Hawa dan syahwat (Shohifah : 39 – 40)

Perbedaan antara Hawa  dan syahwat adalah bagaikan penyakit dan penyebab sakit serta bagaikan dalil dan sesuatu yang di dalili. Hawa terfokus kepada pendapat serta keyakinan, sedang syahwat lebih pada kecondongan terhadap sesuatu yang meng-enakan. Sehingga bisa disebutkan bahwa syahwat merupakan hasil dari adanya hawa. Syahwat mempunyai makna lebih khusus sedangkan dasar munculnya adalah hawa yang mempunyai makna lebih luas.

Dan kita meminta kepada Allah SWT semoga selalu menjaga dari panggilan-panggilan hawa nafsu, semoga Allah memalingkan kita dari segala jalan kerendahan, serta menjadikan petunjuk-NYA sebagai penuntun kita dan akal sebagai penunj uk kita Amin.

Disebutkan dalam hadist qudsi bahwa Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Isa Alaihis salam : ”Nasehatilah dirimu selalu, Jika ia sudah menerima nasehat barulah kau menasehati orang lain. Jika tidak bisa engkau nasehati dirimu, maka malulah Engkau pada-KU”

Muhammad bin Kinasah berkata : “ Tiadalah orang yang mengajarkan suatu adab (sedang ia sendiri tidak melakukannya serta tidak berusaha mencegah penyelewengan hawanya) itu disebut sebagai orang yang beradab. Sehingga ia mau melakukan apa yang telah dipelajarinya dari seorang sholih sampai ia tidak dicela (oleh Tuhannya). Sungguh sedikit harganya orang yang berkata dengan ilmunya sedang amaliyahnya adalah amal yang tidak benar.”

Ulama lain (bernama Abu Al-Aswad) berkata :”Wahai seorang pemuda yang mengajar pada orang lain, Seyogyanya mengajar diri kalian dulu. Engkau menyampaikan obat kepada orang yang sakit serta orang yang terluka dengan tujuan supaya mereka sehat dengan obatmu, sedang engkau sendiri sakit. Mulailah dai dirimu sendiri. Cegahlah dirimu dari kesesatan diri, maka barulah engkau dapat berlaku adil. Jika engkau telah mencegah dirimu maka barulah kekuranganmu akan dimaklumi, Ucapanmu akan diikuti, dan ajaranmu akan diterima. Janganlah engkau mencegah kemungkaran sedang engkau melakukannya karena itu adalah cacat yang besar bagimu.”

Diceritakan Abu Farwah ( Adiyy ibn Adiyy Al-Jazary, Al-kindiyy, seorang dari Tabiin, termasuk perangkat Umar ibn Abdul Aziz) Sesungguhnya Thoriq (seorang tentara Kholid bin Abdullah Al-Qosriy) dengan kebanggaan gelimang harta bertemu Ibn Syubrumah, sedang Thoriq bersama rombongannya, kemudian Ibn Syubrumah berkta : “Aku melihatnya (Dunia) walaupun engkau mencintainya, sebagai mendung di musim kemarau yang hilang dalam sekejap. Ya Allah, Bagiku agamaku dan baginya dunia mereka.” Karena perkataan seperti itu, Abu Syubrumah dijadikan penasehat. Kemudian seorang puteranya bernama Abu Bakar berkata kepada ayahnya itu : Apakah engkau tidak takut akan ucapanmu dulu ketika bertemu Thoriq bersama rombongannya? Jawab inb Syubrumah : Hai anakku, sesungguhnya thoriq dan rombongannya menemukan seperti keadaan ayahmu dan ayahmu belum menemukan seperti yang telah mereka. Sungguh ayahmu telah memakan manisnya harta mereka hingga ia terjatuh pada hawa nafsunya.

Tidakkah kalian lihat agama yang lebih utama ini? Bagaimana ia berubah dicacat dengan cepatnya , dan dibandingkan dengan dunia yang dihina. Menjadikan seseorang lupa keluarganya, mungkin ia (Ibn Syubrumah) dikemudian hari termasuk orang yang mengikuti nasehat puteranya. Bagaimana dengan kita yang lebih bebas kendali, lebih banyak tergoda, dan hati yang lebih melirak lirik harta. Apakah kita dapat menemukan tempat paling benar kecuali dengan taufiq/pertolongan Allah??

Wallohu a’lam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: