Taubat

Taubat merupakan salah satu sifat dasar yang penting dan harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin memperoleh derajat di sisi Allah SWT.

Secara Bahasa, Taubat bisa diartikan sebagai “Kembali”, pulang, menyesali perbuatan dosa  yang telah dilakukan.

Sedang secara istilah, Taubat berarti kembali dari jalan yang dicela oleh hukum syare’at agama Islam menuju jalan yang dipuji dalam aturan syare’at agama Islam. ada yang mengartikan taubat dengan  berhenti dari perbuatan dosa yang telah dilakukan, kemudian kembali ke jalan yang benar.

Hukum bertaubat adalah wajib bagi setiap orang islam. Banyak dalil baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Al-Hadist yang menunjukan adanya kewajiban bertaubat ini. Diantaranya tersebut dalam ayat berikut :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً ﴿٧٠

070. (Kecuali orang-orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh) dari kalangan mereka (maka kejahatan mereka itu diganti Allah) maksudnya dosa-dosa yang telah disebutkan tadi diganti oleh Allah (dengan kebaikan) di akhirat kelak. (Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Dia tetap bersifat demikian. (Q.S. AL-FURQAN : 70)

Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa Allah akan mengganti dosa orang yang mau bertaubat dengan kebaikan. Sehingga manfaat sikap taubat ini sangatlah besar.

Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan betapa pentingnya sifat taubat ini yakni orang yang melakukanya akan Mendapat pahala  atau keberuntungan (masuk surga). sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nur : 31 sebagai berikut :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣١

031. (Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya) daripada hal-hal yang tidak dihalalkan bagi mereka melihatnya (dan memelihara kemaluannya) dari hal-hal yang tidak dihalalkan untuknya (dan janganlah mereka menampakkan) memperlihatkan (perhiasannya, kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya) perhiasan yang tersembunyi, yaitu selain dari wajah dan dua telapak tangan (kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan) terhadap wanita (dari kalangan kaum laki-laki atau anak-anak yang masih belum mengerti) belum memahami (tentang aurat wanita,  Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung”

Dalam QS.Al-Imran : 135-136 Allah juga menyebutkan :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾ أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ﴿١٣٦

135. (Dan juga orang-orang yang apabila mereka berbuat kekejian) artinya dosa yang keji seperti perzinahan (atau menganiaya diri mereka sendiri) artinya melakukan dosa yang lebih ringan dari itu misalnya mencium (mereka ingat kepada Allah) maksudnya ingat akan ancaman-Nya (lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapakah) artinya tidak ada (yang dapat mengampuni dosa itu melainkan Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan mereka itu) menghentikannya sama sekali (sedangkan mereka mengetahui) bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan maksiat adanya. 136. (Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir anak-anak sungai, kekal mereka di dalamnya) menjadi hal artinya ditakdirkan kekal jika mereka beruntung memasukinya (dan itulah sebaik-baiknya pahala bagi orang yang beramal) artinya pahala bagi orang-orang yang mengerjakan perbuatan terpuji ini.

Selain dalam beberapa ayat al-Qur’an diatas, banyak keterangan dalam hadis-hadist Rasulullah SAW yang menerangkan tentang pentingnya Taubat.

Ketauhilah wahai para saudaraku bahwa sesungguhnya Allah itu maha suci dan sesungguhnya DIA amat senang terhadap orang-orang yang mau mensucikan diri. Bila mana Rasulullah SAW senantiasa melakukan taubat tiap harinya, bahkan diterangkan dalam salah satu hadis bahwa Beliau melakukan taubat seratus kali dalam seharinya maka bagaimanakah dengan kita??

Sadarilah bahwa Pintu taubat masih terbuka lebar bagi kita. Sebelum nyawa kita sampai pada kerongkongan dan sebelum matahari terbit dari arah barat. Jangan sampai kita kelak kecewa dan merasa rugi sebab tidak menggunakan kesempatan hidup yang hanya sekali ini sebaik mungkin.

Sungguh beruntung orang-orang yang bertaubat, dimana mereka akan bersih ibarat orang yang tidak mempunyai dosa sedikitpun. Sedang orang yang bertaubatnya hanya sebagai alat mencari pandangan di mata manusia lain maka taubat mereka ibarat mengajak Allah untuk bercanda. Maka tiada yang lebih baik dalam taubat kecuali taubat yang sungguh-sungguh yang dalam istilahnya sering kita kenal sebagai taubat Nasuha. dalam Taubat Nasuha ini ada tiga syarat yang harus dipenuhi yakni : berhenti dari melakukan dosa tersebut, menyesali dan berniat untuk tidak mengulangi dosa tersebut serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh pada dosa itu lagi. Jika hal ini benar-benar kita lakukan maka janji Allah (sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis bahwa DIA akan memberikan sifat lupa kepada malaikat pencatat amal keburukan kita, kepada anggota badan yang kita gunakan untuk maksiyat serta lingkungan sekitar kita yang kelak memang akan menjadi saksi atas keburukan kita) di hari Qiyamat semuanya akan bisa kita rasakan.

Kelak di hari qiyamat Nabi Adam AS sebagai asal-usul manusia akan diperintahkan oleh Allah untuk memimpin dan mengumpulkan manusia yang ahli bertaubat dari qubur mereka untuk selanjutnya Allah akan melihat wajah orang-orang tersebut dengan sifat rahmat kasih sayang-Nya. “HAi Nabi Adam, aku telah mewariskan (memberikan) kepada anak cucumu sifat sulit dan banyak rintangan dalam hidup mereka, dan aku juga telah mewariskan kepada mereka taubat. Barang siapa yang memanggil Aku (berdoa pada-Ku)dengan taubatnya maka aku akan mengampuni mereka sebagaimana aku mengampuni dirimu”. Sedang orang-orang yang ujub (sombong dan tidak mau bertaubat) maka akan dilihat oleh Allah dengan sifat marah-Nya.

Nabi Muhamad pernah mengatakan :

“Hai orang-orang, bertaubatlah kalian kepada Allah sebelum kalian mati. Bersegeralah dalam beramal sholih sebelum kalian sibuk (karena sulitnya sakaratul maut), Sambunglah sillaturrahim dengan Tuhanmu, yakni dengan memperbanyak ingat kepada-Nya, memperbanyak shadakah baik ketika sendirian maupun ketika banyak orang, Bila semua ini engkau lakukan maka engkau akan diberikan rizki, diberi pertolongan serta diampuni dosamu”.

Sesungguhnya Allah amat gembira ketika melihat hamba-Nya yang beriman ketika mereka mau bertaubat, melebihi kegembiraan seorang yang melakukan perjalanan panjang. yakni Ketika orang itu membawa bekal makanan dan minuman di tengah padang pasir yang luas kemudian orang itu tertidur. Ketika orang itu tertidur ternyata ia melihat bekal yang ia bawa hilang sehingga orang itu sibuk mencarinya hingga ia amat kelaparan dan kehausan. Ketika ia sudah sangat lapar dan sangat haus kemudian orang itu terbangun dari tidur panjangnya untuk yang kedua kali dan ia menemukan bekal yang ia rasa hilang tadi ternyata masih berada di sampingnya. Ketahuilah betapa senang orang itu, maka sesungguhnya Allah SWT lebih senang lagi ketika melihat hamba-Nya bertaubat, melebihi senang orang tadi.

oleh karenanya wahai saudaraku, marilah kita segera bertaubat. Perbanyaklah istighfar, maka  akan terpelihara dari perbuatan maksiyat. Janganlah kita meremehkan perbuatan dosa meskipun dosa kecil dan janganlah menunda-nunda taubat , karena kematian itu datang secara tiba-tiba dan tidak mengenal usia. Marilah kita bertaubat dengan sungguh-sungguh jika telah terlanjur berbuaat dosa,dengan menyesali dosa yang pernah diperbuat, berjanji tidak akan mengulangi lagi. Setelah bertaubat kita juga harus meningkatkan amal sholeh dan menjaga diri agar tetap istiqamah dalam mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Semoga kita semua diberikan jalan menuju pintu Taubat-Nya. Amiin yaa robbal alamiin.

Sumber : Kitab Kifayat al-athqiya’ lis sayyid abi bakr Syatho, pembukaan Bab Taubat. hlm. 14-15

Kisah Wafatnya Sang Pemimpin Umat

Pagi itu meski langit mulai menguning, burung-burung enggan mengepakan sayapnya. Dengan suara terbata Rasulullah memberikan petuah : Wahai Umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Kuwariskan kepada kalian 2 hal yakni Al-Qur’an dan As-sunah. Barang siapa mencintai sunnah ku berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintai aku akan bersama-sama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu per satu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Usman menghela napas panjangnya dan ali menundukan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Tanda-tanda itu semakin kuat ketika ali dan fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang lemah lunglai saat turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi, namun pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah terbaring lemah. Dengan keningnya yang berkeringat dan basah, pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba terdengar ucapan salam dari balik pintu. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. Ia berbalik kembali dan menutup pintu.
Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”
“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.
“Ketahuilah putriku, dia adalah yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah SAW. Fatimah menahan genangan air matanya. Malaikat maut datang kepada-Nya

Tetapi Rasulullah SAW pun bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya. Kemudian Rasulullah SAW menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya itu.
Kemudian, Jibril dipanggil. Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.
“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah SAW bertanya dengan suara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril.
Namun kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega.
Matanya masih penuh kekhawatiran.
“Apakah Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.
“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan” kata Rasulullah saw.
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril.

Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat.
Perlahan-lahan, ruh Rasulullah saw. dicabut.
Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sallalahu mengerang dengan perlahan.
Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.
“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.
“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril.
“Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.
“Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.”
Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi.
Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu.
Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., “Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”
Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih: “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…“

Sementara di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mata air meleleh begitu deras. Tubuh lunglai, lemas tidak berdaya. Wajah–wajah merunduk khusyuk. Tak ada suara kecuali desahan nafas panjang dan isak tangisan. Di tengah suasana mencekam tersebut, seorang lelaki datang dan dengan suara lantang menggambarkan keteguhan, berkhutbah, “Barang siapa menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. dan barang siapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan pernah meninggal”. Lelaki yang tidak lain adalah Abu Bakar As Shiddiq ra itu kemudian membacakan firman Allah:

“Muhammad itu tidak lain adalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?…” QS Ali Imran: 144.

Mendengar ini semua orang-orang mulai tersadar dari keterlenaan duka dan rasa seolah tidak percaya bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, manusia yang paling mereka cintai melebihi diri sendiri telah meninggal dunia. Umar ra yang tadi bahkan mengacungkan pedang mengancam akan membunuh setiap orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam telah wafat kini mulai sadar dan mengatakan, “Sepertinya aku tidak pernah membaca ayat ini saja”

=======

Renungilah, betapa sayang Rasulullah kepada kita hingga menjelang wafat-Nya pun Beliau masih mengingat dan menghawatirkan kita. Beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu mantap dalam menyembah Allah.

Allah Dzat yang abadi, sementara siapapun selainNya pasti akan sirna. Barang siapa yang memeluk Islam karena Allah maka ia akan terus memeluk Islam. Dan barang siapa memeluk Islam karena selain Allah, termasuk karena Rasulullah Muhammad SAW maka ia akan melepas Islam sejalan dengan hilangnya sesuatu tersebut. Inilah kondisi yang terjadi pada orang–orang yang murtad setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mangkat. Ada yang perlu kita ambil pelajaran dari pidato Abu Bakar ra. di atas, “ …Allah Dzat Maha Hidup dan tak akan pernah meninggal “ artinya Allah Dzat yang abadi maka segala sesuatu yang disandarkan atau bersama dengan Allah juga akan tersaput oleh sinar keabadian Allah. Suatu aktivitas yang tercipta karena Allah, dipastikan sesuatu itu akan langgeng serta tidak terputus di tengah jalan. Suatu usaha yang dilakukan karena Allah maka usaha itu terus akan berjalan hingga sampai pada tujuan dan memberikan buah yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Gerak langkah yang termotivasi karena Allah akan terus terayun sampai penghujung jalan meski banyak kerikil dan bebatuan menghalang. Langkah tetap akan ringan meski duri–duri telah banyak menancap. Suatu amal perbuatan yang dilandasi ketulusan karena Allah adalah laksana pepohonan yang berakar kuat menghujam ke dalam tanah sehingga tidak mudah goyah atau roboh meski terpaan angin topan. Sebuah kalam hikmah mengatakan:

“Sesuatu karena Allah akan bersambung dan sesuatu karena selain Allah pasti akan terpisah”
Yaa Nabi Salam ‘Alaika….!!!!

===

Sumber :

http://shahid.mbc.net/media/video/30098/%D8%B9%D9%85%D8%B1_%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%84%D9%82%D8%A9_17

http://alwasath.blogspot.com/2012/06/abadi-bersama-allah.html

Hadiah dari Allah Ta’ala Bagi orang yang menundukan pandangan

Muhammad Hassaan -Hafidzahullah- seorang dai dan ulama terkenal dari Mesir bercerita pada salah satu ceramahnya. Beliau bercerita tentang kisah seorang pemuda dari Maroko yang tinggal di Amerika.

Hidup di Amerika seorang pemuda miskin dari Maroko, umurnya sekitar 23 atau 24 tahun. Pada salah satu kunjungan Syaikh ke Amerika, Syaikh mengenal si pemuda. Setelah perjalanan waktu berlalu Syaikh melakukan kunjungan dan kunjungan lagi ke Amerika.

Pada saat beliau di Amerika, beliau teringat pemuda miskin dari Maroko. Syaikh menanyakan tentang dirinya. Dikabarkan kepadanya bahwa pemuda itu telah menjadi kaya raya, memiliki harta miliaran.

Syaikh bertanya : Apakah ia menang undian, atau masuk ke tempat perjudian atau… atau… atau… ?

Di ceritakan kepada syaikh kisahnya :

Pada suatu hari Pemuda Maroko berada pada sebuah gedung tinggi di New York. Ia menaiki lift, satu2 persatu orang-orang keluar dari lift. Akhirnya di dalam lift hanya ada Pemuda Maroko dan seorang gadis Amerika cantik sekali dengan pakaian ala gadis amerika.

Apa yang terjadi ?

Gadis Amerika itu ketakutan, karena takut diganggu si Pemuda Maroko, dan di dalam lift hanya ada mereka berdua. Gadis itu memperhatikan si Pemuda dan gerak-geriknya. Si Pemuda hanya menunduk ke lantai.

Akhirnya mereka sama2 keluar pada lantai yang sama. Si Gadis itu merasa heran, ada apa dengan si Pemuda itu, kenapa ia tidak melihat kepada saya ?

Si Gadis pun akhirnya bertanya kepada si Pemuda : Apakah saya tidak cantik ?

Si Pemuda menjawab : Bagaimana saya mengetahui engkau cantik, padahal saya tidak melihat kepada engkau.

Kemudian si Gadis itu bertanya : Kenapa engkau tidak melihat kepada saya, apakah saya tidak cantik ?

Pemuda menjawab : agama saya melarangnya.

Si Gadis berkata : Bahkan saya mengira engkau akan mengganggu saya.

Si Pemuda menjawab : Saya takut kepada Allah.

si Gadis berkata : Agama kamu yang melarang kamu dari melihat kepada saya, pasti tidak mungkin mengizinkanmu untuk menyakiti/mengganggu dalam bentuk apapun.

Si Gadis berkata : Maukah engkau menikahi saya ?

Si pemuda menjawab : Saya muslim, apakah agama engkau ?

Si gadis berkata : Saya bukan muslimah

Si Pemuda berkata : Saya tidak boleh menikah denganmu

Si Gadis bertanya : Saya akan masuk ke dalam agamumu, apakah engkau mau menikahi saya ?

Si pemuda menjawab : Iya.

Si Pemuda Maroko itu menjelaskan kepada gadis itu tentang tata cara masuk Islam, gadis itupun masuk Islam dan menikah dengan si Pemuda. Ternyata gadis itu adalah orang kaya, ia mendapatkan warisan yang sangat banyak dari orang tuanya. Ia-pun menyerahkan seluruh hartanya bagi suaminya tercinta.

Tundukkan pandangan pemuda Maroko menjadi sebab masuk Islamnya gadis Amerika, ini menunjukkan kepada kita bahwa pengamalan kita terhadap agama adalah sebab orang2 non muslim masuk ke dalam agama Islam.

Bonus : Dengan menundukkan pandangan si Pemuda itu mendapatkan istri yang cantik jelita + kaya raya.

Hadiah dari Allah Taala bagi yang menundukkan pandangan!

Sumber: © Catatan fb STDI Imam Syafi’i – Jember via Moslemsunnah.Wordpress.com

Artikel: www.kisahislam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Silahkan di Share, Copas, Dan Lain-Lain, Dengan Tetap Mencantumkan Sumbernya.