DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

DASAR-DASAR SALING MENCINTAI KARENA ALLAH

Memberikan Tarbiyah untuk jiwa seorang Muslim

Ringkasan Materi Pengalaman mengikuti Ta’lim Pagi di Ma’had Nurul Haromain

Ngroto, Pujon, Malang, Jawa Timur.

Rabu, 26 Desember 2012

(Oleh Ustadz Syihab Syifa)

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk mempunyai jiwa saling mencintai, saling mengasihi, bersikap lemah lembut serta saling menyambung dengan sesama muslim lain. Kita dilarang untuk memiliki sikap negatif seperti saling membenci, iri hati, sikap berpaling, sikap memutus hubungan, sikap menjauhi, mendzalimi, menghina, merendahkan, meneliti keburukan dan sikap berlomba-lomba serta saling berbangga dan berburuk sangka sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

وكونوا عباد الله إخوانا

“Dan jadilah kalian para hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Bila salah satu diantara beberapa sikap negatif itu masih melekat pada diri kita, maka artinya jiwa kita masih perlu untuk dibina. Sebab hal tersebut selain merusak amal kita juga menyia-nyiakan pahala serta melebur kebaikan yang pernah kita lakukan. Penyebab dari hal tersebut antara lain karena penyakit hati masih kita miliki, kekolotan watak kita serta pelencengan dalam karakter asli kita. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menegaskan bahwa ketika dua orang benar-benar saling mencintai karena Alah maka mereka tidak akan pernah bisa terpisahkan oleh halangan dan rintangan apapun bentuknya. Sebab tali cinta yang didasari karena Alah sangatlah kuat dan tidak akan terputus hanya karena dosa yang dilakukan oleh salah satu dari kedua orang itu. Beliau Rasulullah SAW bersabda :

ما تواد اثنان فى الله عز وجل أو فى الإسلام فيفرق بينهما أول ذنب يحدث أحدهما

Tiada dua orang yang saling mencintai karena Allah ‘Azza wa jalla atau karena Islam, lalu mereka akan dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya (HR. Bukhori dalam Al Adab Al Mufrod)

Dari sinilah kemudian bisa dimengerti adanya ancaman keras bagi mereka yang kaku dan keras kepala serta menyimpang dari jalur lurus moralitas Islam dan tertutup dari keramahan serta kemurahan Isam. Di Akherat mereka diancam dengan halangan dari ampunan dan kasih sayang Allah SWT. Pintu-pintu syurga tertutup bagi mereka sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW :

تفتح أبواب الجنة يوم الإثنين والخميس فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلان كان بينه وبين أخيه شحناء فيقال : أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا أنظروا هذين حتى يصطلحا

“Pintu-pintu syurga dibuka pada hari senin dan kamis lalu diberikan ampunan kepada seluruh hamba yang tidak menyekutukan Alah dengan apapun, kecuali seseorang yang diantaranya dengan saudaranya ada kebencian. Lalu diucapkan “Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai. Tunggulah dua orang ini sampai mereka berdamai” (HR. Muslim)

Untitled

Abu Darda’ RA berkata : “Maukah ku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada sedekah dan puasa?? (yaitu) mendamaikan antara dua orang yang saling berseteru. Dan sungguh kebencian adalah pencukur (yang menghapus pahala).” (HR. Imam Bukhori dalam Al-Adab Al-Mufrod).

Seorang muslim yang terbina tentu akan menahan diri dari kemarahan terhadap saudaranya, tidak mendongkol, serta tidak enggan untuk segera memberikan maaf dan menutup mata dari kesalahan saudaranya yang dengan begitu ia termasuk orang-orang yang berbuat ihsan. Ia senantiasa menyambut saudaranya dengan wajah penuh senyum karena hal demikian ini merupakan cerminan hati yang bersih, dan jernih. Ia juga selalu memberikan nasehat kepada saudaranya agar menuju Allah, kitab-Nya dan rasul-Nya, serta umat Islam pada umumnya sebagai realisasi prinsip nasehat dalam agama ini.

Demi memuliakan tai persaudaraan dan pertemanan, maka seorang muslim yang terbina juga memiliki watak setia kepada saudaranya. Memberikan pertolongan kepadanya dalam kondisi ketika berlaku dzalim atau di dzalimi. Pada saat berbuat dzalim maka ia mencegah dan saat didzalimi maka ia melakukan pembelaan. Ini semua sebagai bukti dan realisasi ajaran Islam yang berupa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri.

Muslim yang terbina akan bersikap lemah lembut kepada saudaranya karena kelembutan menjadi hiasan dan apabila ditinggalkan oleh kelembutan, maka sesuatu itu menjadi tidak terlihat elok. Ia juga bersikap pemurah kepada saudaranya yang akhirnya kemurahan dan kelembutan tersebut akan menumbuhkan cinta untuknya dalam hati manusia yang hal ini menjadi tanda keridlaan, ampunan, dan kasih sayang Allah SWT. Ia juga menjaga saudaranya dalam kondisi sedang tidak bersamanya dalam arti tidak menggunjingnya karena mengerti bahwa menggunjing hukumnya haram dan juga karena enggan memakan daging saudaranya serta menjaga diri agar tidak dijerumuskan oleh lisan ke dalam neraka.

Muslim yang terbina akan selalu menjauhkan diri dari terlibat dalam perdebatan yang tidak berguna dengan saudaranya. Ia tidak mudah tersayat hati atau merasa berat dengan gurauan saudaranya yang pada suatu saat mungkin menyakitkan. Ia juga tidak melanggar janji kepada saudaranya. Hal ini karena perdebatan sama sekali tidak akan membuahkan kebaikan. Gurauan yang menyakitkan akan memunculkan keengganan, perasaan benci, dan menjatuhkan kewibawaan. Sedang melanggar janji menyebabkan hati kecewa dan hilang rasa cinta.

Muslim yang terbina selalu mendahulukan saudaranya karena sifat pemurah, dermawan, dan pemberian menjadikan pemiliknya terlihat indah dan mulia, sehingga dekat dan dicintai oleh manusia.jika bertemu maka ia mengucapkan salam, memenuhi undangan mereka, berdo’a untuknya (tasymit) bila ia bersin, membesuk mereka ketika sakit, menghadiri dan mengantar jenazah mereka, serta mendoakan mereka dari jauh (yang bisa mengokohkan bukti kecintaan serta meneguhkan tali persaudaraan kepada mereka). Doa seperti ini lah yang semakin cepat dikabulkan karena penuh keihkhlasan dan kesungguhan.

Semua hal itu adalah percikan arahan-arahan Islam terkait dorongan terhadap budi pekerti mulia dalam rangka menyebarluaskan cinta, persaudaraan, kasih sayang dan saling memberikan perhatian. Dalam setiap kesempatan beliau selalu mengarahkan mereka kepada rasa persaudaraan secara total sehingga tidak tersisa dalam diri seorang muslim sifat egois dan hanya memikirkan diri sendiri yang hal ini menjadikan mata tertutup dan hati terkunci serta jiwa menjadi keruh.

Inilah dasar-dasar saling mencintai karena Allah sebagaimana yang diinginkan Islam.

Wallahu yatawallal jamii’ bi ri’aayatih.

Advertisements

Khubah Jum’at Bahasa Jawa – Setelah kita mati

dahului dengan Rukun Khutbah.

Hadirin jama’ah jum’ah rohimakumulloh,

Lewat mimbar jum’ah meniko kulo wasiyat dateng awak lulo kiyambak khususipun ugi dateng panjenengan sedoyo umumipun supados kito tansah ningkataken ketaqwaan utawi raos ajreh dateng Allah SWT. Menwai meniko estu-estu kito lampahaken, insyaalah kita bade manggihi gesang engkang wilujeng selamet ndunyo tumusung akherat.

Hadirin jama’ah jum’ah rohimakumulloh,

Syare’at engkang dipun beto dening Rasulullah SAW meniko merupakan sawijining syare’at engkang langkung sampurno dibanding syare’atipun poro Nabi sanes-sanesipun. Kito minongko umatipiun Rasulullah SAW, dipun paringi kautamaan ugi kasih sayang engkang langkung kathah dening Allah SWT katimbang poro umat sanesipun. Antawisipun keutamaan engkang kito tampi minongko umat pilihan meniko kito dipun paringi pangertosan tentang kawontenan engkang bade kito raosaken sesarengan sak sampunipun kito mbenjeng sowan wonten ngersanipun Allah SWT utawi pejah. Poro umat senesipun kito ing zaman sak derengipun kautusipun Rasulullah SAW meniko mboten dipun paringi pangertosan kados mekaten. Meniko merupakan salah setunggalipun bentuk perhatosanipun Gusti Allah supados kito langkung mempersiapkan nasib gesang kito wonten ing Akherat mbenjeng. Dipun riwayataken wonten setunggalipun hadis bilih Rasulullah SAW ngendiko :

“Sak temene nalikane sawijining kawulo kaselehake wonten ing kuburipun, mongko mayyit iku banjur ngrungu suworo serampat sandale poro dulur kang podo ngeterake marang qubure. Banjur wong iku bakal katekanan dening malaikat loro kang nglungguhake mayyit iku. Malaikat munkar lan nakir iku banjur ngendikan : Opo kang siro ngerteni tantang ikilah Nabi (Muhamad)?

Mongko naliko wong kang ditakoni iku mukmin, bakal mangsuli : Kulo nyekseni bilih sak temene  Muhamad iku kawulanipun Allah lan utusanipun. Malaikat iku nuli ngendiko : Ningalono panggonan lungguh siro ono ing neroko. Gusti Allah wus ngganti panggonan lungguh iku ono ing suwargo. Nuli wong mukmin iku ningali karo-karone panggonan neroko lan suwargo iku.

Dene wong kafir lan wong munafik bakal njawab : Aku ora ngerti. Mbiyen aku iso ngucap opo kang podo diucapake dening wong-wong mukmin tentang iku. Banjur malaikat iku ngendiko : Siro ora iso njawab lan ora iso ngucap?? Nuli mayyit iku dipukul palu kang digawe soko wesi ono antarane kuping loro hinggo remuk lan njerit kanti sak banter-bantere hinggo kabeh makhluk kang ono sekitare podo ngrungu kejobo jin lan manungso. (HR. Al-Bukhari kanti pangendikanipun lan Imam Muslim)

Hadis meniko Sinaoso termasuk perkawis engkang ghaib, tetep dipun aturaken dateng kito minongko pepenget sakeng Allah supados kito dados tiang mukmin engkang sak estu lan ampun dados tiang kafir utawi munafiq. Tiyang mukmin engkang sholeh bade ngeraosaken bingah manahipun, qubur dados longgar ngantos 70 dziro’, qubur dados padang, lan jasad ngeraosaken sejuk sumilir angin kairingan suworo burung-burung syurga. Meniko amargi pitakonipun munkar nakir saget kajawab kanti mantep kados pangendikanipun Allah Q.S Ibrahim : 27.

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ ﴿٢٧﴾

Dene kagem tiyang engkang kafir lan munafiq, duginipun malaikat munkar nakir justeru dadosaken raos ajrih lan sikso engkang tansah bertambah. Raos ajrih engkang mboten kanten-kanten meniko kairingi rupekipun qubur engkang dipun panggeni, hinggo tiang meniko bade ngeraos sesek engkang banget ngantos sapi pisah tulang rusuk-ipun. Allah SWT ngendiko wonten Al-qur’an :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ﴿١٢٤﴾

Na’uudzu billahi min dzaalik.

img00342-20110412-1152

Hadirin jama’ah jum’ah rohimakumulloh,

Kadadosan meniko bade dipun alami dening ahli qubur ngantos mbenjeng duginipun yaumil ba’ts utawi dinten qiyamat. Peristiwa qiyamat engkang ngagetaken meniko bade dipun wiwiti dening sumebaripun awan/mendung kande sakeng kilen hinggo nutupi sedoyo jagat. Hinggo akhiripun bade wonten suworo :

يأياالناس أتى أمرالله فلا تستعجلوه

Hai poro menungso, wus teko perintah saking pengeran iro, anging siro ora podo enggal-enggal nglakoni.

Mongko demi Alah dzat kang nguwasani nyowo ingsun (pangendikanipun Nabi Muhammad SAW) wong lanang loro kang podo nggelar kain hurung sempat ngempit, wong kang nyekel gelas hurung sempat ngumbe an wong kang meres susu unto hurung sempat ngrasa’ake, yekti qiyamat iku wis teko.” (HR. At-Tabrani).

Lajeng naliko tiang meniko katangeake saking quburipun bade macem-macem kahananipun. Sedoyo bade nguwatosaken nasibipun kiyambak-kiyambak. Allah SWT ngendiko wonten Al-qur’an :

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ ﴿٣٧﴾

Wonten tiyang engkang katangiake sakeng quburipun kanthi seneng manahipun, sami ngedalaken sinar kemuliyaan sakeng awak’ipun, keranten kathah amal ibadahipun engkang sami dipun ridoni deneng Allah SWT. Kiyamba’ipun saget lumampah dumugi ngersanipun Allah SWT kanti cepet kados dene sak kedipan peningal, wonten engkang kados kilat, kados angin, kados lintang tibo, kados cetepipun mlayuning jaran, kados tiyang mlayu, lan macem-macem bentu’ipun. Lajeng tiyang meniko bade kagiring dumugi bengawan ing pinggiring suwargi hinggo saget siram, saget ngunjuk lan saget membu gandanipun suwargi. Menikolah kahanan tiyang mukmin engkang ahli taat marang Alah SWT lan Rasulipun Muhammad SAW.Tiang meniko bade kalebetaken wonten suwargi kanti langgeng sak lawas-lawasipun kados ngendikanipun Allah SWT :

تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١٣﴾

Hadirin jama’ah jum’ah rohimakumulloh,

kiamatWonten maleh tiyang engkang bade kagiring marang neroko jahannam kanti dipun seret dening poro malaikat, wajahipun wonten ing ngandhap lan wonten engkang mlampah kanthi susah payahipun (HR. An-Nasa’i). Allah ngemutaken tiyang-tiyang meniko engkang sami agawe perkawis olo lan kesasar dalanipun kanti dawuhipun :

الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَى جَهَنَّمَ أُوْلَئِكَ شَرٌّ مَّكَاناً وَأَضَلُّ سَبِيلاً ﴿٣٤﴾

Wonten engkang dipun tangi’ake sakeng qubur kanthi bentuk semut engkang alit, dipun pidak-pidak deneng poro menungso. Poro sohabatipun Rasuullah SAW sami nyuwun perso : Yaa rasul, punopo sebabipun tiyang kados ngaten? Jawabipun Rasulullah Ikulah piwales kanggo wong kang podo gumedhe (HR. Al-Bazzar). Wong iku bakal di hino deneng saben-saben panggonane, nuli digiring marang pakunjaran kang ono ing neroko jahannam kang aran Bu’as. Pakunjaran iku diubengi dening geni hasil peresan awake ahli neroko ono ing sisih kiwo tengene, arupo bledu kang banger/bacin ambune.

Na’uudzu billahi min dzaalik.

Hadirin jama’ah jum’ah rohimakumulloh,

Pramilo monggo kito tansah ngatos-ngatos, ampun ngantos mbenjeng gesang kito ing akhirat tansah gelo amargi mboten nggadahi sangunipun pejah. Mugi-mugi kito tansah pinaringan hidayah lan inayahipun Allah SWT sehinggo kito saget nglampahaken tugas gesang kanthi istiqomah, pinaringang pejah engkang husnal khotimah, dipun ridloni sedoyo amal kesaenan kito lan dipun paringi pangapunten sedoyo kaepatan lan kekirangan kito pikantok kesaenan ndunyo lan akhirat kito sedoyo Amin yaa robbal alamiin.

 

Sumber Materi

Dr. Muhammad Alawi Al-maiky Al-Hasani, Keutamaan Umat Muhammad, Jakarta : Cakra Lintas Media, 2010

Do’a Kenabian Yang terdapat Dalam Al Qur’an

Do’a Kenabian Yang terdapat Dalam Al Qur’an

 A.   Doa Nabi Yunus AS

(لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ (يونس

La Ilaha illa Anta Subhanaka inni Kuntu Minadzholimiin

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿٨٧﴾
087. (Dan) ingatlah kisah (Dzun Nun) yaitu orang yang mempunyai ikan yang besar, dia adalah Nabi Yunus bin Mataa. Kemudian dijelaskan kalimat Dzun Nun ini oleh Badalnya pada ayat selanjutnya, yaitu (ketika ia pergi dalam keadaan marah) terhadap kaumnya, disebabkan perlakuan kaumnya yang menyakitkan dirinya, sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk pergi (lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menjangkaunya) menghukumnya sesuai dengan apa yang telah Kami pastikan baginya, yaitu menahannya di dalam perut ikan paus, atau menyulitkan dirinya disebabkan hal tersebut (maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita) gelapnya malam dan gelapnya laut serta gelapnya suasana dalam perut ikan paus (“bahwa) asal kata An adalah Bi-an, artinya, bahwasanya (tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”) karena pergi dari kaumku tanpa seizin Allah. (Q.S Al-Anbiya’ : 87) B.   Doa Nabi Zakariya AS
رَبِّ لاَ تَذَرْنِى فَرْدًا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ (زكريا)

Robby La Tadzarny fardan Wa Anta Khoirul Waritsiin

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ ﴿٨٩﴾
089. (Dan) ingatlah kisah (Zakaria) kemudian dijelaskan oleh Badalnya pada ayat selanjutnya (tatkala ia menyeru Rabbnya) melalui doanya yang mengatakan, (“Ya Rabbku! Janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri) tanpa anak yang kelak akan mewarisiku (dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik”) yang tetap abadi sesudah semua makhluk-Mu musnah. (Q.S Al-Anbiya’ : 89) C.   Doa Nabi Musa AS
رَبِّ اِنِىّ لِمَا اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ (موسى

Robby inni Lima Anzalta ilayya Min Khoirin Faqiir

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ ﴿٢٤﴾
024. (Maka Musa memberi minum ternak itu untuk menolong keduanya) dari air sumur lain yang berada di dekat sumur itu, kemudian Nabi Musa mengangkat batu besar yang menutupinya, konon batu itu hanya dapat diangkat oleh sepuluh orang yang kuat (kemudian ia kembali) setelah itu Musa kembali lagi (ke tempat yang teduh) di bawah pohon Samurah, karena pada saat itu hari sangat panas dan ia dalam keadaan lapar (lalu berdoa, “Ya Rabbku! Sesungguhnya aku terhadap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku) yang dimaksud adalah makanan (sangat memerlukan.”) sangat membutuhkannya. Lalu kedua wanita itu kembali ke rumah bapak mereka, kejadian ini membuat bapaknya terkejut, karena mereka berdua kembali lebih cepat dari biasanya. Maka bapaknya menanyakan tentang hal tersebut. Lalu diceritakan kepadanya tentang seorang lelaki yang telah menolongnya memberi minum ternaknya. Bapak mereka bertanya kepada salah seorang dari keduanya, “Coba panggillah dia untuk menghadap kepadaku”. Lalu Allah berfirman, (Q.S A-Qashas : 24) D.   Doa Nabi Ayyub AS
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ (ايوب

Annii Massanniyad Dlurru Wa Anta Arhamurrohiim

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ﴿٨٣﴾
083. (Dan) ingatlah kisah (Ayub,) kemudian dijelaskan oleh Badalnya, yaitu (ketika ia menyeru Rabbnya) pada saat itu dia mendapat cobaan dari-Nya; semua harta bendanya lenyap dan semua anak-anaknya mati serta badannya sendiri tercabik-cabik oleh penyakit, semua orang menjauhinya kecuali istrinya. Hal ini dialaminya selama tiga belas tahun, ada yang mengatakan tujuh belas tahun dan ada pula yang mengatakan delapan belas tahun. Selama itu penghidupan Nabi Ayub sangat sulit dan sengsara (“Sesungguhnya aku) asal kata Annii adalah Bi-ann (telah ditimpa kemudaratan) yakni hidup sengsara (dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”). (Q.S Al-Anbiya’ : 83) E.   Doa Nabi Yusuf AS
تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَاَلْحِقْنِى بِالصَّالِحِيْنَ (يوسف)

 Tawaffanii musliman wa alhiqnii bis shoolihiin

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنُيَا وَالآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ ﴿١٠١﴾.

Ya Rabbku! 101.Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takbir mimpi) takwil-takwil mimpi (Ya Rabb Pencipta) yang menjadikan (langit dan bumi! Engkaulah Pelindungku) yang mengatur kebaikanku (di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang yang saleh) di antara bapak moyangku. Maka setelah ia berdoa, ia hidup hanya seminggu atau lebih dari seminggu. Kemudian ia wafat, pada saat itu usianya telah mencapai seratus dua puluh tahun. Lalu semua orang Mesir mengiringkan jenazahnya sampai ke tempat kuburannya; mereka meletakkan jenazah Nabi Yusuf di dalam sebuah tabelah yang terbuat dari marmer, dan mereka mengebumikannya di tempat yang terletak di antara kedua tepi sungai Nil, dimaksud supaya keberkahan terlimpahkan kepada kedua tepi sungai Nil. Maha Suci Allah yang tiada akhir bagi kerajaan-Nya. (Q.S Yusuf : 101)

F.   Doa Nabi Ibrahim AS

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ الصَّالِحِيْنَ ( ابراهيم

* Robby Hably minas Shoolihiin

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾

100 Ya Rabbku! Anugerahkanlah kepadaku) seorang anak (yang termasuk orang-orang yang saleh.’) (Q.S As-Shaffat : 100)

حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْل

* Hasbiyalloh Wani’mal Wakiil

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali Imran : 173)

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ آخِرَ قَوْلِ إِبْرَاهِيمَ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Dari Malik ibn Isma’il, dari Israi dari Abi Hasin dari Abi Ad-dhuha dari Ibnu Abbas berkata : Akhir doa yang diucapkan Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api adalah : “Cukuplah Allah menjadi Penolong-ku dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

رَبِّ اجْعَلْنِى مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِى رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءْ

* Robbij’alnii Muqimas Sholaah Wa Min Dzurriyyatii Robbana Wataqobbal Du’a

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء ﴿٤٠﴾

40.Ya Rabbku! Jadikanlah aku orang-orang yang tetap mendirikan salat dan) jadikan pula (anak cucuku) orang-orang yang tetap mendirikannya. Nabi Ibrahim sengaja di dalam doanya ini memakai ungkapan min yang menunjukkan makna sebagian karena Allah swt. telah memberitahukan kepadanya bahwa di antara anak cucunya itu terdapat orang yang kafir (Ya Rabb kami! Kabulkanlah doaku) semua doa yang telah disebutkan tadi. (Q.S Ibrahim : 40)

رَبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ (ابراهيم)

* Robbighfirly Waliwa Lidayya

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ﴿٤١﴾

041. (Ya Rabb kami! Beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku) doa ini diucapkan sebelum jelas bagi Nabi Ibrahim bahwa kedua orang tuanya memusuhi Allah swt. Akan tetapi menurut suatu pendapat dikatakan bahwa ibu Nabi Ibrahim masuk Islam. Lafal waalidayya menurut qiraat yang lain dapat dibaca mufrad sehingga bacaannya menjadi waalidiy (dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya) ditegakkannya (hisab) selanjutnya Allah berfirman: (Q.S Ibrahim : 41)

doa-mustajab1

G.   Doa Nabi Sulaiman AS

 رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَاَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

* Robby Auzi’ni An Asykuro Ni’matkallati An Amta Alayya Wa Ala Walidayya Wa An A’mala Sholihan Tardloohu Wa Adkhilny Birohmatika Fi Ibadikas Shoolihiin

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكاً مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ ﴿١٩﴾

19. (Maka tersenyum) Nabi Sulaiman pada permulaannya (tertawa) pada akhirnya (karena mendengar perkataan semut itu) dia telah mendengarnya walaupun jaraknya masih jauh yakni tiga mil, kemudian suara itu dibawa oleh angin. Nabi Sulaiman menahan bala tentaranya sewaktu mereka hampir sampai ke lembah semut, sambil menunggu supaya semut-semut itu memasuki sarang-sarangnya terlebih dahulu. Bala tentara Nabi Sulaiman dalam perjalanan ini ada yang menaiki kendaraan dan ada pula yang berjalan kaki (dan dia berdoa, “Ya Rabbku! Berilah aku) berilah aku ilham (untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan) nikmat-nikmat itu (kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Saleh”) yakni para Nabi dan para Wali. (Q.S An-Naml : 19))

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (سليمان)

* Robby Auzi’ni An Asykuro Ni’matkallati An Amta Alayya Wa Ala Walidayya Wa An A’mala Sholihan Tardloohu Wa Ashlihly Fii Dzurriiyaty Inni Tubt Ilaika Wa Inny Minal Muslimiin

 وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٥﴾

150 Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya) menurut suatu qiraat lafal Ihsaan dibaca Husnan; maksudnya: Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Lafal Ihsaanan adalah Mashdar yang dinashabkan oleh Fi’ilnya yang diperkirakan keberadaannya; demikian pula penjabarannya bila dibaca Husnan (ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah pula) artinya penuh dengan susah payah. (Mengandungnya sampai menyapihnya) dari penyusuannya (adalah tiga puluh bulan) yakni dalam masa enam bulan sebagai batas yang paling minim bagi mengandung, sedangkan sisanya dua puluh empat bulan, yaitu lama masa penyusuan yang maksimal. Menurut suatu pendapat disebutkan bahwa jika sang ibu mengandungnya selama enam bulan atau sembilan bulan, maka sisanya adalah masa penyusuan (sehingga) menunjukkan makna Ghayah bagi jumlah yang diperkirakan keberadaannya, yakni dia hidup sehingga (apabila dia telah dewasa) yang dimaksud dengan pengertian dewasa ialah kekuatan fisik dan akal serta inteligensinya telah sempurna yaitu sekitar usia tiga puluh tiga tahun atau tiga puluh tahun (dan umurnya sampai empat puluh tahun) yakni genap mencapai empat puluh tahun, dalam usia ini seseorang telah mencapai batas maksimal kedewasaannya (ia berdoa, “Ya Rabbku!) dan seterusnya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, yaitu sewaktu usianya mencapai empat puluh tahun sesudah dua tahun Nabi saw. diangkat menjadi rasul. Lalu ia beriman kepada Nabi saw. lalu beriman pula kedua orang tuanya, lalu menyusul anaknya yang bernama Abdurrahman, lalu cucunya yang bernama Atiq (Tunjukilah aku) maksudnya berilah ilham (untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan) nikmat tersebut (kepadaku dan kepada ibu bapakku) yaitu nikmat tauhid (dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai) maka Abu Bakar segera memerdekakan sembilan orang hamba sahaya yang beriman; mereka disiksa karena memeluk agama Allah (berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada cucuku) maka semua anak cucunya adalah orang-orang yang beriman. (Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”) (Q.S Al-Ahqaf : 15)

H.   Doa Nabi Nuh AS

رَبِّ أَنْزِلْنِى مُنْزَلاً مُبَارَكاً وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ

* Robby Anzilni Munzalan Mubarokan Wa anta Khoirul Munziliin

وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُّبَارَكاً وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ ﴿٢٩﴾

029. (Dan berdoalah) di kala kamu turun dari bahtera, (‘Ya Rabbku! Tempatkanlah aku pada tempat) kalau dibaca Munzalan berarti menjadi Mashdar dan Isim Makan/tempat sekaligus, apabila dibaca Manzilan berarti tempat berlabuh (yang diberkati) yakni tempat tersebut diberkati (dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat'”) maksudnya Engkau adalah pemberi tempat yang paling baik kepada semua yang telah disebutkan tadi. (Q.S Al-Mukminun : 29)

رَبِّ ارْحَمْهُمَاكَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا

* Robbirhamhuma Kama Robbayani Shoghiro

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً ﴿٢٤﴾

024. (Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua) artinya berlaku sopanlah kamu terhadap keduanya (dengan penuh kesayangan) dengan sikap lemah lembutmu kepada keduanya (dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku! Kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana) keduanya mengasihaniku sewaktu (mereka berdua mendidik aku waktu kecil.”). (Q.S Al-Isra’ : 24)