Pentingnya Sabar dan tawakkal

Kehidupan kita di dunia ini ibarat roda yang selalu berputar, kadang diatas namun kadang juga berada di bawah. Kadang senang namun kadang juga sedih. Ibarat tigkatan anak sekolah. Semakin tinggi tingkatan anak tersebut, maka semakin rumit pula ujian ter yang ia hadapi untuk menentukan apakan ia pantas naik kelas ataukah sebaliknya. Ibarat sebuah pohon yang semakin tinggi pohon tersebut maka semakin banyak pula hembusan angin yang menerpanya. Oleh karenanya wahai saudaraku, kita harus senantiasa memperkokoh akar kita yakni keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab, manakala hembusan angin berupa cobaan kehidupan ini tidak diiringi dengan kuatnya akar keimanan kita tentunya akan berakibat fatal, yakni kesengsaraan di dunia ini terlebih di akherat kelak.

Kita telah diingatkan oleh Allah SWT untuk selalu memupuk sifat sabar dan ikhlas ketika mendapat ujian dari-NYA, sebab kita juga harus yakin bahwa Allah tidak akan mencoba suatu makhluk melebihi batas kekuatan makhluk tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

155.  Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  156.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[ artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil. ]. 157.  Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( Q.S. Al-Baqarah : 155 – 157 )

286.  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (Q.S. Al-Baqarah : 286)

ayat menerangkan bahwa hanya orang – orang yang sabarlah yang bisa mendapat rahmat yang sempurna dari tuhan yakni syurga. Kita harus yakin bahwa Allah Maha Tahu dan lebih mengetahui apa yang lebih cocok bagi kita melebihi pengetahuan kita terhadap diri sendiri. Jadi setelah kita ikhtiyar sekuat tenaga dalam mengusahakan sesuatu maka juga harus diiringi pula dengan sikap pasrah terhadap segala keputusan (qudrat)-NYA.

Sikap pasrah ini lah sebagai senjata kuat untuk menguatkan akar keimanan kita, dimana akan memunculkan ketenteraman dalam hidup, walaupun dengan derajat yang rendah di dunia ini. Sebab tinggi rendahnya derajat kita di sisi Allah SWT bukan karena banyak sedikitnya Amal perbuatan ibadah kita, namun lebih semata  sifat kasih sayang ( rahmat )  dari-NYA. Sebagaimana bunyi penggalan suatu syi’ir gubahan KH. Abdur Rahman Wahid atau yang kita kenal dengan sebutan Gus Dur [i] :

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran 2X

hidupnya tenang, merasa aman
adanya rasa (aman), tanda kalau beriman
sabar, menerima, walaupun pas-pasan
semua itu ditakdirkan oleh tuhan (2x)

Kang anglakoni sakabehane
Allah kang ngangkat drajate
Senajan ashor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate 2X

mari laksanakan, semuanya
Allah yang akan mengangkat derajatnya
meskipun terlihat rendah tata lahirnya
tapi (sebenarnya) mulia kedudukan derajatnya (2x)

Lebih lengkap di link ini :

Shalawat Gus dur Astaghfirullah rabbal baraya

Seorang ulama’ tasawuf terkenal bernama Syekh Ibnu Atha’illah pernah berkata :

“Tidak meninggalkan kedunguan sedikitpun (sangat bodoh) orang yang menghendaki perubahan di dalam waktu (yang telah ditentukan) menuju ke lain waktu yang Allah telah menampakkannya di dalam waktu itu”. [ii]

Perkataan beliau ini mengingatkan kita bahwa Allah SWT telah menentukan semua hal di dunia ini dengan sifat Irodat-NYA dan kita tak ada kekuatan sedikitpun untuk merubah ataupun menghalang-halangi apa yang dikehendaki-NYA. Disinilah pentingnya Ikhtiyar tadi, sebab Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri dengan berusaha, tidak hanya berpangku tangan.

Akhirnya, Semoga kita senantiasa dierikah hidayah Allah SWT, dijadikan orang yang selalu semangat menjalani kehidupan ini dengan sikap sabar senantiasa menerima ketantuan Allah SWT dengan perasaan ikhlas ketika diuji dengan berbagai kesulitan hidup, serta tidak lalai ketika diuji dengan berbagi kesenangan.

Amiin…!!!!


[ii] Labib Mz, Kuliah ma’rifat, Sidayu : ……. , ……, hlm. 41.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: