Haul Simbah Matoyyib 2017

Haul Simbah Matoyyib pada Tahun 2017 ini telah diadakan pada Hari Kamis Legi, 08 Muharam 1439 H dengan rangkaian acara :

Takhtiman Al-quran bil ghoib oleh para cucu simbah matoyyib di masjid jami’ Al-Ikhlas pada sehari sebelum acara

Ziarah qubur bersama seluruh keluarga pada kamis pagi

Pengajian umum dalam rangka Haul Simbah Matoyyib dan keluarga pada ba’da dzuhur di hari kamis dengan menghadirkan Mau’idloh Hasanah beliau KH. Ali Mansyur (Dewan Syuro PCNU Kab. Grobogan). Adapan isi ceramah dari beliau antara lain sebagai berikut :

 

– Nikmat yang paling sempurna adalah ketika kelak kita wafat dalam keadaan husnul khotimah, maka mintalah selalu agar semoga kelak Allah SWT mewafatkan kita dalam keadaan terbaik. Membawa Iman dan Islam, Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin
– Peringatan Haul sebagaimana yang saat ini kita laksanakan memuat pesan yang amat penting sebagai pelajaran hidup. Diantara hikmahnya adalah : Dzikrul Maut, Mendo’akan shohibul haul juga ahli qubur kita masing-masing serta mengenang jasa para pendahulu.

Dzikrul Maut

Menurut Syekh Muhammad Al-waffaq disebutkan bahwa : “Barang siapa yang banyak mengingat mati maka ia akan dimuliakan dengan 3 hal yakni : Segera bertaubat, Memiliki hati yang qona’ah dan ahli syukur serta giat dalam beribadah”

Bersegera dalam bertaubat

“Setiap manusia pasti mempunyai salah, sedang sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat.” Namun pada kenyataanya banyak orang bersalah dan tidak bersegera dalam taubatnya sehingga mereka mati dalam keadaan belum taubat “Na’uudzubillah min dzaalik”.
Oleh karenanya perlu kita perbanyak media yang bisa menghantarkan kita menuju pribadi ahli taubat.

Memiliki hati yang qona’ah dan ahli syukur

Umumnya banyak diantara kita dalam urusan duniawi melihat orang yang lebih kaya. Sedang dunia ini adalah hal yang tidak akan pernah bisa memuaskan nafsu ketamakan manusia. Hal ini yang kemudian menggiring manusia untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya yang kemudian harta itu ditinggalkan mati dan tidak sedikit harta mereka yang justeru menjadi fitnah bagi orang-orang setelahnya.
Maka dengan haul kita diingatkan bahwa harta tidak akan pernah kita bawa mati.

Bersungguh-sungguh dalam beribadah

Saat ini mungkin cerita-cerita tentang qubur kalian anggap bak dongeng yang tak nyata, sebab memang demikianlah perumpamaan bahwa orang hidup itu seperti orang tidur. Saat ia bermimpi tak merasakan bahwa mimpi itu sebenarnya hanyalah hayalan belaka. Namun saat kelak kalian mati maka itulah masa kalian bangun dan baru sadar bahwa quburlah yang nyata dan dunia yang kalian dambakan hanya tinggal kenangan belaka.
Maka dengan haul kita diajak untuk merenungi arti kehidupan yang fana ini sebagai persiapan menuju hidup yang kekal abadi di alam barzakh sana.
Banyak sebenarnya hal yang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai pengingat mati bagi kita. Diantaranya :
Ungkapan syiir
Ingatlah bahwa manusia di dunia adalah seperti tamu, dia bertamu pada penghuninya dan berada disisi tamu. Maka perbanyaklah temanmu dalam beramal, sebab teman dari mayyit dalam qubur adalah amal ibadahnya. Andaikan dunia ini bersifat kekal dan diperuntukan bagi manusia, maka harusnya Rasulullah SAW yang seharusnya lebih berhak atasnya. “NAMUN PADA KENYATAANYA??”

Ungkapan keranda sebagaimana keterangan dalam kitab-kitab salaf (contoh di kitab Kasyifatussaja ada)

“Lihatlah kepadaku dengan akalmu, sungguh aku disediakan sebagai tempatmu berpindah. Saya adalah tempat tidur orang-orang yang telah mati, banyak orang yang berjalan bersamaku yang dulunya seperti dirimu”

Cobalah kalian tengok perayaan-perayaan tahun baru saat hijrahnya Nabi Muhammad SAW saat ini diperingati dengan suka tawa, namun mereka yang merayakanya lalai bagaimana mengingat keadaan Nabi saat hijrahnya dimana saat itu orang-orang makah banyak yang menangis sebab saking sedihnya.

Ungkapan si mayyit saat dibawa oleh keranda sebagaimana keterangan dalam kitab-kitab salaf

Wahai kekasihku, wahai saudaraku, wahai anak-anaku. Janganlah dunia membujukmu sebagaimana ia telah membujuku, dan janganlah kalian dipermainkan oleh zaman sebagaimana ia telah mempermainkan diriku. Buatlah i’tibar/pelajaran hidup dimana apa yang telah ku kumpulkan selama hidup tidak banyak yang aku rasakan melainkan kutinggalkan untuk ahli warisku.

2. Mendo’akan shohibul haul juga ahli qubur kita masing-masing

Ingatlah dimana mayyit dialam quburnya adalah seperti orang tenggelam dalam banjir.

Saat anda tenggelam, mau dikasih sebongkah emas dengan sebatang batang pisang, mana yang akan anda pilih?

Maka seperti itulah si mayyit, mereka sudah tidak butuh pangkat derajat/harta bendamu, mereka lebih butuh pada do’amu. Maka jadikan do’a kepada keluargamu hanya sebagai rutinitas tahunan, tapi jadikan do’amu untuk mereka sebagai kebiasaan.

3. Mengenang jasa para pendahulu.

Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh panitia bahwa beliau simbah matoyyib walau memiliki beberapa kekurangan namun ada kebaikan-kebaikan beliau selama hidup. Maka yang buruk dari beliau tinggalkanlah dan yang baik dari beliau lanjutkanlah.

Advertisements

Haul Pangeran Penatas Angin 2017

Sabtu siang ba’da dzuhur para warga se dusun tahunan juga dari warga tetangga sekitar berbondong-bondong menuju lokasi makam pangeran Penatas Angin. Acara Pengajian Umum kali ini diisi mau’idloh hasanah oleh beliau DR. KH. Muhammad In’amuzzahidin Masyhudi, M. Ag dari Penggaron lor, Semarang.


Secara singkat dapat kami sampaikan isi dari ceramah beliau sebagai berikut :
– Tujuan utama haul adalah mengingatkan bahwa kita akan mati
– Haul dalam kajian fiqh berhubungan dengan zakat. Zakat bertujuan membersihkan harta kita agar tidak tercampur dengan yang bukan hak kita. Maka haul juga bertujuan membersihkan, yakni memohon kepada Allah agar shohibul haul, juga para leluhur kita dibersihkan dari dosa-dosa berkah doa dari kita yang masih hidup.
– Beliau Simbah Pangeran Penatas Angin adalah murid Sunan Kalijaga, Yakni salah satu Sunan anggota Walisongo yang pernah mencipta tembang “Turi-turi Putih”. coba kita pelajari makna yang tersirat dalam tembang ini :

1. Turi-turi Putih
ada pitutur berwarna putih, maksudnya mayyit yang dibungkus dengan kain berwarna putih. Ini artinya ketika ada orang meninggal, adalah merupakan salah satu cara Allah untuk mengingatkan/memberi pengingat kepada kita bahwa maut sudah pasti lambat laun akan menghampiri kita. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita yang hidup ini akan bergiliran untuk mati.
“Setiap yang hidup pasti akan mati”
“Allah SWT menggenggam nyawa makhluk saat mereka mati dan makhluk yang belum mati digenggam nyawanya saat mereka tidur”
Maka jangan kau habiskan masa mu untuk tidur, sebab kau akan lebih dekat kepada kematian.
“Allah menciptakan hidup dan mati sebagai ujian”

2. Ditandur ing kebon Agung
Kebon agung maksudnya adalah qubur. bahwa orang mati itu jasadnya ditanam di quburan. Lalu bagaimanakah keadaan kita kelak saat dihantar jasad kita menuju pekuburan?
Menurut Imam Al-Ghazali ada 3 tipe manusia saat mereka diqubur yakni :
a. Ahli Dunia, mereka yang tidak mau mati sebelum menyempurnakan harta duniawinya.
b. At-Taa’ib, Mereka yang belum mau mati sebelum bisa menyempurnakan ibadahnya
c. Al-‘aarif, Mereka yang ingin segera mati agar bisa segera merasakan nikmat yang dijanjikan Allah atas usaha amal ibadahnya.
Dimanakah posisi kita dari ketiga macam tipe tersebut?
Maka sebaik-baik manusia adalah mereka yang panjang usianya juga bagus amal ibadahnya, sebaliknya seburuk-buruk manusia adalah yang panjang usia namun buruk amalnya.

3. Ono cleret tibo nyemplung
Ada manusia yang mati lalu jatuh dalam liang lahatnya bak kilat yang hanya sementara terlihat, lalu mereka tiba-tiba mati.
“Barang siapa kami (Allah) panjangkan usianya maka akan kami kembalikan keadaanya seperti saat ia kecil. Apakah mereka tidak berpikir?”
Saat kecil kita tak punya gigi, dan ketika tua banyak yang giginya hilang alias ompong.
Dulu waktu kita kecil tidak bisa jalan, saat sudah tua juga dituntun seperti saat kecil, Betul?
Dulu waktu kecil kita disuapi, lalu saat tua kembali kita nanti akan disuapi.
Ada yang dulu orang tuanya kaya namun anak-anaknya mlarat, pun sebaliknya ada yang orang tuanya miskin tapi anak-anaknya kaya. Demikian lah dunia, berlalu dengan cepat seperti kilat dan tak terasa dunia segera hilang meninggalkan kita.

4. Mbok kiro kembange opo
Dunia ini isinya ada 2 hal, siang malam, sehat sakit, hidup mati.
Jika anda ingin awet hidup maka lakukan 3 hal berikut :
a. Jadilah orang yang suka berjuang.
Tirulah para wali, tirulah Pangeran Penatas Angin, tirulah pak sukarho hatta, atau para pejuang lainya.
Yang perlu diketahui bahwa berjuang itu tidak harus di depan. Dalam pengajian seperti ini misal, Siapa yang paling penting diantara kita? JAwabanya semuanya penting sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Oleh karenanya mari kita sengkuyung bersama-sama apapun yang menjadi program baik dari para pemimpin kita, niscaya kelak saat kita sudah tiada nama kita akan tetap dikenang minimal diikutkan saat hadlroh tahlil mereka.
b. Cetaklah generasi/keturunan sholih.
Tak cukup hanya kita doakan, perlu langkah nyata juga lewat disekolahkan, dipesantrenkan. Sebab musuh nyata kita saat ini adalah “Kebodohan, Kemiskinan, Narkoba”. Bapak perangkat kalau perlu adakan razia di pojok-pojok kampung, sebab Narkoba saat ini tidak hanya di perkotaan. Ini adalah musuh kita bersama. Musuh yang nyata bukan hanya ilusi/halusinasi. Narkoba, pergaulan bebas, gaya pakaian kebarat-baratan saat ini sudah mulai merebak. Matikan TV pada jam 18-21, gunakan waktu ini agar mereka ngaji, belajar, dan jangan sampai jadi egois sebab pengaruh HP.
c. Jadilah orang yang sering bersedekah
Ada seorang kakek tua di semarang yang awet hidup sekarang tengah berusia -+ 93 tahun. Dulu beliau pernah ikut kakek saya dan kemarin sempat diundang dalam acara di sebuah stasiun TV swasta. Ternyata setelah ditanya tentang resep awet hidupnya beliau gemar bersedekah. Beliau penggagasadanya KFC, bukan Kentucky Fried Chicken tapi Kucing Food Club. (Lihat disini : https://www.youtube.com/watch?v=WnMSy6eTHPs).
Tiap bulan beliau sedekah nasi kucing seharga 400.000,-. Uangnya darimana? Iya nanti ada saja rejekinya. Saat kami tanya doa apa yang biasa beliau baca? Beliau menjawab tiap ba’da dzuhur, ba’da maghrib dan ba’da subuh baca doa ini 7 kali :
“Laqod jaa akum rosuulum min angfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariisun ‘alaikum bil mukminiina rouufur rohiim. fain tawallau faqul hasbiyalloohu laa ilaaha illaa huwa ‘alaihi tawakkaltu fahuwa robbul ‘arsyil ‘adhiim. Innallooha wa malaaikatahuuu yusholluuna ‘alan-Nabiy Yaa ayyuhalladziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuuu tasliimaa”
Semoga apa yang disampaikan beliau bermanfaat dan berkah dari Pangeran Penatas Angin dapat dirasakan oleh warga dusun tahunan khususnya dan seluruh NKRI pada umumnya. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin.

Lihat file pengajianya :

 

PEMBELAJARAN DALAM SYARH HIKAM : KETIKA KITA DIPUJI

Orang-orang bisa jadi memuji kita sebab suatu kelebihan yg ada pada diri kita. Namun janganlah kita larut dengan berbangga diri lantas lupa pada hakekat pujian tersebut. Mereka memuji sebab Alloh SWT yang menampakan kebaikan kita di mata mereka sehingga mereka mengira kita sebagai orang yg mulia. Sedang dibalik itu diri kita mengetahui bagaimana sebenarnya diri kita ini. Bukankah amat banyak kekurangan dan perbuatan buruk yg kita sembunyikan??
Maka saat orang lain memuji kita, seharusnya kita lebih fokus pada kekurangan diri dan jangan terbuai oleh pujian orang tersebut. Bukan berarti kita harus melarang mereka memuji kita, tp kita yang harus menjaga hati ini.
Kecuali jika pujian tersebut sudah terlewat batas dan atau justeru pujian yang mendorong kita untuk lalai maka cegahlah mereka memuji kita.
Rosulullah SAW menyuruh kita melarang orang yg keterlaluan dlm memuji kita bahkan jika harus menggunakan abu utk ditebarkan di wajah para pemuja kita itu, sebab hakekatnya saat kita dipuji (dgn pujian yg terlalu berlebihan) sama artinya mereka meletakan pedang pada leher kita/siap memotong leher tersebut.
Lebih baik kita mencela diri atas kekurangan yg ada daripada berbangga atas kelebihan yg hakekatnya bukan milik kita.
Ingatlah makna kalimat :
Alhamdu utawi sekabehane puji iku lillahi kagungane Gusti Alloh.

Mukmin sejati itu ketika dipuji maka ia malu pada Alloh. ia malu sebab dipuji atas sesuatu yg tidak dimilikinya. ia tidak terpengaruh pujian tsb kecuali semakin sungguh* untuk melihat dan mensyukuri anugerah Alloh kepadanya. sikap syukur seperti inilah yg menjadikan dirinya mendapatkan tambahan nikmat serta terselamatkan dari terbuai atas pujian.
Sedang sebodoh*nya manusia adalah mereka yg meninggalkan sesuatu yg nyata/yakin ada pada dirinya yakni keburukan* sifat serta keteledoranya atas hak* Tuhanya. yakni karena lebih mengejar apa yg tdk yakin (persangkaan baik dari orang lain).
Sebagian ‘arifiin berkata : Perumpamaan orang seperti itu adalah mereka yg percaya dan gembira atas ucapan orang yg datang sambil tersenyum dan berkata kepadanya bahwa : “t4h1 yg keluar dari perutmu baunya lebih wangi lho dari minyak misik”. sedang kita tahu bahwa kemaksiatan kita lebih busuk dan kotor daripada kotoran yg keluar dr perut.
Ketika Alloh telah membuka mulut orang lain sehingga mereka memuji kita sedang pada kenyataanya kita tidak berhak sama sekali atas pujian itu, sebab Alloh SWT dengan fadhol/keutamaanNya lebih memilih untuk menampakan kelebihan drpd kekurangan kita maka pujilah DIA yang lebih berhak atas pujian tersebut sebagai wujud dari rasa syukurmu kepadaNya.

Ringkasan materi Tarjamah syarh hikam oleh Syekh Abdulloh As Syarqowi, hlm. 268-273

Beruntung atau rugikah kita pasca Ramadhan??

Bulan Ramadhan telah berlalu, bukan berarti kemudian kita boleh mengulangi kembali kesalahan yang pernah kita lakukan sebelum Ramadhan. Sebab hakekat puasa ramadhan adalah untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqoroh : 183)

tujuan puasa agar kita bertakwa

Artinya, mereka yang tiada bertambah ketaqwaan setelah menjalankan puasa dan berbagai bentuk amal ibadah di Bulan Ramadhan, maka puasa mereka tidak ada faedahnya, na’uudzubillah min dzaalik.  Ingatlah bahwa Allah SWT telah memberikan kita banyak modal dalam kehidupan ini. Allah telah memberikan kita mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, kesehatan, kesempatan waktu, keimanan serta banyak sekali modal lain yang tiada terhitung nilainya. Tiada terasa, kita sadari ataupun tidak telah banyakmodal tersebut yang telah kita sia-siakan untuk hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia dan akherat bahkan sering kita gunakan untuk mengingkari Allah SWT.

Ibarat kata seorang pedagang yang telah mempunyai banyak modal, maka bila hasil dari perdagangan masih sama dengan jumlah modal, tentu orang tersebut telah merugi. Rugi tenaga, rugi waktu dan rugi segalanya. Apalagi jika ternyata hasil perdagangan lebih sedikit dari modal yang telah dikeluarkan, tentu pedagang tersebut telah celaka. Demikian pula dengan kesempatan yang Allah berikan kepada kita semua. Rizki yang Allah karuniakan kepada kita bukan untuk dipakai berlarut-larut dalam kemewahan dan keindahan keduniaan hingga melalaikan tugas utama kehidupan kita ke dunia ini yakni untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi tiap individu untuk senantiasa memperbaiki diri mereka agar selalu bertambah kebaikan di tiap pertambahan usia mereka.

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.

“Barang siapa hari ini LEBIH BAIK dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang BERUNTUNG, Barang siapa yang hari ini SAMA DENGAN hari kemarin dialah tergolong orang yang MERUGI dan Barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari hari kemarin dialah tergolong orang yang CELAKA”

Ingatlah wahai saudaraku, baju yang aslinya baru tentu akan menjadi rusak di kemudian hari. Demikian pula seiring dengan bertambahnya usia kita mata yang dulunya bisa pakai dengan sigap, sedikit demi sedikit akan berkurang fungsinya. Tubuh yang tegap nan kuat akan semakin melemah. Kulit yang segar dan halus, lama kelamaan akan berkerut dan timbul keriput, wajah yang rupawan tidak akan selamanya kita miliki. seluruh keistimewaan yang pernah kita punyai saat ini atau di masa lampau, tentu akan semakin berkurang dan muaranya pada satu titik yang disebut dengan kematian. Sungguh tak ada yang abadi di dunia ini. Hanya mereka yang senantiasa bersama Allah SWT yang akan beruntung. Ingatlah bahwa kehidupan di akherat lebih baik dan harus lebih kita utamakan dari pada kehidupan dunia? Sebab disana kelak kita akan hidup selamanya. Kehidupan disana pun ditentukan oleh bagaimana sikap kita dalam menggunakan kehidupan di dunia saat ini. Jika yang kita tanam kebaikan maka tentu kelak kita akan panen kebaikan pula, demikian pula sebaliknya jika kita menanam keburukan tentu hasilnya akan lebih buruk dari yang kita sangka.

Oleh karenanya wahai saudaraku, marilah kita senantiasa berusaha meneruskan kebaikan yang telah kita laksanakan di bulan Ramadhan kemarin serta senantiasa meminta kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT berkenan menolong kita untuk selalu menjalankan ketaatan kepada-NYA. Semoga Allah SWT juga menolong kita dari setiap keburukan yang akan menimpa pada diri kita.

لا حول ولا قوة إلا باللہ العلي العظيم 

tidak ada daya untuk melakukan suatu ketaatan dan tiada upaya untuk menghindari kemaksiatan kecuali dengan pertolongan Allah

Beruntung atau rugikah kita berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini ?? hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya. Tergantung dari bagaimana tingkat ketakwaan kita kepada Allah SWT. Semakin banyak kita menjalankan perintah serta menjuhi larangan Allah SWT pasca Ramadhan ini maka semakin meningkat pula derajat ketakwaan kita disisi Allah SWT. Semakin kita bertaqwa maka semakin beruntunglah kita. Hadaanalloohu wa iyyaakum jamii’an. Demikian sebaliknya jika Ramadhan yang telah kita lalui tidak ada bedanya sama sekali atau bahkan ketakwaan kita makin menurun dibanding dengan sebelum Ramadhan, maka tentu kita termasuk orang yang merugi bahkan celaka. Na’uudzubillah min dzaalik.

do'a berpisah dengan ramadhan

“Allahumma yaa Allah…. janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa terakhir untuk hidupku, Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan yang hampa semata. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin 😥 “

Mari berlomba-lomba mempertahankan kebaikan

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿١٤٨﴾

148. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-baqoroh : 148)

Teks Maulid Al-barzanjy dan terjemahnya

 

مَحَلُّ اْلقِيَامِ

ﻳَﺎﻧَﺒِﻲْﺳَﻼَﻡٌﻋَﻠَﻴْﻚَ           ﻳَﺎﺭَﺳُﻮْﻝﺳَﻼَﻡٌﻋَﻠَﻴْﻚَ                   ﻳَﺎﺣَﺒِﻴْﺐْﺳَﻼَﻡْﻋَﻠَﻴْﻚَ         ﺻَﻠَﻮَﺍﺕُاللهِﻋَﻠَﻴْﻚَ

ﺃَﺷْﺮَﻕَﺍْﻟﺒَﺪْﺭُﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ            ﻓَﺎﺧْﺘَﻔَﺖْﻣِﻨْﻪُﺍْﻟﺒُﺪُﻭْﺭُ                    ﻣِﺜْﻞَﺣُﺴْﻨِﻚْﻣَﺎﺭَﺃَﻳْﻨَﺎ           ﻗَﻂُّﻳَﺎﻭَﺟْﻪَﺍﻟﺴُّﺮُﻭْﺭِ

ﺃَﻧْﺖَﺷَﻤْﺲٌﺃَﻧْﺖَﺑَﺪْﺭٌ         ﺃَﻧْﺖَﻧُﻮْﺭٌﻓَﻮْﻕَﻧُﻮْﺭِ                      ﺃَﻧْﺖَﺇِﮐْﺴِﻴْﺮٌﻭَﻏَﺎﻟِﻲْ                    ﺃَﻧْﺖَﻣِﺼْﺒﺎَﺡُﺍﻟﺼُّﺪُﻭْﺭِ

ﻳَﺎﺣَﺒِﻴْﺒِﯽْﻳَﺎﻣُﺤَﻤّﺪْ            ﻳَﺎﻋَﺮُﻭْﺱَﺍْﻟﺨَﺎﻓِﻘَﻴْﻦِ                     ﻳَﺎﻣُﺆَﻳَّﺪْﻳَﺎﻣُﻤَﺠّﺪْ              ﻳَﺎﺇِﻣَﺎﻡَﺍْﻟﻘِﺒْﻠَﺘَﻴْﻦِ

ﻣَﻦﺭَﺃَﯼﻭَﺟْﻬَﻚَﻳَﺴْﻌَﺪُ        ﻳَﺎكَرِﻳْﻢَﺍْﻟﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ                       ﺣَﻮْﺿُﻚَﺍﻟﺼّﺎَﻓِﯽﺍْﻟﻤُﺒَﺮّﺩْ      ﻭِﺭْﺩُﻧَﺎﻳَﻮْﻡَﺍﻟّﻨُﺸُﻮْﺭِ

ﻋِﻨْﺪَﻣَﺎﺷَﺪّﻭُﺍْﺍْﻟﻤَﺤَﺎﻣِﻞْ        ﻭَﺗَﻨَﺎﺩَﻭْﺍﻟِﻠّﺮَﺣِﻴْﻞِ                        ﺟِﺌْﺘُﻬُﻢْﻭَﺍﻟّﺪَﻣْﻊُﺳَﺂﺋِﻞْ         ﻗُﻠْﺖُﻗِﻒْﻟِﯽْﻳَﺎﺩَﻟِﻴْﻞُ

ﻭَﺗَﺤَﻤَّﻞْﻟِﻲْﺭَﺳَﺂﺋِﻞْ           ﺃَﻳُّﻬَﺎﺍﻟّﺸَﻮْﻕُﺍْﻟﺠَﺰِﻳْﻞُ                     ﻧَﺤْﻮَﻫَﺎﺗِﻴْﻚَﺍْﻟﻤَﻨَﺎﺯِﻝْ          ﻓِﯽﺍْﻟﻌَﺸِﻲِّﻭَﺍْﻟﺒُﮑُﻮْﺭِ

ﻋَﺒْﺪُﻙَﺍْﻟﻤِﺴْﮑِﻴْﻦُﻳَﺮْﺟُﻮْ       ﻓَﻀْﻠَﻚَﺍْﻟﺠَﻢَّﺍْﻟﻐَﻔِﻴْﺮُ                     ﻓِﻴْﻚَﻗَﺪْﺃَﺣْﺴَﻨْﺖُﻇَﻨِّﻲْ        ﻳَﺎﺑَﺸِﻴْﺮُﻳَﺎﻧَﺬِﻳْﺮُ

ﻓَﺄَﻏِﺜْﻨِﻲْﻭَﺃَﺟِﺮْﻧِﻲْ             ﻳَﺎﻣُﺠِﻴْﺮُﻣِﻦْسَعِيْرِ                        ﻳَﺎﻏَﻴَﺎﺛِﻲْﻳَﺎﻣَﻼَﺫِﻱْ            ﻓِﻲْمُلِمَّاﺕِﺍْﻷُﻣُﻮْﺭِ
ﻳَﺎﻭَﻟِﻲَﺍْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ             ﻳَﺎﺭَﻓِﻴْﻊَﺍﻟﺪَّﺭَﺟَﺎﺕِ                       كَفِّرْﻋَﻨِّﻲَِﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏَ            ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻋَﻨِّﻲﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ

ﺃَﻧْﺖَﻏَﻔَّﺎﺭُﺍْﻟﺨَﻄَﺎﻳَﺎ           ﻭَﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏِﺍْﻟﻤُﻮْﺑِﻘَﺎﺕِ                   ﺃَﻧْﺖَﺳَﺘَّﺎﺭُﺍْﻟﻤَﺴَﺎﻭِﻱْ         ﻭَﻣُﻘِﻴْﻞُﺍْﻟﻌَﺜَﺮَﺍﺕِ

ﻋَﺎﻟِﻢُﺍﻟﺴِّﺮِّﻭَﺃَﺧْﻔَﯽ           ﻣُﺴْﺘَﺠِﻴْﺐُﺍﻟﺪَّﻋَﻮَﺍﺕِ                   ﺭَﺏِّﻓَﺎﺭْﺣَﻤْﻨَﺎﺟَﻤِﻴْﻌَﺎ          ﺑِﺠَﻤِﻴْﻊِﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ

وَصَلَاةُاللهِ تَغْشَا             عَدَّتَحْرِيْرِالسُّطُوْرِ                        أَحْمَدَاْلهَادِی مُحَمَّدْ           صَاحِبِ اْلوَجْهِ اْلُمنِيْرِ


مولد البرزنجي

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَي مُحَمَّدْ               يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

يَا رَبِّ بَلِّغْهُ الْوَسِيْلَةْ                  يَا رَبِّ خُصَّهُ بِالْفَضِيْلَةْ

يَا رَبِّ وَارْضَ عَنِ الصَّحَابَةْ           يَا رَبِّ وَارْضَ عَنِ السُّلَالَةْ

يَا رَبِّ وَارْضَ عَنِ الْمَشَاِيخْ           يَا رَبِّ وَارْحَمْ وَالِدِيْنَا

يَا رَبِّ وَارْحَمْنَا جَمِيْعًا                  يَا رَبِ ّوَاْرْحَمْ كُلَّ مُسْلِمْ

يَا رَبِّ وَاغْفِرْ لِكُلِّ مُذْنِبْ            يَارَبِّ لَا تَقْطَعْ رَجَانَا

يَا رَبِّ يَاسَامِعْ دُعَانَا                  يَارَبِّ بَلِّغْنَا نَزُوْرُهْ

يَا رَبِّ تَغْشَانَا بِنُوْرِهْ                   يَا رَبِّ حِفْظَانَكْ وَأَمَانَكْ

يَا رَبِّ وَاسْكِنَّا جِنَانَكْ                يَا رَبِّ أَجِرْنَا مِنْ عَذَابِكْ

يَا رَبِّ وَارْزُقْنَا الشَّهَادَةْ                يَا رَبِّ حُطْنَا بِالسَّعَادَةْ

يَا رَبِّ وَاصْلِحْ كُلَّ مُصْلِحْ             يَا رَبِّ وَاكْفِ كُلَّ مُؤْذِيْ

يَا رَبِّ نَخْتِمْ بِالْمُشَفَّعْ                 يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ * إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَي النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا *

 

 


الجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا سَعْدً لِمَنْ يُصَلِّيْ وَيُسَلِّمُ وَيُبَاِركُ عَلَيْهِ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

أَبْتَدِئُ اْلإِمْلاَءَ بِاسْمِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةْ * مُسْتَدِرًّا فَيْضَ الْبَرَكَاتِ عَلَى مَا أَنَالَهُ وَأَوْلاَهْ * وَأُثَنِّيْ بِحَمْدٍ مَوَارِدُهُ سَائِغَةٌ هَنِيَّةْ * مُمْتَطِيًا مِنَ الشُّكْرِ الْجَمِيْلِ مَطَايَاهْ * وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ الْمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَاْلأَوَّلِيَّةْ * اَلْمُتَنَقِّلِ فِي الْغُرَرِ الْكَرِيْمَةِ وَالْجِبَاهْ * وَأَسْتَمْنِحُ اللهَ تَعَالَى رِضْوَانًا يَخُصُّ الْعِتْرَةَ الطَّاهِرَةَ النَّبَوِيَّةْ * وَيَعُمُّ الصَّحَابَةَ وَاْلأَتْبَاعَ وَمَنْ وَالاَهْ * وَأَسْتَجْدِيْهِ هِدَايَةً لِسُلُوْكِ السُّبُلِ الْوَاضِحَةِ الْجَلِيَّةْ * وَحِفْظًا مِنَ الْغَوَايَةِ فِيْ خِطَطِ الْخَطَاءِ وَخُطَاهْ * وَأَنْشُرُ مِنْ قِصَّةِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ بُرُوْدًا حِسَانًا عَبْقَرِيَّةْ * نَاظِمًا مِنَ النَّسَبِ الشَّرِيْفِ عِقْدًا تُحَلَّى الْمَسَامِعُ بِحُلاَهْ * وَأَسْتَعِيْنُ بِحَوْلِ اللهِ تَعَالَى وَقُوَّتِهِ الْقَوِيَّةْ * فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Aku memulai membacakan ( kitab ini ) dengan menyebut Nama Dzat Tuhan yang Maha Tinggi, seraya memohon derasnya luapan berkah atas apa yang telah di berikan oleh- Nya. Dan keduanya, aku panjatkan puji yang muara airnya enak nan segar, sambil menaiki kendaran syukur yang indah. Dan aku panjatkan sholawat dan salam kepada Cahaya ( Nabi SAW ) yang mendahului makhluk lain, yang berpindah – pindah di dahi yang indah dan cerah. Dan aku memohon pemberian Alloh SWT berupa keridloan yang husus untuk para keluarga Nabi SAW yang suci, dan merata untuk para Shohabat, pengikut, dan orang- orang yang menolongnya. Dan aku minta petunjuk- Nya agar bisa melewati jalan yang jelas dan agar di jaga dari kesesatan di dalam garis- garis dan langkah kesalahan. Dan aku sebar luaskan baju keindahan berupa kisah Maulid ( kelahiran Nabi SAW ) dengan bahasa arab, seraya menata kalung berupa nasab beliau yang mulya yang sekira menghiasi pendengaran. Dan aku minta tolong dengan kekuatan Alloh Ta’ala yang sangat kuat, karena tiada daya dan upaya selain dengan Alloh SWT.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَ بَعْدُ * فَأَقُوْلُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةْ * إِبْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرٌو بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيْرَةُ الَّذِيْ يَنْتَمِي اْلإِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهْ * إِبْنِ قُصَيٍّ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصَيٍّ لِتَقَاصِيْهِ فِيْ بِلاَدِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةْ * إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى حِمَاهْ * إبْنِ كِلاَبٍ وَاسْمُهُ حَكِيْمُ ابْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ قُرَيْشٌ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةْ * وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيٌّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيْرُ وَارْتَضَاهْ * إِبْنِ مَالِكِ ابْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةْ * وَسُمِعَ فِيْ صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى وَلَبَّاهْ * إِبْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ وَهٰذَا سِلْكٌ نَظَّمَتْ فَرَائِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةْ * وَرَفْعُهُ إِلَى الْخَلِيْلِ إِبْرَاهِيْمَ أَمْسَكَ عَنْهُ الشَّارِعُ وَأَبَاهْ * وَعَدْنَانُ بِلاَ رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةْ * إِلَى الذَّبِيْحِ إِسْمَاعِيْلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَمَاهْ * فَأَعْظِمْ بِهِ مِنْ عِقْدٍ تَأَلَّقَتْ كَوَاكِبُهُ الدُّرِّيَّةْ *  وَكَيْفَ لاَ وَالسَّيِّدُ اْلأَكْرَمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسِطَتُهُ الْمُنْتَقَاهْ *

نَسَبٌ تَحْسَبُ الْعُلاَ بِحَلاَهْ          قَلَّدَتْهَا نُجُوْمَهَا الْجَوْزَاءُ

حَـبَّذَا عِقْدُ سُؤْدَدٍ وَفَخَارٍ            أَنْتَ فِيْهِ الْيَتِيْمَةُ الْعَصْمَاءُ

وَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ نَسَبٍ طَهَّرَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةْ *  أَوْرَدَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِيُّ وَارِدَهُ فِيْ مَوْرِدِهِ الْهَنِيِّ وَرَوَاهْ*

حَفِظَ اْلإِلـٰهُ كَرَامَةً لِمُحَـمَّدِ                     آبَاءَهُ اْلأَمْجَادَ صَوْنًا ِلاسْمِهِ

تَرَكُوا السِّفَاحَ فَلَمْ يُصِبْهُمْ عَارُهُ    مِنْ آدَمٍ وَإِلَى أَبِيْهِ وَأُمِّــهِ

سَرَاةٌ سَرَى نُوْرُ النُّبُوَّةِ فِيْ أَسَارِيْرِ غُرَرِهِمُ الْبَهِيَّةْ * وَبَدَرَ بَدْرُهُ فِيْ جَبِيْنِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَابْنِهِ عَبْدِ اللهْ *

Setelah itu semua, Dia adalah Sayyiduna Muhammad putra Abdulloh putra Abdul Muttholib yang nama beliau adalah Syaibatul hamd yang di puji kelakuan- kelakuan beliau yang amat luhur. Beliau putra Hasyim yang nama aslinya adalah ‘Amr, putr ‘Abdi Manaf, beliau bernama Mughiroh yang amat tinggi perangainya. Putra Qushoy yang nama aslinya adalah Mujammi’. Beliau mendapat julukan Qushoyy ( jauh ) di sebabkan kejauhan beliau di negeri Qudlo’ah yang amat jauh, sampai ahirnya beliau di kembalikan oleh Alloh SWT ke tanah Harom hingga beliau menjaga tanahnya yang dipagar.  Beliau putra Kilab yang nama aslinya adalah Hakim, putra Murroh, putra Ka’b putra Luayy putra Gholib putra Fihr yang nama aslinya adalah Quroisy dan kepadanya–lah suku- suku Quroisy di nisbahkan. Sedangkan bangsa yang di nisbahkan di atas beliau di sebut bangsa Kinany, sebagaimana pendapat yang di pilih dan di restui oleh kebanyakan para Ulama’. Putra Malik putra Nadlr putra Khuzaimah putra Mudrikah putra Ilyas, orang yang pertama kali menghadiahkan onta untuk tanah harom dan di tulang rusuknya terdengar Nabi SAW berdzikir dan membaca talbiyah. Beliau adalah putra Mudlor putra Nizar putra Ma’add putra ‘Adnan.

Ini semua adalah kalung yang intan- intannya di tata oleh jemari Sunnah yang luhur. Selanjutnya, nasab ini tidak di perkenankan untuk di tinggikan lagi oleh Nabi SAW. Namun yang jelas, ‘Adnan berintisab sampai ke Nabi Isma’il Adzzabih menurut para ahli di bidang nasab. Sungguh.. sangat mena’jubkan keagungan ( nasab yang mirip ) kalung yang berkilau bintang- bintangnya yang bersinar ! !. Bagaimana      tidak ?, toh yang berada di tengahnya adalah Sayyid yang sangat mulya !.

Itulah nasab (keturunan ) yang oleh sebab perhiasannya ,

di sangka oleh keluhuran

bahwa bintang- bintangnya di kalungi oleh bintang Jauza’.

Sungguh menyenangkan kalung kebesaran dan keagungan yang mana

engkau- lah kalung itu yang tiada duanya.

Sungguh mena’jubkan mulyanya nasab yang di sucikan oleh Alloh SWT dari perzinahan jahiliyah. Azzain Al’iroqy telah mengajak penimbanya ( datang ) di tempat airnya yang enak dan ( maksudnya ) telah meriwatkannya.

Tuhan telah menjaga – demi memulyakan Nabi Muhammad SAW-

bapak- bapaknya yang mulya, demi menjaga namanya.

Mereka tinggalkan perzinahan,

hingga tiada terhampiri oleh aibnya zina,

mulai dari Nabi Adam sampai ayah  dan ibunya.

Mereka adalah para orang mulya yang cahaya kenabian beredar di dalam garis- garis dahi yang bersinar, dan sang purnama terbit di kening neneknya, yaitu ‘Abdil Muttholib dan putranya, yaitu ‘Abdillah.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَلَمَّا أَرَادَ اللهُ تَعَالَي إِبْرَازَ حَقِيْقَتِهِ الْمُحَمَّدِيَّةْ * وَإِظْهَارَهُ جِسْمًا وَرُوْحًا بِصُوْرَتِهِ وَمَعْنَاهْ * نَقَلَهُ إِلَي مَقَرِّهِ مِنْ صَدَفَةِ آمِنَةَ الزُّهْرِيَّةْ * وَخَصَّهَا الْقَرِيْبُ الْمُجِيْبُ بِأَنْ تَكُوْنَ أُمًّا لِمُصْطَفَاهْ * وَنُوْدِيَ فِي السَّمَوَتِ وَالْأَرْضِ بِحَمْلِهَا لِأَنْوَارِهِ الذَّاتِيَّةْ * وَصَبَا كُلُّ صَبٍّ لِهُبُوْبِ نَسِيْمِ صَبَاهْ * وَكُسِيَتِ الْأَرْضُ بَعْدَ طُوْلِ جَدْبِهَا مِنَ النَّبَاتِ حُلَلًا سُنْدُسِيَّةْ * وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ وَأَدْنَى الشَّجَرُ لِلْجَانِي جَنَاهْ * وَنَطَقَتْ بِحَمْلِهِ كُلُّ دَابَّةٍ لِقُرَيْشٍ بِفِصَاحِ الْأَلْسُنِ الْعَرَبِيَّةْ * وَخَرَّتِ الْاَسِرَّةُ وَالْأَصْنَامُ عَلَي الْوُجُوْهِ وَالْأَفْوَاهْ * وَتَبَاشَرَتْ وُحُوْشُ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ وَدَوَابُّهَا الْبَحْرِيَّةْ * وَاحْتَسَتِ الْعَوَالِمُ مِنَ السُّرُوْرِ كَأْسَ حُمَيَّاهْ * وَبُشِّرَتِ الْجِنُّ بِإِظْلَالِ زَمَنِهِ وَانْتَهَكَتِ الْكَهَانَةُ وَرَهِبَتِ الرَّهْبَانِيَّةْ * وَلَهِجَ بِخَبَرِهِ كُلُّ حِبْرٍ خَبِيْرٍ وَفِيْ حُلَي حُسْنِهِ تَاهْ * وَأُتِيَتْ أُمُّهُ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهَا إِنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ الْعَالَمِيْنَ وَخَيْرِ الْبَرِيَّةْ * وَسَمِّيْهِ إِذَا وَضَعْتِهِ مُحَمَّدًا لِأَنَّهُ سَتُحْمَدُ عُقْبَاهْ

Setelah kehendak Alloh SWT memunculkan hakikat Nabi Muhammad SAW dan menjelmakannya secara jasmany dan ruhany, maka Dia meminahkannya ke tempat persinggahan-nya, yaitu kandungan Sayyidah Aminah Azzuhriyah yang mirip dengan penyimpanan mutiara. Memang, ia di sepesialkan oleh- Nya menjadi ibu Nabi Mushthofa. Di langit dan di bumi di umumkan bahwa S. Aminah menandung Nabi Muhammad yang bercahaya. Bagi setiap orang yang merindukan tambah merindukannya agar bias menghirup udara segarnya. Bumi yang telah lama gersang menjadi terhiasi oleh tumbuh- tumbuhan yang mirip dengan pkian sundus. Buah- buahan menjadi matang dan pepohonan mengayunkan buahnya pada orang yang ingin memetiknya. Setiap binatang yang di miliki suku Quroisy dengan jelas menyuarakan di kandung-nya Nabi SAW. Kursi- kursi kerajaan dan berhala- berhala terjugkal di wajah dan mulutnya. Binatang- binatang liar di timur dan barat dan yang berada di lau ikut bergembira. Seluruh alam ikut meneguk gelas- gelas kegembiraan. Para jin di hibur dengan dekatnya kelahiran Nabi SAW, ramalan- ramalan tukang ramal menjadi tidak tepat, kependetaan menjadi ketakutan. Setiap orang pintar dan tahu rindu dengan kabar ini, dan mereka di buat bingung dengan keindahan beliau. Di saat sedang tidur, ibu Aminah di datangi seseorang dan di katakan padanya, “Sungguh, engkau sedang mengandung pemimpin seluruh jagad dan orang terbaik dari mereka. Maka jika engkau sudah melairkan- nya, maka berilah nama ‘Muhammad’ ( orang yang banyak di puji ), karena pada akhirnya akan banyak di puji.”

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ شَهْرَانِ عَلَى مَشْهُوْرِ الْاَقْوَالِ الْمَرْضِيَّةْ * تُوُفِّيَ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ أَبُوْهُ عَبْدُ اللهْ * وَكَانَ قَدِ اجْتَازَ بِأَخْوَالِهِ بَنِيْ عَدِيٍّ مِنَ الطَّائِفَةِ النَّجَّارِيَّةْ * وَمَكَثَ فِيْهِمْ شَهْرًا سَقِيْمًا يُعَانُوْنَ سُقْمَهُ وَشَكْوَاهْ * وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ عَلَي الرَّاجِحِ تِسْعَةُ أَشْهُرٍ قَمَرِيَّةْ * وَآنَ لِلزَّمَانِ أَنْ يَنْجَلِيَ عَنْهُ صَدَاهْ * حَضَرَ أُمَّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ آسِيَةُ وَمَرْيَمُ فِيْ نِسْوَةٍ مِنَ الْحَظِيْرَةِ الْقُدْسِيَّةْ * وَأَخَذَهَا الْمَخَاضُ فَوَلَدَتْهُ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُوْرًا يَتَلَأْلَأُ سَنَاهْ *

وَمُحَيًّا كَالشَّمْسِ مِنْكَ مُضِئْ ُ* أَسْفَرَتْ عَنْهُ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ

لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ الَّذِيْ كَانَ لِلدِّيـْ*ـنِ سُرُوْرٌ بِيَوْمِهِ وَازْدِهَاءُ

يَوْمَ نَالَتْ بِوَضْعِهِ ابْنَةُ وَهْبِ * مِنْ فَخَارٍ مَا لَمْ تَنَلْهُ النِّسَاءُ

وَأَتَتْ قَوْمَهَا بِأَفْضَلَ مِمَّا * حَمَلَتْ قَبْلُ مَرْيَمُ الْعَذْرَاءُ

مَوْلِدٌ كَانَ مِنْهُ فِيْ طَالِعِ الْكُفْـ*ـرِ وَبَالٌ عَلَيْهِمُ وَوَبَاءُ

وَتَوَالَتْ بُشْرَي الْهَوَاتِفِ أَنْ قَدْ * وُلِدَ الْمُصْطَفَي وَحَقَّ الْهَنَاءُ

هَذَا، وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقِيَامَ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ أَئِمَّةٌ ذَوُوْ رِوَايَةٍ وَرَوِيَّةْ * فَطُوْبَي ِلمَنْ كَانَ تَعْظِيْمُهُ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَايَةَ مَرَامِهِ وَمَرْمَاهْ *

Setelah beliau genap di kandung selama dua bulan menurut qoul masuhur yang di ridloi, di Almadinah Almunawwaroh abah beliau ( S. ‘Abdulloh ) di panggil pulang oleh Alloh SWT. Sebelum itu, beliau mampir lewat di paman- paman- nya, yaitu Bani ‘Ady ( suku kecil Bani Najjar ). Beliau berada di tengah- tengah mereka selama satu bulan dalam keadaan sakit dan di rawat oleh mereka. Dan setelah genap sembilan bulan qomariyyah menurut qoul yang rojih, dan sudah saatnya zaman bersih dari karat, maka di malam kelahirannya ibunya di datangi oleh Asiyah ( istri ‘Fir’aun ) dan S. Maryam bersama rombongan para wanita yang suci. Dan ahirnya Ibu Aminah bersalin dan melahirkan- nya dalam keadaan bercahaya yang sangat bersinar dari atasnya.

Wajahmu bagaikan mentari berinar. Malam yan cerah semakin cerah.

Itulah malam kelahiran yang menjadikan agama menjadi gembira dan berseri.

Di hari itu, putri Wahab ( S. aminah mendapatkan keagungan yang tidak bisa di raih banyak wanita.

Ia mendatangi kaumnya dengan membawa anak yang utamanya melebihi yang di kandung oleh S. Maryam ( ‘Isa AS ).

Kelahiran yang membawa kerusakan dan musibah pada munculnya kekufuran.

Suara- suara yang berisi kabar gembira terus berbunyi, demi memberi sambutan kelahiran Nabi yang terpilih SAW, dan tibalah keni’matan.

Camkan ini semua !. Di saat kita menyebutkan detik- detik kelahiran Beliau SAW, kita di sayugyakan berdiri oleh para Ulama’ yang kapabel dan ahli di bidang meriwayatkan hadits. Maka, beruntunglah orang- orang yang peng- agungan terhadap Nabi SAW menjadi tujuannya.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَبَرَزَ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَي الْاَرْضِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَي السَّمَاءِ الْعَلِيَّةْ * مُوْمِيًا بِذَلِكَ الرَّفْعِ اِلَي سُوْدَدِهِ وَعُلَاهْ * وَمُشِيْرًا إِلَي رِفْعَةِ قَدْرِهِ عَلَي سَائِرِ الْبَرِيَّةْ * بِأَنَّهُ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ حَسُنَتْ طِبَاعُهُ وَسَجَايَاهْ * وَدَعَتْ أُمُّهُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَطُوْفُ بِهَاتِيْكَ الْبَنِيَّةْ * فَأَقْبَلَ مُسْرِعًا وَنَظَرَ إِلَيْهِ وَبَلَغَ مِنَ السُّرُوْرِ مُنَاهْ * وَأَدْخَلَهُ الْكَعْبَةَ الْغَرَّاءَ وَقَامَ يَدْعُوْ بِخُلُوْصِ النِّيَّةْ * وَيَشْكُرُ اللهَ تَعَالَي عَلَي مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهْ * وَوُلِدَ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظِيْفًا مَخْتُوْنًا مَقْطُوْعَ السُّرِّ بِيَدِ الْقُدْرَةِ الْإِلَهِيَّةْ * طَيِّبًا دَهِيْنًا مَكْحُوْلَةً بِكُحْلِ الْعِنَايَةِ عَيْنَاهْ * وَقِيْلَ خَتَنَهُ جَدُّهُ بَعْدَ سَبْعِ لَياَلٍ سَوِيَّةْ * وَأَوْلَمَ وَأَطْعَمَ وَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا وَأَكْرَمَ مَثْوَاهْ *

Belau SAW terlahir dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas tanah, mengangkat kepalanya ke langit yang tinggi. Dengat isyarat ( pratanda )ketinggian beliau di atas segala mahluk. Oleh sebab beliau adalah orang yang di kasihi yang amat baik perangai dan budinya. ( Saat itu ) ibunya memanggil S. ‘Abdil Muttholib yang sedang bertawaf di bangunan itu ( Ka’bah ). Lalu bergegas kemabli dan melihatnya dan beliau sampai di ujung kegembiraan. Lalu beliau membawanya masuk di dalam Ka’bah yang cerah dan berdoa dengan ketulusan hati. Beliau bersyukur pada Alloh SWT atas pemberian ini.

Beliau SAW di lahirkan dalam keadaan bersih dan sudah bersunat dengan kekuasaan Tuhan, harum, berminyak, dan bercelak kedua matanya dengan celak hasil perhatian Tuhan. Namun ada yang mengatakan bahwa beliau di sunat oleh neneknya setelah berumur genap tujuh hari. Lalu beliau mengadakan walimah dan memberinya nama Muhammad SAW, dan memulyakan kedudukannya.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَظَهَرَ عِنْدَ وِلَادَتِهِ خَوَارِقُ وَغَرَائِبُ غَيْبِيَّةْ * إِرْهَاصًا لِنُبُوَّتِهِ وَإِعْلَامًا بِأَنَّهُ مُخْتَارُ اللهِ تَعَالَي وَمُجْتَبَاهْ * وَزِيْدَتِ السَّمَاءُ حِفْظًا وَرُدَّ عَنْهَا اْلَمرَدَةُ وَذَوُو النُّفُوْسُ الشَّيْطَانِيَّةْ * وَرُجِمَتْ رُجُوْمُ النِّيْرَاتِ كُلّ رَجِيْمِ فِي حَالِ مَرْقَاهْ *  وَتَدَلَّتْ إِلَيْهِ صلي الله عليه وسلم اْلأَنْجُمُ الزُّهْرِيَّةْ * وَاسْتَنَارَتْ بِنُوْرِهَا وِهَادُ اْلحَرَمِ وَرُبَاهْ * وَخَرَجَ مَعَهُ نُوْرٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُوْرُ الشَّامِ اْلقَيْصَرِيَّةْ * فَرَأَهَا مَنْ بِبِطَاحِ مَكَّةَ دَارُهُ وَمَغْنَاهْ * وَانْصَدَعَ اْلإِيْوَانُ بِاْلَمدَائِنِ اْلكِسْرَوِيَّةْ * اَّلذِيْ رَفَعَ أَنُوْشَرْوَانَ سَمْكَهُ وَسَوَّاهْ * وَسَقَطَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِنْ شُرُفَاتِهِ اْلعُلْوِيَّةْ * وَكُسِرَ مُلْكُ كِسْرَي لِهَوْلِ مَا أَصَابَهُ وَعَرَاهْ * وَخُمِدَتِ النِّيْرَانُ اْلَمعْبُوْدَةُ بِاْلممَالِكِ اْلفَارِسِيَّةْ * لِطُلُوْعِ بَدْرِهِ اْلُمنِيْرِ وَإِشْرَاقِ مَحْيَاهْ * وَغَاضَتْ بُحَيْرَةُ سَاوَهُ وَكَانَ بَيْنَ هَمَذَانِ وَقُمَّ مِنَ اْلبِلَادِ اْلعَجَمِيَّةْ * وَجَفَّتْ اِذْ كَفَّ وَاكِفُ مَوْجِهَا الثَّجَّاجِ يَنَابِيْعُ هَاتِيْكَ اْلمِيَاهْ * وَفَاضَ وَادِيْ سَمَاوَةُ وَهِيَ مَفَازَةٌ فِيَ فَلَاةٍ وَبَرِيَّةْ * لَمْ يَكُنْ بِهَا قَبْلُ مَاءً يَنْقَعُ لِلظَّمْئَانِ الَّلهَاةْ * وَكَانَ مَوْلِدُهُ صلي الله عليه وسلم بِاْلمَوْضِعِ اْلَمعْرُوْفِ بِالعِرَاصِ اْلَمكِيَّةْ * وَاْلبَلَدِ اَّلذِيْ لَايُعْضَدُ شَجَرُهُ وَلَا يُخْتَلَي خِلَاهْ * وَاخْتُلِفَ فِيْ عَامِ وِلَادَتِهِ وَفِي شَهْرِهَا وَفِيْ يَوْمِهَا عَلَي أَقْوَالٍ لِلْعُلَمَاءِ مَرْوِيَّةْ * وَالرَّاجِحُ أَنَّهَا قُبَيْلَ فَجْرِ يَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ ثَانِيَ عَشَرَ شَهْرَ رَبِيْعِ اْلاَوَّلِ مِنْ عَامِ اْلفِيْلِ اَّلذِيْ صدَّهُ اللهُ عَنِ اْلحَرَمِ وَحَمَاهْ *

Di saat kelahiran Nabi SAW terjadi banyak keanehan gaib, sebagai dasar nubuwahnya dan agar di ketahui bahwa beliau adalah orang yang di pilih oleh-Nya. Langit di tambah penjagaan-nya dan setan- setan yang nakal di tolak dari langit. Dan setiap setan yang ingin naik ke langit di hantam. Bintang- bintang yang berkilau mendekat pada beliau dan menyebabkan dataran tinggi dan rendahnya tanah Harom menjadi bersinar. Bersamaan dengan kelahiran beliau, muncul cahaya yang sinarnya sampai menerangi gedung- gedung Kaesar yang berada di Syam. Dan setiap orang yang berada di Makkah bias melihat cahaya ini. Pagar yang ada di kota Kisro ( Iran ) saat itu pecah, padahal telah di bangun dengan megah oleh raja Anu Syarwan. Bahkan menaranya yang berjumlah empat belas ikut terjatuh. Kerajaan Kisro ( Faris ) hancur ( saat itu ), oleh saking dahsyatnya kelahiran Nabi SAW. Api yang di sembah di kerajan Persia menjadi padam oleh sebab terbitnya Sang Purnama yang bersinar wajahnya. Danau Sawah yang terletak di antara Hamadzan dan Qumm di negeri ‘ajam ( luar arab ) menjadi kering dan sumber- sumbernya menjadi mati oleh sebab. Lembah Samawah yang terletak di antara daratan dan padang belantara yang sebelumnya sama sekali tidak ada airnya untuk orang yang dahaga, menjadi penuh.

Beliau SAW di lahirkan di tanah Makkah, yaitu negeri yang tidak boleh di petik pepohonan- nya. Sedangkan mengenai tahun, bulan, dan hari kelahiran- nya, banyak beda pendapat dari para ‘Ulama. Namun qoul yang paling unggul mengatakan bahwa Beliau lahir di saat fajar hampir terbit di hari Senin tanggal dua belas bulan Robi’ul Awwal dari tahun Gajah yang mana telah di halau oleh Alloh SWT dari memasuki tanah Haram.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَأَرْضَعَتْهُ أُمُّهُ أَيَّامًا ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ ثُوَيْبَةُ اْلأَسْلَمِيَّةْ * اَّلتِيْ اَعْتَقَهَا أَبُوْ لَهَبٍ حِيْنَ وَافَتْهُ عِنْدَ مِيْلَادِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِبُشْرَاهْ * فَأَرْضَعَتْهُ مَعَ ابْنِهَا مَسْرًوْحٍ وَأَبِيْ سَلَمَةَ وَهِيَ بِهِ حَفِيَّةْ * وَأَرْضَعَتْ قَبْلَهُ حَمْزَةَ اَّلذِيْ حُمِدَ فِيْ نُصْرَةِ الدِّيْنِ سُرَاهْ * وَكَانَ صلي الله عليه وسلم يَبْعَثُ إِلَيْهَا مِنَ اْلَمدِيْنَةِ بِصِلَةٍ وَكِسْوَةٍ هِيَ بِهَا حُرِيَّةْ * إِلَي أَنْ أَوْرَدَ هَيْكَلَهَا رَائِدُ اْلَمنُوْنِ الضَّرِيْحِ وَوَارَاهْ * قِيْلَ عَلَي دِيْنِ قَوْمِهَا اْلفِئَةِ اْلجَاهِلِيَّةْ * وَقِيْلَ أَسْلَمَتْ أَثْبَتَ الْخِلَافَ ابْنُ مُنْدَهْ وَحَكَاهْ * ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ اْلفَتَّاةُ اْلحَلِيْمَةُ السَّعْدِيَّةْ * وَكَانَ قَدْ رَدَّ كُلٌّ مِنَ اْلقَوْمِ ثَدْيَهَا لِفَقْرِهَا وَأَبَاهْ * فَأَخْصَبَ عَيْشُهَا بَعْدَ اْلَمحْلِ قَبْلَ اْلعَشِيَّةْ * وَدَرَّ ثَدْيُاهَا بِدُرِّ دَرٍّ أَلْبَنَهُ اْليَمِيْنُ مِنْهُمَا وَأَلْبَنَ اْلأَخَرُ أَخَاهْ * وَأَصْبَحَتْ بَعْدَ اْلُهزَالِ وَاْلفَقْرِ غَنِيَّةْ * وَسَمِنَتِ الشَّارِفُ لَدَيْهَا وَالشِّيَاهْ * وَاَنْجَابَ عَنْ جَانِبِهَا كُلُّ مُلِمَّةٍ وَرَزِيَّةْ * وَطَرَّزَ السَّعْدُ بُرْدَ عَيْشِهَا اْلهَنِيِّ وَوَشَاهْ *

Selama bebrapa hari bliau SAW di susui oleh ibunya, kemudian di susui oleh ibu Tsuwaibah Al-Aslamiyyah. Ia adalah mantan budak milik Abu Lahab yang di merdekakan oleh majikannya sejak ia datang padanya memberi kabar gembira tentang kelahiran Nabi SAW. Ia menyusui baginda bersama putranya yang bernama Masruh dan Abi Salamah dengan sangat senang. Sebelum itu ia menyusui Hamzah yang dapat sanjungan di dalam pembelaannya pada Islam.

Dan setelah Nabi SAW berada di Madinah, beliau memberinya pakaian yang layak dan sesuatu yang lain, sampai sepeninggalnya. Adapun agama yang ia anut, ada yang menceritakan bahwa ia tetap memeluk agama kaumnya, yaitu Jahiliyyah. Dan ada pula yang mengatakan bahwa ia telah masuk Islam, sebagaimana yang telah di ceritakan oleh ‘Ulama yang bernama Ibnu Mandah.

Kemudian ( setelah beliau selesai di susui oleh Tsuwaibah ), beliau di susui oleh seorang yang masih muda. Yaitu Halimah Assa’diyyah. Sebelum itu, ia tidak laku sebagai penyusu karena saking fakirnya. Namun setelah ia menyusui Nabi SAW, langsung ia menjadi kaya di sore harinya. Sampai air susunya mengalir dengan deras dan hingga susu yang lain di pakai menyusui saudara Nabi SAW. Dan ( berkah dari menyusui Nabi SAW ) ia menjadi gemuk dan kaya, begitu juga onta dan kambing yang ada di dekatnya, dan setiap musibah terhindar dari dirinya dan ahirnya hidupnya menjadi enak.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَكَانَ صلي الله عليه وسلم يَشُبُّ فِي اْليَوْمِ شَبَابَ الصَّبِيِّ فِي الشَّهْرِ بِعِنَايَةٍ رَبَّانِيَّةْ * فَقَامَ عَلَي قَدَمَيْهِ فِيْ ثَلَاثٍ وَمَشَي فِيْ خَمْسٍ وَقُوِيَتْ فِيْ تِسْعٍ مِنَ الشُّهُوْرِ بِفَصِيْحِ النُّطْقِ قُوَاهْ * وَشَقَّ اْلَملَكَانِ صَدْرَهُ الشَّرِيْفَ لَدَيْهَا وَأَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَةً دَمَوِيَّةْ * وَأَزَالَا مِنْهُ حَظَّ الشَّيْطَانِ وَبِالثَّلْجِ غَسَلَاهْ * وَمَلَئَاهُ حِكْمَةً وَمَعَانِيَ إِيْمَانِيَّةْ * ثُمَّ خَاطَاهُ وَبِخَاتِمِ النُّبُوَّةِ خَتَمَاهْ * وَوَزَنَاهُ فَرَجَحَ بِأَلْفٍ مِنْ أُمَّتِهِ اْلأُمَّةِ اْلخَيْرِيَّةْ * وَنَشَأَ صلي الله عليه وسلم عَلَي أَكْمَلِ اْلأَوْصَافِ مِنْ حَالِ صِبَاهْ * ثُمَّ رَدَّتْهُ صلي الله عليه وسلم إِلَي أُمِّهِ وَهِيَ بِهِ غَيْرُ سَخِيَّةْ * حَذَرًا مِنْ أَنْ يُصَابَ بِحَادِثٍ تَخْشَاهْ * وَوُفِّدَتْ عَلَيْهِ حَلِيْمَةُ فِيْ أَيَّامِ خَدِيْجَةَ السَّيِّدَةِ اْلوَضِيَّةْ * فَحَبَاهَا مِنْ حِبَائِهِ اْلوَافِرِ بِحِبَاهْ * وَقَدِمَتْ عَلَيْهِ يَوْمَ حُنَيْنٍ فَقَامَ إِلَيْهَا وَأَخَذَتْهُ اْلأَرْيَحِيَّةْ * وَبَسَطَ لَهَا مِنْ رِدَائِهِ الشَّرِيْفِ بِسَاطَ بِرِّهِ وَنَدَاهْ * وَالصَّحِيْحُ أَنَّهَا أَسْلَمَتْ مَعَ زَوْجِهَا وَاْلبَنِيْنَ وَالذُّرِّيَّةْ * وَقَدْ عَدَّهُمَا فِي الصَّحَابَةِ جَمْعٌ مِنْ ثِقَاةِ الرُّوَاةْ *

Semenjak masih kecil, Nabi SAW berkembang sehari sebagaimana umumnya anak selama satu bulan, dengan pertolongan Tuhan. Maka dalam tempo tiga bulan, beliau sudah bisa berdiri di dua kakinya. Bisa berjalan pada usia lima bulan, dan menjadi kuat fisiknya di usianya yang ke sembilan bulan, dengan di sertai pembicaraan yang terampil. Di saat itu juga ada dua Malaikat melakukan pembedahan pada dada beliau yang mulya dan mengeluarkan segumpal darahnya, yang mana darah itu merupakan bagian setan, lalu membasuhnya dengan salju. Keduanya mengisinya dengan hikmah dan keimanan. Kemudian keduanya menjahitnya dan ahirnya memberikan cap kenabian. Keduanya juga menimbangnya dengan seribu dari ummat beliau yang terbaik, namun beliau lebih berat dari semuanya. Sejak beliau masih kecil sudah berada di dalam peringai yang sangat sempurna.

Kemudian, setelah peristiwa pembedahan tersebut ibu Halimah mengembalikannya pada ibu beliau dalam keadaan tiada tega, karena hawatir terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Kemudian, pada saat setelah beliau nikah dengan Khodijah, seorang besar yang bersinar, ibu halimah pernah berkunjung pada Nabi SAW. Lalu beliau memberinya dengan pemberian yang besar. Dan di saat terjadi perang Hunain, ibu Halimah juga perna menemui Nabi SAW. Lalu beliau menghormatinya dengan pemberian dan mempersilahkan duduk di atas selendang yang sengaja beliau gelar untuknya. Sedangkan agama yang ia peluk menurut qoul yang sohih adalah Islam, ia masuk Islam bersama anak cucunya, sebagaimana ia di katagorikan sebagai Sohabat oleh sekelompok perowi yang bisa di percaya.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ سِنِيْنَ خَرَجَتْ بِهِ أُمُّهُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ النَّبَوِيَّةْ  *  ثُمَّ عَادَتْ فَوَافَتْهَا بِاْلأَبْوَاءِ أَوْ بِشِعْبِ الْحَجُوْنِ  الْوَفاَةْ  *  وَحَمَلَتْهُ حَاضِنَتُهُ أُمُّ أَيْمَنَ الْحَبَشِيَّةْ  *  اَلَّتِيْ زَوَّجَهَا بَعْدُ مِنْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَوْلاَهْ  *  وَأَدْخَلَتْهُ عَلَى جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَرَقَّ لَهُ وَأَعْلَى رُقِيَّةْ  *  وَقَالَ: إِنَّ لاِبْنِيْ هٰذَا لَشَأْنًا عَظِيْمًا فَبَخٍ بَخٍ لِمَنْ وَقَّرَهُ وَوَالاَهْ  *  وَلَمْ تَشْكُ فِيْ صِبَاهُ جُوْعًا وَلاَ عَطَشًا قَطُّ نَفْسُهُ اْلأَبِيَّةْ  *  وَكَثِيْرًا مَا غَدَا فَاغْتَذَى بِمَاءِ زَمْزَمَ فَأَشْبَعَهُ وَأَرْوَاهْ  *  وَلَمَّا أُنِيْخَتْ بِفِنَاءِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مَطَايَا الْمَنِيَّةْ  *  كَفَلَهُ عَمُّهُ أَبُوْ طَالِبٍ شَقِيْقُ أَبِيْهِ عَبْدِ اللهْ  *  فَقَامَ بِكَفَالَتِهِ بِعَزْمٍ قَوِيٍّ وَهِمَّةٍ وَحَمِيَّةْ  *  وَقَدَّمَهُ عَلَى النَّفْسِ وَالْبَنِيْنَ وَرَبَّاهْ  *  وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِثْنَيْ عَشَرَ سَنَةً رَحَلَ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمُّهُ إِلَى الْبِلاَدِ الشَّامِيَّةْ  *  وَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ بَحِيْرَا  بِمَا حَازَهُ مِنْ وَصْفِ النُّبُوَّةِ وَحَوَاهْ  *  وَقَالَ: إِنِّيْ أَرَاهُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ وَرَسُوْلَ اللهِ وَنَبِيَّهْ  *  قَدْ سَجَدَ لَهُ الشَّجَرُ وَالْحَجَرُ وَلاَ يَسْجُدَانِ إِلاَّ لِنَبِيٍّ أَوَّاهْ  *  وَإِنَّا لَنَجِدُ نَعْتَهُ فِي الْكُتُبِ الْقَدِيْمَةِ السَّمَاوِيَّةْ  *  وَبَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ قَدْ عَمَّهُ النُّوْرُ وَعَلاَهْ  *  وَأَمَرَ عَمَّهُ بِرَدِّهِ إِلَى مَكَّةَ تَخَوُّفًا عَلَيْهِ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ الْيَهُوْدِيَّةْ  *  فَرَجَعَ بِهِ وَلَمْ يُجَاوِزْ مِنَ الشَّامِ الْمُقَدَّسِ بُصْرَاهْ  *

Setelah beliau menginjak usia empat tahun, beliau di ajak oleh ibunya pergi ke Madinah. Kemudia sekembalinya dari Madinah dan tepatnya di desa Abwa’ atau di Syi’bil Hajun ( dua pendapat ), Sang ibu wafat. Lalu beliau di gendong dan di asuh oleh Ummu Ayman Alhabasyiyyah yang mana beliau setelah itu di nikahkan oleh Nabi SAW dengan Zaid bin Haritsah, seorang mantan hamba Nabi SAW. Kemudian ( setelah sampai di Makkah ) ibu asuh membawanya masuk ke nenek Abd Muttholib, lalu sang nenek merangkulnya dan mengasihinya dan menggendong- nya ke atas. Seraya beliau berkata, “Anak- ku ini memilki sesuatu yang sangat agung, maka bagus sekali orang yang memulyakan dan mengasihinya.” Semenjak belau masih kecil, beliau tidak pernah sama sekali mengadukan lapar dan dahaga. Sering sekali beliau tidak makan, lalu meminum air zamzam dan ini sudah cukup menjadikan kenyang. Dan setelah nenek Abd. Muttholib meninggal, beliau di asuh oleh sang paman (saudara kandung sang ayah ), yaitu Abi Tholib dengan baik dan menjaganya dengan penuh, dan bahkan beliau lebih di dahulukan dari pada putra- putra sang paman sendiri.

Setelah beliau sampai ke usianya yang ke dua belas, beliau di ajak pergi oleh pamannya ke negeri Syam. Di sana oleh pendeta Buhairo tahu pada anak calon nabi ini dari sifat- sifat kenabian yang ada pada diri Nabi SAW. Ia berkata, “Aku yakin anak ini bakal menjadi nabi dan rosul. Pohon dan batu pada sujud padanya, padahal keduanya tiada bersujud kecuali kepada nabi yang  banyak kembalinya pada Alloh SWT. Kami menemukan ciri- cirinya di dalam kitab- kitab samawi yang kuno. Di antara kedua punggung Nabi SAW ada cap kenabian yang di selimuti oleh cahaya.” Kemudian pendeta memerintahkan paman Nabi SAW agar di bawa pulang kembali, karena menghawatirkan terjadi sesuatu dari orang- orang Yahudi.  Ahirnya Sang paman membawanya pulang dan tidak sampai melewati Bushro sebuah kota yang ada di Syam.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ سَنَةً سَافَرَ إِلَى بُصْرَى فِيْ تِجَارَةٍ لِخَدِيْجَةَ الْفَتِيَّةْ  *  وَمَعَهُ غُلاَمُهَا مَيْسَرَةُ يَخْدِمُهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَيَقُوْمُ بِمَا عَنَاهْ  *  وَنَزَلَ تَحْتَ شَجَرَةٍ لَدَى صَوْمَعَةِ نَسْطُوْرَا رَاهِبِ النَّصْرَانِيَّةْ  *  فَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ إِذْ مَالَ إِلَيْهِ ظِلُّهَا الْوَارِفُ وَأَوَاهْ  * وَقَالَ: مَا نَزَلَ تَحْتَ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ  قَطُّ إِلاَّ نَبِيٌّ ذُوْ صِفَاتٍ نَقِيَّةْ  *  وَرَسُوْلٌ قَدْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِالْفَضَائِلِ وَحَبَاهْ  *  ثُمَّ قَالَ لِمَيْسَرَةَ: أَفِيْ عَيْنَيْهِ حُمْرَةُ نِ اسْتِظْهَارًا لِلْعَلاَمَةِ الْخَفِيَّةْ  *  فَأَجَابَهُ بِنَعَمْ فَحَقَّ لَدَيْهِ مَا ظَنَّهُ فِيْهِ وَتَوَخَّاهْ  *  وَقَالَ لِمَيْسَرَةَ: لاَ تُفَارِقْهُ وَكُنْ مَعَهُ بِصِدْقِ عَزْمٍ وَحُسْنِ طَوِيَّةْ  *  فَإِنَّهُ مِمَّنْ أَكْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِالنُّبُوَّةِ وَاجْتَبَاهْ  *  ثُمَّ عَادَ إِلَى مَكَّةَ فَرَأَتْهُ خَدِيْجَةُ مُقْبِلاً وَهِيَ بَيْنَ نِسْوَةٍ فِيْ عُلِّيَّةْ  *  وَمَلَكَانِ عَلَى رَأْسِهِ الشَّرِيْفِ مِنْ وَهَجِ الشَّمْسِ قَدْ أَظَلاَّهْ  *  وَأَخْبَرَهَا مَيْسَرَةُ بِأَنَّهُ رَأَى ذٰلِكَ فِي السَّفَرِ كُلِّهِ وَبِمَا قَالَ لَهُ الرَّاهِبُ وَأَوْدَعَهُ لَدَيْهِ مِنَ الْوَصِيَّةْ  *  وَضَاعَفَ اللهُ فِيْ تِلْكَ التِّجَارَةِ رِبْحَهَا وَنَمَّاهْ  *  فَبَانَ لِخَدِيْجَةَ بِمَا رَأَتْ وَمَا سَمِعَتْ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ تَعَالَى إِلَى الْبَرِيَّةْ  *  اَلَّذِيْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِقُرْبِهِ وَاصْطَفَاهْ  *  فَخَطَبَتْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهَا الزَّكِيَّةْ  *  لِتَشُمَّ مِنَ اْلإِيْمَانِ بِهِ طِيْبَ رَيَّاهْ  *  فَأَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْمَامَهُ بِمَا دَعَتْهُ إِلَيْهِ هٰذِهِ الْبَرَّةُ التَّقِيَّةْ  *  فَرَغِبُوْا فِيْهَا لِفَضْلٍ وَدِيْنٍ وَجَمَالٍ وَمَالٍ وَحَسَبٍ وَنَسَبٍ كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ يَهْوَاهْ  *  وَخَطَبَ أَبُوْ طَالِبٍ وَأَثْنَى عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ حَمِدَ اللهُ بِمَحَامِدَ سَنِيَّةْ  *  وَقَالَ: هُوَ وَاللهِ بَعْدُ لَهُ نَبَأٌ عَظِيْمٌ يُحْمَدُ فِيْهِ مَسْرَاهْ  *  فَزَوَّجَهَا مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُوْهَا وَقِيْلَ عَمُّهَا وَقِيْلَ أَخُوْهَا لِسَابِقِ سَعَادَتِهَا اْلأَزَلِيَّةْ  *  وَأَوْلَدَهَا كُلَّ أَوْلاَدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ الَّذِيْ بِاسْمِ الْخَلِيْلِ سَمَّاهْ  *

Setelah beliau menginjak usia dua puluh lima tahun, beliau pergi ke Bushro dengan tujuan mendagangkan dagangan Kodijah . Beliau di bantu oleh budaknya yang bernama Maisaroh. Di perjalanan, beliau singgah dan istiahat di bawah pohon yang ada di dekat gereja pendeta yang berama Nasthuro. Lalu pendeta tahu bahwa beliau adalah nabi, karena dedaunan yang sangat lebat itu condong meaunginya. Ia berkata, “Tidak ada yang istirahat di bawa pohon ini selain Nabi yang memiliki sifat- sifat yang bersih dan Rosul yang di pilih dengan pemberian-Nya. Kemudian ia ingin mengecek tanda- tandanya yang lebih samar dan bertanya kepada Maysaroh, “Apakah di kedua matanya ada kemerah- merahan ?.” Maysaroh menjawab, “Ya.” Maka sungguh tepatlah apa yang ia sangka semula. Dn ia berpesan kepada Maysaroh, “Jangan sampai kau meninggalkan orang ini !. Kau harus menyertainya dengan sungguh dan hati yang lapang !, karena orang ini termasuk di antara manusia yang di pilih dan di mulyakan oleh Alloh SWT dengan kenabian !.”

Kemudian beliau kembali ke Makkah dan di jemput oleh ibu Khoijah bersama para wanita dari atas panggung, saat itu beliau di kawal oleh dua Malaikat yang menaungi dari atasnya dari terik matahari.  Hal semisal ini oleh Maisaroh di lihat selama di perjalanan, lalu olehnya ia ceritakan pada S. Khodijah. Begitu juga apa saja yang di ucapkan dan di pesankan oleh pendeta, semuanya ia ceritakan. Dan di dalam perdagangan ini Alloh SWT memberikan laba yang melimpah pada S. Khodijah. Ahirnya, Khodijah tahu bahwa beliau adalah manusia pilihan Alloh SWT yang di utus pada semua mahluk. Ahirnya beliau memintanya agar Nabi SAW sudi menikahinya, agar bisa mencium bau segar keimanan padanya. Lalu Nabi SAW menceritakan lamaran ini kepada paman- pamannya, ahirnya semuanya setuju karena Khodijah memiliki kelebihan, agama, rupa, nasab, dan harta, yang mana sifat- sifat ini di gandrungi oleh setiap orang. Kemudian, Abi Tholib berpidato dengan memuji Alloh SWT dan memuji pada Nabi SAW. Di dalam pidatonya ia berkata, “Ia ini, demi Alloh, memiliki kisah yang agung yang akan menjadikan-nya mendapat sanjungan.” Ahirnya, S. Khodijah di nikahkan dengan di walikan oleh bapaknya atau pamannya atau saudaranya ( beberapa pendapat ), karena suratan yang menaqdirnya menjadi orang yang beruntung. Dan dari pernikan ini terlahir semua putra- putra Nabi SAW, kecuali putra yang beliau beri nama Ibrohim.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَثَلاَثِيْنَ سَنَةً بَنَتْ قُرَيْشُ نِ الْكَعْبَةَ لاِنْصِدَاعِهَا بِالسُّيُوْلِ اْلأَطْبَحِيَّةْ  *  وَتَنَازَعُوْا فِيْ رَفْعِ الْحَجَرِ اْلأَسْوَدِ فَكُلٌّ أَرَادَ رَفْعَهُ وَرَجَاهْ  *  وَعَظُمَ الْقِيْلُ وَالْقَالُ وَتَحَالَفُوْا عَلَى الْقِتَالِ وَقَوِيَتِ الْعُصْبِيَّةْ  *  ثُمَّ تَدَاعَوْا إِلَى اْلإِنْصَافِ وَفَوَّضُوْا اْلأَمْرَ إِلَى ذِيْ رَأْيٍ صَائِبٍ وَأَنَاهْ  *  فَحَكَمَ بِتَحْكِيْمِ أَوَّلِ دَاخِلٍ مِنْ بَابِ السَّدَنَةِ الشَّيْبِيَّةْ  *  فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ دَاخِلٍ فَقَالُوْا: هٰذَا اْلأَمِيْنُ وَكُلُّنَا نَقْبَلُهُ وَنَرْضَاهْ  *  فَأَخْبَرُوْهُ بِأَنَّهُمْ رَضُوْهُ أَنْ يَكُوْنَ صَاحِبَ الْحُكْمِ فِيْ هٰذَا الْمُلِمِّ وَوَلِيَّهْ  *  فَوَضَعَ الْحَجَرَ فِيْ ثَوْبٍ ثُمَّ أَمَرَ أَنْ تَرْفَعَهُ الْقَبَائِلُ جَمِيْعًا إِلَى مُرْتَقَاهْ  *  فَرَفَعُوْهُ إِلَى مَقَرِّهِ مِنْ رُكْنٍ هَاتِيْكَ الْبَنِيَّةْ  *  وَوَضَعَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الشَّرِيْفَةِ فِيْ مَوْضِعِهِ اْلأنَ وَبَنَاهْ  *

Ketika Nabi SAW berada di usianya yang yang tigapuluh lima, orang- orang Quroisy merenovasi Ka’bah karena keadaannya yang pecah oleh sebab di terpa banjir Makkah. Saat itu mereka berebut mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula, setiap orang dari mereka berkeinginan melakukannya. Perang mulut pun teradi, dan akan mereka sudah mengadakan sumpah untuk berperang fisik dan terjadi fanatisme yang berlebihan. Namun mereka akhirnya sadar dan menyerahkan semua ini kepada orang yang yang memiliki pemikiran yang baik dan ketenangan. Lalu orang ini menyerahkan keputusan kepada orang yang pertama kali masuk lewat pitu Sadanah Assyaibiyyah. Dan ternyata Nabi SAW adalah orang yang masuk ke situ lewat pintu tersebut. Maka semuanya berguaman, “Nah, ini Al-amin ( orang yang di percaya ) !. Kita semua rela dan menerimanya.”  Lalu mereka menceritakan kerelaan semua pihak di dalam menyelesaikan masalah ini kepada Nabi SAW.  Kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad tersebut di atas sebuah kain dan memerintahkan kepada semua suku agar mengangkatnya ke tempatnya semula.  Ahirnya semuanya turut mengangkatnya di tempatnya yang berdekatan dengan tiang bangunan itu, dan Nabi SAW yang meletakkannya dengan tangan beliau yang mulia di tempatnya yang sekarang dan membangunnya kembali.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَلَمَّا كَمُلَ لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً عَلَى أَوْفَقِ اْلأَقْوَالِ لِذَوِي الْعَالِمِيَّةْ  *  بَعَثَهُ اللهُ تَعَالَى لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا فَعَمَّهُمْ بِرُحْمَاهْ  *  وَبُدِئَ إِلَى تَمَامِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بِالرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ الْجَلِيَّةْ  *  فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَائَتْ مِثْلَ فَلَقِ  صُبْحٍ أَضَاءَ سَنَاهْ  *  وَإِنَّمَا ابْتُدِئَ بِالرُّؤْيَا تَمْرِيْنًا لِلْقُوَّةِ الْبَشَرِيَّةْ  *  لِئَلاَّ يَفْجَأَهُ الْمَلَكُ بِصَرِيْحِ النُّبُوَّةِ فَلاَ تَقْوَاهُ قُوَاهْ  *  وَحُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ فَكَانَ يَتَعَبَّدُ بِحِرَاءَ اللَّيَالِيَ الْعَدَدِيَّةْ  *  إِلَى أَنْ أَتَاهُ فِيْهِ صَرِيْحُ الْحَقِّ وَوَافَاهْ  *  وَذٰلِكَ فِيْ يَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ اللَّيْلَةِ الْقَدْرِيَّةْ  *  وَثَمَّ أَقْوَالٌ لِسَبْعٍ أَوْ ِلأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ مِنْهُ أَوْ لِثَمَانٍ مِنْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ الَّذِيْ بَدَا فِيْهِ بَدْرُ مُحَيَّاهْ  *  فَقَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: ‹‹ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ››  فَغَطَّهُ غَطَّةً قَوِيَّةْ  *  ثُمَّ قَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: ‹‹ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ››، فَغَطَّهُ ثَانِيَةً حَتَّى بَلَغَ مِنْهُ الْجَهْدَ وَغَطَّاهْ  *  ثُمَّ قَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: ‹‹ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ››، فَغَطَّهُ ثَالِثَةً لِيَتَوَجَّهَ إِلَى مَا سَيُلْقَى إِلَيْهِ بِجَمْعِيَّةْ  *  وَيُقَابِلَهُ بِجِدٍّ وَاجْتِهَادٍ وَيَتَلَقَّاهْ * ثُمَّ فَتَرَ الْوَحْيُ ثَلاَثَ سِنِيْنَ أَوْ ثَلاَثِيْنَ شَهْرًا لِيَشْتَاقَ إِلَى انْتِشَاقِ هَاتِيْكَ النَّفَحَاتِ الشَّذِيَّةْ  *  ثُمَّ أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ : {يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّر}فَجَاءَهُ جِبْرِيْلُ بِهَا وَنَادَاهْ  *  فَكَانَ لِنُبُوَّتِهِ فِيْ تَقَدُّمِ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ } شَاهِدٌ عَلَى أَنَّ لَهَا السَّابِقِيَّةْ  *  وَالتَّقَدُّمُ عَلَى رِسَالَتِهِ بِالْبِشَارَةِ وَالنِّذَارَةِ لِمَنْ دَعَاهْ  *

Setelah beliau menginjak usianya yang ke empat puluh, menurut qoul yang paling sohih, beliau di utus oleh Alloh SWT ke seluruh jagad sebagai orang yang bertugas memberi kabar gembira dan pemberi peringatan, sehingga semuanya mendapatkan hidangan rohmah. Pertama- tama beliau di beri mimpi- mimpi yang benar dan jelas. Setiap kali beliau bermimpi, maka selalu membawa sinar cerah sebagaimana saat fajar menyingsing. Risalah ini memang di mulai dengan mimpi adalah agar menjadi pelatihan terhadap kekuatan manusiawi, agar tidak di kejutkan dengan Malaikat yang tampak jelas dengan membawa kenabian hingga menjadi tidak kuat.  Setelah itu, beliau senang menyendiri dan beribadat di goa Hira selama beberapa malam hingga ahirnya beliau mendapatkan dan di datangi oleh kebenaran yang jelas. Peristiwa itu terjadi di hari Senin tanggal tujuh belas dari bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qodar. Namun di balik qoul ini, ada yang mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal “dua puluh empat” atau “dua puluh tujuh” atau “dua puluh delapan” dari bulan Robi’ Awwal.

Malaikat ( Jibril ) berkata pada Nabi SAW, ‘Iqro” ( Bacalah ! ). Lalu beliau menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’. Lalu Malaikat memeluknya dengan kuat. Kemudian Malaikat berkata lagi, “Iqro’ !. Maka Nabi- pun menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”  Maka Malaikat memeluknya untuk kedua kalinya hingga beliau mendapat kepayahan.  Kemudian Malikat berkata lagi, “Iqro’ !.” Dan Nabi SAW menjawab, “Aku tidak bisa menjawab.”  Ahirnya Malaikat memeluknya untuk yang ketiga agar supaya beliau berkonsentrasi dengan penuh kepada apa yang bakal di wahyukan padanya dan agar menerimanya dengan sungguh- sungguh.

Kemudian wahyu mengalami transisi selama tiga tahun atau tiga puluh bulan, agar supaya ada kerinduan untuk mencium bau segar yang sangat beraroma. Kemudian di turunkan wahyu “Yaa ayyuhal muddatssir” yang di bawa Jibril dan langsung di panggilkan pada Nabi SAW.  Di awalinya wahyu dengan Ayat “Iqro’” menjadi bukti bahwa Nubuwwah beliau mendahului Risalah-nya yang berisi kabar gembira dan peringatan kepada orang yang di da’wahi.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وَأَوَّلُ مَنْ أمَنَ بِهِ مِنَ الرِّجَالِ أَبُوْ بَكْرٍ صَاحِبُ الْغَارِ وَالصِّدِّيْقِيَّةْ  *  وَمِنَ الصِّبْيَانِ عَلِيُّ وَمِنَ النِّسَاءِ خَدِيْجَةُ الَّتِيْ ثَبَّتَ اللهُ بِهَا قَلْبَهُ وَوَقَاهْ  *  وَمِنَ الْمَوَالِيْ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ وَمِنَ اْلأَرِقَّاءِ بِلاَلُ نِ الَّذِيْ عَذَّبَهُ فِي اللهِ أُمَيَّةْ  *  وَأَوْلاَهُ مَوْلاَهُ أَبُوْ بَكْرٍ مِنَ الْعِتْقِ مَا أَوْلاَهْ  *  ثُمَّ أَسْلَمَ عُثْمَانُ وَسَعْدٌ وَسَعِيْدٌ وَطَلْحَةُ وَابْنُ عَوْفٍ وَابْنُ عَمَّتِهِ صَفِيَّةْ  *  وَغَيْرُهُمْ مِمَّنْ أَنْهَلَهُ الصِّدِّيْقُ رَحِيْقَ التَّصْدِيْقِ وَسَقَاهْ  *  وَمَا زَالَتْ عِبَادَتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ مَخْفِيَّةْ  *  حَتَّى أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ ﴿ فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ﴾ فَجَهَرَ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ إِلَى اللهْ  *  وَلَمْ يَبْعُدْ مِنْهُ قَوْمُهُ حَتَّى عَابَ أَلِهَتَهُمْ وَأَمَرَ بِرَفْضِ مَا سِوَى الْوَحْدَانِيَّةْ  *  فَتَجَرَّؤُوْا عَلَى مُبَارَزَتِهِ بِالْعَدَاوَةِ وَأَذَاهْ  *  وَاشْتَدَّ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ الْبَلاَءُ فَهَاجَرُوْا فِيْ سَنَةِ خَمْسٍ إِلَى النَّاحِيَةِ النَّجَاشِيَّةْ  *  وَحَدَبَ عَلَيْهِ عَمُّهُ أَبُوْ طَالِبٍ فَهَابَهُ كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ وَتَحَامَاهْ  *  وَفُرِضَ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيَامُ بَعْضٍ مِنَ السَّاعَاتِ اللَّيْلِيَّةْ  *  ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى فَاقْرَؤُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةْ  *  وَفُرِضَ عَلَيْهِ رَكْعَتَانِ بِالْغَدَاةِ وَرَكْعَتَبْنِ بِالْعَشِيَّةْ  *  ثُمَّ نُسِخَ بِإِيْجَابِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِيْ لَيْلَةِ مَسْرَاهْ  *  وَمَاتَ أَبُوْ طَالِبٍ فِيْ نِصْفِ شَوَّالٍ مِنْ عَاشِرِ الْبِعْثَةِ وَعَظُمَتْ بِمَوْتِهِ الرَّزِيَّةْ  *  وَتَلَتْهُ خَدِيْجَةُ بَعْدَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَشَدَّ الْبَلاَءُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ عُرَاهْ  *  وَأَوْقَعَتْ قُرَيْشٌ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ أَذِيَّةْ  *  وَأَمَّ الطَّائِفَ يَدْعُوْ ثَقِيْفًا فَلَمْ يُحْسِنُوْا بِاْلإِجَابَةِ قِرَاهْ  *  وَأَغْرَوْا بِهِ السُّفَهَاءَ وَالْعَبِيْدَ فَسَبُّوْهُ بِأَلْسِنَةٍ بَذِيَّةْ  *  فَرَمَوْهُ بِالْحِجَارَةِ حَتَّى خُضِّبَتْ بِالدِّمَاءِ نَعْلاَهْ  *  ثُمَّ عَادَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ حَزِيْنًا فَسَأَلَهُ مَلَكُ الْجِبَالِ فِي إِهْلاَكِ أَهْلِهَا ذَوِي الْعُصْبِيَّةْ  *  فَقَالَ: ‹‹إِنِّيْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَتَوَّلاَّهْ*

Orang yang pertama kali beriman pada Nabi SAW dari laki- laki dewasa adalah Abu Bakr yang terkenal dengan sebutan Siddiq dan goa. Dan yang dari kalangan anak- anak adalah Aly bin Abi Tholib, dan dari wanita adalah Khodijah, orang yang hatinya di kuatkan oleh Alloh SWT dan di jaganya.  Sedangkan dari kalangan mantan budak adalah Zaid bin Haritsah, dan dari budak adalah Bilal, orang yang pernah di siksa oleh majikannya yaitu Umayyah demi mempertahankan agama Alloh SWT dan kemudian di tebus oleh Abu Bakr lalu di merdekakan olehnya. Kemudian menyusul masuk Islam Utsman, Sa’d, Sa’id, Tholhah, Abdurrohman, saudara sepupunya yaitu Sofiyyah, dan lain- lain, yaitu orang- orang yang di beri minum keimanan oleh Abi Bakr ( ya’ni  di da’wahi oeh beliau ).

Saat itu beliau dan para sahabat terus menerus melakukan ibadah dengan cara sembunyi- sembunyi, sampai beliau di beri Ayat yang memerintahkan agar terbuka di dalam berda’wah ( Al-Hijr : 94 ), dan ahirnya beliau terbuka di dalam berda’wah. Tidak lama kemudian beliau mencela barang- barang yang mereka anggap tuhan dan mengajak meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Dan ini menyebabkan mereka berani melawan dan memusuhinya, sampai- sampai kaum Muslim mendapat derita yang amat sangat dari permusuhan mereka, dan ahirnya mereka berhijrah ke daerah yang di pimpin oleh raja Najasyi pada tahun ke lima dari kenabian. Sedangkan Nabi SAW di bela oleh pamannya, Abi Tholib, maka semuanya segan dan takut.

Di saat itu beliau di wajibkan melakukan solat sebentar di waktu malam, dan ini berjalan terus hingga di revisi dengan Ayat Al-Muzzammil : 20. Kemudian beliau di wajibkan melakukan solat dua roka’at di pagi hari dan dua roka’at di sore hari. Sampai ahirnya kewajiban ini di rubah dengan di wajibkannya solat lima waktu di beliau di panggil isro’. Kemudian di saat pertengahan bulan Syawwal pada tahun ke sepuluh dari kenabian, Abu Tholib meninggal. Kemudian S. Khodijah ikut menyusul kepergian Abi Tholib selang tiga hari. Maka kematian kedua tokoh ini menyebabkan kaum Muslimin tambah menderita dan Nabi SAW mendapat perlakuan yang sangat buruk dari kaum Quroisy.

Kemudian pada suatu saat, Nabi SAW berangkat menuju Thoif dengan tujuan memberi da’wah kepada suku Tsaqif, namun mereka tidak mengindahkan ajakan beliau dan bahkan mereka menyuruh para budak dan anak- anak kecil agar mencacinya dan melemparkan batu padanya sampai sandal beliau terkena darah dari kakinya. Kemudian Nabi SAW kembali ke Makkah dengan di liputi kesusahan, lalu beliau di temui Malaikat yang mengurusi gunung dan menawarkan padanya untuk menghancurkan mereka yang memilki fanatisme jahiliyyah. Namun beliau menjawabnya, “Aku berharap Alloh akan mengeluarkan dari mereka anak- anak yang di kasihi oleh-Nya.”

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

ثم أسري بروحه و جسده يقظة من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى و رحابه القدسية  *  و عرج به إلى السموات فرأى أدم في الأولى و قد جلله الوقار و علاه  *  و رأى في الثانية عيسى ابن مريم البتول البرة التقية  *  و ابن خالته يحيى الذي أوتي الحكم في حال صباه  *  و رأى في الثالثة يوسف بصورته الجمالية  *  و في الرابعة إدريس الذي رفع الله مكانه و أعلاه  *  و في الخامسة هارون المحبب في الأمة الإسرائيلية  *  و في السادسة موسى الذي كلمه الله تعالى و ناجاه  *  و في السابعة إبراهيم الذي جاء ربه بسلامب القلب و حسن الطوية  *  و حفظه من نار نمرود و عافاه  *  ثم رفع إلى سدرة المنتهى إلى أن سمع صريف الأقلام بالأمور المقضية  *  إلى مقام المكافحة الذي قربه الله فيه و أدناه  *  و أماط له حجب الأنوار الجلالية  *  و أراه بعيني رأسه من حضرة الربوبية ما أراه  *  و بسط له بسط الإدلال في المجال الذاتية  *  و فرض عليه و على أمته خمسين صلاة ثم انهل سحاب الفضل فردت إلى خمس عملية  *  و لها أجر الخمسين كما شاءه في الأزل و قضاه  *  ثم عاد في ليلته فصدقه الصديق بمسراه  *  و كل ذي عقل و روية  *  و كذبته قريش و ارتد من أضله الشيطان و أغواه  *

Kemudian Nabi SAW di panggil berisro’ dengan ruh dan jasad beliau dalam keadaan terjaga dari Almasjidil Harom ke Almasjidil Aqsho dan halamannya yang suci. Dan beliau juga di naikkan ke langit, dan di langit yang pertama beliau melihat Nabi Nabi Adam dalam keadaan yang sangat agung. Di lagit yang kedua beliau melihat Nabi ‘Isa bin Maryam, seorang perawan yang baik dan bertaqwa, dan di sana juga bertemu dengan saudara sepupu ‘Isa, yaitu Nabi Yahya, nabi yang di angkat menjadi nabi sejak saat masih kecil. Di langit ketiga, beliau melihat Nabi Yusuf dengan keadaannya yang sangat tampan. Di langit keempat beliau melihat Nabi Idris yang di derajat dan tempatnya di tinggikan oleh Alloh SWT. Beliau melihat Nabi Harun yang di sukai oleh Bani Isroil di langit yang kelima. Dan di langit yang keenam beliau melihat Nabi Musa yang pernah menerima firman Alloh SWT secara langsung. Di langit yang ke tujuh beliau melihat Nabi Ibrohim yang menghadap Tuhan-nya dengan hati yang semat dan baik dan pernah di bakar oleh raja Numrudz namun di selamatkan oleh Alloh dari rekayasa raja.

Kemudian beliau di angkat sampai ke Sidrotil Muntaha hingga beliau bisa mendengar suara Qolam yang menulis segala sesuatu yang bakal terjadi, dan bahkan sampai ke maqom Mukafahah, sebuah tempat yang dekat pada Alloh Ta’ala. Saat itu Alloh Ta’ala menghilangkan tabir- tabir Nur keagungan, sampai beliau di perlihatkan Dzat Alloh Ta’ala dengan dua mata kepala beliau. Di situ juga di bentangkan maqom Idlal dengan Tuhan. Dan di wajibkan atas beliau dan ummmatnya lima puluh kali solat sehari semalam. Namun tercurahlah awan anugrah sampai di kurangi hingga hanya di wajibkan lima kali yang memilki nilai atau pahala sama dengan lima puluh kali, sebagaimana ketentuan Azali-Nya.

Kemudian beliau kembali pada malam itu juga, dan dari sekembalinya ada yang mempercayai isro’ ini, seperti Abi Bakr R.A dan orang- orang yang memiliki pemikiran yang benar. Namun rata- rata orang- orang Quroisy tidak percaya padanya dan bahkan ada pula orang menjadi murtad karena tertipu dengan godaan setan.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

ثم عرض نفسه علي القبائل بأنه رسول الله في الايم الموسمية * فأمن به ستة من الانصار اختصهم الله برضاه * وحج منهم في القابل اثنا عشر رجلا وبايعوه بيعة حقية * ثم انصرفوا فظهر الاسلام بالمدينة فكانت معقله ومأواه * وقدم عليه في العام الثالث سبعون أو وثلاثة او خمسة وامرأتان من القبائل الاوسية والخزرجية * فبايعوه وأمر عليهم اثني عشر نقيبا جحاجحة سراه * فهاجر إليهم من مكة ذو الملة الاسلامية * وفارقوا الاوطان رغبة في ما أعد لمن هجر الكفر و نأه * وخافت قريش ان يلحق صلي الله عليه وسلم به علي الفورية * فأتمروا بقتله فحفظه الله تعالي من كيدهم ونجاه * وأذن له صلي الله عليه وسلم في الهجرة فركبه المشركون ليوردوه بزعمهم حياض المنية * فخرج عليهم ونثر علي رؤسهم التراب وحثاه * وأم غار ثور وفاز الصديق فيه بالمعية * وأقام فيه ثلاثا تحمي الحمائم والعناكب حماه * ثم خرج منه ليلة الاثنين وهو صلي الله عليه وسلم علي خير مطية * وتعرض له سراقة فابتهل فيه الي الله ودعاه * فساخت قوائم يعبوبه في الارض اللبة القوية * وسأله الامان فمنحه اياه *

Kemudian beiau menunjukkan kepada beberapa suku di saat ada acara peribadatan haji bahwa dirinya adalah utusan Alloh Ta’ala. Lalu dari kelompok Anshor ada enam orang yang beriman padanya, yaitu orang- orang yang mendapatkan kekhususan ridlo dari-Nya. Dan di tahun kemudian dari kelompok Anshor juga ada yang pergi haji dan kemudian membai’atnya ( masuk Islam ) dengan sungguh- sungguh. Maka dari kepulangan mereka, Islam mulai ramai di Madinah hingga kota ini menjadi tempat singgah Islam. Kemudian pada tahun ketiga datang juga tujuh puluh tiga ( ada yang mengatakan tujuh puluh lima orang ) dan dua wanita dari suku Aus dan Khozroj. Dan dari jumlah tersebut, semuanya membai’atnya dan beliau memberikan mandat kepada dua belas orang yang memiliki jiwa ketokohan untuk memimpin mereka. Kemudian mereka inilah yang menjadi tempat orang- orang Muslim Makkah yang berhijrah demi meraih pahala yang di siapkan bagi orang- orang yang sudi meninggalkan kekufuran.

Lalu orang- orang Quroisy merasa hawatir jika Nabi SAW menyusul mereka dengan cepat. Maka mereka berembug untuk membunuhnya, namun Alloh Ta’ala tetap menjaganya dari tipu daya mereka. Dan beliau mendapat ijin untuk berhijrah, maka mereka pun menjeratnya dan ingin menjatuhkannya di lembah kematian. Lalu beliau keluar menghadapi mereka dan menebarkan debu di ats kepala mereka, dan beliau beristirahat di goa Tsaur dengan di sertai sahabat Abu Bakr R.A dan hal ini merupakan suatu keberuntungan baginya. Di dalam goa tersebut beliau berdiam selama tiga hari dengan di jaga oleh burung merpati dan laba- laba pada daerah sekitar goa. Kemudian beliau keluar dari goa pada malam Senin dengan mengendarai kendaraan yang sangat bagus. Dan di tengah perjalanan, beliau di kejar oleh Suroqoh, maka dengan hati yang sangat tulus dan rendah beliau berdoa pada Alloh Ta’ala. Lalu kaki kuda yang ia tumpangi masuk ke dalam tanah yang keras, tapi setelah ia meminta keamanan dari beliau, beliau tetap memberikan keamanan.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

ومر صلي الله عليه وسلم بقديد علي أم معبد الخزاعية * وأراد ابتياع لحم او لبن منها فلم يكن خباؤها لشيئ من ذلك قد حواه * فنظر إلي شاة في لبيت قد خلفها الجهد عن الرعية * فاستأذنها في حلبها فأذنت وقالت لو كان بها حلب لأصبناه * فمسح الضرع منها ودعا الله مولاه ووليه * فدرت فحلب وسقي كلا من القوم وأرواه * ثم حلب وملأ الإناء وغادره لديها أية جلية * فجاء أبو معبد ورأي اللبن فذهب به العجب إلي أقصاه * وقال أني لك هذا ولا حلوب باليت تبض بقطرة لبنية * فقالت مر بنا رجل مبارك كذا وكذا جثمانه ومعناه * فقال هذا صاحب قريش وأقسم بكل ألية * بأنه لو رأه لآمن به واتبعه وداناه * وقدم صلي الله عليه وسلم المدينة يوم الإثنين ثاني عشر شهر ربيع الأول وأشرقت به أرجاؤها الزكية * وتلقاه الأنصار ونزل بقباء وأسس مسجدها علي تقواه *

Di perjalanan hijrah, beliau melewati daerah Qudaid dan singgah di rumah Ummi Ma’bad Al-khuza’iyyah. Di situ beliau hendak membeli daging atau susu, namun di dalam bejana- bejana yang di miliki Ummi Ma’bad sama sekali tidak ada isinya. Lalu beliau melihat kambing yang ada di rumah yang sedang dalam keadaan sangat lemah dan tidak bisa di gembala. Lalu beliau minta ijin padanya untuk memperahnya dan tuah rumah pun mengijinkan seraya berkata, “Seandainya ada air susunya, sudah barang tentu kami bisa mendapatkannya.” Kemudian Nabi memegang susu kambing tersebut sambil berdoa pada Alloh, Tuhan yang mengasihi dan menolongnya. Maka kontan air susu kambing menjadi deras dan bahkan bisa mencukupi rombongan yang menyertai Nabi. Nabi Saw juga mengulangi memperahnya dan meletakkan di bejana yang ada di situ dan meninggalkannya sebagai tanda yang sangat jelas.

Kemudian setelah itu, sang suami yaitu Abu Ma’bad datang dan melihat air susu yang melimpah hingga ia di buatnya sangat heran. Ia bertanya, “Bagaimana ini, padahal di dalam rumah tidak ada kambing yang bisa mengeluarkan air susu setetespun ?.” Sang istri menjawab, “Tadi ada laki- laki yang penuh berkah bercirikan begini dan begitu mampir ke sini.” Sang suami menambahkan, “O, itu seseorang dari Quroisy !!.” Bahkan ia bersumpah, “Seandainya ia melihatnya, niscaya ia akan mendekat padanya, mengikuti, dan beriman padanya.”

Kemudian Nabi SAW sampai di Madinah pada hari Senin tanggal dua belas Robi’ul Awwal. Dan sebab kedatangan beliau ini,kota Madinah menjadi cerah dan bersih. Dan saat beliau datang, beliau di jemput para sahabat Ansor, dan beliau singgah di Qoba’ dan mendirikan masjid di sana dengan pondasi taqwa.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وكان صلي الله عليه وسلم أكمل الناس خلقا وخلقا ذا ذات وصفات سنية * مربوع القامة أبيض اللون مشربا بحمرة واسع العينين أكحلهما أهدب الأشفار قد منح الزجج حاجباه * مفلج الاسنان واسع الفم حسنه واسع الجبين ذا جبهة هلالية * سهل الخدين يري في أنفه بعض احديداب حسن العرنين اقناه * بعيد ما بين المنكبين سبط الكفين ضخم الكراديس قليل لحم العقب كث اللحية عظيم الرأس شعره الي الشحمة الاذنية * وبين كتفيه خاتم النبوة قد عمه النور وعلاه * وعرقه كاللؤلؤ وعرفه اطيب من النفحات المسكية * ويتكفؤ في مشيته كأنما ينحط من صبب ارتقاه * وكان يصافح المصافح بيده الشريفة فيجد منها سائر اليوم رائحة عبهرية * ويضعها علي رأس الصبي فيعرف مسه من بين الصبية ويدراه * يتلألؤ وجهه الشريف تلألؤ القمر في الليلة البدرية * يقول ناعته لم أر قبله ولا بعده بشر يراه

Adalah Nabi SAW orang yang paling sempurna tubuh dan budinya, berpribadi dan budi yang luhur. Beliau sedang ketinggian badannya, putih kemerah- merahan, luas dan bercelak kedua matanya, tebal serta melengkung kedua alisnya, runcing gigi- giginya, luas dan indah mulutnya, luas keningnya, dengan dahi yang bersinar, rata kedua pipinya, pada hidungnya ada sedikit, berjauhan jarak kedua punggungnya, luas kedua tapak tanganya, sedikit , sedikit daging tungkanya, tebal jenggotnya, dengan rambut yang menggapai daun telinga. Di antara kedua punggungnya ada cap kenabian dengan sinar yang menyelubunginya. Keringat beliau seperti kilauan mutiara, keringatnya berbau harum melebihi keharuman misik. Ketika berjalan seakan turun dari dataran tinggi. Jika ada orang yang bersalaman dengan tangan beliau yang mulya, maka ia akan mendapatkan keharuman tangannya berhari- hari. Dan jika seandainya beliau memegang salah kepala salah satu anak kecil, maka anak tersebut akan di ketahui bahwa anak tersebut pernah di pegang oleh Nabi SAW dari antara sekian banyak anak karena baunya yang wangi. Wajah beliau berkilau bagai bulan purnama, sampai orang yang pernah melihatnya akan menerangkan sifat- sifatnya dengan uapannya, “Aku tidak pernah melihat sebelumnya seorang pun dan tidak akan bakal ada orang yang melihat orang yang seperti beliau.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

وكان صلي الله عليه وسلم شديد الحياء والتواضع يخصف نعله ويرقع ثوبه ويحلب شاته ويسير في خدمة أهله بسيرة سرية * ويحب الفقراء والمساكين ويجلس معهم ويعود مرضاهم ويشيع جنائزهم ولا يحقر فقيرا أدقعه الفقر وأشواه * ويقبل المعذرة ولايقابل أحدا بما يكره ويمشي مع الارملة وذوي العبودية * ولا يهاب الملوك ويغضب لله تعالي ويرضي لرضاه * ويمشي خلف أصحابه ويقول خلوا ظهري للملائكة الروحانية * ويركب البعير والفرس والبغلة وحمارا بعض الملوك إليه أهداه * ويعصب علي بطنه الحجر من الجوع وقد أوتي مفاتيح الخزائن الأرضية * وراودته الجبال بأن تكون له ذهبا فأباه * وكان صلي الله عليه وسلم يقل اللغو ويبدؤ من لقيه بالسلام ويطيل الصلاة ويقصر الخطب الجمعية * ويتألف اهل الشرف ويكرم اهل الفضل ويمزح ولايقول إلا حقا يحبه الله تعالي ويرضاه * وههنا وقف بنا جواد المقال عن الطراد في الحلبة البيانية * وبلغ ظاعن الاملاء في فدافد الإيضاح منتهاه *

Dan adalah Nabi SAW sangat pemalu dan tawadlu’, beliau menjahit sandalnya, menambal bajunya, memperah kambingnya dan melayani keluarganya dengan dirinya.  Beliau mencintai orang- orang faqir miskin, duduk bersama mereka, membesuk mereka yang sedang sakit, mengiring jenazah mereka, dan tidak pernah menghina orang faqir yang terbakar oleh kefakirannya.  Beliau mengampuni orang lain, tidak menghadapi seseorang dengan sesuatu yang ia benci, dan berjalan dengan para janda dan budak. Beliau sama sekali tidak takut pada raja dan marah karena Alloh dan ridlo karena di situ ada ridlo Alloh. Beliau berjalan di belakang para Sahabatnya dan berkata pada merteka, “Biarkan di belakangku ada para Malaikat yang halus !.” Beliau berkendara onta, kuda, bighol, dan himar ( keledai ) yang di hadiahkan oleh sebagian raja pada beliau. Beliau membalutkan batu pada perutnya karena saking laparnya, padahal beliau telah di beri kunci- kunci ekonomi dunia. Pernah pada suatu saat, gunung- gunung menawarkan padanya untuk berubah menjadi emas, namun beliau menolaknya.

Dan adalah Nabi SAW sangat sedikit sekali berbuat yang tidak berguna. Beliau jika bertemu seseorang, maka beliau-lah yang memulai memberikan salam. Dan jika solat, beliau melakukannya agak lama. Sedangkan jika berhitbah, maka beliau mempercepatnya. Kepada orang- orang memiliki kemulyaan, beliau bergaul dengan santai dan kalem. Beliau memulyakan orang- orang mulya. Beliau juga bergurau, namun tidak berucap kecuali dengan ucapan yang benar yang di cintai dan di ridloi oleh Alloh.

Di sini, keterangan- keterangan yang mirip dengan kuda yang indah telah berhenti dari perjalanannya di medan penjelasan. Dan imla’ yang berangkat sudah sampai garis finishnya.

عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

اَللّهُمَّ يَا بَاسِطَ اْليَدَيْنِ بِاْلعَطِيَّةْ * يَا مَنْ اِذَا رُفِعَتْ اِلَيْهِ أَكُفُّ اْلعَبْدِ كَفَاهْ * يَا مَنْ تَنَزَّهَ فِيْ ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ اْلاَحَدِيَّةْ * عَنْ اَنْ يَكُوْنَ لَهُ فِيْهَا نَظَائِرُ وَاَشْبَاهْ * يَا مَنْ تَفَرَّدَ بِاْلبَقَاءِ وَاْلقِدَمِ وَاْلاَزَلِيَّةْ * يَا مَنْ لَا يُرْجَي غَيْرُهُ وَلَا يُعَوَّلُ عَلَي سِوَاهْ * يَا مَنِ اسْتَنَدَ اْلأَنَامُ إِلَي قُدْرَتِهِ اْلقَيُّوْمِيَّةْ * وَأَرْشَدَ بِفَضْلِهِ مَنِ اسْتَرْشَدَهُ وَاسْتَهْدَاهْ * نَسْأَلُكَ اللّهُمَّ بِأَنْوَارِكَ اْلقُدْسِيَّةْ * اَّلِتيْ أَزَاحَتْ مِنْ ظُلُمَاتِ الشَّكِّ دُجَاهْ * وَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِشَرَفِ الذَّاتِ اْلُمحَمَّدِيَّةْ * وَبِأَلِهِ كَوَاكِبِ أَمْنِ اْلبَرِيَّةِ وَسَفِيْنَةِ السَّلاَمَةِ وَالنَّجَاةْ * وَبِأَصْحَابِهِ أُولِي اْلهِدَايَةِ وَاْلأَفْضَلِيَّةْ * اَّلذِيْنَ بَذَلُوْا نُفُوْسَهُمْ ِللهِ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِنَ الله * وَبِحَمَلَةِ شَرِيْعَتِهِ أُولِي اْلَمنَاقِبِ وَالْخُصُوْصِيَّةْ * الَّذِيْنَ اسْتُبْشِرُوْا بِنِعْمَةٍ وَفَضْلٍ مِنَ الله * أَنْ تُوَفِّقَنَا فِي اْلأَقْوَالِ وَاْلأَعْمَالِ لِإِخْلاَصِ النِّيَّة * وَتُنْجِحَ لِكُلٍّ مِنَ اْلحَاضِرِيْنَ وَاْلغَائِبِيْنَ مَطْلَبَهُ وَمُنَاهْ * وَتُخَلِّصَنَا مِنْ أَسْرِ الشَّهَوَاتِ وَاْلأَدْوَاءِ اْلقَلْبِيَّةْ * وَتُحَقِّقْ لَنَا مِنَ اْلآماَلِ مَا بِكَ ظَنَنَّاهْ * وَتَكْفِيَنَا كُلَّ مُدْلَهِمَّةٍ وَبَلِيَّةْ * وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ أَهْوَاهُ هَوَاهْ * وَتُدْنِيَ لَنَا مِنْ حُسْنِ اْليَقِيْنِ قُطُوْفًا دَانِيَةً جَنِيَّةْ *وَتَمْحُوَ عَنَّا كُلَّ ذَنْبٍ جَنَيْنَاهْ * وَتَسْتُرَ لِكُلٍّ مِنَّا عَيْبَهُ وَعَجْزَهُ وَحَصْرَهُ وَعِيَّهْ * وَتُسَهِّلْ لَنَا مِنْ صَالِحِ اْلاَعْمَالِ مَا عَزَّ ذُرَاهْ * وَتَعُمَّ جَمْعَنَا هَذَا مِنْ خَزَائِنِ مِنَحِكَ السَّنِيَّةْ * بِرَحْمَةٍ وَمَغْفِرَةٍ وَتُدِيْمَ عَمَّنْ سِوَاكَ غِنَاهْ * اللهُمَّ إِنَّكَ جَعَلْتَ لِكُلِّ سَائِلٍ مَقَامًا وَمَزِيَّةْ * وَلِكُلِّ رَاجٍ ماَ أَمَّلَهُ فِيْكَ وَرَجَاهْ * وَقَدْ سَأَلْنَاكَ رَاجِيْنَ مَوَاهِبَكَ الَّلدُنِيَّةْ * فَحَقِّقْ لَنَا مَا مِنْكَ رَجَوْناَهْ * اللهُمَّ أمِنِ الَّروْعَاتِ وَأَصْلِحِ الرُّعَاةَ وَالرَّعِيَّةْ * وَأَعْظِمِ اْلأَجْرَ لِمَنْ جَعَلَ هَذَا اْلخَيْرَ فِيْ هَذَا اْليَوْمِ وَأَجْرَاهْ * اللهم اجْعَلْ هَذِهِ اْلبَلْدَةَ وَسَائِرَ بِلَادِ اْلإِسْلاَمِ أمِنَةً رَخِيَّةْ * وَاسْقِنَا غَيْثًا يَعُمُّ انْسِيَابُ سَيْبِهِ السَّبْسَبَ وَرُبَاهْ * وَاغْفِرْ لِنَاسِجِ هَذِهِ اْلبُرُوْدَ اْلُمحَبَّرَةَ اْلَموْلِدِيَّةْ * سَيِّدِنَا جَعْفَرْ مَنْ إِلَي اْلبَرْزَنْجِيِّ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَمَاهْ * وَحَقِّقْ لَهُ اْلفَوْزَ بِقُرْبِكَ وَالرَّجَاءَ وَاْلأُمْنِيَّةْ * وَاجْعَلْ مَعَ اْلُمقَرَّبِيْنَ مَقِيْلَهُ وَسُكْنَاهْ * وَاسْتُرْ لَهُ عَيْبَهُ وَعَجْزَهُ وَحَصْرَهُ وَعِيَّهْ * وَكَاتِبِهَا وَقَارِئِهَا وَمَنْ اَصَاغَ اِلَيْهَا سَمْعَهُ وَاَصْغَاهْ * اللهم وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَي اَوَّلِ قَابِلٍ لِلتَّجَلِّيِّ مِنَ اْلحَقِيْقَةِ اْلكُلِّيَّةْ وَعَليَ ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ نَصَرَهُ وَوَالَاهْ * مَا شُنِّفَتِ اْلآذَانُ مِنْ وَصْفِهِ الدُّرِّيِّ بِأَقْراَطٍ جَوْهَرِيَّةْ * وَتَحَلَّتْ صُدُوْرُ اْلَمحَافِلِ اْلُمنِيْفَةِ بِعُقُوْدِ حُلَاهْ * وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيْمِ عَلَي سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ اْلاَنْبِيَاءِ وَاْلُمرْسَلِيْنَ * وَعَلَي أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ * سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ * وَسَلَامٌ عَلَي اْلُمرْسَلِيْنَ * والحمد لله رب العالمين *

Ya Alloh, wahai Tuhan yang membentangkan kedua tangan-Nya dengan pemberian. Wahai Tuhan yang bilamana kedua tapak tangan hamba di angkat kepada-Nya, maka Dia akan mencukipinya. Wahai Tuhan yang maha suci di dalam Dzat dan Sifat- Sifat-Nya dari kemiripan dari siapapun. Wahai Tuhan yang hanya Dia-lah di miliki sifat Qidam, Baqo’, dan Azali. Wahai Tuhan yang tiada harapan dan tumpuhan hati kecuali pada-Nya. Wahai Tuhan yang semua mahluk bersandar pada sifat Qdroh dan Qoyyumiyyah-Nya, dan menunjukkan pada orang yang minta petunjuk dengan anugerah-Nya. Kami minta pada-Mu dengan cahaya-Mu yang suci yang menghilangkan kegelapan keraguan. Dan kami membuat perantara kepada-Mu dengan kemulyaan Nabi Muhammad, para keluarganya yang menjadi bintang di dalam keamanan mahluk dan menjadi bahtera keselamatan, para Sahabatnya yang memiliki petunjuk dan kelebihan yang telah menyerahkan diri mereka pada Alloh dengan tujuan mencari anugera-Nya, dan para Ulama yang membawa Syariat yang memiliki sifat- sifat yang bagus dan kehususan, kami minta agar Egkau memberi pertolongan pada kami di dalam ucapan dan amal agar berniat dengan ikhlas, meluluskan tujuan setiap dari kami, baik yang hadir atau yang tidak, membersihkan kami dari kungkungan sahawat dan penyakit hati, merealisasikan pengharapan kami yang telah kami curahkan keyakinan kami pada-Mu, menjaga kami dari segala cobaan, janganlah jadikan kami orang yang di hancurkan oleh hawa nafsu, dekatkanlah pada kami keyakinan yang baik yang mirip dengan buah yang dekat dan siap di petik, hapuslah segala dosa yang telah kami lakukan, tutuplah setiap dari kami cacat, kelemahan, hususnya kelemahan di dalam berbicara kami, mudakanlah kami untuk berbuat amal yang baik, agung dan tinggi, jadikanlah perkumpulan kami ini rata dengan ramat dan pengampunan dari gudang pemberian-Mu, jadikanlah kami selalu tidak bergantungan dengan selain Engkau.

Ya Alloh, sungguh Engkau menberikan tingkatan bagi setiap orang yang meminta pada-Mu da memberikan pengharapan setiap orang yang mengharap dari-Mu. Sedangkan kami telah meminta-Mu dengan mengharap pemberian yang langsung dari-Mu. Maka nyatakanlah pengharapan tersebut. Ya Alloh, berilah kami aman dari segala ketakutan, jadikanlah kami rakyat dan penguasa yang baik. Besarkanlah pahala bagi orang yang melakukan kebaikan ini di hari ini. Ya Alloh, jadikanlah negeri ini dan negeri- negeri Islam aman dan swasembada. Berilah kami hujan yang rata di tanah yang datar dan tinggi. Ampunilah orang yang menata Burud Maulid ini, yaitu Sayyid Ja’far, orang yang sebangsa pada Albarzanjy. Jadikanlah tempat peristirahatannya bersama orang- orang yang dekat dari-Mu. Berilah kedekatan dan pengharapannya Tutuplahlah cacat, kelemahan dan khususnya di dalam berbicaranya. Begitu pula orang yang menulis, membaca, dan orang yang mendengarkannya. Berilah Solawat-Mu pada orang yang menerima Tajalli dari Dzat Tuhan ( ya’ni : Nabi Muhammad SAW ), para keluarga, dan Sahabat, dan orang- orang yang menolongnya, selama telinga- telinga masih di gantungi mutiara sifat- sifat kenabian dan beberapa panggung yang agung di hiasai dengan hiasan- hiasan kenabian.

Solawat yang paling afdlol semoga tercurahkan pada Sayyidina Muhammad nabi pemungkas, keluarga, dan para sahabatnya.

 

Teks kitab Al-Barzanjy pdf bisa di doqnload disini : Teks Kitab Al-Barzanjy

Demikian atas kunjunganya kami sampaikan terimakasih. Semoga bermanfaat dan semoga kelak kita mendapat syafaat Rasulillah SAW berkah kecintaan kita kepada beliau dengan menghidupkan kembali sejarah hidup dan sunnah-sunnah-Nya. Aamiin yaa robb !!

Al-faqir liridholloh,

rifaudiahmad

DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

Memberikan Tarbiyah untuk jiwa seorang Muslim

Ringkasan Materi Pengalaman mengikuti Ta’lim Pagi di Ma’had Nurul Haromain

Ngroto, Pujon, Malang, Jawa Timur.

Rabu, 26 Desember 2012

(Oleh Ustadz Syihab Syifa)

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk mempunyai jiwa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah lembut serta saling menyambung dengan sesama muslim lain. Kita dilarang untuk memiliki sikap negatif seperti saling membenci, iri hati, sikap berpaling, sikap memutus hubungan, sikap menjauhi, mendzalimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan dan sikap berlomba-lomba serta saling berbangga dan berburuk sangka sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

وكونوا عباد الله إخوانا

“Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Bila salah satu diantara beberapa sikap negatif itu masih melekat pada diri kita, maka artinya jiwa kita masih perlu untuk dibina. Sebab hal tersebut selain merusak amal kita juga menyia-nyiakan pahala serta melebur kebaikan yang pernah kita lakukan. Penyebab dari hal tersebut antara lain karena penyakit hati masih kita miliki, kekolotan watak kita serta pelencengan dalam karakter asli kita. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menegaskan bahwa ketika dua orang benar-benar saling mencintai karena Alah maka mereka tidak akan pernah bisa terpisahkan oleh halangan dan rintangan apapun bentuknya. Sebab tali cinta yang didasari karena Alah sangatlah kuat dan tidak akan terputus hanya karena dosa yang dilakukan oleh salah satu dari kedua orang itu. Beliau Rasulullah SAW bersabda :

ما تواد اثنان فى الله عز وجل أو فى الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب يحدث أحدهما

Tiada dua orang yang saling mencintai karena Allah ‘Azza wa jalla atau karena Islam, lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya (HR. Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod)

Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Isam. Di Akherat mereka diancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Allah SWT. Pintu-pintu syurga tertutup bagi mereka sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW :

تفتح أبواب الجنة يوم الإثنين والخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلان كان بينه وبين أخيه شحناء فيقال : أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا

“Pintu-pintu syurga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan Alah dengan apapun, kecuali seseorang yang diantaranya dengan saudaranya ada kebencian. Lalu diucapkan “Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai” (HR. Muslim)

Untitled

Abu Darda’ RA berkata : “Maukah ku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada sedekah dan puasa?? (yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berseteru. Dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala).” (HR. Imam Bukhori dalam Al-Adab Al-Mufrod).

Seorang muslim yang terbina tentu akan menahan diri dari kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan. Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih, dan jernih. Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya agar menuju Allah, kitab-Nya dan rasul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasehat dalam agama ini.

Demi memuliakan tai persaudaraan dan pertemanan, maka seorang muslim yang terbina juga memiliki watak setia kepada saudaranya. Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dzalim atau di dzalimi. Pada saat berbuat dzalim maka ia mencegah dan saat didzalimi maka ia melakukan pembelaan. Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran Islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.

Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan, maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok. Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridlaan, ampunan, dan kasih sayang Allah SWT. Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa menggunjing hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan oleh lisan ke dalam neraka.

Muslim yang terbina akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan yang tidak berguna dengan saudaranya. Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya. Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta.

Muslim yang terbina selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia, sehingga dekat dan dicintai oleh manusia.jika bertemu maka ia mengucapkan salam, memenuhi undangan mereka, berdo’a untuknya (tasymit) bila ia bersin, membesuk mereka ketika sakit, menghadiri dan mengantar jenazah mereka, serta mendoakan mereka dari jauh (yang bisa mengokohkan bukti kecintaan serta meneguhkan tali persaudaraan kepada mereka). Doa seperti ini lah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihkhlasan dan kesungguhan.

Semua hal itu adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebarluaskan cinta, persaudaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian. Dalam setiap kesempatan beliau selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci serta jiwa menjadi keruh.

Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Allah sebagaimana yang diinginkan Islam.

Wallahu yatawallal jamii’ bi ri’aayatih.

Taubat…. Penting yach???

Akhiinal-kariim rohimakumulloohu jamii’an. Mari kita mencermati ayat berikut ini :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً ﴿١٧﴾ وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً ﴿١٨﴾

017. (Sesungguhnya tobat di isi Allah) yakni yang pasti diterima di sisi-Nya berkat kemurahan-Nya (ialah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan) atau maksiat (disebabkan kejahilan) menjadi hal artinya tidak tahu bahwa dengan itu berarti mendurhakai Allah (kemudian mereka bertobat dalam) waktu (dekat) yakni sebelum mengalami sekarat (maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah) artinya diterima-Nya tobat mereka (dan Allah Maha Mengetahui) akan makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) mengenai tindakan-Nya terhadap mereka.

018. (Dan tidaklah dikatakan tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan) atau dosa (hingga ketika ajal datang kepada salah seorang mereka) dan nyawanya hendak lepas (lalu dikatakannya) ketika menyaksikan apa yang sedang dialaminya (“Sesungguhnya saya bertobat sekarang.”) karena itu tidaklah bermanfaat dan tidak akan diterima oleh Allah tobatnya. (Dan tidak pula orang-orang yang mati sedangkan mereka berada dalam kekafiran) yakni jika mereka bertobat di akhirat sewaktu menyaksikan azab, maka tidak pula akan diterima. (Mereka itu Kami siapkan) sediakan (bagi mereka siksa yang pedih) yang menyakitkan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Taubat yang benar-benar akan diterima hanyalah taubat yang dilakukan sebelum seseorang berada dalam keadaan sakaratul maut. Sehingga wajib bagi setiap muslim untuk melakukan taubat nasuha, yakni kembali kepada jalan Allah SWT dengan menjalankan 4 hal yakni : menyesali perbuatan dosa yang pernah dilakukan, berhenti dari perbuatan dosa itu, serta beri’tikad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tadi dan yang lebih penting lagi adalah segera mengembalikan hak dan meminta maaf atau meminta halal terhadap perbuatan dosa yang berhubungan dengan hak orang lain.

Kita adalah manusia yang memang dibekali dengan sikap salah dan lupa, banyak nikmat dari Ilahi robb yang masih tidak kita gunakan secara maksimal untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, memang kita diperintahkan untuk selalu bertaubat, serta selalu menjaganya dengan senantiasa bermuhasabah (menghitung kekurangan-kekurangan kita sendiri) atas tindakan sembrono serta sikap menyepelekan perbuatan dosa yang sering kita lakukan. Hal ini penting agar kita tidak terlalu lama bergemul dalam kubangan maksiyat serta lebih berhati-hati dalam memanfaatkan nikmat bernafas, nikmat bergerak, nikmat beristirahat serta nikmat-nikmat yang lain dari-Nya yang kesemuanya merupakan amanat yang harus dijaga dan untuk dipertanggungjawabkan kelak.

Sayyidina Umar ibn Khattab pernah berkata : Hitunglah diri(amal)mu sebelum kamu dihitung. Persiapkanlah dirimu untuk bertemu dengan hari yang besar, menghadap Allah SWT di hari yang tidak akan samar satupun amal yang pernah kamu lakukan di dunia ini.

Barang siapa yang ahli menghitung kekurangan diri sebelum datangnya hari penghitungan amal, maka kelak di hari qiyamat ia akan dihisab dengan lebih ringan dan lebih mudah. Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak menyadari(mengakui) akan kekurangan diri (tidak bermuhasabah), maka akan kekal penyesalan dan penderitaanya. Ia akan berada di lapangan qiyamat (padang mahsyar) dengan penantian yang amat panjang, serta ia akan digiring pada kehinaan dan dicela oleh Tuhanya. Na’uudzubillah min dzaalik.

Oleh karenanya, semoga kita senantiasa mendapat hidayah serta ma’unah dari Alah SWT menjadi insan yang ahli taubatan nasuha serta ahli muhasabah sehingga kelak memperoleh ridlo-Nya Amiin yaa robbal aamiin.

Akhiina karim rohimakumulloh.

Perlu kita ketahui bahwa sumber utama dari segala kemaksiyatan yang kita lakukan pada hakekatnya bersumber dari tujuh anggota badan kita. Setelah taubatan nasuha diatas teah kita lakukan, maka langkah selanjutnya adalah menjaga diri dari dosa/kemaksiyatan yang lebih sering muncul dari ke tujuh anggota badan kita sebagai berikut :

Mata kita.

Mata yang tidak dijaga dari melihat hal-hal yang haram menyebabkan hati menjadi kotor penuh dengan penyakit. Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita bahwa melihat (kepada kemaksiyatan) merupakan anak panah dari panahnya Iblis la’natullah ‘alaih. Sebab dari melihat ini akan menimbulkan dorongan berpikir kotor dan dari pikiran kotor ini akan menimbulkan zina. Zina mata akan menjadi bahan pertimbangan bagi hati untuk menyetujui dan meneruskan zina itu pada perbuatan zina yang lebih besar lagi ataukan menolak zina untuk kemudian memiih bertaubat.

Para ulama’ berfatwa : takutlah kalian pada penglihatan(kemaksiyatan). Sebab apa yang kalian lihat akan kalian ukir dalam hati. Ketahuiah olehmu bahwa sesungguhnya keburukan dunia itu tampak nyata, banyak ujian yang timbul akibat bujukan dunia yang diawali dengan pengihatan ini.

Lisan Kita

Anggota badan seanjutnya yang juga merupakan sumber dari setiap kemaksiyatan adalah lisan. Lisan kita akan mendorong pada ridlo Allah manakala kita menggunakanya untuk mengucapkan kalimah-kalimah toyyibah, dzikir dan do’a serta melakukan segala bentuk anjuran agama kita. Namun lisan ini juga akan menjadi lantaran menuju neraka manakala lisan yang kita miliki kita gunakan untuk berbohong. Allah SWT mengingatkan kita akan bahaya berbohong melalui ayat Al-qur’an :

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ ﴿١٠٥﴾

105. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta (Q.S. An-Nahl 101).

Banyak orang menjadi hina karena berbohong dan Allah benar-benar melaknati orang-orang yang suka berbohong. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sifat bohong merupakan salah satu dari ciri orang munafiq yang kelak diancam oleh Allah akan ditempatkan pada tingkatan neraka paling rendah, na’uudzubillah min dzaalik.

Lisan ini juga harus kita jaga dari berghibah (membicarakan aib orang lain). Sebab sebagaimana diterangkan dalam hadis bahwa tiap muslim satu dengan muslim lainya haram darah mereka (tidak boleh dibunuh), haram hartanya (tidak boleh dijarah, dicuri, dirampok, dirampas, dimiiki secara tidak hak), serta haram harga dirinya (tidak boleh dihina, dilecehkan termasuk dighibah, dsb).

Jangan sampai kita terjatuh pada perbuatan namimah (adu domba) serta pada tindakan memfitnah orang lain. Allah melarang hal itu melalui firman-Nya :

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ﴿١٠﴾ هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ ﴿١١﴾

010. (Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah) dengan cara yang batil (lagi hina) yakni rendah. 11. (Yang banyak mencela) atau sering mengumpat (yang kian ke mari menghambur fitnah) yakni berjalan ke sana dan ke mari di antara orang-orang dengan maksud merusak mereka, yakni menghasut mereka. (Q.S Al-Qalam : 10 – 11)

Yang selanjutnya janganlah kita menggunakan lisan untuk menghina dan meremehkan orang lain. Dalam Al-qur’an disebutkan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١﴾

011. (Hai orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan) dan seterusnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah (dan jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir. (Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah orang-orang yang lalim.) (Q.S Al-Hujarat : 11)

Lisan itu amat tajam, melebihi tajamnya pedang. Luka yang diakibatkan oleh kesalahan lisan akan lebih sulit untuk diobati dan ebih lama sembuhnya daripada luka akibat sabetan pedang. Banyak orang menjadi mulia karena lisan namun tidak sedikit orang yang menjadi hina juga karena lisanya. Semoga Allah SWT memberi pertolongan kepada kita untuk menghindari keburukan-keburukan lisan.

Telinga kita

Anggota tubuh selanjutnya yang juga merupakan sumber kemaksiyatan adalah telinga kita. Janganlah kita menggunakan telinga ini untuk mendengarkan keburukan-keburukan lisan sebagaimana diatas, serta untuk menikmati lagu-lagu maupun musik yang membuat lupa pada Allah SWT. Sebab lagu yang membuat lupa pada Allah juga akan menimbulkan sikap kemunafikan dalam hati kita. Adapun dzikir dan bacaan-bacaan Alqur’an/al-hadis akan menumbuhkan keimanan.

Perut kita

Perut merupakan anggota tubuh yang amat vital yang harus dijaga dari setiap perkara haram serta perkara-perkara syubhat. Bahkan harus dijaga pula dari memenuhinya secara berlebihan sebab hal itu akan membuat keras hati.

Kedua tangan kita

Kedua tangan adalah anggota tubuh selanjutnya yang harus dijaga dari dari bekerja/mencari  barang haram. Jangan menulis sesuatu yang haram untuk diucapkan, jangan memukul/mencelakai muslim lain tanpa haq, dan atau melakukan kemaksiyatan-kemaksiyatan lainya.

Kedua kaki kita

Kaki juga harus dijaga, jangan sampai digunakan untuk berjalan menuju tempat kemaksiyatan, berjalan menuju penguasa yang dzalim tanpa adanya dharurat dan kemaksiyatan lainya.

Kemaluan kita

Allah memberi amanah kemaluan (farj) kepada kita untuk kita jaga dan kita saurkan hanya kepada orang yang telah ditentukan oleh-Nya sebagai pasangan hidup. Nabi Muhamad SAW menyarankan para pemuda yang masih belum mampu untuk menikah dengan memperbanyak berpuasa agar mereka bisa mengendalikan hawa nafsunya.

Akhirnya, marilah kita berusaha menjaga ketujuh anggota badan kita diatas dengan sekuat tenaga kita dalam menghindari kemaksiyatan. Jangan menunggu bertaubat hingga tua, sebab belum tentu usia kita sampai tua. Tapi bertaubatlah sejak masih muda, sebab titipan kekuatan Alah untuk taat pada-Nya masih ada pada diri kita. Semoga petunjuk serta pertolongan Allah SWT senantiasa menyertai langkah kita semua menuju masa depan akherat dalam naungan ridlo-Nya, Amiin yaa robbal alamiin.

==============

Referensi : KItab Kifayah al-atqiya’

Taubat

Taubat merupakan salah satu sifat dasar yang penting dan harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin memperoleh derajat di sisi Allah SWT.

Secara Bahasa, Taubat bisa diartikan sebagai “Kembali”, pulang, menyesali perbuatan dosa  yang telah dilakukan.

Sedang secara istilah, Taubat berarti kembali dari jalan yang dicela oleh hukum syare’at agama Islam menuju jalan yang dipuji dalam aturan syare’at agama Islam. ada yang mengartikan taubat dengan  berhenti dari perbuatan dosa yang telah dilakukan, kemudian kembali ke jalan yang benar.

Hukum bertaubat adalah wajib bagi setiap orang islam. Banyak dalil baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Al-Hadist yang menunjukan adanya kewajiban bertaubat ini. Diantaranya tersebut dalam ayat berikut :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً ﴿٧٠

070. (Kecuali orang-orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh) dari kalangan mereka (maka kejahatan mereka itu diganti Allah) maksudnya dosa-dosa yang telah disebutkan tadi diganti oleh Allah (dengan kebaikan) di akhirat kelak. (Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Dia tetap bersifat demikian. (Q.S. AL-FURQAN : 70)

Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa Allah akan mengganti dosa orang yang mau bertaubat dengan kebaikan. Sehingga manfaat sikap taubat ini sangatlah besar.

Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan betapa pentingnya sifat taubat ini yakni orang yang melakukanya akan Mendapat pahala  atau keberuntungan (masuk surga). sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nur : 31 sebagai berikut :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣١

031. (Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya) daripada hal-hal yang tidak dihalalkan bagi mereka melihatnya (dan memelihara kemaluannya) dari hal-hal yang tidak dihalalkan untuknya (dan janganlah mereka menampakkan) memperlihatkan (perhiasannya, kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya) perhiasan yang tersembunyi, yaitu selain dari wajah dan dua telapak tangan (kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan) terhadap wanita (dari kalangan kaum laki-laki atau anak-anak yang masih belum mengerti) belum memahami (tentang aurat wanita,  Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung”

Dalam QS.Al-Imran : 135-136 Allah juga menyebutkan :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾ أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ﴿١٣٦

135. (Dan juga orang-orang yang apabila mereka berbuat kekejian) artinya dosa yang keji seperti perzinahan (atau menganiaya diri mereka sendiri) artinya melakukan dosa yang lebih ringan dari itu misalnya mencium (mereka ingat kepada Allah) maksudnya ingat akan ancaman-Nya (lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapakah) artinya tidak ada (yang dapat mengampuni dosa itu melainkan Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan mereka itu) menghentikannya sama sekali (sedangkan mereka mengetahui) bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan maksiat adanya. 136. (Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir anak-anak sungai, kekal mereka di dalamnya) menjadi hal artinya ditakdirkan kekal jika mereka beruntung memasukinya (dan itulah sebaik-baiknya pahala bagi orang yang beramal) artinya pahala bagi orang-orang yang mengerjakan perbuatan terpuji ini.

Selain dalam beberapa ayat al-Qur’an diatas, banyak keterangan dalam hadis-hadist Rasulullah SAW yang menerangkan tentang pentingnya Taubat.

Ketauhilah wahai para saudaraku bahwa sesungguhnya Allah itu maha suci dan sesungguhnya DIA amat senang terhadap orang-orang yang mau mensucikan diri. Bila mana Rasulullah SAW senantiasa melakukan taubat tiap harinya, bahkan diterangkan dalam salah satu hadis bahwa Beliau melakukan taubat seratus kali dalam seharinya maka bagaimanakah dengan kita??

Sadarilah bahwa Pintu taubat masih terbuka lebar bagi kita. Sebelum nyawa kita sampai pada kerongkongan dan sebelum matahari terbit dari arah barat. Jangan sampai kita kelak kecewa dan merasa rugi sebab tidak menggunakan kesempatan hidup yang hanya sekali ini sebaik mungkin.

Sungguh beruntung orang-orang yang bertaubat, dimana mereka akan bersih ibarat orang yang tidak mempunyai dosa sedikitpun. Sedang orang yang bertaubatnya hanya sebagai alat mencari pandangan di mata manusia lain maka taubat mereka ibarat mengajak Allah untuk bercanda. Maka tiada yang lebih baik dalam taubat kecuali taubat yang sungguh-sungguh yang dalam istilahnya sering kita kenal sebagai taubat Nasuha. dalam Taubat Nasuha ini ada tiga syarat yang harus dipenuhi yakni : berhenti dari melakukan dosa tersebut, menyesali dan berniat untuk tidak mengulangi dosa tersebut serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh pada dosa itu lagi. Jika hal ini benar-benar kita lakukan maka janji Allah (sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis bahwa DIA akan memberikan sifat lupa kepada malaikat pencatat amal keburukan kita, kepada anggota badan yang kita gunakan untuk maksiyat serta lingkungan sekitar kita yang kelak memang akan menjadi saksi atas keburukan kita) di hari Qiyamat semuanya akan bisa kita rasakan.

Kelak di hari qiyamat Nabi Adam AS sebagai asal-usul manusia akan diperintahkan oleh Allah untuk memimpin dan mengumpulkan manusia yang ahli bertaubat dari qubur mereka untuk selanjutnya Allah akan melihat wajah orang-orang tersebut dengan sifat rahmat kasih sayang-Nya. “HAi Nabi Adam, aku telah mewariskan (memberikan) kepada anak cucumu sifat sulit dan banyak rintangan dalam hidup mereka, dan aku juga telah mewariskan kepada mereka taubat. Barang siapa yang memanggil Aku (berdoa pada-Ku)dengan taubatnya maka aku akan mengampuni mereka sebagaimana aku mengampuni dirimu”. Sedang orang-orang yang ujub (sombong dan tidak mau bertaubat) maka akan dilihat oleh Allah dengan sifat marah-Nya.

Nabi Muhamad pernah mengatakan :

“Hai orang-orang, bertaubatlah kalian kepada Allah sebelum kalian mati. Bersegeralah dalam beramal sholih sebelum kalian sibuk (karena sulitnya sakaratul maut), Sambunglah sillaturrahim dengan Tuhanmu, yakni dengan memperbanyak ingat kepada-Nya, memperbanyak shadakah baik ketika sendirian maupun ketika banyak orang, Bila semua ini engkau lakukan maka engkau akan diberikan rizki, diberi pertolongan serta diampuni dosamu”.

Sesungguhnya Allah amat gembira ketika melihat hamba-Nya yang beriman ketika mereka mau bertaubat, melebihi kegembiraan seorang yang melakukan perjalanan panjang. yakni Ketika orang itu membawa bekal makanan dan minuman di tengah padang pasir yang luas kemudian orang itu tertidur. Ketika orang itu tertidur ternyata ia melihat bekal yang ia bawa hilang sehingga orang itu sibuk mencarinya hingga ia amat kelaparan dan kehausan. Ketika ia sudah sangat lapar dan sangat haus kemudian orang itu terbangun dari tidur panjangnya untuk yang kedua kali dan ia menemukan bekal yang ia rasa hilang tadi ternyata masih berada di sampingnya. Ketahuilah betapa senang orang itu, maka sesungguhnya Allah SWT lebih senang lagi ketika melihat hamba-Nya bertaubat, melebihi senang orang tadi.

oleh karenanya wahai saudaraku, marilah kita segera bertaubat. Perbanyaklah istighfar, maka  akan terpelihara dari perbuatan maksiyat. Janganlah kita meremehkan perbuatan dosa meskipun dosa kecil dan janganlah menunda-nunda taubat , karena kematian itu datang secara tiba-tiba dan tidak mengenal usia. Marilah kita bertaubat dengan sungguh-sungguh jika telah terlanjur berbuaat dosa,dengan menyesali dosa yang pernah diperbuat, berjanji tidak akan mengulangi lagi. Setelah bertaubat kita juga harus meningkatkan amal sholeh dan menjaga diri agar tetap istiqamah dalam mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga kita semua diberikan jalan menuju pintu Taubat-Nya. Amiin yaa robbal alamiin.

Sumber : Kitab Kifayat al-athqiya’ lis sayyid abi bakr Syatho, pembukaan Bab Taubat. hlm. 14-15

ILMU ITU BUKAN HANYA UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI PENGETAHUAN, TAPI ILMU ITU UNTUK DIAMALKAN

Berikut adalah petikan ringkasan materi Haul K. Kholil (Pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Selo) Kec. Tawangharjo Kec. Grobogan Jawa Tengah oleh Gus Rojih Maimun (Sarang, Rembang)

Semoga bermanfaat untuk para alumni, para santri, serta para pembaca pada umumnya yang mungkin belum sempat datang dan atau mendengarkan sendiri taushiyah dari beliau Gus Rojih.

(Ammaa Ba’d alhamd was sholatu ‘ala rosulillah)

Para ulama’ salafy sebagaimana Al-Imam Muhasibi dan Al-Imam Junaid itu, selalu berdo’a agar mendapat keberkahan ketika wafatnya serta mendapat keberkahan setelah wafatnya.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِى اْلمَوْتِ وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا بَعْدَ اْلمَوْتِ

Hati mereka selalu behubungan dengan qubur, mereka selalu mengingat kematian dan Mereka, walaupun telah menjadi seorang alim ulama’, namun tetap mau berkumpul dengan orang awam. Sikap yang mereka miliki yakni tidak mau berprasangka buruk pada orang lain serta tidak beryakinan bahwa orang lain lebih jelek dari mereka.

Bisa jadi walau saat ini mereka belum berbuat baik, kelak akan taubat sebelum meninggal. Demikian sebaliknya, belum tentu ketaatan yang dilakukan seseorang bisa bertahan hingga akhir hayat mereka.

Syam adalah salah satu contoh negara paling jelek pada awalnya. Namun dengan sifat Abu Darda’ yang selalu berhusnud dzan dan mempunyai akhlakul karimah, hingga saat ini Negara itu menjadi amat hebat.

Para wali Allah di zaman dahulu akan merasa panas dan merasa tidak enak ketika akan berbuat maksiyat, hal ini dikarenakan mereka benar-benar kuat dalam hal keimanan dan hati nurani mereka yang bersih . Hati mereka tetap mengingat Allah walau mulut dan anggota badan sedang melaksanakan aktifitas keduniaan.

Di daerah damaskus, terdapat masjid yang pernah digunakan Abu Hurairah RA serta Mu’az bin Jabal ternyata dibangun bersebelahan dengan pasar. Namun demikian, konsentrasi dzikir mereka tidak pernah terganggu. Sebab memang hati mereka selalu terpaut dengan Allah walau berapapun besar ganggunganya. Sehingga oleh imam Al-Muhasibi memunculkan istilah :

الخلوة فى الجلوة

Menyepi dalam keramaian.

 

Oleh karenanya, marilah kita meniru do’a mereka semoga kita senantiasa mendapat petunjuk dari Allah SWT, hingga kita mendapat ridlo dari-Nya dunia akherat, bisa meneladani apa yang menjadi kebaikan mereka, Amiin yaa robb….

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيّاً ﴿١٢﴾

012. (Hai Yahya! Ambillah Kitab itu) yakni kitab Taurat (dengan sungguh-sungguh) secara sungguh-sungguh. (Dan Kami berikan kepadanya hikmah) kenabian (selagi ia masih kanak-kanak) sewaktu berumur tiga tahun.

==========

Penjelasan :

Nabi Zakariya adalah seorang yang amat khusyu’. Setelah menjelang masa tua, beliau sadar bahwa kekuatanya mulai berkurang, rambutnya mulai memutih, namun saat itu beliau belum juga mempunyai keturunan. Karena khawatir akan penerusnya, beliau pun berdo’a meminta agar dianugerahi seorang putera. Do’a beliaupun diijabahi oleh Allah dengan lahirnya seorang nabi yang belum ada satupun mampu menyerupainya. Adalah Nabi Yahya yang merupakan salah satu manusia pilihan, seorang Rasul yang amat terkenal mempunyai banyak ilmu hikmah. Yakni, seorang Nabi yang bersungguh-sungguh dalam mempelajari kitab taurat sejak masa kanak-kanaknya serta mengamalkan ajaran Taurat tersebut sesuai perintah Tuhanya. Beliau adalah type seorang ahli dzikir yang suka bergaul dengan siapapin dan tidak egois.

Oleh karenanya, termasuk tanda-tanda bahwa seseorang akan dijadikan kekasih Allah adalah mereka yang sejak kecil telah memiliki semangat untuk mencari ilmu untuk kemudian mau mengamalkan ilmu mereka kepada orang lain. Ilmu yang mereka miliki bisa memberi manfaat kepada orang lain, bukan untuk membodohi atau menyesatkan orang. Hal inilah yang pada akhir-akhirnya kurang diperhatikan. Tidak sedikit orang yang ‘alim ilmu namun ilmu tersebut tidak memberikan manfaat. Memang betul, kita diwajibkan mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya sebagai bekal hidup masa depan. Namun jauh lebih penting daripada itu bahwa ilmu yang kita miliki wajib untuk kita amalkan demi kebaikan diri dan orang lain. Jangan sampai banyak ilmu, tapi hanya untuk digunakan sebagai bahan perdebatan. Sebab hal seperti ini serupa dengan sifat orang-orang yahudi. Mereka lupa bahwa yang memberi ilmu adalah Allah SWT,dzat yang maha berilmu, memberikanya kepada siapapun yang dikehendaki-Nya dan sangat mampu mengambilnya kembali. Ingatlah satu peribahasa bahwa “Belajar Diwaktu Kecil Bagai Mengukir Diatas Batu, Belajar Di Waktu Tua Bagai Mengukir Diatas Air”. Maka perhatikanlah pendidikan anak cucumu, agar engkau diberikan generasi penerus yang bisa diandalkan oleh agamamu. Sesungguhnya manusia paling bahagia adalah mereka yang mempunyai keturunan, dan yang paling beruntung diantara orang yang mempunyai keturunan adalah mereka yang mempunyai anak-anak yang sholih.

Selanjutnya ayat diatas diteruskan dengan lafadz :

وَحَنَاناً مِّن لَّدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيّاً ﴿١٣﴾

013. (Dan rasa belas kasihan yang mendalam) terhadap manusia (dari sisi Kami) dari haribaan Kami (dan zakat) yakni senang bersedekah kepada mereka (Dan ia adalah seorang yang bertakwa) menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa Nabi Yahya tidak pernah melakukan suatu dosa pun, dan hatinya tidak pernah mempunyai keinginan untuk melakukannya.

==========

Sifat yang dimiliki nabi yahya sebagai orang yang punya sifat rahmah(belas kasihan) terhadap orang lain inilah yang nampaknya perlu perlu untuk kita miliki dan juga perlu dimiliki oleh setiap pemimpin kita. Sebab dengan sifat seperti inilah daerah yang kita huni akan menjadi aman, penuh keberkahan. Tanda seorang kekasih Allah selanjutnya adalah mereka mempunyai sifat kasih sayang kepada siapapun, jarang marah, ahli membersihkan diri dari segala bentuk kemaksiyatan serta selalu mengupayakan diri untuk bertaqwa pada Allah SWT kapanpun dan dimanapun berada.

وَبَرّاً بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُن جَبَّاراً عَصِيّاً ﴿١٤﴾

014. (Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya) yaitu selalu berbuat baik kepada keduanya (dan bukanlah ia orang yang sombong) takabur (lagi bukan pula ia orang yang durhaka) terhadap Rabbnya.

==========

Seorang ahli ilmu selalu berbakti kepada orang tua mereka, mendoakan keselamatan mereka walaupun telah meninggal serta menghindarkan diri dari sifat takabur dan durhaka.

Ingatlah bahwa sesungguhnya tiada dosa yang lebih cepat siksanya melebihi dosa durhaka kepada orang tua. Ialah orang yang amat beruntung jika ia diberikan rizqi yang cukup serta diberi keturunan yang ta’at.

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيّاً ﴿١٥﴾

015. (Kesejahteraan) dari Kami (terlimpahkan kepadanya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali) di saat-saat yang mengerikan yakni hari kiamat. Pada hari itu belum pernah ada pemandangan yang sengeri itu, maka Nabi Yahya selamat daripadanya.

==========

Allah mendoakan kesejahteraan bagi nabi yahya ketika hari ia dilahirkan. Inilah yang telah sering dijalankan oleh para ulama’ kita. Sehingga ketika ada seseorang lahir, maka diadakan acara mendoakan mereka, lewat pembacaan al-qur’an, pembacaan maulid, serta do’a-do’a melalui acara-acara lainya.

Allah juga mendo’akan kesejahteraan kepada Nabi yahya ketika hari ia meninggal. Ini juga yang dipraktikan para ulama’ jawa. Sehingga ketika ada seseorang yang meninggal diadakanlah ritual mendo’akan mereka.

Adanya acara 7 hari kematian mengibaratkan bahwa secara umum manusia yang berada dikubur mereka, paling lama jasadnya akan utuh selama 7 hari. Bersamaan dengan rusaknya jasad itu maka para ahli waris memintakan kepada Allah agar tidak dibarengi dengan kemlaratan ruh sebab dimasukan dalam  neraka atau dalam qubur mereka.

Acara 40 hari kematian mengingat bahwa Rasulallah pernah bersabda bahwa antara 2 tiupan (tiupan mematikan dan tiupan membangkitkan) terompet malaikat israfil di hari qiyamat kelak adalah 40. Maka dengan mendo’akan mereka tujuanya adalah agar ruh mereka kelak selamat dari kesusahan di kala itu.

Acara 100 hari kematian adalah pengamalan hadis Rasulullah yang mengatakan bahwa jumlah rahmat Allah da 100, yang baru turun di dunia ini baru 1 dan 99 lainya akan turun berupa syafaat di hari qiyamat. Adapun do’a tadi merupakan pengharapan agar kelak di hari qiyamat ahli qubur yang dituju bisa memperoleh keseluruhan rahmat Allah tersebut.

Sedang acara 1000 hari kematian adalah menunjukan suatu dalil yang mngatakan bahwa 1 hari di akherat adalah 1000 tahun dalam penghitungan waktu dunia. Maka perlunya do’a ini agar dihari-hari berikutnya si mayyit benar-benar mendapat curahan maghfirah serta rahmat dari Allah SWT.

Akhirnya, semoga kita diberikan hidayah oleh Allah SWT, mampu meneladani sikap serta sifat para Nabiyullah diatas. Amiin yaa robbal Alamiin.

 

 

Selo, 23 September 2012

Mengapa Kita Harus Berpuasa????

Puasa merupakan benteng setiap muslim. Bila kita sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan menghina seseorang, keluar dari ketetapan hukum syara’, jangan melakukan tindakan orang-orang jahil yang berteriak-teriak, menghina atau menyalah-nyalahkan orang lain. Dan apabila kita ada seseorang yang mengajak bertengkar atau berbicara kotor pada kita maka katakanlah dengan lisan dan hati bahwa : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” agar kita ingat bahwa kita sedang menjalankan ibadah. Jangan sampai ibadah kita terganggu oleh bujukan syetan seperti itu.

Berusahalah untuk memakan perkara yang halal ketika berbuka puasa. Sebab tiada berguna orang yang seharian penuh berpuasa namun ia tidak mencegah diri dari memakan perkara haram. Yang dimaksud perkara haram disini ada kalanya memang dari hukum makanan itu sendiri yang telah di nash haram oleh agama dan adakalanya berupa makanan halal yang berubah hukumnya sebab telah melebihi batas. Sesungguhnya hal seperti ini adalah bagaikan orang yang membangun istana kemudian ia robohkan kembali istana tersebut.

Maksud dari berpuasa adalah untuk memecah syahwat dan melemahkan sumber kemaksiyatan, kemudian menumbuhkan sikap takut kepada Allah. Jadi orang yang berlebihan ketika berbuka puasa maka mereka tidak akan mendapat manfaat dari puasanya. Kecuali bagi orang yang memang melakukan pekerjaan berat di waktu siang, atau bagi perempuan yang sedang menyusui anak mereka, maka melebihkan makan sahur sesuai kebutuhan insyaallah tidak berbahaya.

Ingatlah bahwa perut ibarat mesin yang perlu istirahat. Jangan di forsir, sehingga mereka akan mogok kerja dengan sendirinya. Allah telah memperhatikan kapan waktu untuk mengistirahatkan mesih perut ini pada waktu yang telah DIA tentukan. Tiada wadah yang paling dibenci oleh Allah SWT daripada perut yang dipenuhi dengan makanan halal. Ingatlah pula bahwa kebanyakan penyakit disebabkan oleh banyaknya makanan yang kita masukan dalam tubuh. Bila makanan halal saja amat dibenci, maka bagaimanakah hukumnya perut yang penuh dengan makanan haram???

Bilamana tujuan puasa adalah untuk melemahkan syahwat serta membersihkan hati, maka lakukanlah dan perbanyaklah puasa semampu kita. Sesungguhnya puasa merupakan dasar dari setiap ibadah dan kunci untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya setiap perkara itu mempunyai kunci, dan kunci dari ibadah adalah berpuasa” (Al-Hadist)

Sumber : Al-’Alim al-fadhil Al-kamil Syekh Imam Muhamad Nawawi, Maraqiy al-ubudiyyah fi Syarh Bidayatul Hidayah, Al-Jawi. hlm. 60.

 

 

 

« Older entries