Kedudukan Pangeran Penatas Angin masa Kerajaan Islam Demak

Jasa-jasa Pangeran Natas Angin di Kerajaan Demak

Daeng Mangemba Nattisoang atau Pangeran Natas Angin atau Sunan Ngatas Angin mengabdi di Kesultanan Demak Bintoro selama 53 tahun (1515-1569). Beliau senantiasa sendika dhawuh, siap melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan dasar dhokoh, loma dan ikhlash. Sebab beliau meyakini tuntunan yang telah diajarkan oleh bapa gurunya, Kanjeng Syeh Sunan Kalijaga, bahwa  taat pada pemimpin itu merupakan salah satu sarana atau jalan untuk memperoleh ridla dari Gusti Allah Yang Maha Agung.

Besar sekali jasa pengabdian beliau pada Kesultanan Demak Bintoro, mulai sejak jaman pemerintahan Sultan Fatah (Raja Demak l), Sultan Pati Unus  (Raja Demak  ll), sampai jaman pemerintahan Sultan Trenggono (Raja Demak III). Berikut adalah jasa-jasa pengabdian Pangeran Natas Angin pada Kerajaan  Islam Demak.

  1. Ikut memperkuat Laskar Pati Unus dalam penyerangan Portugis ke Selat Malaka dan berjasa menyelamatkan armada Demak dari amukan badai di Selat berhala sehingga armada Demak dapat melanjutkan perjalan sampai ke Selat Malaka.

Tahun 1515 (pada masa akhir pemerintahan Sultan Fatah),  Pangeran Natas Angin menjadi prajurit  tamtama. Mengingat bahwa beliau adalah seorang  putra raja maka tataran ilmu kanuragan, ilmu olah keprajuritan, dan ilmu kesaktian beliau sudah tidak perlu diragukan lagi. Maka prestasinya di bidang kemiliteran sangat cemerlang.

  1. Menjadi senopati perang  Kerajaan Demak.

Pada tahun 1518 M, Kanjeng Sultan  Fatah (Raja Demak l) wafat. Menurut penuturan Abah Moezaini  (almarhum) hari wafatnya Kanjeng Sultan Fatah itu bertepatan pada hari Senin Wage  malam Selasa Kliwon (Malem Anggara Kasih). Beliau wafat tidak lama setelah selesai menunaikan  qiyamul lail di masjid, waktunya antara pukul 01.00 dan 01.30. Satu hal yang patut diketahui bahwa beliau Kanjeng Sultan Fatah memiliki kebiasaan senaantiasa ngurip-urip (menghidupkan) i’tikaf di masjid yang dibangun  para Walisongo  (Masjid Agung Demak). waktunya dari jam dua belas malam sampai jam satu dini hari. Setelah Kanjeng Sultan Fatah wafat, Pangeran Pati Unus kemudian diwisuda naik tahta sebagai Raja ke-2 di Kesultanan Demak. Pada saat Pangeran Pati Unus menjadi raja, Pangeran Natas Angin diangkat sebagai salah seoarang Senopati perang di Kesultanan Demak Bintoro. Pengangkatan Pangeran Natas Angin sebagai salah seorang senopati perang ini berdasarkan pertimbangan karena beliau dinilai mumpuni dalam hal ilmu kesaktian dan ilmu perang. Di samping jasa Pangeran Natas Angin menyelamatkan Armada Demak dari amukan badai pada waktu menyerang Portugis di Selat Malaka dulu.

Sultan Pati Unus memerintak Kasultanan Demak hanya dalam waktu singkat, sekitar 3 tahun saja, karena beliau wafat pada tahun 1521 dalam usia muda. Tahta kerajaan kemudian beralih kepada Pangeran Trenggono, adik Pati Unus. Kedudukan Pangeran Natas Angin sebagai salah seorang Senopati perang di Kasultanan Demak Bintoro ini terus berlanjut hingga masa pemerintahan raja Demak ke-3, yaitu Sultan Trenggono.

  1. Jasa-jasa Pangeran Natas Angin pada masa pemerintahan Sultan Trenggono.

Sultan Trenggono memerintah Kasultanan Demak dari tahun 1521-1546 M. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, kedudukan Pangeran Natas Angin di Kerajaan Demak semakin tinggi dan penting. Selain sebagai salah seorang senopati perang Kasultanan Demak, beliau juga seorang penasehat raja di bidang strategi militer.

Sebagai seorang senopati perang, Pangeran Natas Angin sering ikut menjalankan kewajiban perang menaklukan kerajaan-kerajaan lain yang belum menganut Islam. Diantaranya adalah :

  • Ikut menaklukan Kerajaan Daha, Kediri (tahun 1527)
  • Ikut menaklukan kerajaan Sunda Pajajaran (Tahun 1527)
  • Ikut menaklukan Bandar Sunda Kelapa (22 Juni 1527)
  • Ikut menaklukan Madiun (tahun 1530)
  • Ikut menaklukan kerajaan Singasari (Tahun 1546)
  • Ikut menaklukan Pasuruan (Tahun 1546)

Ketika menaklukkan Pasuruan, Kanjeng Sultan Trenggono gugur di medan perang, tetapi membawa berkah bagi Pangeran Natas Angin, karena dalam peperangan ini beliau justeru menemukan jodoh,bernama Dewi Gayatri. Dewi Gayatri adalah puteri dari Bupati Pasuruan yang berhasil ditaklukan oleh Pangeran Natas Angin dalam adu kesaktian, dan beliau bersedia memeluk lslam, asalkan Pangeran Natas Angin bersedia menerima puterinya sebagai  istri.

Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, Pangeran Natas Angin atau berjuluk Sunan Ngatas Angin mempunyai kedudukan “paling tinggi” di antara para Sunan yang masih terlibat langsung pada urusan negara masa itu. Hal ini tercantum dalam Kitab Pustaka darah Agung, tulisan R. Darmowasito (1937), Bab  “Kalenggahanipun para Wali”  (Kedudukan para wali) tertulis sebagai berikut:

  1. Sunan Ngatas Angin
  2. Sunan Giri
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Ngargopuro
  5. Sunan Cirebon
  6. Sunan Geseng
  7. Sunan Mojoagung
  8. Sunan Kalijaga
  9. Wali Penutug sewu (Wali Penerus Seribu)
  10. Sunan Kudus
  11. Sunan Tembayat

Dari gambaran di atas dapat diketahui siapa sebenarnya Pangeran Natas Angin. Beliau adalah seorang  tokoh yang sangat besar jasa pengabdiannya bagi kejayaan Kerajaan lslam Demak. Patut diduga bahwa beliau termasuk salah seorang dari sekian banyak waliyullah yang pada zaman kerajaan Islam Demak tempo dulu yang telah dipersatukan oleh Allah dari berbagai penjuru Nusantara. Para Kekasih Allah itu terpanggil dan berkumpul di bumi Demak Bintoro untuk berjuang menyiarkan dan menegakkan agama Islam ke berbagai penjuru  negeri.

Sepeninggal Sultan Trenggono terjadi intrik perebutan kekuasaan oleh para putra/keluarga raja sehingga mengakibatkan runtuhnya kejayaan Demak. Kesultaan Demak Bintoro yang tadinya besar dan berwibawa, bisa runtuh nyaris tak berbekas karena terjadi intrik di dalam keluarga kerajaan. Sesama  saudara tega saling membunuh karena didorong ambisi kekuasaan.

Menurut penuturan Abah Moezaini, peristiwa saling bunuh yang terjadi di keluarga Kerajaan Demak ini, oleh para Walisongo disebut dengan istilah rebut bathok bolu isi madu. Hal itu dipandang oleh para wali dan para sesepuh sebagai aib, hal tabu yang sangat memalukan dan tidak pantas diungkit-ungkit lagi. Para wali dan para sesepuh kemudian berdoa kepada Allah agar aib ini ditutup  rapat-rapat oleh Allah  sepanjang  masa. Itulah sebabnya sampai sekarang bekas-bekas Kerajaan Demak tidak bisa diketahui di mana letaknya karena tertutup oleh bathok (tempurung kelapa) yang telah di-sabda oleh Walisanga.

Runtuhnya Kesultanan Demak membuat kecewa hati para sesepuh dan para wali songo yang dulu ikut membangun dan membesarkan Kesultanan Demak. Perasaan kecewa terhadap runtuhnya Kerajaan Demak yang diakibatkan oleh intrik keluarga, dialami juga oleh Pangeran Natas Angin secara pribadi. Namun sebagai orang  luar, beliau tidak bisa berbuat banyak. Beliau hanya bisa berdoa, semoga pengabdian yang pernah diberikan selama ikut membangun dan membesarkan Kerajaan Demak diterima oleh Allah SWT sebagai amalan yang baik.

Setelah Kerajaan Demak berakhir, Pangeran Natas Angin mohon izin kepada Bapa Guru Kanjeng Sunan Kalijaga ingin meninggalkan urusan duniawi. Oleh Sunan Kalijaga, Pangeran Natas Angin disarankan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah-Medinah. Pangeran Natas Angin pun segera melaksanakan  ibadah haji. Selesai berhaji, beliau tidak segera pulang ke Tanah Jawa, tetapi meneruskan perjalanan ke utara menyeberang Laut Merah, sampai Mesir, Libya, dan Aljazair.  kemudian  berhenti di Maroko  (Maghribi).

Perjalanan ke Utara yang dilakukan oleh Pangeran Natas Angin setelah berhaji ini dilakukan dalam rangka “napak tilas” perjalanan  lbnu Batutah, seorang alim  waliyullah dari Maroko, yang pada tahun 1345 Masehi dulu sudah pernah mengunjungi Kerajaan Samudra Pasai.

Pangeran Natas Angin bermukim di Negara Maroko sampai dua tahun lamanya. Beliau bertempat tinggal di masjid kuno yang pada jaman dulu sering digunakan oleh lbnu Batutah untuk i’tikaf (beribadah dan bermunajat) kepada Allah. Selama dua tahun di masjid Maroko tersebut, Pangeran Natas Angin memperbanyak ibadah, sujud dan bertafakur untuk lebih menghayati pengabdiannya kepada Gusti Allah. Sampai sekarang tempat pasujudan Pangeran Natas Angin di masjid kuno Maroko tersebut dianggap keramat oleh sebagian penduduk setempat. Adapun lokasi/tempat pasujudan Pangeran Natas Angin adalah di belakang pengimaman sebelah kiri.

Setelah dua tahun bermukim di masjid Maroko, Pangeran Natas Angin pulang ke Tanah Jawa dan menemui Sunan Kalijaga. Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian menyarankan  agar Pangeran Natas Angin pergi dari Demak ke arah tenggara, sampai menemukan tempat yang “cocok di hati”. Di tempat tersebut Pangeran Natas Angin harus mengamalkan  ilmu untuk syiar agama  Islam.

Berangkatlah Pangeran Natas Angin menjalankan perintah Guru Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau berjalan ke arah “tenggara”  sampai akhirnya menemukan tempat atau daerah yang cocok di hati, yaitu daerah yang sekarang disebut Dukuh Tahunan Putatsari, Kecamatan Grobogan Kabupaten Grobogan. Pangeran Natas Angin bermukim di sana selama ± 17 tahun dan mendirikan masjid serta pesantren sederhana. Beliau menyiarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat dengan “Penggulawentah” yang baik sehingga semakin lama semakin banyak siswa/santri yang berguru kepada Pangeran Natas Angin. Banyak para tamtama dan punggawa Kerajaan Pajang dan Mataram lslam yang pernah berguru agama lslam ataupun ilmu olah keperwiraan kepada Pangeran Natas Angin di Dukuh Tahunan ini. Di kalangan  penduduk Dukuh Tahunan dan sekitarnya, Pangeran Natas Angin terkenal sebagai tokoh ulama’ yang sakti mandraguna. Rakyat setempat meyakini bahwa salah seorang murid utama Pangeran Natas Angin yang bernama Kusumoyudha adalah termasuk salah seorang tumenggung di Kerajaan Mataram ketika pemerintahan Sutowijoyo (raja I).

Tahun 1588 Masehi, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram tahun 1009 Hijriyah.  Pangeran Natas Angin wafat dalam usia 90 tahun dan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-raja Demak (di sekitar Masjid Agung Demak). Makam Pangeran Natas Angin ini ada di tiga tempat, yaitu di Demak, di Dusun Tahunan, Desa Putatsari Kecamatan Grobogan Kabupaten Grobogan serta di Tegal.

Pangeran Natas Angin meninggalkan seorang isteri bernama Nyai Gayatri dan dua orang putera bernama Imam Prakosa dan Dewi Kosasih. Setelah Pangeran Natas Angin wafat, kehidupan isteri beliau dan kedua puteranya diurus oleh Tumenggung Kusumoyudha sebagai tanda hormat dan baktinya kepada Guru. Oleh Tumenggung Kusumoyudho, putera dan puteri Pangeran Natas Angin, yaitu Imam Prakosa dan Dewi Kosasih diajak bersama-sama mengabdi di kerajaan Mataram Islam. Konon kabarnya, makam Nyai Gayatri, Imam Prakosa dan Dewi Kosasih berada di Klaten. Namun sampai sekarang penulis belum bisa memastikan keberadaan kabar tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: