Perbedaan orang yang berakal dan yang orang yang tak berakal (shohifah : 31 s.d 33).

Sifat orang yang berakal dan yang orang yang tidak berakal

Sebagian ahli sastera (adab) mengatakan bahwa ciri-ciri orang berakal (aqil) dan orang yang tidak berakal (ahmaq) adalah sebagai berikut :

1. orang berakal adalah mereka akan mempunyai sifat-sifat utama, dan orang yang tidak berakal selalu menciptakan sifat-sifat jelek dan dosa pada diri mereka.

2. Orang berakal akan selalu menolong teman mereka, dan apabila ia tidak menyukai seseorang maka tidak mudah melakukan kedzaliman kepada orang tersebut. (dikatakan bahwa teman yang bodoh lebih bahaya daripada musuh yang berakal). Maka orang yang menjadi temannya akan selalu beruntung, orang-orang yang ingin memusuhinya akan kesulitan mencari kelemahan orang yang berakal tersebut. Jika ia menolong seseorang maka tidak mengharap imbalan walau hanya sekedar ucapan terima kasih dari orang yang ditolongnya. Jika ia disakiti/dianiaya orang lain maka ia akan gampang memaklumi orang tersebut dan husnudz dzan kepada orang tersebut serta gampang memberikan maaf kepada orang tersebut.

Sedangkan orang (tidak berakal) adalah orang yang tersesat dan menyesatkan. Jika ia diakrabi maka ia akan sombong, dan jika ia dimintai pertolongan maka justeru memperlihatkan bahwa ia sendiri sedang susah. Jika ia disakiti hatinya maka akan susah, jika diminta pendapat justeru ia diam(walau dia punya pendapat yang lebih baik, dengan harapan supaya temannya tersebut mendapat kegagalan). Jika dia tidak dimintai pendapat maka akan berbicara kesana kemari atas pendapat mereka. Jika ia ditemani maka akan menjerumuskan, jika ia di jelek-jelekan akan menjadikan cobaan bagi orang yang menjelekkan tersebut. Jika ia diajak rembug(musyawarah) maka akan menipu. Bahaya, membutakan mata dan mencelakakan jika di jadikan kerabat. Orang tersebut merasa telah banyak berbuat baik (padahal sebaliknya) dan selalu mengharap ucapan terimakasih dari orang lain, serta selalu su’ud dzan kepada orang lain. Kejahatan orang tersebut tidak pernah habis, serta tidak bisa dijadikan panutan.

Para ahli balaghah berkata : “Sesungguhnya harta benda terkadang menyenangi pada orang bodoh (yang bukan / tidak berhak) dan menjauh dari orang yang mempunyai akal (yang tidak terlalu terbujuk harta tersebut, walaupun ia sesungguhnya lebih berhak), maka jika harta tersebut datang pada seseorang sedang orang tersebut masih bodoh, atau jika harta menjauhimu padahal kamu orang pintar maka jangan sampai mendorong hatimu untuk lebih suka menjadi bodoh, serta membenci untuk berakal. Maka sesungguhnya kekuasaan yang ada pada orang bodoh itu mungkin terjadi dan kekuasaan orang berakal adalah sesuatu yang wajib. Sesungguhnya orang yang berakal itu berbeda dengan oran yang bodoh. Kekuasaan orang bodoh biasanya bersifat sementara, dan kekuasaan orang yang berakal biasanya bersifat terus. Setelah terlihat jelas kekurangan oang bodoh tersebut, maka harta, ilmu maupun kebahagiaan orang tersebut maka keadaan akan berbalik.”

Ketahuilah bahwa keutamaan seorang aqil serta kejahilan seorang ahmaq akan terkenang hingga anak cucunya. Sebagaimana suatu cerita dari Jabir dari riwayat Atha’ yang bercerita pada zaman dulu kala :

Seorang pemuda bani isra’il berkata : wahai tuhan-ku, andaikata engkau mempunyai himar lagi, maka akan kurawat himar-MU bersama himarku ini. Kemudian perkataan itu sampai pada seorang nabi. Oleh Nabi tersebut pemuda tadi dimarahi, dan ternyata Nabi tersebut justeru kemudian ditegur oleh Allah dan dikhitobi oleh-NYA : wahai nabi sesungguhnya seseorang akan diberi pahala sesuai akal mereka. “Jadi dalam berdakwah harus bisa mengerti tingkat akal orang yang di dakwahi, jangan memaksa mereka mengikuti isi dakwah tersebut jika memang mereka tidak mampu mengikutinya.”

Khalifah mu’awiyyah pernah mengangkat pegawai dari seorang kaum kalb. Suatu ketika pegawai tadi berbicara : Semoga Allah melaknati orang-orang majusi yang telah menikahi ibu mereka. Demi Allah, jika aku diberikan uang 10.000 dirham maka tidak akan aku nikahi ibuku.

Ketika perkataan tersebut sampai pada mu’awiyyah, maka beliau berkata : semoga Allah menghardik pegawaiku tersebut. Tahukah kalian jikalau ia dibayar lebih dari 10.000 dirham maka ia akan melakukannya. Kemudian mu’awiyyah memecat oegawai tersebut dan mengganti posisinya pada Robi’ al-amiry dari kabilah Nauki, yaman yang telah mengqishas anjing karena membunuh anjing lain.

Maka ingatlah bahwa orang yang bodoh akan selalu dicela dan selalu membahayakan orang lain.

4 Comments

  1. hury said,

    29/03/2011 at 09:48

    Dadiyo wong seng nduwe adab kang….!!!!
    neru aku yo….

  2. Han said,

    01/04/2011 at 08:27

    Akal dan adab adalah 2 anugerah terindah bagi seorang manusia.
    Jika kedua hal tersebut tdk ada pada diri seseorang, maka matinya akan lebih berharga dari hidupnya.

    • 02/04/2011 at 01:43

      betul saudariku….
      manusia tanpa akal akan mudah diperdaya dan manusia tanpa adab akan sesat menyesatkan….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: