PEMBELAJARAN DALAM SYARH HIKAM : KETIKA KITA DIPUJI

Orang-orang bisa jadi memuji kita sebab suatu kelebihan yg ada pada diri kita. Namun janganlah kita larut dengan berbangga diri lantas lupa pada hakekat pujian tersebut. Mereka memuji sebab Alloh SWT yang menampakan kebaikan kita di mata mereka sehingga mereka mengira kita sebagai orang yg mulia. Sedang dibalik itu diri kita mengetahui bagaimana sebenarnya diri kita ini. Bukankah amat banyak kekurangan dan perbuatan buruk yg kita sembunyikan??
Maka saat orang lain memuji kita, seharusnya kita lebih fokus pada kekurangan diri dan jangan terbuai oleh pujian orang tersebut. Bukan berarti kita harus melarang mereka memuji kita, tp kita yang harus menjaga hati ini.
Kecuali jika pujian tersebut sudah terlewat batas dan atau justeru pujian yang mendorong kita untuk lalai maka cegahlah mereka memuji kita.
Rosulullah SAW menyuruh kita melarang orang yg keterlaluan dlm memuji kita bahkan jika harus menggunakan abu utk ditebarkan di wajah para pemuja kita itu, sebab hakekatnya saat kita dipuji (dgn pujian yg terlalu berlebihan) sama artinya mereka meletakan pedang pada leher kita/siap memotong leher tersebut.
Lebih baik kita mencela diri atas kekurangan yg ada daripada berbangga atas kelebihan yg hakekatnya bukan milik kita.
Ingatlah makna kalimat :
Alhamdu utawi sekabehane puji iku lillahi kagungane Gusti Alloh.

Mukmin sejati itu ketika dipuji maka ia malu pada Alloh. ia malu sebab dipuji atas sesuatu yg tidak dimilikinya. ia tidak terpengaruh pujian tsb kecuali semakin sungguh* untuk melihat dan mensyukuri anugerah Alloh kepadanya. sikap syukur seperti inilah yg menjadikan dirinya mendapatkan tambahan nikmat serta terselamatkan dari terbuai atas pujian.
Sedang sebodoh*nya manusia adalah mereka yg meninggalkan sesuatu yg nyata/yakin ada pada dirinya yakni keburukan* sifat serta keteledoranya atas hak* Tuhanya. yakni karena lebih mengejar apa yg tdk yakin (persangkaan baik dari orang lain).
Sebagian ‘arifiin berkata : Perumpamaan orang seperti itu adalah mereka yg percaya dan gembira atas ucapan orang yg datang sambil tersenyum dan berkata kepadanya bahwa : “t4h1 yg keluar dari perutmu baunya lebih wangi lho dari minyak misik”. sedang kita tahu bahwa kemaksiatan kita lebih busuk dan kotor daripada kotoran yg keluar dr perut.
Ketika Alloh telah membuka mulut orang lain sehingga mereka memuji kita sedang pada kenyataanya kita tidak berhak sama sekali atas pujian itu, sebab Alloh SWT dengan fadhol/keutamaanNya lebih memilih untuk menampakan kelebihan drpd kekurangan kita maka pujilah DIA yang lebih berhak atas pujian tersebut sebagai wujud dari rasa syukurmu kepadaNya.

Ringkasan materi Tarjamah syarh hikam oleh Syekh Abdulloh As Syarqowi, hlm. 268-273

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: