Hasan al-Bashri (w. 110H)

Hasan al-Bashri bin Yasar juga dikenal dengan al-Hasan bin Abi al-Hasan dan Abu Sa’id. Lahir pada tahun 21 H, dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan khalifah ‘Umar bin Khatthab. Ia diboyong dari Sabiy Maisan ke Madinah oleh kedua orangtuanya.

Hasan al-Bashri berkata, “Ayah dan ibuku adalah hamba sahaya seorang pria yang berasal dari kalangan Bani Najjar. Ia menikahi seorang perempuair Bani Salamah, kemudian menjadikan ayah dan ibu sebagai maharnya. Bani Salamah kemudian memerdekakan kami.”

Menurut riwayat lain, ayahnya adalah hamba sahaya Zaid bin Tsabit al-Anshari, sedangkan ibunya adalah hamba sahaya Ummu Salamah, istri Rasulullah saw.

Yang jelas, ayah dan ibu Hasan al-Bashri adalah hamba sahaya, yang kemudian dimerdekakan oleh tuannya.

Ibunya membantu Ummu Salamah. Sering kali Ummu Salamah memintanya pergi untuk berbagai keperluan sehingga sang ibu tidak bisa mengurus Hasan al-Bashri setiap hari. Ummu Salamah kemudian yang menyusui Hasan al-Bashri.

Banyak pakar menilai bahwa hikmah dan ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya karena berkah penyusuan yang dilakukan oleh istri Rasulullah saw. tersebut.

Hasan al-Bashri tumbuh dan berkembang di Madinah. Dengan demikian, ia masih dapat menjumpai para sahabat dan mendengar berbagai hal dari mereka.

Hasan al-Bashri berwajah tampan. Bahkan, inilah salah satu ciri khasnya. Kepada orang yang hendak berkunjung ke Bashrah, al-Sya’bi selalu mengatakau, “Bila kamu melihat orang yang paling tampan dan paling ber-wibawa di kota Bashrah, itulah Hasan al-Bashri. Sampaikan salamku untuknya.”

Hasan al-Bashri juga seorang pemberani. Muhallib bin Abi Shafi’ah-bila berperang melawan orang musyrik-selalu menempatkan Hasan al-Bashri di baris terdepan.

Muhammad bin Sad berkata, “Hasan al-Bashri memiliki banyak kebaikan, ‘dlim (orang yang amat luas pengetahuannya), tinggi derajatnya, seorang pakar fikih, ahli hujjah, dapat dipercaya, seorang ‘ibid (orang yang banyak beribadah kepada Allah), luas wawasan ilmunya, fasih, dan tampan.”

Ia juga seorang oraror yang sangat fasih, bahkan tergolong orator yang paling fasih pada masanya.T

Ilmu dan Nasihatnya

Hasan al-Bashri adalah orang terkemuka dalam berbagai bidang keilmuan, sehingga ia dijuluki Syebh Kota Bashrah.

Ia seorang pakar dalam bidang fikih (Hukum Islam), hadis, dan tafsir. Pikiran-pikirannya banyak dikutip di berbagai kitab fikih dan tafsir. Hadis-hadis yang ia riwayarkan juga tercantum dalam berbagai kirab-hadis.

Ia seorang pemberi nasihat yang sangat andal. Nasihatnya sangat menggugah hati. Bisa jadi, aspek inilah yang mengalahkan popularitasnya.

Kalau ia memberi nasihat kepada banyak orang, ia sendiri sudah menerapkan seruan dan nasihat yang disampaikannya itu. Itulah sebabnya, nasihat dan wejangannya mendapat tempat terhormat di hati masyarakat luas.

Ketika berbicara tentang orang-orang yang nasihatnya menggugah hati, MAlik bin DinAr mengatakan, “Benar, demi Allah. Saya tahu sebagian mereka: Hasan ai-Bashri, Sa’id bin Jubair, dan lainnya. Dengan ucapan salah satu dari mereka, Allah menghidupkan kembali hati sekelompok orang.”

Al-Amasy berkata, “Hasan al-Bashri sangat hafal dan menguasai al-hikmah, sehingga ia mampu berbicara dan mengupas secara mendalam tentang al-hikmab tersebut. Ketika nama beliau disebut-sebut di hadapan Abir Jafar al-Blqia ia berkata, “Itulah orang yang ucapannya mirip dengan ucapan para nabi.”8

Al-Ghazili berkata, “Hasan al-Bashri adalah orang yang ucapannya lebih mirip dengan ucapan para nabi, dan cara hidupnya mendekati cara hidup para sahabar.”9

Kata-kata yang repar untuk menggambarkan bagaimana Hasan al-Bashri memberi nasihat adalah apa yang dikemukakan Mathar al-Warraq, “Pada saar ia memberi nasihat, seakan-akan ia adalah orang yang pernah berkunjung ke negeri akhirat, lalu menceritakan kembali apa yang telah ia saksikan di sana.”10

Perilaku dan Kehidupan Asketiknya Abu Bardah bin Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih mirip dengan sahabat-dalam perilakunya selain dia.”11

Khafid bin Shafwan berkata, “Ketika saya bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hairah, ia berkata, “Wahai Khalid, beri tahu saya tenrang Hasan al-Bashri, warga Bashrah. Aku menjawab, ‘Semoga Allah memberi kebaikan kepada Amir al-Mukminin. Hamba iampaikan kepada paduka informasi akurat karena hamba tetangganya, sering hadir di majelisnya, dan banyak tahu tentangnya. Ia adalah orang yang paling konkret ketika menggambarkan hal-hal yang samar. Ucapannya selaiu diiringi dengan perbuatan. Ia sangat rajin dan serius memerhatikan keadaan umat. Bila ia menyuruh orang berbuat baik, ia adalah orang yang paling tekun mengerjakannya. Bila ia melarang orang berbuat buruk, ia adalah orang yang paling jauh meninggalkannya. Hamba meiihatnya tidak bergantung kepada orang lain, tetapi hamba melihat orang-orang sangat bergantung kepadanya.’ Lalu ia menambahkan, ‘Cukup Khalid. Bagaimana mungkin suatu kaum dapat tersesat sementara orang seperti ia ada di antara mereka.”’12

Hasan al-Bashri selalu dilanda “kesedihan”, karena banyak mengingat kehidupan akhirat. Namun, hal itu tidak mengantarkannya kepada suluk asing yang mulai menyebar pada masanya.

Makanannya biasa-biasa saja. Abir Hilal mengatakan, ‘Ketika kami mengunjungi Hasan al-Bashri, sering kali kami mendapati periuknya mengeluarkan aroma masakan yang leza:t.” 13

Ia lebih suka buah-buahan. Mungkin ia menganggap buah-buahan sebagai nawafil (suplemen penting) dalam makanan. Qatadah berkata, “Kami mengunjungi Hasan al Bashri ketika ia sedang tidur. Di sekitar kepalanya terdapat keranjang. Kami melihat keranjang itu, dan rernyara penuh dengan roti dan buah-buahan. Kami pun menyanrtapnya. Setelah ia terbangun dan melihat kami. Ia terlihat senang dan tersenyum sambil mengutip ayat Al-Quran, “Tidak ada halangan makan di rumah kawan-kawanmu.” (al-Nur [24]: 61).14Ia juga pandai memilih busana yang serasi. Yunus melukiskiskan keadaan tersebut dengan mengatakan, “Di musim dingin, Hasan al-Bashri memakai pakaian luar berbentuk selendang, baju (yang biasa dipakai para ulama) suku Kurdi, dan serban hitam. Di musim panas ia memakai sarung yang terbuat dari kain linen, baju, dan burd (selimut bergaris) berbentuk selendang.”15 Salam bin Miskin berkara, “Pada diri Hasan al-Bashri, aku melihat jubah seperti emas yang sangat serasi dengan dirinya”.16

Yang terlihat dengan jelas adalah bahwa ia memakai yang mudah untuknya. Ia pernah ditanya tentang pakaian favoritnya, ia menjawab, “Yang paling tebal, paling kasar, dan paling murah menurut ukuran orang banyak.”17

Ini tidak berarti bahwa ia setuju dengan sikap sebagian orang yang suka beribadah (Abid) yang cenderung memakai baju kasar. Ia tidak setuju dengan sikap itu. Pernah di hadapannya diceritakan tentang orang-orang yang biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba kasar. Ia berkata, “Mengapa mereka begitu? Kalau begitu mereka akan kehilangan satu sama lain. Sebaiknya, mereka menyembunyikan kebesaran dalam hati.”18

Perabotan rumahnya sangat sederhana. Mathar al-Warraq berkata, “Kami pernah menjenguk Hasan al-Bashri waktu sakit. Di rumahnya tak ada perabotan rumah tangga yang berharga. Tak ada kasur, karpet, bantal, ataupun tikar. Yang ada hanya ranjang terbuat dari tikar tempat ia berbaring.”19

Gambaran ini mengingarkan kita kepada gambaran yang dikemukakan ‘Umar bin KhatthAb tentang keadaan rumah Rasulullah saw. Umar berkata, “Aku menemui Rasulullah saw. Aku melihat beliau sedang berbaring di atas sehelai tikar. Antara diri beliau dan tikar itu tak ada apa-apa. Bekas tikar itu tampak jelas di punggung beliau. Beliau bertelekan kepada bantal yang isinya sabut kurma. Kemudian aku layangkan pandanganku ke sekitar kamar. Tidak ada barang berharga yang menyita perhatian .. ..”20 Jadi, apa yang dilakukan oleh Hasan ai-Bashri adalah mengikuti jejak Rasululiah saw.

Para ulama sepakat memujinya, baik pada masa ketika ia masih hidup maupun sesudah ia wafat. Mereka suka mengutip berita-berita yang berkaitan dengan kehidupannya.

Abu Bakar al-Hadzali berkata, “al-Saffah berkata kepada ku, ‘Dengan cara apa Hasan al-Bashri bisa meraih apa yang ia dapatkan sekarang?’ Aku menjawab, ‘Dengan menghafal Alquran, padahal usianya baru 12 tahun. Ia tidak beralih dari satu surat ke surat lainnya sampai ia mengerti tafsirnya, dan mengapa surat itu diturunkan. Ia tidak pernah menilap satu dirham pun dalam berniaga. Ia tidak memegang jabatan. Ia tidak pernah menyuruh seseorang berbuat baik kecuali ia sendiri melakukannya, dan tidak melarang orang berbuat buruk kecuali ia sendiri menjauhinya.”’21

Wafatnya

Aban bin Mujbir berkata, “Ketika ajal hampir menjemput Hasan al-Bashri, banyak sahabat menjenguknya dan mengatakan, ‘Wahai Abu Sa’id, beri kami bekal dengan beberapa patah kata yang bermanfaat untuk kami.’ Hasan al-Bashri berkata, ‘Aku membekalimu dengan tiga patah kata, seteiah itu tinggalkan aku sendiri. Kepada semua yang dilarang, jadilah kamu orang yang paling menjauhinya. Kepada semua yang diperintahkan, jadilah kamu orang yang paling menekuninya. Ketahuilah bahwa langkahmu hanya dua: langkah yang akan menguntungkanmu dan langkah yang akan mencelakakanmu.” Perhatikan dan pikirkanlah, ke mana kamu akan pergi melangkah di pagi hari dan di sore hari.”’23

Salih al-Mari berkata, “Aku mengunjungi Hasan ar-Bashri ketika ajal hendak menjemputnya. Ia banyak mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Anaknya berkata kepadanya, ‘Orang seperri ayah masih mengucap istrijh2a karena akan meninggalkan kesenangan dunia?’ Hasan al-Bashri menjawab, “wahai anakku, aku mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun karena meny’esali diriku yang ticlak pernah mendapatkan musibah seperti ini.”’25

Hasan al-Bashri wafat pada maiam Jumat, 1 Rajab 110 H. Menurur putranya, ia wafat pada usia kurang lebih 88 tahun.

Ribuan orang melayat jenazahnya. Ia disalati setelah salat Jumat, di kota Bashrah. Ribuan orang berdesak-desakan mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Humaid al-Thawil melukiskan keadaan tersebut, “Kami membawa jenazahnya setelah salat Jumat dan menguburkannya. Semua orang turut serta mengantarkan jenazahnya, sampai-sampai tidak ada salat berjamaah Asar di masjid. Aku tidak pernah menyaksikan jemaah salat Asar ditinggalkan sejak awal masa Islam kecuali pad’a hari itu. Karena semua orang mengantarkan jenazahnya, di masjid tidak ada satu orang pun yang menunaikan saiat Asar.”26

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Hasan al-Bashri, dan menempatkannya di surga-Nya yang luas.

Amin.

.

Sumber: Mawa’izh al Imam al Hasan al Bashri, oleh Shalih Ahmad al Syami, terbitan al Maktab al Islami, Beirut, 2004. Versi terjemah:The Wisdom of Hasan Al-Bashri, oleh Anding Mujahidin, Serambi.

Blog Orang Awam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: