Akal dan Hawa (Shohifah : 33 – 39)

Sifat Hawa akan selalu mencegah kepada kebaikan serta menjadi musuh utama bagi akal. Karena hawa akan menarik kepada setiap keburukan dan memunculkan perbuatan-perbuatan yang dicela, merusak muru’ah (harga diri) serta menjadikan keburukan sebagai jalan yang ditempuh.

Sahabat Abdullah bin Abbas RA pernah berkata : “ Hawa merupakan tuhan yang disembah selain Allah”, Sahabat IkrimahRA  berkata :  “Sedang kalian (karena mengikuti syahwat) telah memfitnah diri kalian, sebab engkau akan memperlambat taubat serta menjadi ragu-ragu pada perintah-perintah Allah SWT, terbujuk oleh angan-angan hingga datang pada kalian kepastian (kematian) sedang kalian telah terbujuk oleh rayuan syetan yang banyak membujuk.

Diceritakan dalam suatu hadist bahwa Rasulullah SW bersabda : “ Mengikuti syahwat adalah penyakit, dan obatnya tiada lain kecuali meninggalkannya”.

Sahabat Umar bin Khattab RA berkata : “Jauhkanlah diri ini dari syahwat, karena ia akan selalu condon kepadanya, dan ia akan menjerumuskan diri kepada kesesatan. Sesungguhnya perkara hak itu berat dan pahit untuk dikerjakan dan perkara bathil itu amat ringan dan amat berbahaya. Meninggalkan kemaksiyatan adalah lebih baik dibanding mempercepat taubat. Banyak pandangan (yang tidak terjaga) yang menimbulkan syahwat dan banyak syahwat yang sebentar mewariskan kesengsaraan yang berkepanjangan.

Sahabat Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah berkata : “Aku takutkan kepada kalian dua perkara, yakni : mengikuti hawa dan memperpanjang angan-angan. Karena sesungguhnya mengikuti hawa akan mencegah kalian dari melakukan perkara haq, dan memperpanjang angan-angan dapat melalikan kalian dari akherat”.

Imam As-syu’bi berkata : “disebut dengan Hawa (secara bahasa artinya menjatuhkan) karena ia banyak menggelincirkan orang-orang yang mengikutinya”.

Seorang a’rabi berkata : hawa itu hina.

Seorang ahli syi’ir berkata : “Sesungguhnya kehinaan itu milik hawa. Nama hawa yang dirubah dari kata hawaanun (yang artinya hina). Barang siapa mengikutinya, maka ia akan menemukan kehinaan.

Disebutkan dalam kitab mantsuril hikam : “Barang siapa mengikuti hawanya, maka ia telah memberikan harapan kepada musuhnya”.

Sebagian ulama’ berkata : “Akal adalah teman yang kebanyakan sering di putus, sedang hawa adalah musuh yang kebanyakan sering diikuti”

Sebagian ahli balaghah berkata : “Sebaik-baik orang adalah mereka yang durhaka kepada hawa nafsunya dan sebaik-baik orang yang mendurhakai hawa nafsunya adalah mereka yang membuang dunianya.

Hisyam bin Abdul Malik bin marwan berkata : “Jika tidak kau tidak mendurhakai hawa, maka ia akan menuntunmu kepada setiap omongan yang merugikanmu”.

Ahli syiir berkata : : “ Orang-orang yang mengikuti hawa mereka, sungguh ia telah kehilangan ibu mereka. Dan sungguh para musuh mereka akan bangga karena melihat kebodohan orang tersebut. Dan orang-orang yang ingin mencelanya akan menemukan bahan pembicaraan. Dan tidak akan mampu meninggalkan nafsu yang selalu memaksa hawa seorang manusia kecuali mereka yang mempunyai keteguhan yang sempurna.

Ketika hawa telah mampu memenangkan, dan mencapai kerusakan-kerusakan maka akal selalu memata-matai dan berjuang melirak-lirik pelajaran akibat kelapaannya, serta mencegah sepatnya siksa yang datang, karena sesugguhnya paksaan dari hawa sangatlah kuat dan upaya hawa dalam membujuk yang samar. Dari kedua hal ini (Kuatnya paksaan hawa dan samarnya paksaan hawa) orang yang berakal akan mendapat perlawanan.

  1. a.       Kuatnya perlawanan dari hawa sebab banyaknya penarik-penarik hawa hingga hawa dan syahwat mampu menguasai akal, maka akan menjadikan ketul (tumpul)nya akal dan menyerahnya akal dalam menyaksikan keburukan-keburukan yang jelas. Hal seperti ini kebanyakan dialami para pemuda dan benyak mengalahkan mereka karena kuatnya syawat mereka dan banyaknya penarik-penarik hawa yang menguasai mereka.  Bahkan terkadang mereka menganggap bahwa hal ini merupakan alasan yang dimaklumi sebagai seorang pemuda (sebagaimana penjelasan Muhammad bin Basyir).

Ahli hikmah berkata : sesungguhnya hawa adalah raja yang sangat lalim, dan penguasa yang sangat dzalim.

Ahli Syiir berkata : “Hai orang yang berakal yang telah banyak menyia-nyiakan akalnya, Bagaimana keadaanmu yang telah buntu oleh banyak perkara. Akankah kamu menjadikan akalmu sebagai tawanan hawamu. Sedang akalmu sebetulnya mampu menjadi pemerintah”.

Buntunya akal disebabkan oleh karena akal tersebut justeru meminta tolong pada nafsu yang banyajk menyesatkan, kemudian hawa akan memberi petunjuk kepada hal yang keliru, petunjuk yang sangat berbahaya dan sangat buruk karena banyaknya kesalahan dan bertumpuk-tumpuknya dosa.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Sesungguhnya syurga itu dihiasi oleh perkara-perkara yang dibenci nafsu dan neraka itu dihiasi oleh kesenangan-kesenangan nafsu”. Nabi memberitahukan bahwa jalan menuju syurga adalah dengan menahan apa yang dibenci nafsu dan jalan menuju neraka adalah dengan mengikuti syahwat”.

Ali bin Abi Thalib berkata : Takutlah kalian pada keputusan-kepuusan syahwat pada diri kalian. Sesungguhnya keputusan itu akan mencela kalian dalam waktu dekat dan menyengsarakan kalian dalam waktu lambat. Jika kalian tidak mengetahui hawa, karena kalian diliputi ketakutan maka perlambatlah hawa tersebut dengan mengangan-angan (kesenangan berpikir), sesungguhnya jika ketakutan akan hawa berkumpul dengan kesenangan berfikir di dalam hati maka akan mendorong kemenangan oleh hasil pikiran akal.

Ibnu Samak berkata : jadilah engkau orang yang menunda-nunda hawa dan berbelaskasihan pada akalmu. Lihatlah akibat buruk dari hawa dan jauhilah ia. Sesungguhnya meninggalkan nafsu dan apa yang menjadi kesenangannya merupakan obat dari penyakit nafsu itu. Maka  bersabarlah dalam meminum obatmu sebagaimana engkau takut pada penyakit itu.

Seorang ahli syiir berkata : “Telah aku Terima hari-hariku  hingga ia terlewatkan, Dan telah aku ikuti nafsuku dengan kesabaranku, Dan tiada nafsu itu selain telah menjadikan seorang pemuda yang jikalau sang nafsu telah ia berikan makanannya maka nafsu itu akan senang dan jika tidak maka sang nafsu akan tenang”.

Jika nafsu telah mengikuti akal secara sukarela sebab apa yang telah ia fikirkan dari akibat-akibat buruk hawa, maka hawa-pun tidak akan tenang dan berusaha menjadikan akal tersebut dicela dan nafsu-pun dipaksa kemudian seolah sang hawa-lah yang lebih berhak untuk menerima pahala dari Allah SWT dan lebih berhak mendapat pujian dari makhluk-makhluk lain.

Firman Allah : Dan Adapun orang-orang yang takut pada kekuasaan Tuhannya serta mencegah nafsu mereka dari hawa, maka Syurga lah yang akan ia peroleh.

Syekh Hasan Bashri berkata : Jihad yang paling utama tiada lain adalah berjuang melawan hawa.

Sebagian ulama’ berpendapat : Kemuliaan yang paling mulia adalah mencegah kekuasaan hawa.

Sebagiah Ahli bahasa berkata : Sebaik-baik manusia adalah mereka yang mengeluarkan syahwat dari hatinya, dan mendurhakainya karena taat kepada Tuhannya.

Sebagian ahli sastra berkata : barang siapa mematikan hawa mereka, maka sungguh ia telah menghidupkan harga dinya.

Sebagian ulama’ berkata : Allah SWT telah menjadikan malaikat dari akal tanpa adanya syahwat, dan telah menciptakan hewan dari syahwat tanpa akal sedang manusia dicipta dengan kedua-duanya. Maka barang siapa yang mampu memenangkan akal atas syahwatnya, ia lebih baik daripada Malaikat. Sedang barang siapa yang akalnya kalah oleh syahwatnya, maka ia lebih hina dari hewan.

Sebagian Ahli hikmah ditanyai : Siapakah manusia yang paling berani dan paling berhak mendapat kemenangan dalam jihad mereka? Maka dijawabi : Ialah orang yang mampu mengalahkan hawanya karena taat kepada Tuhannya dan menjaga hati mereka dari bujukan hawa yang datang secara samar.

Sebagian ahli syiir berkata : Terkadang orang yang teguh yang mempunyai pendapat sampai pada tujuan sebab ia patuh pada keteguhan dan mendurhakai hawa mereka” .

  1. b.      Samarnya upaya bujukan hawa, Pemaksaan hawa yang bersifat samar mampu menjadikan akal terkagum akan perbuatan-perbuatan hawa. Amal yang buruk akan terlihat seolah-olah baik dan yang berbahaya seolah-olah bermanfaat. Hal ini dipengaruhi oleh 2 hal yakni :
    1. 1.       Karena condongnya nafsu kepada perbuatan yang mengagumkan tadi. Hal ini disebabkan oleh pintarnya hawa dalam menyamarkan perkara yang burukan. Karena bagusnya persangkaan dari nafsu, hingga hawa mampu merubah keburukan-keburukan menampakan kebaikan di mata nafsu. Oleh karenanya Rasulullah SAW pernah bersabda : “ Kecintaanmu akan sesuatu menjadikanmu buta dan tuli”. Maksudnya buta dari petunjuk dan tuli dari nasehat kebenaran.

Sahabat Ali bin Abi thalib berkata : Cinta itu buta.

Seorang penyair berkata : “Terlihat baik dimata setiap orang yang sedang jatuh cinta”.

Abdullah bin Mu’awiyah bin Ja’far bin Abi Thalib RA pernah berkata : Tiadalah aku mengetahui cacat dari setiap orang yang mabuk cinta tidak pula sebagiannya ketika aku meridhai. Sebab pandangan ridha akan menjadikan tumpulnya setiap cacat, tetapi pandangan marah akan memperlihatkan semuanya adalah cacat”.

  1. 2.       Karena malasnya fikiran untuk membedakan antara amal yang murni dengan amal yang ditunggangi hawa. Hal ini karena keinginan mencari yang termudah, tiada mau berfikir keras sehingga ia menyangka bahwa apa yang telah dilakukannya adalah yang terbaik dan yang paling dipuji, sebab terbujuknya fikiran mereka. Mereka melihat bahwa berfikir keras akan menyebabkan kesengsaraan. Tentu hal seperti ini akan membahayakan karena bujukan hawa serta ketakutan-ketakutan yang telah menghiasi mereka.

Karena itu Syekh Amir bin Dhorib berkata : Jika hawa terjaga sedang akal tertidur, maka hawa akan mengalahkan akal.

Syekh Sulaiman bin Wahab berkata : Hawa itu sifatnya lebih mencegah(kebaikan) dan pendapat fikiran itu lebih bermanfaat.

Dalam perumpamaan dikatakan : Akal adalah menteri yang selalu memberi nasehat (Kebaikan) dan hawa adalah patih yang selalu menyalahkan.

Seorang ahli syiir berkata : Jika seseorang memberikan setiap keinginan nafsu, serta tidak mencegah kecintaan nafsu pada kebathilan maka ia akan menggiring orang tersebut pada beberapa dosa dan perbuatan tercela sebab kenikmatan yang sementara.

Solusi untuk mengatasi kedua masalah ini adalah :

  • Menjadikan hati nurani sebagai hakim dalam melihat akibat suatu keputusan. Sebab pandangan mata hanya akan menuntun kepada syahwat, dan syahwat adalah salah satu bentuk bujukan dari hawa. Sedang pandangan hati adalah penuntun kepada perkara hak, dan perkara hak adalah salah satu bujukan dari akal.

Sebagian ulama’ hikmah berpendapat : “Penglihatan orang yang bodoh adalah dengan kedua mata dan penjaga (hawa) mereka. Sedang penglihatan orang yang berakal adalah dengan hati dan pandangan nurani.

Kemudian seseorang harus selalu curiga pada kebenaran apa yang dicintai(dibetulkan niatnya).  Membaguskan keinginan mereka hingga kebaikan terlihat dan  perkara hak jadi jelas. Karena memang perkara hak itu sifatnya berat untuk dibawa dan lebih sulit dibaiki.  Jika ada dua hal sulit dibedakan, maka carilah yang lebih berat. Karena sesungguhnya nafsu akan lari dari setiap perkara yang berat dan lebih suka bermain-main pada setiap hal yang mudah.

Ibnu Abbas bin Abi Thalib berkata : Jika ada dua hal serupa yang datang padamu, maka tinggalkan yang lebih dicintai dan pilihlah yang lebih berat.

Alasan pendapat ini adalah bahwa perkara yang lebih berat akan dapat mengendorkan nafsu yang suka tergesa-gesa. Karena sifat tergesa-gesa ini hingga sesorang lupa untuk berhati-hati, hingga waktu untuk memikir telah usai karena keinginan untuk segera melakukan keinginan tersebut. Maka tiada manfaat berpikir setelah berbuat. Dan tidak pula bermanfaat menemukan hasil setelah perbuatan usai.

Sebagian Ahli hikmah berkata : “ Sesuatu yang telah berpaling darimu maka janganlah kau lihat terus”.

Ahli syiir berkata : “Bukankah orang yang mencari sesuatu yang telah hilang adalah orang yang bodoh dan ingatnya seseorang setelah berlalunya perkara tersebut tiada manfaatnya.

Sesungguhnya sebagian ahli sastra memberikan sifat kepada hawa : Sesuatu yang menjadi teman hawa adalah termasuk cacatnya dunia. Hawa adalah kendaraan bagi bagi fitnah. Dan Dunia adalah rumah yang menjijikan. tinggalkanlah hawa, maka engkau akan selamat. Berpalinglah dari dunia maka engkau akan beruntung. Jangan tergoda rayuan hawamu yang menghiasi mereka dengan bermain-main. Janganlah engkau terfitnah oleh dunia dengan barang-barang yang ia pinjamkan. Masa bermain-main akan terputus, dan pinjaman dari waktu akan segera diminta lagi olehnya. Maka saat itu akan tinggal bersamamu kendaraan-kendaraan haram. Engkau bergelut dengan pekerjaan yang dicela.

Ali bin Abdullah al-Ja’fari berkata : Aku pernah mendengar seorang perempuan yang berthawaf berkata padaku ketika aku sedang bersyiir : “Aku senang dengan kesenangan agama namun perkara-perkara dunia juga menyenangkanku. Maka bagaimana aku bisa mengumpulkan keduanya. Wanita itu menyahut : keduanya adalah dua arah yang saling bertentangan, maka tinggalkan salah satu yang kau kehendaki dan pilihlah satu yang kau inginkan.

Walloohu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: