Tata krama orang yang mencari ilmu

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اْلحَمْدُ لِلَّهِ اَّلذِى أَحْسَنَ تَدْبِيْرَ اْلكَائِنَاتِ. وَخَلَقَ اْلأَرَضِيْنَ وَالسَّمَوَاتِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ أَنْزَلَ اْلمَاءَ مِنَ اْلمُعْصِرَاتِ. وَأَنْشَأَ اْلحُبَّ وَالنَّبَاتِ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَامُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ذِيْ اْلمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَاتِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَّلذِيْ حَصَلَ مِنْ نُوْرِهِ وُجُوْدُاْلكَائِنَاتِ. قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ اْلكَرِيْم . بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿المُجَادِلَةْ : ١١ ﴾  ( أما بعد ) 

Para pembaca yang dimulyakan Allah,

Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar satu bait syair berikut :

شَكَوْتُ إِلَى وَقِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ                  فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ اْلمَعَاصِي

فَأَيْقَنْتُ بِأَنَّ اْلعِلْمَ نُوْرٌ                             وَنُوْرُاللهِ لَايُعْطَى لِلْعَاصِ

Syair tersebut adalah ucapan salah seorang santri yang mengadu pada kyai Waqi’ bahwa ia sulit menghafalkan ilmu yang dia pelajari. Namun apa yang terjadi??, Kyai waqi’ tersebut kemudian memberikan nasehat agar sang santri tadi meninggalkan kemaksiyatan yang biasa ia lakukan. Sebab apa?? Sebab ilmu itu adalah Nur (Cahaya) yang datang dari Allah SWT dan Nur Allah SWT itu tidak akan pernah diberikan kepada orang yang berbuat kemaksiyatan.

Dari cerita tersebut dapat kita simpulkan bahwa orang yang membiasakan suatu perbuatan kemaksiyatan, maka ia tidak akan pernah diberikan jalan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Mungkin banyak saat ini orang yang alim, menguasa banyak ilmu agama terlebih ilmu umum yang karena tidak diiringi oleh perasaan takut kepada Allah SWT, sehingga ilmu yang mereka miliki tidak menjadi jalan baginya untuk menempuh jalan Allah SWT malah sebaliknya makin menjauhkan dirinya dari jalan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Sebab barang siapa diberikan tambahan ilmu, namun tidak diiringi dengan bertambahnya ketakwaan kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa orang itu tidak akan bertambah di sisi Allah SWT kecuali ia akan semakin jauh dari-Nya. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi kita yang pada saat ini sedang berada di kota santri. Dimana banyak muda-mudi berbusana rapi, mempelajari ajaran agama, berguru kepada para ulama’ dan para kyai. Jika kita ingin memperoleh ilmu yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan di dunia ini hingga kelak ketika “sowan” menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita, maka kita harus mengetahui tata krama atau sopan santun dalam mencari ilmu. Agar kita bisa memperoleh ilmu, serta bisa memanfaatkan ilmu tersebut untuk makin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT sehingga kita bisa memperoleh kebahagiaan dan keberkahan hidup di dunia ini hingga di akherat kelak.

Akal kita adalah ibarat sawah yang harus kita jaga, kita pelihara dengan sebaik-baiknya agar bisa menghasilkan panen yang baik hingga mampu memberi kemanfaatan dalam kehidupan ini. Jika kita punya sawah, namun tidak tahu cara menggarapnya, tidak pandai memanfaatkanya, serta bermalas-malasan dalam menggunakanya dengan teratur, maka tentu panen yang akan kita rasakan kelak akan sedikit atau bahkan malah kita akan gagal dan merugi. Berhati-hatilah dalam menggunakan kesempatan kehidupan yang hanya sekali ini, jangan hanya kita sia-siakan untuk sesuatu yang tidak bisa memberikan manfaat dalam perkembangan sawah kita tersebut. Sebab waktu yang telah kita lalui tidak akan pernah kembali lagi untuk menghampiri kita. Oleh sebab itu, disini kami akan mengulas tentang tata krama atau “Kunci sukses mendapatkan ilmu yang bermanfaat”.

Sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang ulama’ yakni Syekh Hafidz Hasan Al-mas’udy, salah seorang ulama’ di “Al-Azhar”, mesir yang mengatakan bahwa :

Para pencari ilmu yang ingin sukses dalam pencarian ilmu mereka sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat, maka seharusnya mereka mempunyai adab atau tata krama yang berhubungan dengan diri mereka sendiri maupun yang berhubungan dengan orang lain, terlebih terhadap guru yang mengajar mereka maupun terhadap teman seperjuangan mereka”.

Adapun adab yang berhubungan dengan diri mereka secara pribadi adalah bahwa ketika mereka mencari ilmu maka harus meninggalkan sifat ‘ujub, yakni sifat sombong, merasa mampu memperoleh kenikmatan karena atas hasil jerih payah usahanya sendiri hingga melupakan pemberi kenikmatan yaitu Allah SWT. Ketahuilah wahai para sahabat, bahwa sifat sombong merupakan bentuk kemaksiyatan yang akan menutup hati kita dari Nur Allah sebagaimana cerita yang kami sampaikan diawal tadi. Kita harus mempunyai sifat tawadhu’ (andhap asor), serta mengutamakan kebenaran dan kejujuran agak kita dicintai Allah sebagai pemberi nur ilmu-Nya.  Jangan sekali-kali kita membuka mata atau mengisi hati ini dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT, sebab nur Allah tidak akan pernah bisa bercampur dengan perkara bathil seperti itu.

Memang kita harus menjaga identitas kita sebagai seorang santri, jangan sampai terbujuk oleh orang yang mengatasnamakan modernisasi sebagai salah satu pilihan dengan meninggalkan ciri khas kesantrian. Boleh lah seorang santri  ikut bergelut dengan teknologi agar tidak ketinggalan zaman, tidak “Ndeso”, katrok serta “Kam se u pay” alias kampungan. namun jangan sampai hanya karena bujukan dunia yang bersifat sementara sehingga malah menjadikan kita terjatuh pada jurang dosa. Sebab memang Allah SWT telah berpesan pada kita untuk selalu mencari kehidupan yang terbaik di Negeri Akherat, namun jangan sampai melalaikan kehidupan dunia. Bila hal ini kita lakukan maka insya’allah kita akan dipilihkan pada jalan terbaik untuk kita tempuh dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Dan yang lebih penting lagi bahwa sikap tersebut harus kita jaga hingga kapanpun, bahkan bila kita telah memperoleh ilmu dari Allah SWT. Sebab ilmu adalah juga merupakan bentuk amanat Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Sudahkah kita memanfaatkan ilmu kita dengan benar untuk menjalankan tugas ibadah di dunia ini ataukah malah sebaliknya karena bertambahnya ilmu justeru sifat sombong makin berkembang dalam hati ini???? Ingatlah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

مَنْ اِزْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ فِى الدُّنْيَا زُهْدًا لَمْ يَزْدَدَ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا

“Barang siapa yang ditambahi ilmunya, namun tidak bertambah sifat zuhud terhadap dunia, maka ia tiada akan bertambah dari Allah kecuali makin jauhnya”. (Al-Hadist)

Adapun yang selanjutnya bahwa selain sikap-sikap tadi kita juga harus mempunyai adab terhadap ustadz atau guru kita bila memang ingin mendapatkan kemanfaatan ilmu terlebih para guru yang telah mengenalkan kita kepada ajaran agama Islam serta mengajari tata cara membaca Al-qur’an sehingga kita bisa mengenal Allah SWT.terkadang sering kita melupakan guru atau bahkan meremehkan guru yang mengajari iqra’ atau juz ‘amma, hanya karena kita telah lebih ‘alim dari mereka. Atau kadang kita lebih menghormati guru yang mengajari ilmu umum seperti matematika, IPA, IPS dan sebagainya melebihi ustadz yang telah mengajari kita tentang sifat-sifat Allah. Atau mungkin kita lebih menghormati guru yang telah mengajari kita membaca kitab “Fathul Mu’in” dari pada guru Madin. Ketahuilah wahai sadaraku, bahwa itu semua tidaklah patut kita lakukan. Sebab tidak mungkin kita bisa membaca Al-qur’an tanpa ada yang mengajari iqra’. Tidak mungkin kita bisa memahami kitab-kitab besar, tanpa terlebih dahulu belajar dari kitab-kitab yang mungkin dianggap kecil dan sepele. Sebab dari hal-hal yang sepele itulah kita mampu memahami hal-hal yang lebih besar. Intinya, hormatilah semua gurumu walaupun untuk saat ini kita lebih pandai daripada mereka. Yakinlah bahwa apa yang telah mereka ajarkan kepada kita merupakan ilmu yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan kita. Guru adalah orang tua yang mendidik ruh kita, yang mana ruh ini tidak kalah penting bahkan memang harus lebih diutamakan melebihi orang tua jasad kita. “Dadiyo wong kang biso rumongso, lan ojo dadi wong kang rumongso iso”. Jika kita merasa menjadi seorang santri, maka selalu dan harus selalu rendah diri(andhap asor) kepada guru siapa dan bagaimanapun keadaan mereka. Apalagi ketika kita berada di depan guru tersebut, atau ketika sedang diajar oleh mereka, maka dengarkanlah materi pembelajaran mereka dengan penuh adab, konsentrasi pada pelajaran dan jangan malah membuat gaduh sehingga mengganggu pelajaran yang disampaikan. Jagalah perasaan guru tersebut dengan sebaik mungkin agar beliau dengan suka rela dan ridlo memberikan ilmunya kepada kita. Jangan pernah sekali-kali kita menyinggung perasaan atau dengan sengaja mencela mereka, sebab hal yang demikian sangat membuka kesempatan bagi kita untuk dimurkai Allah SWT. Satu lagi hal yang harus kita lakukan adalah jangan segan-segan untuk bertanya manakala ada satu materi yang beliau sampaikan namun belum mampu kita pahami. Insya’allah dengan cara seperti ini, ilmu yang manfaat dari beliau akan hinggap dalam hati sanubari kita.

Adapun yang berikutnya selain kita harus punya adab terhadap diri sendiri serta guru maupun orang tua, kita juga harus mempunyai adab terhadap rekan senasib seperjuangan kita yakni teman dan saudara yang menyertai kita dalam mencari ilmu. Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka????

Yang pertama yang wajib kita lakukan adalah memulyakan teman dan jangan sekali-kali meremehkan mereka. Jangan hanya karena kita lebih pintar sehingga kita merasa lebih tinggi derajatnya dibanding teman-teman kita. Sebab tiada yang lebih mulya di sisi Allah SWT kecuali tingkat ketakwaan seseorang pada-Nya. Allah tidak akan melihat pada banyaknya ilmu, mulyanya keturunan apalagi banyaknya harta yang kita miliki, bila ternyata kita tidak mempunyai rasa takut untuk menerjang larangan Allah. Teman adalah orang yang ikut berjuang bersama-sama dengan kita dalam mencari ilmu. Mungkin pada suatu kesempatan kita kurang cocok dengan mereka, namun kita harus yakin bahwa suatu saat nanti kita akan membutuhkan terhadap mereka. Mereka jugalah yang akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT terhadap apa yang kita lakukan di dunia ini. Sehingga manakala mereka mengatakan kebaikan tentang diri kita di sisi Allah, maka tentu ucapan tersebut akan sangat berguna agar kita selamat dari murka Allah SWT. Sebaliknya manakala kita sering berbuat dzalim kepada teman, maka sesungguhnya Allah SWT juga akan murka kepada kita semua. Sebab sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang saling memberikan manfaat kepada orang lain, serta mau bersatu dan tidak bercerai berai.

خَيْرُكُمْ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَشَرُّكُمْ أَغَضُّهُمْ لِلنَّاسِ

terakhir yang kami sampaikan, marilah kita berusaha untuk menjalankan tata krama yang telah diajarkan oleh Syekh Al-Hafidz Hasan Al-Mas’ud tersebut dengan harapan semoga Nurul ilmi benar-benar hinggap dalam hati kita, hingga kita diberikan kemudahan dalam memperoleh ilmu yang benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan dunia dan akherat kita, amin yarobbal alamiin.

Akhirul kalam, kami sampaikan pantun :

“Mangan kopat jangane santen, menawi lepat nyuwun ngapunten”.

 

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Referensi :

Syekh Al-Hafidz Hasan Al-Mas’ud, Kitab Taisir Al-Kholaq fi ‘ilmil akhlaq, Surabaya; Toko kitab Al-Hidayah, ……, hlm. 8 – 10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: