DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

Memberikan Tarbiyah untuk jiwa seorang Muslim

Ringkasan Materi Pengalaman mengikuti Ta’lim Pagi di Ma’had Nurul Haromain

Ngroto, Pujon, Malang, Jawa Timur.

Rabu, 26 Desember 2012

(Oleh Ustadz Syihab Syifa)

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk mempunyai jiwa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah lembut serta saling menyambung dengan sesama muslim lain. Kita dilarang untuk memiliki sikap negatif seperti saling membenci, iri hati, sikap berpaling, sikap memutus hubungan, sikap menjauhi, mendzalimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan dan sikap berlomba-lomba serta saling berbangga dan berburuk sangka sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

وكونوا عباد الله إخوانا

“Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Bila salah satu diantara beberapa sikap negatif itu masih melekat pada diri kita, maka artinya jiwa kita masih perlu untuk dibina. Sebab hal tersebut selain merusak amal kita juga menyia-nyiakan pahala serta melebur kebaikan yang pernah kita lakukan. Penyebab dari hal tersebut antara lain karena penyakit hati masih kita miliki, kekolotan watak kita serta pelencengan dalam karakter asli kita. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menegaskan bahwa ketika dua orang benar-benar saling mencintai karena Alah maka mereka tidak akan pernah bisa terpisahkan oleh halangan dan rintangan apapun bentuknya. Sebab tali cinta yang didasari karena Alah sangatlah kuat dan tidak akan terputus hanya karena dosa yang dilakukan oleh salah satu dari kedua orang itu. Beliau Rasulullah SAW bersabda :

ما تواد اثنان فى الله عز وجل أو فى الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب يحدث أحدهما

Tiada dua orang yang saling mencintai karena Allah ‘Azza wa jalla atau karena Islam, lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya (HR. Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod)

Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Isam. Di Akherat mereka diancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Allah SWT. Pintu-pintu syurga tertutup bagi mereka sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW :

تفتح أبواب الجنة يوم الإثنين والخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلان كان بينه وبين أخيه شحناء فيقال : أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا

“Pintu-pintu syurga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan Alah dengan apapun, kecuali seseorang yang diantaranya dengan saudaranya ada kebencian. Lalu diucapkan “Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai” (HR. Muslim)

Untitled

Abu Darda’ RA berkata : “Maukah ku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada sedekah dan puasa?? (yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berseteru. Dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala).” (HR. Imam Bukhori dalam Al-Adab Al-Mufrod).

Seorang muslim yang terbina tentu akan menahan diri dari kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan. Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih, dan jernih. Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya agar menuju Allah, kitab-Nya dan rasul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasehat dalam agama ini.

Demi memuliakan tai persaudaraan dan pertemanan, maka seorang muslim yang terbina juga memiliki watak setia kepada saudaranya. Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dzalim atau di dzalimi. Pada saat berbuat dzalim maka ia mencegah dan saat didzalimi maka ia melakukan pembelaan. Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran Islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.

Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan, maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok. Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridlaan, ampunan, dan kasih sayang Allah SWT. Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa menggunjing hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan oleh lisan ke dalam neraka.

Muslim yang terbina akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan yang tidak berguna dengan saudaranya. Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya. Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta.

Muslim yang terbina selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia, sehingga dekat dan dicintai oleh manusia.jika bertemu maka ia mengucapkan salam, memenuhi undangan mereka, berdo’a untuknya (tasymit) bila ia bersin, membesuk mereka ketika sakit, menghadiri dan mengantar jenazah mereka, serta mendoakan mereka dari jauh (yang bisa mengokohkan bukti kecintaan serta meneguhkan tali persaudaraan kepada mereka). Doa seperti ini lah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihkhlasan dan kesungguhan.

Semua hal itu adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebarluaskan cinta, persaudaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian. Dalam setiap kesempatan beliau selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci serta jiwa menjadi keruh.

Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Allah sebagaimana yang diinginkan Islam.

Wallahu yatawallal jamii’ bi ri’aayatih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: