhnya saya bertobat sekarang.”) karena itu tidaklah bermanfaat dan tidak akan diterima oleh Allah tobatnya. (Dan tidak pula orang-orang yang mati sedangkan mereka berada dalam kekafiran) yakni jika mereka bertobat di akhirat sewaktu menyaksikan azab, maka tidak pula akan diterima. (Mereka itu Kami siapkan) sediakan (bagi mereka siksa yang pedih) yang menyakitkan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Taubat yang benar-benar akan diterima hanyalah taubat yang dilakukan sebelum seseorang berada dalam keadaan sakaratul maut. Sehingga wajib bagi setiap muslim untuk melakukan taubat nasuha, yakni kembali kepada jalan Allah SWT dengan menjalankan 4 hal yakni : menyesali perbuatan dosa yang pernah dilakukan, berhenti dari perbuatan dosa itu, serta beri’tikad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tadi dan yang lebih penting lagi adalah segera mengembalikan hak dan meminta maaf atau meminta halal terhadap perbuatan dosa yang berhubungan dengan hak orang lain.

Kita adalah manusia yang memang dibekali dengan sikap salah dan lupa, banyak nikmat dari Ilahi robb yang masih tidak kita gunakan secara maksimal untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, memang kita diperintahkan untuk selalu bertaubat, serta selalu menjaganya dengan senantiasa bermuhasabah (menghitung kekurangan-kekurangan kita sendiri) atas tindakan sembrono serta sikap menyepelekan perbuatan dosa yang sering kita lakukan. Hal ini penting agar kita tidak terlalu lama bergemul dalam kubangan maksiyat serta lebih berhati-hati dalam memanfaatkan nikmat bernafas, nikmat bergerak, nikmat beristirahat serta nikmat-nikmat yang lain dari-Nya yang kesemuanya merupakan amanat yang harus dijaga dan untuk dipertanggungjawabkan kelak.

Sayyidina Umar ibn Khattab pernah berkata : Hitunglah diri(amal)mu sebelum kamu dihitung. Persiapkanlah dirimu untuk bertemu dengan hari yang besar, menghadap Allah SWT di hari yang tidak akan samar satupun amal yang pernah kamu lakukan di dunia ini.

Barang siapa yang ahli menghitung kekurangan diri sebelum datangnya hari penghitungan amal, maka kelak di hari qiyamat ia akan dihisab dengan lebih ringan dan lebih mudah. Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak menyadari(mengakui) akan kekurangan diri (tidak bermuhasabah), maka akan kekal penyesalan dan penderitaanya. Ia akan berada di lapangan qiyamat (padang mahsyar) dengan penantian yang amat panjang, serta ia akan digiring pada kehinaan dan dicela oleh Tuhanya. Na’uudzubillah min dzaalik.

Oleh karenanya, semoga kita senantiasa mendapat hidayah serta ma’unah dari Alah SWT menjadi insan yang ahli taubatan nasuha serta ahli muhasabah sehingga kelak memperoleh ridlo-Nya Amiin yaa robbal aamiin.

Akhiina karim rohimakumulloh.

Perlu kita ketahui bahwa sumber utama dari segala kemaksiyatan yang kita lakukan pada hakekatnya bersumber dari tujuh anggota badan kita. Setelah taubatan nasuha diatas teah kita lakukan, maka langkah selanjutnya adalah menjaga diri dari dosa/kemaksiyatan yang lebih sering muncul dari ke tujuh anggota badan kita sebagai berikut :

Mata kita.

Mata yang tidak dijaga dari melihat hal-hal yang haram menyebabkan hati menjadi kotor penuh dengan penyakit. Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita bahwa melihat (kepada kemaksiyatan) merupakan anak panah dari panahnya Iblis la’natullah ‘alaih. Sebab dari melihat ini akan menimbulkan dorongan berpikir kotor dan dari pikiran kotor ini akan menimbulkan zina. Zina mata akan menjadi bahan pertimbangan bagi hati untuk menyetujui dan meneruskan zina itu pada perbuatan zina yang lebih besar lagi ataukan menolak zina untuk kemudian memiih bertaubat.

Para ulama’ berfatwa : takutlah kalian pada penglihatan(kemaksiyatan). Sebab apa yang kalian lihat akan kalian ukir dalam hati. Ketahuiah olehmu bahwa sesungguhnya keburukan dunia itu tampak nyata, banyak ujian yang timbul akibat bujukan dunia yang diawali dengan pengihatan ini.

Lisan Kita

Anggota badan seanjutnya yang juga merupakan sumber dari setiap kemaksiyatan adalah lisan. Lisan kita akan mendorong pada ridlo Allah manakala kita menggunakanya untuk mengucapkan kalimah-kalimah toyyibah, dzikir dan do’a serta melakukan segala bentuk anjuran agama kita. Namun lisan ini juga akan menjadi lantaran menuju neraka manakala lisan yang kita miliki kita gunakan untuk berbohong. Allah SWT mengingatkan kita akan bahaya berbohong melalui ayat Al-qur’an :

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ ﴿١٠٥﴾

105. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta (Q.S. An-Nahl 101).

Banyak orang menjadi hina karena berbohong dan Allah benar-benar melaknati orang-orang yang suka berbohong. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sifat bohong merupakan salah satu dari ciri orang munafiq yang kelak diancam oleh Allah akan ditempatkan pada tingkatan neraka paling rendah, na’uudzubillah min dzaalik.

Lisan ini juga harus kita jaga dari berghibah (membicarakan aib orang lain). Sebab sebagaimana diterangkan dalam hadis bahwa tiap muslim satu dengan muslim lainya haram darah mereka (tidak boleh dibunuh), haram hartanya (tidak boleh dijarah, dicuri, dirampok, dirampas, dimiiki secara tidak hak), serta haram harga dirinya (tidak boleh dihina, dilecehkan termasuk dighibah, dsb).

Jangan sampai kita terjatuh pada perbuatan namimah (adu domba) serta pada tindakan memfitnah orang lain. Allah melarang hal itu melalui firman-Nya :

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ﴿١٠﴾ هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ ﴿١١﴾

010. (Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah) dengan cara yang batil (lagi hina) yakni rendah. 11. (Yang banyak mencela) atau sering mengumpat (yang kian ke mari menghambur fitnah) yakni berjalan ke sana dan ke mari di antara orang-orang dengan maksud merusak mereka, yakni menghasut mereka. (Q.S Al-Qalam : 10 – 11)

Yang selanjutnya janganlah kita menggunakan lisan untuk menghina dan meremehkan orang lain. Dalam Al-qur’an disebutkan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١﴾

011. (Hai orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan) dan seterusnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah (dan jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir. (Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah orang-orang yang lalim.) (Q.S Al-Hujarat : 11)

Lisan itu amat tajam, melebihi tajamnya pedang. Luka yang diakibatkan oleh kesalahan lisan akan lebih sulit untuk diobati dan ebih lama sembuhnya daripada luka akibat sabetan pedang. Banyak orang menjadi mulia karena lisan namun tidak sedikit orang yang menjadi hina juga karena lisanya. Semoga Allah SWT memberi pertolongan kepada kita untuk menghindari keburukan-keburukan lisan.

Telinga kita

Anggota tubuh selanjutnya yang juga merupakan sumber kemaksiyatan adalah telinga kita. Janganlah kita menggunakan telinga ini untuk mendengarkan keburukan-keburukan lisan sebagaimana diatas, serta untuk menikmati lagu-lagu maupun musik yang membuat lupa pada Allah SWT. Sebab lagu yang membuat lupa pada Allah juga akan menimbulkan sikap kemunafikan dalam hati kita. Adapun dzikir dan bacaan-bacaan Alqur’an/al-hadis akan menumbuhkan keimanan.

Perut kita

Perut merupakan anggota tubuh yang amat vital yang harus dijaga dari setiap perkara haram serta perkara-perkara syubhat. Bahkan harus dijaga pula dari memenuhinya secara berlebihan sebab hal itu akan membuat keras hati.

Kedua tangan kita

Kedua tangan adalah anggota tubuh selanjutnya yang harus dijaga dari dari bekerja/mencari  barang haram. Jangan menulis sesuatu yang haram untuk diucapkan, jangan memukul/mencelakai muslim lain tanpa haq, dan atau melakukan kemaksiyatan-kemaksiyatan lainya.

Kedua kaki kita

Kaki juga harus dijaga, jangan sampai digunakan untuk berjalan menuju tempat kemaksiyatan, berjalan menuju penguasa yang dzalim tanpa adanya dharurat dan kemaksiyatan lainya.

Kemaluan kita

Allah memberi amanah kemaluan (farj) kepada kita untuk kita jaga dan kita saurkan hanya kepada orang yang telah ditentukan oleh-Nya sebagai pasangan hidup. Nabi Muhamad SAW menyarankan para pemuda yang masih belum mampu untuk menikah dengan memperbanyak berpuasa agar mereka bisa mengendalikan hawa nafsunya.

Akhirnya, marilah kita berusaha menjaga ketujuh anggota badan kita diatas dengan sekuat tenaga kita dalam menghindari kemaksiyatan. Jangan menunggu bertaubat hingga tua, sebab belum tentu usia kita sampai tua. Tapi bertaubatlah sejak masih muda, sebab titipan kekuatan Alah untuk taat pada-Nya masih ada pada diri kita. Semoga petunjuk serta pertolongan Allah SWT senantiasa menyertai langkah kita semua menuju masa depan akherat dalam naungan ridlo-Nya, Amiin yaa robbal alamiin.

==============

Referensi : KItab Kifayah al-atqiya’

Taubat

Taubat merupakan salah satu sifat dasar yang penting dan harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin memperoleh derajat di sisi Allah SWT.

Secara Bahasa, Taubat bisa diartikan sebagai “Kembali”, pulang, menyesali perbuatan dosa  yang telah dilakukan.

Sedang secara istilah, Taubat berarti kembali dari jalan yang dicela oleh hukum syare’at agama Islam menuju jalan yang dipuji dalam aturan syare’at agama Islam. ada yang mengartikan taubat dengan  berhenti dari perbuatan dosa yang telah dilakukan, kemudian kembali ke jalan yang benar.

Hukum bertaubat adalah wajib bagi setiap orang islam. Banyak dalil baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Al-Hadist yang menunjukan adanya kewajiban bertaubat ini. Diantaranya tersebut dalam ayat berikut :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً ﴿٧٠

070. (Kecuali orang-orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh) dari kalangan mereka (maka kejahatan mereka itu diganti Allah) maksudnya dosa-dosa yang telah disebutkan tadi diganti oleh Allah (dengan kebaikan) di akhirat kelak. (Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Dia tetap bersifat demikian. (Q.S. AL-FURQAN : 70)

Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa Allah akan mengganti dosa orang yang mau bertaubat dengan kebaikan. Sehingga manfaat sikap taubat ini sangatlah besar.

Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan betapa pentingnya sifat taubat ini yakni orang yang melakukanya akan Mendapat pahala  atau keberuntungan (masuk surga). sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nur : 31 sebagai berikut :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣١

031. (Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya) daripada hal-hal yang tidak dihalalkan bagi mereka melihatnya (dan memelihara kemaluannya) dari hal-hal yang tidak dihalalkan untuknya (dan janganlah mereka menampakkan) memperlihatkan (perhiasannya, kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya) perhiasan yang tersembunyi, yaitu selain dari wajah dan dua telapak tangan (kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan) terhadap wanita (dari kalangan kaum laki-laki atau anak-anak yang masih belum mengerti) belum memahami (tentang aurat wanita,  Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung”

Dalam QS.Al-Imran : 135-136 Allah juga menyebutkan :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾ أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ﴿١٣٦

135. (Dan juga orang-orang yang apabila mereka berbuat kekejian) artinya dosa yang keji seperti perzinahan (atau menganiaya diri mereka sendiri) artinya melakukan dosa yang lebih ringan dari itu misalnya mencium (mereka ingat kepada Allah) maksudnya ingat akan ancaman-Nya (lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapakah) artinya tidak ada (yang dapat mengampuni dosa itu melainkan Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan mereka itu) menghentikannya sama sekali (sedangkan mereka mengetahui) bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan maksiat adanya. 136. (Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir anak-anak sungai, kekal mereka di dalamnya) menjadi hal artinya ditakdirkan kekal jika mereka beruntung memasukinya (dan itulah sebaik-baiknya pahala bagi orang yang beramal) artinya pahala bagi orang-orang yang mengerjakan perbuatan terpuji ini.

Selain dalam beberapa ayat al-Qur’an diatas, banyak keterangan dalam hadis-hadist Rasulullah SAW yang menerangkan tentang pentingnya Taubat.

Ketauhilah wahai para saudaraku bahwa sesungguhnya Allah itu maha suci dan sesungguhnya DIA amat senang terhadap orang-orang yang mau mensucikan diri. Bila mana Rasulullah SAW senantiasa melakukan taubat tiap harinya, bahkan diterangkan dalam salah satu hadis bahwa Beliau melakukan taubat seratus kali dalam seharinya maka bagaimanakah dengan kita??

Sadarilah bahwa Pintu taubat masih terbuka lebar bagi kita. Sebelum nyawa kita sampai pada kerongkongan dan sebelum matahari terbit dari arah barat. Jangan sampai kita kelak kecewa dan merasa rugi sebab tidak menggunakan kesempatan hidup yang hanya sekali ini sebaik mungkin.

Sungguh beruntung orang-orang yang bertaubat, dimana mereka akan bersih ibarat orang yang tidak mempunyai dosa sedikitpun. Sedang orang yang bertaubatnya hanya sebagai alat mencari pandangan di mata manusia lain maka taubat mereka ibarat mengajak Allah untuk bercanda. Maka tiada yang lebih baik dalam taubat kecuali taubat yang sungguh-sungguh yang dalam istilahnya sering kita kenal sebagai taubat Nasuha. dalam Taubat Nasuha ini ada tiga syarat yang harus dipenuhi yakni : berhenti dari melakukan dosa tersebut, menyesali dan berniat untuk tidak mengulangi dosa tersebut serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh pada dosa itu lagi. Jika hal ini benar-benar kita lakukan maka janji Allah (sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis bahwa DIA akan memberikan sifat lupa kepada malaikat pencatat amal keburukan kita, kepada anggota badan yang kita gunakan untuk maksiyat serta lingkungan sekitar kita yang kelak memang akan menjadi saksi atas keburukan kita) di hari Qiyamat semuanya akan bisa kita rasakan.

Kelak di hari qiyamat Nabi Adam AS sebagai asal-usul manusia akan diperintahkan oleh Allah untuk memimpin dan mengumpulkan manusia yang ahli bertaubat dari qubur mereka untuk selanjutnya Allah akan melihat wajah orang-orang tersebut dengan sifat rahmat kasih sayang-Nya. “HAi Nabi Adam, aku telah mewariskan (memberikan) kepada anak cucumu sifat sulit dan banyak rintangan dalam hidup mereka, dan aku juga telah mewariskan kepada mereka taubat. Barang siapa yang memanggil Aku (berdoa pada-Ku)dengan taubatnya maka aku akan mengampuni mereka sebagaimana aku mengampuni dirimu”. Sedang orang-orang yang ujub (sombong dan tidak mau bertaubat) maka akan dilihat oleh Allah dengan sifat marah-Nya.

Nabi Muhamad pernah mengatakan :

“Hai orang-orang, bertaubatlah kalian kepada Allah sebelum kalian mati. Bersegeralah dalam beramal sholih sebelum kalian sibuk (karena sulitnya sakaratul maut), Sambunglah sillaturrahim dengan Tuhanmu, yakni dengan memperbanyak ingat kepada-Nya, memperbanyak shadakah baik ketika sendirian maupun ketika banyak orang, Bila semua ini engkau lakukan maka engkau akan diberikan rizki, diberi pertolongan serta diampuni dosamu”.

Sesungguhnya Allah amat gembira ketika melihat hamba-Nya yang beriman ketika mereka mau bertaubat, melebihi kegembiraan seorang yang melakukan perjalanan panjang. yakni Ketika orang itu membawa bekal makanan dan minuman di tengah padang pasir yang luas kemudian orang itu tertidur. Ketika orang itu tertidur ternyata ia melihat bekal yang ia bawa hilang sehingga orang itu sibuk mencarinya hingga ia amat kelaparan dan kehausan. Ketika ia sudah sangat lapar dan sangat haus kemudian orang itu terbangun dari tidur panjangnya untuk yang kedua kali dan ia menemukan bekal yang ia rasa hilang tadi ternyata masih berada di sampingnya. Ketahuilah betapa senang orang itu, maka sesungguhnya Allah SWT lebih senang lagi ketika melihat hamba-Nya bertaubat, melebihi senang orang tadi.

oleh karenanya wahai saudaraku, marilah kita segera bertaubat. Perbanyaklah istighfar, maka  akan terpelihara dari perbuatan maksiyat. Janganlah kita meremehkan perbuatan dosa meskipun dosa kecil dan janganlah menunda-nunda taubat , karena kematian itu datang secara tiba-tiba dan tidak mengenal usia. Marilah kita bertaubat dengan sungguh-sungguh jika telah terlanjur berbuaat dosa,dengan menyesali dosa yang pernah diperbuat, berjanji tidak akan mengulangi lagi. Setelah bertaubat kita juga harus meningkatkan amal sholeh dan menjaga diri agar tetap istiqamah dalam mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga kita semua diberikan jalan menuju pintu Taubat-Nya. Amiin yaa robbal alamiin.

Sumber : Kitab Kifayat al-athqiya’ lis sayyid abi bakr Syatho, pembukaan Bab Taubat. hlm. 14-15

ILMU ITU BUKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI PENGETAHUAN, TAPI ILMU ITU UNTUK DIAMALKAN

Berikut adalah petikan ringkasan materi Haul K. Kholil (Pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Selo) Kec. Tawangharjo Kec. Grobogan Jawa Tengah oleh Gus Rojih Maimun (Sarang, Rembang)

Semoga bermanfaat untuk para alumni, para santri, serta para pembaca pada umumnya yang mungkin belum sempat datang dan atau mendengarkan sendiri taushiyah dari beliau Gus Rojih.

(Ammaa Ba’d alhamd was sholatu ‘ala rosulillah)

Para ulama’ salafy sebagaimana Al-Imam Muhasibi dan Al-Imam Junaid itu, selalu berdo’a agar mendapat keberkahan ketika wafatnya serta mendapat keberkahan setelah wafatnya.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِى اْلمَوْتِ وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا بَعْدَ اْلمَوْتِ

Hati mereka selalu behubungan dengan qubur, mereka selalu mengingat kematian dan Mereka, walaupun telah menjadi seorang alim ulama’, namun tetap mau berkumpul dengan orang awam. Sikap yang mereka miliki yakni tidak mau berprasangka buruk pada orang lain serta tidak beryakinan bahwa orang lain lebih jelek dari mereka.

Bisa jadi walau saat ini mereka belum berbuat baik, kelak akan taubat sebelum meninggal. Demikian sebaliknya, belum tentu ketaatan yang dilakukan seseorang bisa bertahan hingga akhir hayat mereka.

Syam adalah salah satu contoh negara paling jelek pada awalnya. Namun dengan sifat Abu Darda’ yang selalu berhusnud dzan dan mempunyai akhlakul karimah, hingga saat ini Negara itu menjadi amat hebat.

Para wali Allah di zaman dahulu akan merasa panas dan merasa tidak enak ketika akan berbuat maksiyat, hal ini dikarenakan mereka benar-benar kuat dalam hal keimanan dan hati nurani mereka yang bersih . Hati mereka tetap mengingat Allah walau mulut dan anggota badan sedang melaksanakan aktifitas keduniaan.

Di daerah damaskus, terdapat masjid yang pernah digunakan Abu Hurairah RA serta Mu’az bin Jabal ternyata dibangun bersebelahan dengan pasar. Namun demikian, konsentrasi dzikir mereka tidak pernah terganggu. Sebab memang hati mereka selalu terpaut dengan Allah walau berapapun besar ganggunganya. Sehingga oleh imam Al-Muhasibi memunculkan istilah :

الخلوة فى الجلوة

Menyepi dalam keramaian.

 

Oleh karenanya, marilah kita meniru do’a mereka semoga kita senantiasa mendapat petunjuk dari Allah SWT, hingga kita mendapat ridlo dari-Nya dunia akherat, bisa meneladani apa yang menjadi kebaikan mereka, Amiin yaa robb….

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيّاً ﴿١٢﴾

012. (Hai Yahya! Ambillah Kitab itu) yakni kitab Taurat (dengan sungguh-sungguh) secara sungguh-sungguh. (Dan Kami berikan kepadanya hikmah) kenabian (selagi ia masih kanak-kanak) sewaktu berumur tiga tahun.

==========

Penjelasan :

Nabi Zakariya adalah seorang yang amat khusyu’. Setelah menjelang masa tua, beliau sadar bahwa kekuatanya mulai berkurang, rambutnya mulai memutih, namun saat itu beliau belum juga mempunyai keturunan. Karena khawatir akan penerusnya, beliau pun berdo’a meminta agar dianugerahi seorang putera. Do’a beliaupun diijabahi oleh Allah dengan lahirnya seorang nabi yang belum ada satupun mampu menyerupainya. Adalah Nabi Yahya yang merupakan salah satu manusia pilihan, seorang Rasul yang amat terkenal mempunyai banyak ilmu hikmah. Yakni, seorang Nabi yang bersungguh-sungguh dalam mempelajari kitab taurat sejak masa kanak-kanaknya serta mengamalkan ajaran Taurat tersebut sesuai perintah Tuhanya. Beliau adalah type seorang ahli dzikir yang suka bergaul dengan siapapin dan tidak egois.

Oleh karenanya, termasuk tanda-tanda bahwa seseorang akan dijadikan kekasih Allah adalah mereka yang sejak kecil telah memiliki semangat untuk mencari ilmu untuk kemudian mau mengamalkan ilmu mereka kepada orang lain. Ilmu yang mereka miliki bisa memberi manfaat kepada orang lain, bukan untuk membodohi atau menyesatkan orang. Hal inilah yang pada akhir-akhirnya kurang diperhatikan. Tidak sedikit orang yang ‘alim ilmu namun ilmu tersebut tidak memberikan manfaat. Memang betul, kita diwajibkan mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya sebagai bekal hidup masa depan. Namun jauh lebih penting daripada itu bahwa ilmu yang kita miliki wajib untuk kita amalkan demi kebaikan diri dan orang lain. Jangan sampai banyak ilmu, tapi hanya untuk digunakan sebagai bahan perdebatan. Sebab hal seperti ini serupa dengan sifat orang-orang yahudi. Mereka lupa bahwa yang memberi ilmu adalah Allah SWT,dzat yang maha berilmu, memberikanya kepada siapapun yang dikehendaki-Nya dan sangat mampu mengambilnya kembali. Ingatlah satu peribahasa bahwa “Belajar Diwaktu Kecil Bagai Mengukir Diatas Batu, Belajar Di Waktu Tua Bagai Mengukir Diatas Air”. Maka perhatikanlah pendidikan anak cucumu, agar engkau diberikan generasi penerus yang bisa diandalkan oleh agamamu. Sesungguhnya manusia paling bahagia adalah mereka yang mempunyai keturunan, dan yang paling beruntung diantara orang yang mempunyai keturunan adalah mereka yang mempunyai anak-anak yang sholih.

Selanjutnya ayat diatas diteruskan dengan lafadz :

وَحَنَاناً مِّن لَّدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيّاً ﴿١٣﴾

013. (Dan rasa belas kasihan yang mendalam) terhadap manusia (dari sisi Kami) dari haribaan Kami (dan zakat) yakni senang bersedekah kepada mereka (Dan ia adalah seorang yang bertakwa) menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa Nabi Yahya tidak pernah melakukan suatu dosa pun, dan hatinya tidak pernah mempunyai keinginan untuk melakukannya.

==========

Sifat yang dimiliki nabi yahya sebagai orang yang punya sifat rahmah(belas kasihan) terhadap orang lain inilah yang nampaknya perlu perlu untuk kita miliki dan juga perlu dimiliki oleh setiap pemimpin kita. Sebab dengan sifat seperti inilah daerah yang kita huni akan menjadi aman, penuh keberkahan. Tanda seorang kekasih Allah selanjutnya adalah mereka mempunyai sifat kasih sayang kepada siapapun, jarang marah, ahli membersihkan diri dari segala bentuk kemaksiyatan serta selalu mengupayakan diri untuk bertaqwa pada Allah SWT kapanpun dan dimanapun berada.

وَبَرّاً بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُن جَبَّاراً عَصِيّاً ﴿١٤﴾

014. (Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya) yaitu selalu berbuat baik kepada keduanya (dan bukanlah ia orang yang sombong) takabur (lagi bukan pula ia orang yang durhaka) terhadap Rabbnya.

==========

Seorang ahli ilmu selalu berbakti kepada orang tua mereka, mendoakan keselamatan mereka walaupun telah meninggal serta menghindarkan diri dari sifat takabur dan durhaka.

Ingatlah bahwa sesungguhnya tiada dosa yang lebih cepat siksanya melebihi dosa durhaka kepada orang tua. Ialah orang yang amat beruntung jika ia diberikan rizqi yang cukup serta diberi keturunan yang ta’at.

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيّاً ﴿١٥﴾

015. (Kesejahteraan) dari Kami (terlimpahkan kepadanya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali) di saat-saat yang mengerikan yakni hari kiamat. Pada hari itu belum pernah ada pemandangan yang sengeri itu, maka Nabi Yahya selamat daripadanya.

==========

Allah mendoakan kesejahteraan bagi nabi yahya ketika hari ia dilahirkan. Inilah yang telah sering dijalankan oleh para ulama’ kita. Sehingga ketika ada seseorang lahir, maka diadakan acara mendoakan mereka, lewat pembacaan al-qur’an, pembacaan maulid, serta do’a-do’a melalui acara-acara lainya.

Allah juga mendo’akan kesejahteraan kepada Nabi yahya ketika hari ia meninggal. Ini juga yang dipraktikan para ulama’ jawa. Sehingga ketika ada seseorang yang meninggal diadakanlah ritual mendo’akan mereka.

Adanya acara 7 hari kematian mengibaratkan bahwa secara umum manusia yang berada dikubur mereka, paling lama jasadnya akan utuh selama 7 hari. Bersamaan dengan rusaknya jasad itu maka para ahli waris memintakan kepada Allah agar tidak dibarengi dengan kemlaratan ruh sebab dimasukan dalam  neraka atau dalam qubur mereka.

Acara 40 hari kematian mengingat bahwa Rasulallah pernah bersabda bahwa antara 2 tiupan (tiupan mematikan dan tiupan membangkitkan) terompet malaikat israfil di hari qiyamat kelak adalah 40. Maka dengan mendo’akan mereka tujuanya adalah agar ruh mereka kelak selamat dari kesusahan di kala itu.

Acara 100 hari kematian adalah pengamalan hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa jumlah rahmat Allah da 100, yang baru turun di dunia ini baru 1 dan 99 lainya akan turun berupa syafaat di hari qiyamat. Adapun do’a tadi merupakan pengharapan agar kelak di hari qiyamat ahli qubur yang dituju bisa memperoleh keseluruhan rahmat Allah tersebut.

Sedang acara 1000 hari kematian adalah menunjukan suatu dalil yang mngatakan bahwa 1 hari di akherat adalah 1000 tahun dalam penghitungan waktu dunia. Maka perlunya do’a ini agar dihari-hari berikutnya si mayyit benar-benar mendapat curahan maghfirah serta rahmat dari Allah SWT.

Akhirnya, semoga kita diberikan hidayah oleh Allah SWT, mampu meneladani sikap serta sifat para Nabiyullah diatas. Amiin yaa robbal Alamiin.

 

 

Selo, 23 September 2012

Mengapa Kita Harus Berpuasa????

Puasa merupakan benteng setiap muslim. Bila kita sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan menghina seseorang, keluar dari ketetapan hukum syara’, jangan melakukan tindakan orang-orang jahil yang berteriak-teriak, menghina atau menyalah-nyalahkan orang lain. Dan apabila kita ada seseorang yang mengajak bertengkar atau berbicara kotor pada kita maka katakanlah dengan lisan dan hati bahwa : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” agar kita ingat bahwa kita sedang menjalankan ibadah. Jangan sampai ibadah kita terganggu oleh bujukan syetan seperti itu.

Berusahalah untuk memakan perkara yang halal ketika berbuka puasa. Sebab tiada berguna orang yang seharian penuh berpuasa namun ia tidak mencegah diri dari memakan perkara haram. Yang dimaksud perkara haram disini ada kalanya memang dari hukum makanan itu sendiri yang telah di nash haram oleh agama dan adakalanya berupa makanan halal yang berubah hukumnya sebab telah melebihi batas. Sesungguhnya hal seperti ini adalah bagaikan orang yang membangun istana kemudian ia robohkan kembali istana tersebut.

Maksud dari berpuasa adalah untuk memecah syahwat dan melemahkan sumber kemaksiyatan, kemudian menumbuhkan sikap takut kepada Allah. Jadi orang yang berlebihan ketika berbuka puasa maka mereka tidak akan mendapat manfaat dari puasanya. Kecuali bagi orang yang memang melakukan pekerjaan berat di waktu siang, atau bagi perempuan yang sedang menyusui anak mereka, maka melebihkan makan sahur sesuai kebutuhan insyaallah tidak berbahaya.

Ingatlah bahwa perut ibarat mesin yang perlu istirahat. Jangan di forsir, sehingga mereka akan mogok kerja dengan sendirinya. Allah telah memperhatikan kapan waktu untuk mengistirahatkan mesih perut ini pada waktu yang telah DIA tentukan. Tiada wadah yang paling dibenci oleh Allah SWT daripada perut yang dipenuhi dengan makanan halal. Ingatlah pula bahwa kebanyakan penyakit disebabkan oleh banyaknya makanan yang kita masukan dalam tubuh. Bila makanan halal saja amat dibenci, maka bagaimanakah hukumnya perut yang penuh dengan makanan haram???

Bilamana tujuan puasa adalah untuk melemahkan syahwat serta membersihkan hati, maka lakukanlah dan perbanyaklah puasa semampu kita. Sesungguhnya puasa merupakan dasar dari setiap ibadah dan kunci untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya setiap perkara itu mempunyai kunci, dan kunci dari ibadah adalah berpuasa” (Al-Hadist)

Sumber : Al-’Alim al-fadhil Al-kamil Syekh Imam Muhamad Nawawi, Maraqiy al-ubudiyyah fi Syarh Bidayatul Hidayah, Al-Jawi. hlm. 60.

 

 

 

ADAB BERPUASA (Puasa Orang-Orang Shalih)

Wahai orang mukallaf, janganlah engkau mengira bahwa puasa adalah hanya menahan perut dan farji (Kemaluan) dari melakukan syahwatnya saja. Tidak hanya menahan makan, minum dan bersenggama saja. Cobalah kita renungi sabda Rasulullah SAW :

“Banyak orang berpuasa namun tiada ia peroleh dari puasanya selain lapar dan dahaga” (Al-Hadist)

Hal ini terjadi tidak lain karena mereka tidak menjaga anggota badan dari apa yang dibenci oleh Allah SWT. Inilah Puasa orang-orang shalih atau orang-orang khusus. Rasulullah SAW juga bersabda :

“Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan bohong, dan mereka melakukanya maka tiadalah hajat bagi Allah SWT untuk meninggalkan makan dan minumnya” (Al-hadist).

Ingatlah bahwa sempurnanya puasa adalah dengan menahan seluruh anggota badan baik teling, mata, lisan, tangan, kaki dan sebagainya dari apa yang dibenci oleh Allah SWT. Menahanya dari bermacam-macam dosa.

1. Menjaga Mata

Wajib bagi kita untuk menjaga mta dari melihat terhadap sesuatu yang makruh (dibenci), yakni melihat sesuatu yang bisa mengalihkan hati kita dari berdzikir kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :

Penglihatan adalah merupakan racun yang dibuat oleh Iblis laknatullah ‘alaih. Barang siapa meninggalkan penglihatan karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla maka ia akan diberikan keimanan dan dapat menemukan manisnya keimanan itu dalam hatinya.

2. Menjaga lisan

Janganlah mengucapkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. yang dimaksud ucapan yang bermanfaat adalah ucapan yang bisa bermuara pada keselamatan kita di hari akherat kelak dan sesuatu yang bisa menghindarkan kita dari sesuatu yang membawa dharurat dalam kehidupan di dunia ini. yakni yang berhubungan dengan makanan, minuman, pakaian penutup aurat, penjagaan terhadap farj (Kemaluan), dan sebagainya. mengucap / mengusahakan sesuatu yang bisa menjaga kesemuanya itu adalah boleh, tapi selebihnya bila berhubungan dengan kelezatan dan kesenangan nafsu adalah haram.

3. Menjaga telinga

Janganlah kita menggunakan telinga ini untuk mencari kesenangan dalam perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Kare orang yang mendengarkan perkara haram merupakan teman dari orang yang mengucapkan perkara haram tersebut. mereka sama-sama berdosa. Jikalau ghibah adalah haram, maka berdiam diri ketika ada orang lain berghibah pun juga haram hukumnya. Seperti itu pula bahwa menjaga seluruh anggota badan dari segala hal yang dibenci syara’ adalah wajib hukumnya.

4. Menjaga perut dan farji dari memenuhi syahwatnya.

Dalam hadist diriwayatkan oleh Jabir, dari anas dari Rasulillah SAW bersabda :

Lima hal yang membatalkan (Secara hakekat / bukan secara syar’i) atas puasa dari orang yang melakukanya adalah berbicara bohong, melakukan ghibah (Gosip), Namimah (mengadu domba), Sumpah palsu dan melihat dengan syahwat atas perkara haram.

“Semoga kita diberikan hidayah Allah SWT untuk ikut meneladani puasa seperti ini, sehingga kita puasa kita lebih berkualitas dari sebelumnya”. Amiin yaa robb….

Al-‘Alim al-fadhil Al-kamil Syekh Imam Muhamad Nawawi, Maraqiy al-ubudiyyah fi Syarh Bidayatul Hidayah, Al-Jawi. hlm. 59-60.

« Older entries